Bab 26

2010 Kata
"Tahu apa?" tanya Iqbal. "Banyak. Ada tahu bulat, tahu crispy, tahu-tahunya dia selingkuh dan tahu yang lainnya," jawab Gibran tak jelas. "Mending abaikan saja orang kurang waras ini," kata Iqbal. "Hahaha. Gini maksud gue. Lo berdua tahu nggak kalau sebenarnya, kalau cafe rame kayak gini, itu karena mereka pakai pesugihan," kata Gibran. "Pesugihan?" "Syut! Jangan kencang-kencang ngomongnya!" ucap Gibran. "Eh, maaf. Pesugihan? Maksudnya apa, ya?" tanya Iqbal pelan. "Lo pernah dengar pesugihan yang mempergunakan Mas pocong?" tanya Gibran. "Ya nggak, lah. Emang gimana, tuh?" Kali ini Indra yang bertanya. Kebetulan sekali dua sahabatnya itu menanggapinya dengan sangat antusias. Gibran pun tersenyum, dan setelah itu menghembuskan napasnya. Ia ingin memulai ceritanya. "Gue sebenarnya juga gak tahu konsepnya kayak gimana. Gue gak pernah pakai pesugihan kayak gituan, dan gue emang gak akan mau ngelakuin pesugihan," kata Gibran. "Ya lah. Lo sukanya pemiskinan. Makanya gak suka pesugihan," sahut Indra. "Berisik Lo! Coba dengerin dulu!" ucap Gibran. "Oke oke. Silahkan dilanjut," ucap Indra. "Nah. Cara kerja pesugihan pocong itu katanya si pocong akan menjilati piring-piring yang akan dipakai untuk wadah hidangan. Kayak nasi yang nanti bakalan Lo semua makan. Gak hanya itu. Nanti waktu Lo semua makan, si pocong akan meludahi apapun yang kalian makan. Dan yang kalian rasakan adalah makanan itu terasa sangat enak. Padahal sebenarnya itu telah diludahi oleh pocong," ucap Gibran panjang lebar. "Ludah itu seolah-olah adalah bumbu yang berperan sebagai penyedap makanan. Bayangin aja! Ludah manusia aja udah sangat menjijikkan. Apalagi ludah si pocong yang katanya sangat bau," kata Gibran lagi. "Nggak hanya itu sih, kayaknya. Mungkin bukan cuma meludahi. Tapi juga naruh upilnya di makanan yang Lo semua makan. Hiii ... Kalau gue sih mending yang kayak gitu gak usah dimakan," lanjut Gibran. Entah dari mana dirinya tiba-tiba mendapatkan pemahaman soal hal-hal mistis seperti itu. Padahal dia adalah seorang remaja laki-laki penakut yang bahkan jika ingin kencing di malam hari pun masih minta ditemani sama orang tua. "Hahaha ... Mampus Lo gue kadalin. Padahal gue juga gak begitu tahu soal pesugihan-pesugihan apalah itu," batin Gibran. Jijik? Tentu saja. Cerita yang disampaikan oleh Gibran memang terlalu mengandung unsur menjijikkan. Itu juga menjadi penyebab kedua sahabatnya itu mendadak kenyang. Beruntungnya mereka bertiga berada di kursi yang agak sedikit jauh dari yang lainnya. Dengan begitu, kemungkinan yang lain juga mendengarkan cerita dari Gibran sangatlah kecil. "Ah. Tapi itu di tempat lain kan, ya, bukan di sini? Jadi aman lah," ucap Indra. "Aman pala Lo. Kalau dilihat-lihat dari jumlah pengunjungnya yang sebanyak ini, besar kemungkinannya kalau tempat ini juga memakainya," ucap Gibran. Maksudnya adalah memakai pesugihan pocong. "Halah. Sok tahu Lo," kata Iqbal. "Lah. Gue cuma berbicara fakta. Tentang apakah Lo percaya atau tidaknya, ya terserah Lo aja. Gitu aja repot," ucap Gibran. "Gue sebenarnya cuma ingin menyelamatkan Lo berdua dari makan makanan yang udah diludahi sama pocong. Niat gue baik, lho," lanjut Gibran. Ada sedikit kepercayaan dalam hati Indra dan Iqbal atas kata-kata yang diucapkan oleh Gibran. Tapi mereka juga ragu, secara mereka itu tahu betul siapa Gibran. Si manusia usil nan menyebalkan yang ucapannya sangat sulit untuk dipercayai. "Kalau memang benar kayak gitu, apa gak lebih baik kita pindah tempat aja?" tanya Indra. "Pindah ke mana? Semua kursi sudah dipenuhi oleh pengunjung," kata Gibran. "Pindah ke cafe lain, Konslet. Bukan pindah tempat duduk," kata Indra kesal. "Oh. Ya gak bisa, lah. Kita udah terlanjur pesan. Ya kali mau dibatalin," ucap Gibran. "Ya nggak apa-apa, lah. Daripada kita makan makanan yang gak higienis. Belum lagi entar jika seandainya salah satu dari kita malah dijadiin korban pesugihan," kata Iqbal. "Kalau menurut gue, jangan! Dengan kita yang batal memesan, itu artinya mereka akan tahu kalau kita sudah tahu soal pesugihan ini. Kalau mereka sudah tahu, itu berarti kita dalam bahaya. Bisa-bisa kita akan jadi tumbal pesugihan," ucap Gibran. "Lalu gimana dong? Siapa sih yang milih tempat di sini?" tanya Indra. "Jalan satu-satunya adalah kita tetap berada di sini. Lagipula ini kan belinya dari uang kas kelas kita. Ya gak rugi lah Lo berdua biarpun gak ikut makan," kata Gibran. "Ya mubazir, lah, entar," kata Iqbal. "Hm. Benar juga, sih. Gini aja. Demi menyelamatkan nyawa Lo berdua. Demi makanan agar tidak terbuang sia-sia, dan demi menyelamatkan Lo berdua dari memakan makanan yang menjijikkan, gue rela berkorban. Gue rela memakan dan meminum jatah makanan dan minuman kalian berdua. Semua itu gue lakuin atas dasar persahabatan," kata Gibran. Dan di situlah Indra dan Iqbal baru tersadar kalau mereka sudah menjadi korban keusilan dari sahabatnya yang satu itu. Al Gibran Ramadhana, dia benar-benar lelaki sekaligus sahabat yang sangat menyebalkan. "Sialan Lo! Bilang aja mau merebut hak makan gue sama Indra," kata Iqbal. "Iya. Pakai sok-sokan berbicara soal pesugihan. Langsung di tempatnya pula," kata Indra. "Gue cuma menyampaikan kebenaran. Kenapa kalian tidak percaya, sih?" tanya Gibran dramatis. "Bodoh amat lah. Males gue," kata Indra. "Sama." Tak lama setelahnya, muncul dua lelaki yang baru saja kembali dari toilet. Mereka adalah Ali dan Billy. Mereka itulah yang kebagian duduk paling dekat dengan posisi duduk Gibran dan kedua sahabatnya. Ketika mereka sampai, mereka sedikit merasa penasaran dengan apa yang dibicarakan oleh Gibran, Indra dan Iqbal. Saking penasarannya, mereka pun memutuskan untuk ikut bergabung. "Woi. Ngomongin apaan? Kayaknya seru," ucap Ali. "Ini ... Si Gibran parah banget," jawab Indra. "Parah gimana?" tanya Ali. "Parah banget emang gue. Gak ada yang bisa ngalahin gue main game bola di PS," sahut Gibran. "Gaya Lo, Bran. Gak ingat waktu itu pernah terbantai?" tanya Ali. "Bukan gak ingat, tapi gak pernah ada di dalam ingatan karena emang gak pernah terjadi tentang gue yang terbantai sama Lo," kata Gibran. "Hahaha ... Okelah, terserah aja," ucap Ali. Bukan tanpa maksud kenapa Gibran memotong ucapan Indra yang ingin memberitahukan apa yang sebenarnya terjadi. Ia tak ingin Indra berbicara dengan suara yang keras sehingga menyebabkan para pegawai cafe mendengarnya. Kalau itu sampai terjadi, maka bahaya buat semuanya. Bisa-bisa dia pun juga kena dan dituduh mencemarkan nama baik cafe tersebut. Tak begitu masalah jika cuma ditegur. Tapi kalau sampai dilaporkan ke polisi atas tuduhan pencemaran nama baik, akan merepotkan lah jadinya. Beruntungnya pun ia dan teman-temannya masih di bawah umur. Bersama menciptakan kebersamaan. Lalu berpisah dan meninggalkan sebuah kenangan tak terlupakan. Terkesan menyakitkan, tapi tetap harus dijalankan. Karena sejatinya perpisahan itu tak akan pernah bisa terhindarkan. Mungkin benar, pendidikan telah menyatukan, tapi masa depan yang memisahkan. Waktu tiga tahun terasa sangat cepat berlalu. Hingga tibalah saatnya dihadapkan dengan suasana baru. Bahkan ketika hati belum sanggup untuk merindu. Masa depan itu datang tanpa kenal waktu. Semua terasa berat dan menakutkan. Tapi sekali lagi, harus tetap dijalankan. Mana ada manusia yang bisa lari dari masa depan. Satu-satunya cara untuk bisa menghindarinya hanyalah kematian. Gibran menjalani detik-detik terakhirnya berkumpul bersama teman-teman sekelasnya dengan penuh keceriaan dan canda tawa. Semuanya tertawa. Tak ada yang berselimut duka. Sehingga mereka lupa bahwa kemungkinan besar itu adalah hari terakhir mereka bisa bersama-sama. Ah, tidak juga sepertinya. Masih tersisa satu hari lagi yang mereka punya. Hari di mana diadakannya perpisahan untuk murid kelas 9 yang akan masuk ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, yaitu jenjang SMA ataupun semacamnya. "Makan kenyang duit pun hilang," ucap Gibran setelah selesai makan. "Hahaha ... Tenang aja, Bran. Kan pakai duit kas," kata Iqbal. "Iya. Tapi tetap aja hilang," ucap Gibran. Makan di sebuah cafe dengan menu yang sangat banyak. Pastilah itu akan memerlukan banyak sekali uang. Di saat seperti ini, sang bendahara kelas lah yang harus bertanggung jawab untuk membayar. Dan sepertinya pun aman. Uangnya cukup untuk membayar semua makanan dan minuman yang telah masuk ke dalam perut. Dengan begitu tak perlu lagi harus repot-repot mencuci piring sebagai ganti karena tak sanggup membayar. "Oke. Setelah ini kita mau ke mana lagi?" tanya Tina. "Pulang aja lah. Mau ke mana lagi?" sahut Cheryl, si gadis dengan postur tubuhnya yang mungil dan mempunyai wajah yang imut layaknya anak kecil. "Apa sih buah ceri nih. Pulang mulu," oceh Gibran. "Lah. Berani-beraninya ngatain gue buah ceri," kata Cheryl tidak terima. "Hahaha ... Berani lah. Masa sama anak kecil gak berani," kata Gibran sambil menekan kepala Cheryl ke bawah. "Ih. Singkirin tangan Lo!" perintah Cheryl. "Singkirin sendiri kalau bisa. Hahaha," balas Gibran. Ada yang tertawa melihat tingkah mereka berdua, dan ada pula yang menggeleng-gelengkan kepala entah karena apa. Pokoknya kini Gibran dan Cheryl telah menjadi sorotan semua mata. "Selalu saja. Setiap kali ada Gibran, pasti ada pertengkaran," ucap Rina sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. "Biasa lah tuh. Namanya juga tukang rusuh," sahut Tina. "Woi, hentikan! Urusan rumah tangga selesain aja di rumah." Seseorang berucap. Dan seseorang itu tak lain dan tak bukan adalah Ali, si raja PS. Sontak apa yang ia katakan pun mendapatkan balasan berupa tatapan tajam dari Gibran dan Cheryl serta mendapatkan tatapan biasa-biasa saja dari beberapa temannya. "Apa? Salahkah gue?" tanya Ali. Gibran dan Cheryl tak menjawab. Sedangkan di sisi lain nampak ada dua orang yang sedang berbisik-bisik. Mereka berdua itu adalah Indra dan Iqbal. "Kita harus segera bertindak supaya perkelahian ini tidak berlanjut," bisik Indra. "Ya, betul banget," kata Iqbal. "Sekarang aja," kata Indra. "Oke." Setiap ada sang pembawa kerusuhan, pasti pada akhirnya pun akan ada sang pembawa perdamaian. Dan di sini, Indra dan Iqbal lah yang akan berperan sebagai para pembawa perdamaian dan menghentikan kerusuhan yang dibawa oleh Gibran. "Woi. Sudahlah. Mending kita pulang aja. Emang betul kata Cheryl," kata Indra. "Iya. Betul kata Cheryl," kata Iqbal mengulang kata-kata Indra. "Emang kata Cheryl apaan, Ndra?" tanyanya kemudian sambil menengok ke arah Indra. Nasib berteman dengan manusia yang otaknya setengah. Selalu saja ada hal yang sejatinya tidak diinginkan. Tapi apa boleh buat. Kalau sikap itu sudah ada sejak zaman pra aksara, memang sulit untuk mengubahnya. "Kita pulang aja!" ajak Indra kemudian. Kebersamaan itu, biarpun sekejap tapi sudah terasa sangat bermakna. Meski setelah ini akan ada luka yang tak nampak di mata, setidaknya untuk hari ini saja mereka masih bisa tertawa bersama. Mungkin akan hilang sudah segala kisah tentang kedekatan satu sama lain. Puing-puing rindu pada masa lalu pasti akan menyerang jiwa suatu saat nanti. Di saat sang raga sudah semakin menua, di situlah kerinduan pada masa lalu akan menyerang jiwa secara tiba-tiba. Karena entah diakui atau tidak, hal yang paling dirindukan oleh manusia yang sudah menua adalah masa lalu. Kini hal itu harus terjadi pada Gibran. Hari demi hari yang ia lalui semakin terasa hampa tanpa ia duduk di kursi kelasnya. Singgasana suci, tempat ternyaman yang pernah ada pun mendadak menjadi tempat yang sangat membosankan untuknya. Ia ingin bersekolah. Padahal ia tahu kalau khusus untuk kelas 9 sudah diliburkan. Ia ingin pergi keluar rumah, tapi tak tahu ke mana arah dan tujuannya nanti. "Nggak sekolah bosan, eh sekolah juga bosan. Hidup kok gini mulu. Gak ada peningkatan," oceh Gibran pada dirinya sendiri. "Harusnya kalau nggak sekolah bosan, kalau sekolah harus malah lebih bosan lagi," lanjutnya. Gibran benar-benar seperti sapi yang mau beranak. Gelisah sekali. Dia bukan anak rumahan, tapi kini harus dipaksa di rumah terus. Dan setiap harinya selama liburan pun dia kebanyakan juga seperti itu. Tapi ada satu momen dalam liburan itu yang sudah dinanti-nantikan oleh si tiga serangkai. Yaitu tentang siapa yang bisa mendapatkan pacar setelah sekian lama berjuang. Hari yang sudah ditentukan itupun tiba. Dan hari ini pula sudah saatnya Gibran memamerkan Riani pada kedua sahabatnya. Memamerkan dan bilang kepada seluruh dunia kalau Riani kini telah menjadi pacarnya. Tepat pukul 7 mereka bertiga pun berkumpul di rumah Iqbal. Tak perlu membawa Riani untuk ikut pergi ke sana. Gibran sudah memiliki banyak persiapan untuk membuktikan bahwa dia sudah berpacaran dengan Riani. Benda kotak yang selalu ia bawa ke mana-mana itulah barang buktinya. Benda kotak itu telah menyimpan semuanya, terutama foto bersama Gibran dan Riani, pesan-pesannya, dan lain sebagainya. "Ini hari penentuan, ya. Ingat! Yang kalah harus mentraktir yang menang satu bulan penuh," ucap Gibran mengingatkan. "Em ... Gue rasa dibatalin aja deh, yang kayak gituan. Sama aja itu kayak taruhan. Dosa tahu," kata Indra. "Nah. Gue setuju, tuh. Lebih baik jangan kayak gitu. Gue gak mau nanggung dosa," ucap Iqbal memperkuat ucapan Indra. Gibran sudah memiliki firasat bahwa kedua sahabatnya itu cuma beralasan saja. Tentang kenapa tiba-tiba mereka meminta untuk membatalkan apa yang sudah disetujui di awal, itu karena mereka sudah merasa akan mengalami kekalahan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN