"Ah. Gak bisa. Anggap saja ini hadiah pemenang, bukan taruhan," kata Gibran.
"Ya jangan lah, Bran! Tetap aja tuh namanya taruhan. Kita tidak boleh melakukannya. Haram, Bran," kata Indra.
"Alah. Bilang aja kalau Lo berdua pada takut kalah, karena baik Elsa maupun Nessa gak ada yang bisa kalian dapetin," kata Gibran. Mereka berdua diam.
"Gue gak peduli. Kita tetap berpegang pada perjanjian di awal. Kalau ada yang gak setuju, itu berarti dia pecundang," lanjut Gibran.
"Sekarang biar gue dulu yang membuktikan pada kalian pacar gue," ucapnya lagi.
Gibran pun segera mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan isinya kepada Indra dan Iqbal. Mereka berdua melihat dengan jelas foto-foto kebersamaan Gibran dan Riani. Hampir tak percaya. Atau bahkan mungkin memang tidak percaya. Itulah yang dirasakan oleh Indra dan Iqbal di kala melihat foto-foto itu.
Rasanya aneh saja. Kandidat paling tidak diunggulkan ternyata malah memenangkannya. Ibarat sepak bola, Gibran adalah tim papan bawah yang hampir terdegradasi. Akan tetapi dia berhasil mengalahkan tim peringkat atas, entah itu sang pemuncak klasemen atau runner up nya. Sungguh itu seperti keajaiban yang begitu besar.
"Alah. Pasti editan tuh," ucap Iqbal masih tak bisa menerimanya.
"Editan Lo bilang? Cih, ngerti teknologi gak, sih? Mana ada foto-foto kayak gini dibilang editan," sangkal Gibran.
"Halah. Masih gak percaya gue," kata Iqbal.
Gibran menghembuskan napasnya pelan. Ia tahu, bukannya Iqbal tidak percaya. Hanya saja Iqbal malu untuk mengakuinya. Sekarang yang perlu Gibran tunjukkan adalah bukti-bukti selanjutnya. Karena pun ia bukan hanya punya satu bukti, melainkan banyak sekali bukti.
"Oke. Kita ke bukti selanjutnya," kata Gibran sambil menarik kembali ponselnya.
"Sabar, Kawan. Ini pasti akan membuat kalian semakin tercengang," kata Gibran lagi.
Setelah itu, ia menyodorkan kembali benda kotak yang ia pegang itu ke hadapan Iqbal dan Indra. Ternyata yang sedang ia tunjukkan adalah tentang chattingannya dengan Riani.
Benar saja. Kedua sahabatnya itu menjadi semakin tidak percaya. Bagaimana bisa? Padahal selama ini yang mereka lihat Gibran tak sedekat itu dengan Riani. Tapi kini mereka malah melihat bukti yang sangat jelas kalau Gibran dan Riani telah berpacaran. Sepertinya ini adalah saat-saat kekalahan mereka.
"Gimana? Masih tidak percaya?" tanya Gibran.
"Mungkin itu bukan nomornya Riani. Itu pasti nomor Lo sendiri. Lo udah banyak persiapan ternyata untuk memenangkan perlombaan ini. Hebat," kata Iqbal.
"Huff ... Begitu, ya? Baiklah. Ini cara terakhir. Apa perlu gue bawa Riani ke sini untuk membuktikannya langsung?" tanya Gibran. Iqbal dan Indra diam.
"Kalau iya, gue bisa telepon dia sekarang. Eh, dengan menelepon dia saja sebenarnya pun udah bisa membuktikan kalau ini memang nomor asli milik Riani. Tapi biar Lo berdua lebih percaya sekali lagi gue nanya, apa perlu gue bawa Riani ke sini?" lanjut Gibran.
"Sudah, gak usah. Oke, gue mengaku kalah. Gue gagal nembak si Elsa. Dan soal nraktir Lo selama sebulan, tenang aja, gue udah siap," kata Indra.
Gibran tertawa menikmati kemenangannya. Satu lawan yang katanya merupakan kandidat terkuat ternyata telah mengakui kekalahannya. Kini tinggal satu lagi yang sedari tadi enggan untuk mengakui. Dia sepertinya benar-benar malu kalau harus mengaku kalah.
"Nah, Bal. Gimana? Si Indra sudah mengakui. Sekarang tinggal Lo aja," kata Gibran.
"Ya kalau Lo masih gak mau mengakui, gue bisa sekarang juga langsung nelpon Riani. Gue juga bisa bawa Riani ke sini. Tinggal milih aja Lo. Dan jika masih gak bisa mengakui, setidaknya Lo bisa buktiin kalau Nessa atau Liya udah bisa Lo pacarin," kata Gibran panjang lebar.
Iqbal nampak geram. Ia ternyata kalah dengan si bocah ingusan seperti Gibran. Bocah yang bahkan baru mengenal dunia percintaan. Jauh berbeda dengan dia yang sudah dari dulu mengenalnya. Akan tetapi, dia sebagai kandidat terkuat malah kalah dari Gibran. Payah sekali.
"Cih, sebenarnya gue masih sulit untuk percaya. Tapi ya sudahlah. Gue percaya aja. Gue akui kali ini Lo menang. Tapi lain kali, Lo gak akan menang lagi. Ingat itu!" kata Iqbal.
"Hahaha ... Oke oke. Sekarang yang penting adalah traktirannya. Siapkan duit Lo untuk gue foya-foya selama sebulan penuh," kata Gibran.
"Cih." Iqbal mendecak.
"Hahaha ... Bahkan kandidat yang diunggulkan pun bisa kalah dari kandidat yang tidak diunggulkan," kata Gibran.
"Kebetulan aja tuh. Gue harusnya sedikit lagi udah bisa dapetin si Nessa atau bahkan Liya. Hanya saja waktunya gak mencukupi," kata Iqbal.
"Alasan. Sebenarnya pun Liya bisa saja gue dapetin. Tapi gue nya aja yang gak mau," ucap Gibran.
"Ah, sudah cukup bahas ceweknya. Sekarang tentang rencana kita pergi ke pantai. Gimana?" tanya Indra.
"Ya udah ayo, pergi sekarang!" ajak Gibran.
"Parah. Ya nggak sekarang juga. Lo pikir jarak antara sini dengan pantai itu cuma 10 meter? Jauh Bro. Butuh persiapan mental dan fisik," kata Iqbal.
"Oke oke. Jadi kapan?" tanya Gibran.
Masih menjadi perdebatan yang cukup hebat tentang apakah mereka jadi atau batal pergi ke pantainya. Bukannya apa-apa. Mereka bertiga masihlah para anak remaja yang baru lulus SMP, atau bahkan bisa dibilang belum lulus. Mereka pun sama sekali belum pernah pergi ke pantai. Dalam arti kalau naik kendaraan sendiri. Jadi akan sangat berisiko jika mereka memaksa untuk tetap pergi sedangkan pengalamannya masih sangat kurang.
"Kita ngajak Arka dan yang lainnya aja gimana? Mereka kan lebih berpengalaman dari kita. Kalau kita ke sana cuma bertiga, kalau hilang malah repot. Hahaha," kata Indra.
Arka yang dimaksud adalah anak remaja kelas 12 yang juga salah satu teman satu kompleks mereka bertiga. Hanya saja mereka jarang berkumpul. Meski begitu hubungan satu sama lainnya pun masih cukup baik.
"Boleh juga, sih. Tapi mau gak?" tanya Iqbal.
"Yo ndak tahu. Ditanyain aja belum," jawab Indra.
"Ya udah. Nanti waktu di mushola Lo tanyain!" kata Gibran.
"Terus Lo gak ke mushola, gitu?" tanya Indra.
"Gampang kalau soal itu. Lo ajakin aja dia dulu," kata Gibran.
"Huff ... Ya sudahlah. Kapan rencananya?" tanya Indra.
"Rencana apa?" tanya Gibran balik.
"Lo jadi orang nggak usah ngeselin mulu kenapa, sih. Ya rencana pergi ke pantainya, lah. Apa lagi?"
"Oh. Gimana Bal, menurut Lo?" tanya Gibran.
"Besok juga gak apa-apa. Lebih cepat lebih baik," jawab Iqbal.
"Oke oke. Jadi besok kita akan touring ke pantai," kata Indra.
"Iya."
Hari dan tanggal sudah disetujui. Besok adalah kali pertamanya mereka akan mencoba berpergian jauh langsung dengan naik motor. Dan itu pasti akan menjadi pengalaman yang tak terlupakan.
"Oke, kalau gitu gue mau balik dulu," kata Gibran.
"Lah. Mau ngapain Lo? Kayak punya istri aja. Di rumah mulu," kata Iqbal.
"Setidaknya gue udah punya pacar. Gak kayak Lo berdua. Hahaha," ucap Gibran.
"Cih. Hai Kawan. Apa yang Lo banggain dari Lo yang udah punya pacar? Bukannya pacar itu menjerumuskan ke dalam kesesatan? Jadi kenapa Lo malah bangga dengan kesesatan itu?" kata Iqbal.
"Halah. Lagu lama. Gini nih kalau udah kalah tanding. Coba aja kalau menang, pasti akan ngejek gue habis-habisan," kata Gibran.
"Sudahlah, gue mau pulang. Mau persiapan," lanjutnya.
"Mau persiapan apa?" tanya Indra.
"Kan sebentar lagi pengumuman hasil ujian nasional," jawab Gibran.
"Ya terus kenapa?"
"Ya gue harus mempersiapkan tempat PS baru gue, lah," jawab Gibran.
Iqbal dan Indra saling pandang. Ada yang salah dengan perkataan Gibran. Apa yang lelaki itu katakan seolah-olah merupakan kata-kata yang sangat mustahil untuk terwujudkan.
"Hahaha ... Yakin banget Lo bisa dapat nilai memuaskan," kata Iqbal.
"Ya harus yakin dong."
"Ya sudahlah terserah Lo. Yang penting kita sudah memperingatkan. Jadi kalau tidak sesuai dengan apa yang Lo harapkan, ya gue harap Lo gak terlalu kecewa," ucap Indra.
"Siap Bos. PS baru sudah menanti di depan restoran," kata Gibran.
"Lah. Di depan restoran gimana maksudnya?" tanya Iqbal bingung.
"Ya kan tempat jual beli PS nya berada di depan restoran sana," jawab Gibran.
"Oh. Ya lah. Terserah Lo aja mau ngomong apa."
"Oke."
Pada waktu liburan sekolah seperti ini memang tidak ada hal lain lagi yang bisa dilakukan oleh anak seusia Gibran selain hanya bermain atau berdiam diri di rumah. Tidak ada sedikitpun pikiran untuk bekerja membantu perekonomian keluarga atau apa. Mungkin yang ada di pikiran mereka hanyalah tentang main, main dan tetap main.
Ditambah lagi dengan kondisi keluarga yang serba berkecukupan. Pastilah itu menjadi faktor untuk mereka tidak punya sedikitpun inisiatif untuk bekerja dan mendapatkan uang. Buat apa capek-capek bekerja, sedangkan tinggal minta ke orang tua saja sudah pasti akan dikasih.
Tapi sungguh. Pemikiran yang semacam itu adalah pemikiran yang sangat salah. Kelak, dari pemikirannya itu akan terbentuk pribadi yang manja dan ketergantungan. Tak akan pernah bisa mereka hidup mandiri. Kecuali jika suatu saat nanti pemikiran semacam itu bisa menghilang.
Embel-embel anak orang kaya bukanlah jaminan untuk nanti bisa hidup penuh dengan kebahagiaan. Bukan berarti juga selamanya akan tetap menjadi orang kaya. Karena sejatinya, bahkan keturunan keluarga yang kaya raya pun pada awalnya juga berasal dari keluarga yang kurang mampu.
Dan kini, cobaan itu tengah dihadapi oleh Gibran yang merupakan anak dari seorang yang kaya raya. Tak ada yang tahu tentang bagaimana ke depannya, bahkan pun dirinya sendiri juga tidak mengetahuinya. Entah dia bisa menjadi seperti ayahnya, dalam arti melalui usahanya sendiri tanpa ada bantuan sedikitpun dari sang ayah atau justru malah berada pada kondisi terpuruk karena masalah ekonomi.
Malam hari pun tiba. Parahnya, lelaki bernama Gibran itu malah berada di warung kopi bersama salah seorang temannya, yaitu Ali.
"Si Indra sama Iqbal mana? Kok gak ikut?" tanya Ali.
"Sengaja gak gue ajak. Hahaha," jawab Gibran.
"Lah. Kenapa?"
"Jadi kan kita itu ngadain semacam perjanjian gitu. Yang kalah harus nraktir yang menang selama sebulan penuh. Eh, mereka berdua kalah," jawab Gibran.
"Lah. Bukannya itu bagus? Dengan Lo ngajak mereka ke sini, kopi Lo bisa dibayarin sama mereka," kata Ali.
"Justru itu. Kalau mereka cuma bayarin kopi yang harganya cuma 4000-5000, enak di mereka, lah. Dan dengan begitu, lunas sudah utang mereka untuk satu hari. Kan gue agak rugi jadinya," kata Gibran.
"Gue akan ngajak mereka kalau tempat tujuannya itu kayak cafe atau semacamnya. Nah, di sana pasti kan mahal-mahal. Tinggal nagih ke mereka, beres deh urusan. Hahaha," lanjut Gibran.
Ali juga ikut tertawa. Temannya yang satu ini memang tidak ada lawannya. Otaknya benar-benar penuh dengan kelicikan. Hampir semua hal-hal buruk dengan begitu cepatnya masuk ke dalam pikirannya. Entah Ali harus bangga atau sedih punya teman seperti Gibran.
"Parah Lo. Gak kasihan sama mereka?" tanya Ali.
"Gue sih bodoh amat. Kan mereka berhutang sama gue."
"Iya sih. Tapi kasihan woi," kata Ali.
"Mana gue peduli. Hahaha," ucap Gibran.
"Sumpah. Parah emang Lo," kata Ali.
Kring! Kring!
Terdengar bunyi nada dering dari ponsel milik Gibran. Gibran yang sedari tadi asyik berbincang-bincang pun segera mengalihkan fokusnya ke ponsel miliknya. Dengan sedikit mendecak, ia pun membukanya. Ada nama salah satu sahabatnya yang terpampang di sana. Iqbal, itulah namanya.
"Halo. Apaan, Bal?" tanya Gibran tak santai.
"Apa apa. Katanya Lo mau ngajakin si Arka buat pergi ke pantai," kata Iqbal.
"Nah. Iya. Ya tanyain dong dia mau atau enggak," ucap Gibran.
"Ya justru itu. Gue nelepon Lo juga karena gue mau ngasih tahu," kata Iqbal.
"Ngasih tahu apaan?"
"Kalau Arka gak bisa. Eh lebih tepatnya gak mau," ucap Iqbal.
"Lah. Kenapa pula gak mau?" tanya Gibran.
"Gak tahu juga. Gak mau gitu. Mungkin dia ingin fokus nyari kerja. Kan udah lulus sekolah dia tahun ini," jawab Iqbal.
"Hm ... Ya sudahlah. Cepat tutup aja teleponnya. Gue geli teleponan cowok sama cowok," kata Gibran.
"Lah."
"Nggak usah lah leh. Cepat tutup!" perintah Gibran.
"Iya," ucap Iqbal tak santai.
Ya begitulah Gibran. Mengesalkan, tapi anehnya punya banyak teman. Suka usil, tapi anehnya pula jika dirinya tidak ada, itu seperti ada yang kurang. Ibaratnya Gibran adalah matahari. Kehadirannya bisa menyakiti melalui teriknya. Akan tetapi tanpanya bumi seolah tak ada kehidupan.
"Siapa?" tanya Ali.
"Si Iqbal," jawab Gibran.
"Oh."
"Nih si Agus jadi dateng gak sih? Udah jam segini, lho," ucap Gibran.
"Gak tahu. Nggak dibolehin keluar malam sama Emaknya mungkin," jawab Ali.
"Udah lama kita nunggu, woi. Gue juga udah mau balik," kata Gibran.
"Pintu rumah Lo tertawa lihat Lo mau balik pada jam segini," ucap Ali.
"Alah. Gue takut kalau harus balik terlalu malam," ucap Gibran jujur.
"Penakut Lo."
"Bukan karena takut hantu, tapi takut kalau ada orang jahat. Kayak begal atau semacamnya gitu," ucap Gibran.
"Lah. Pengecut Lo. Kalau ketemu dan jalan satu-satunya adalah melawan, ya dilawan aja lah. Lo kan juga lumayan bisa berantem tuh," kata Ali.