Bab 28

2016 Kata
Gibran menarik napasnya panjang. Ia sangat tidak suka dengan perkataan Ali barusan. "Masalahnya bukan berani atau tidaknya gue ngelawan," kata Gibran. "Lah. Terus?" "Kalau seandainya tuh begal langsung bacok gue dari belakang gimana? Gue bisa tewas. Atau kalau nggak, gue ya dihadang," kata Gibran. "Kalau dihadang ya dilawan dong, Bran. Mempertahankan harta dan nyawa itu termasuk jihad," kata Ali. "Nah. Itu yang membuat gue bingung. Gue gak ngelawan, gue yang bisa-bisa terbunuh. Kalau gue ngelawan, itu juga bisa mengakibatkan masalah. Apalagi kalau tuh begal mati," kata Gibran. Ali pun manggut-manggut mengerti. Ia juga sebenarnya bingung. Topik yang dibicarakan kali ini sungguh di luar batas kemampuannya. Andai Gibran bertanyanya tentang karakter terkuat di game Naruto Shippuden PS2, pasti Ali akan dengan mudah menjawabnya. Tapi pertanyaan kali ini adalah tentang hal yang sangat sulit untuk ia jawab, dan mungkin tak bisa ia jawab. "Ah, gue tahu gimana caranya," kata Ali. "Gimana?" "Lo nggak usah ngelawan. Kasihin aja motor Lo ke si begal," kata Ali. "Parah Lo. Ya kalau motor udah gue kasih dan mereka masih bacok gue gimana? Udah minus motor, minus nyawa pula," kata Gibran. "Hm ... Betul juga sih, Lo." "Ah, sudahlah! Jangan mikir yang aneh-aneh makanya. Gue jadi ikutan takut, woi. Ya sudah, kita pulang sekarang aja," kata Ali. "Terus si Agus gimana?" tanya Gibran. "Udah. Biarin aja. Salah sendiri datangnya telat," jawab Ali. "Dibegal kali dia tuh," ucap Gibran. "Hus, jangan gitu!" "Ah maaf-maaf. Gak baik ya bilang kayak gitu? Sama aja kayak mendoakan?" tanya Gibran. "Bukan gitu. Masalahnya kalau Agus beneran dibegal dan mati, kita bisa disuruh iuran lagi. Minus 10 ribu. Kan 10 ribu lumayan buat ngopi," kata Ali. Dan ternyata, Ali pun memiliki watak yang tak kalah buruknya dari Gibran. Mungkin juga karena efek terlalu banyak berteman dengan Gibran sehingga dia pun harus ketularan seperti itu. Mereka berdua benar-benar pulang. Arah rumah yang berbeda mengharuskan mereka berpisah dari warung kopi itu pula. Sebetulnya hari belum begitu larut malam. Baru jam 9 lebih. Akan tetapi, dengan alasan yang dikemukakan oleh Gibran tadi, mereka berdua memutuskan untuk pulang saja. "Lah, ke mana nih orang-orang? Katanya udah nunggu di sini. Kok gak ada?" tanya Agus yang baru sampai sana pada diri sendiri. Ia nampak menggaruk-garuk kepalanya. Liburan ke pantai terpaksa harus dibatalkan karena Arka tak mau ikut. Bisa dibilang, apa yang sudah direncanakan selama ini hanya menjadi sebuah wacana saja. Kenyataannya memang tidak terlaksana. Akan tetapi, pada hari-hari berikutnya, itu adalah hari yang sangat indah buat Gibran. Semuanya serba gratis untuknya. Main PS pun gratis, dan bahkan sampai pesan makanan dan minuman di cafe pun juga gratis. Itu semua berkat kemenangan dia atas pertandingan bersama kedua sahabatnya. Hingga sampailah pada hari di mana pengumuman hasil ujian nasional. Gibran yang sudah berharap banyak kalau dia bisa mendapatkan nilai yang memuaskan pun berdoa dengan sungguh-sungguh sebelum hasil nilai itu diumumkan. Ia sepertinya benar-benar berharap bisa dibelikan PS oleh ayahnya. "Hahaha ... Lo kenapa, Bran, kayak ayam kedinginan?" tanya Indra. Oh ya. Posisi mereka adalah sedang berada di kantin. Tentang pengumuman nilai ujian nasional, itu adalah urusan sang guru dan para wali murid. Meski begitu, ketegangan terlihat jelas dari raut wajah seorang Gibran. "Lo mikirin hasil ujian nasional Lo, ya?" tanya Iqbal. "Hahaha ... Baru kali ini si Kahlil Gibran mikirin nilai. Payah Lo, Bran. Gitu aja dipikirin. Nilai gak dibawa mati kali, Bran. Ya kali Malaikat akan nanya tentang berapa nilai ujian nasional Lo. Gak mungkin, lah," kata Indra. "Berisik! Gue kalau bukan demi PS dan uang jajan naik juga gak peduli dapat nilai berapapun gue," kata Gibran. "Lah. Masih karena PS? Hadeh, Bran. Kan gue udah ngasih saran supaya Lo gak usah banyak berharap. Lagipula, daripada punya PS sendiri kan mending main PS di rental PS. Bisa ketemu sama Liya," ucap Indra. "Gini nih, kalau kapasitas otaknya rendah. Biarpun gue nanti punya PS sendiri, kan masih bisa tuh main PS di tempatnya Liya. Ya kali gue ngelupain Liya gitu aja," kata Gibran. "Lo udah punya Riani, Bran. Masih mau deketin Liya?" tanya Iqbal. "Laki-laki boleh punya empat, Bal," kata Gibran. "Parah." "Ya sudahlah. Sembari menunggu Gibran kecewa berat, mending kita makan aja dulu," ucap Indra. "Ya. Ada baiknya begitu. Bal, beliin gue bakso!" perintah Gibran. Iqbal mendecak. "Ya." Entah sudah berapa nominal uang yang baik Iqbal maupun Indra keluarkan hanya untuk mentraktir Gibran. Dan parahnya lagi, masih ada banyak hari yang belum terlewati. Satu bulan itu bukan waktu yang sebentar. Dalam waktu selama itu, pastilah uang mereka akan terkuras akibat harus mentraktir Gibran. Itulah risikonya taruhan. Maka dari itu hal tersebut sejatinya dilarang. Hanya saja, remaja seperti Gibran dan kedua sahabatnya itu belum begitu mengerti tentang hal semacam itu. Sekarang, di saat sudah merasakan dampaknya, barulah ada sedikit pelajaran yang mereka terima. Uang yang harusnya bisa ditabung untuk masa depan pada akhirnya harus terpaksa dikeluarkan. Sial? Entahlah. Sepertinya itu bukan kesialan karena mereka sengaja dalam melakukannya. Itu adalah karena kesalahan sendiri yang di akhir selalu berakhir dengan penyesalan. "Eh, udah pada keluar tuh orang-orang," ucap Indra sambil menunjuk. "Bran, muka Lo biasa aja. Hahaha. Takut banget kayaknya gak dapat nilai bagus," kata Iqbal. "Gue, gak dapat nilai bagus? Hahaha ... Sorry Bos. Gue ini pintar. Pastilah akan dapat nilai yang bagus. Lihat saja entar," kata Gibran dengan penuh percaya diri. "Pintar? Pintar nyontek?" tanya Iqbal. Teringat kembali peristiwa pada hari itu di benak Gibran. Ya, ia memang mencontek. Mencontek dengan menggunakan trik yang cukup hebat. Tapi yang menjadi pertanyaannya, bagaimana bisa Iqbal tahu kalau dia mencontek? "Sembarangan aja Lo nuduhnya. Mana ada gue nyontek. Murni usaha sendiri, Bro," kata Gibran. "Hadeh. Gibran Gibran. Lo pikir kita amatiran? Lo bolak-balik ke toilet kayak gitu udah pasti Lo bawa kertas contekan. Iya gak?" "Sok tahu Lo. Jangan nuduh sembarangan, woi! Itu pencemaran nama baik namanya," ucap Gibran melakukan pembelaan diri. "Hahaha ... Terserah Lo aja, lah. Tuh, ibu Lo udah keluar ruangan," kata Indra. Lagi-lagi sambil menunjuk. "Bran, lihat deh! Kayaknya ibu Lo marah besar tuh. Coba lihat ekspresinya. Udah kayak orang yang mau makan orang. Pasti nilai Lo jelek, Bran. Hati-hati aja Lo," bisik Iqbal. Rasa takut pun menyerang diri Gibran. Bukan karena takut dimarahi, melainkan takut harapannya agar uang jajannya dinaikkan serta dibelikan PS baru jadi tidak terkabul. Kalau soal dimarahi, itu sudah biasa untuknya. Setiap semester dia pun pasti mengalaminya. "Hahaha ... Ngarang aja Lo. Itu pasti karena ibu gue mau ngeprank gue. Dia berekspresi seperti itu cuma ingin nakut-nakutin gue aja. Eh nanti ujung-ujungnya dia akan teriak bahagia karena gue dapat nilai yang sangat bagus. Ya kayak di sinetron-sinetron itu, lah," ucap Gibran. "Oh, gitu? Ya udah temuin sana!" perintah Iqbal. "Oke. Lihat nih, si calon pemilik PS baru. Lo berdua mana bisa dapat PS kayak gue. Hahaha," ucap Gibran dengan sombongnya. Kepergiannya hanya disaksikan oleh kedua sahabatnya. Gibran pun sebenarnya juga ragu atas pencapaiannya. Kalau dilihat-lihat, memang benar bahwa wajah sang ibu jelas memperlihatkan raut wajah tidak suka. Jika boleh diartikan, itu artinya ia telah mendapatkan kenyataan bahwa nilai yang didapatkan oleh anaknya jauh dari apa yang dia harapkan. "Gimana, Bu? Nilaiku bagus, kan?" tanya Gibran. "Lihat!" perintah sang ibu sambil memberikan selembar kertas ke Gibran. Gibran pun menerimanya. Isinya ternyata adalah kumpulan nilai dari semua siswa kelas 9, termasuk juga Gibran. Gibran langsung mencari namanya untuk mengetahui berapa nilainya. Dia sangat penasaran karenanya. Menggaruk-garuk kepala menjadi hal pertama yang ia lakukan ketika ia melihat nilainya sendiri. Tak buruk, tapi juga jauh dari memuaskan. Jadi inilah jawaban atas pertanyaan Gibran tentang kenapa ekspresi ibunya yang seperti itu. "Ini pasti ada kesalahan dalam pengetikan, Bu. Ya, aku yakin sekali. Mana mungkin aku dapat nilai segini," kata Gibran. "Gak ada kesalahan-kesalahan. Makanya kalau ibu bilang belajar ya belajar. Jangan main game mulu!" ucap ibunya. "Ya gimana, Bu. Aku sudah berusaha semaksimal mungkin. Tapi ternyata hasilnya masih kayak gini," kata Gibran. Ibunya diam. Tak lama setelahnya, dua sahabatnya itu dengan tanpa rasa berdosanya pun ikut bergabung bersama ibu dan anak itu. Mereka sejatinya juga belum tahu berapa nilai mereka. "Lihat! Nilaimu bahkan masih berada di bawah Indra sama Iqbal." "Beda tipis aja kok, Bu. Lagian mereka itu nyontek. Makanya bisa dapat nilai bagus," kata Gibran. Indra dan Iqbal tertawa pelan. "Sudah! Tidak usah banyak alasan." "Cuma satu alasan kok, Bu. Itupun gak ibu terima," ucap Gibran. Indra dan Iqbal hanya tertawa pelan melihat tingkah sahabatnya yang satu itu. Bisa-bisanya sifat menyebalkan yang Gibran punya masih juga berlaku pada saat dirinya berhadapan dengan ibunya sendiri. Benar-benar lelaki yang langka. "Ibu tunggu di rumah." Dan setelah itu, ibunya pun pergi dari hadapannya. Kata-kata terakhir dari sang ibu terdengar seperti sebuah ancaman. Mungkin ketika dirinya sudah sampai di rumah nanti, aura kemarahan akan tersaji di hadapannya. Amarah dari sang ibu dan ayahnya. "Hahaha ... Ketika mimpimu-" "Halah. Udah gak usah nyanyi!" sahut Gibran kesal. "Cie yang gagal dapat PS. Marah-marah mulu," ucap Iqbal. "Berisik Lo!" "Cih. Bisa-bisanya gue masih kalah sama Lo berdua," ucap Gibran. "Ya jelas, lah. Kita berdua nih aslinya pintar. Cuma gak mau sombong aja," kata Indra. "Palingan juga hasil nyontek," kata Gibran. "Jangan ngomongin diri sendiri, Bran. Hahaha," sahut Iqbal. Betapa kecewanya Gibran melihat hasil ujian nasional yang ia dapatkan. Bahkan dengan kedua sahabatnya itu saja dia masih kalah. Padahal bisa dibilang mereka berdua hanyalah penghuni papan tengah. "Kan sudah gue bilang. Lo sih terlalu banyak berharap. Kecewa berat kan Lo, sekarang?" tanya Indra. "Biasa aja," jawab Gibran. "Ah, masa? Gak jadi dapat PS lho ini," ucap Indra. "Yang jajannya juga gak nambah lho, ini," tambah Iqbal. "Bodoh amat." "Sudahlah, males. Gue mau pulang," kata Gibran. Dia benar-benar kesal pada nasib yang menimpanya. "Hahaha ... Oi, mau ke mana? Hari terakhir kita ngumpul di sekolahan ini lho, ini. Masa Lo mau balik duluan," ucap Indra sedikit berteriak. "Halah, hari terakhir mulu. Gak ada hari terakhiran. Mending gue pulang," ucap Gibran. "Udah siap dibantai habis sama ayah Lo?" tanya Iqbal. "Cerewet Lo!" Gibran berucap tanpa memandang Iqbal. Bahkan ketika sudah melakukan cara yang curang sekalipun, Gibran tetap saja tak bisa mencapai keberhasilan. Semesta seperti tak pernah berpihak padanya. Semua yang ia lakukan seolah-olah hanyalah sebuah kesalahan. Membuat contekan di sebuah kertas, yang ia kira akan membuatnya bisa mendapatkan nilai yang memuaskan pada ujian nasional kali ini ternyata berakhir mengecewakan. Nilainya tetap saja jauh dari kata memuaskan. Gibran pulang dengan perasaan yang bercampur aduk. Dia tidak takut dimarahi. Ya, sungguh dia tidak takut dimarahi oleh orang tuanya. Jika seandainya dimarahi, seorang Gibran cukup memberikan bantahan-bantahan menyebalkan atau cukup diam mendengarkan saya. Namun buka. Itu yang ia permasalahkan. Masalahnya adalah tentang rasa kecewa dia. Dengan dirinya yang gagal mendapatkan nilai memuaskan, itu berarti apa yang ayahnya janjikan kepadanya tidak akan pernah ia terima. "Ini ujian nasional. Harusnya kamu bisa lebih serius," kata ibunya, memarahi Gibran di sofa ruang tamu. "Aku udah serius kok, Bu. Cuma mata pelajarannya aja yang suka bercanda. Terlalu sulit buatku yang kemampuannya sedang kayak gini," kata Gibran. "Jangan nyalahin mata pelajaran! Kalau memang terlalu sulit dan gak pernah diajar, harusnya bukan kamu aja yang nggak bisa. Harusnya semua juga nggak bisa," ucap ibunya. "Nah. Itu berarti aku keren, Bu. Aku ini istimewa. Di saat yang lain bisa, aku sendiri yang gak bisa. Bukankah itu adalah kelebihan? Orang lain mana punya kelebihan yang aku miliki," kata Gibran. "Gibran! Ibu serius," ucap sang ibu mulai kesal dengan anak semata wayangnya itu. "Iya Bu. Aku tahu," kata Gibran tanpa rasa berdosanya. "Kamu nih anak semata wayang ibu. Nanti kamu yang akan menjadi harapan terbesar bagi ibu dan ayah. Kalau kamu kayak gini terus, bagaimana bisa nanti kamu mewujudkan harapan ibu dan ayah?" "Em ... Itu letak kesalahannya, Bu. Harusnya jangan anak semata wayang. Wayang itu matanya kecil. Masa harapan yang ibu taruh ke aku cuma segede mata wayang? Wajar saja kalau aku gagal kayak gini," bantah Gibran lagi. "Jangan membantah terus kalau dibilangin! Dengar dulu kalau ibu ngomong! Nggak usah disahut!" Ibu Gibran nampak sangat murka. Kemarahannya bagaikan suara petir yang sangat menakutkan. Meski begitu Gibran masih saja bisa bersikap tenang. Tapi satu hal yang patut diapresiasi dari diri Gibran. Setiap kali ia dimarahi, ia tetap saja tidak pernah memberikan perlawanan yang mengarah kepada ketidaksopanan, apalagi kedurhakaan. Ia lebih sering menanggapi kemarahan orang tuanya dengan candanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN