Memang begitulah Gibran. Seperti apapun dirinya, ia tetaplah lelaki yang memiliki rasa hormat yang luar biasa ke orang tuanya. Pikirnya, tak apa jika membantah kedua orang tua dengan sebuah canda. Asal jangan menyakiti hatinya. Itu saja.
"Ibu itu bukan ingin kamu selalu jadi peringkat pertama. Bukan itu. Kamu peringkat 15 pun ibu bangga asal setelahnya kamu mau memperbaiki dan meningkatkannya," kata ibunya.
"Oke, untuk masalah ujian nasional SMP, gak apa-apa kamu dapat nilai segini. Lagipula pun semuanya udah berlalu. Mau diperbaiki bagaimanapun juga percuma. Tapi ibu harap di jenjang pendidikan berikutnya kamu bisa meningkatkannya. Kamu sanggup, Bran?"
Tak ada jawaban dari Gibran. Padahal jelas-jelas nampak kalau Gibran sedang mendengarkan ocehan ibunya. Tapi anehnya ketika sang ibu bertanya, ia tak menjawab dengan sepatah katapun. Takut? Rasanya tidak mungkin seorang Gibran takut dengan amarah orang lain. Tersentuh atas kata-kata ibunya? Entahlah. Tidak ada yang tahu kenapa kecuali Gibran sendiri.
"Gibran, kamu dengar ibu, nggak? Jangan diam saja!"
"Lah, tadi katanya disuruh gak boleh nyahut. Tapi sekarang kok gak boleh diam aja sih, Bu. Yang benar ini yang mana? Kan aku jadi bingung," ucap Gibran.
"Hadeh. Lama-lama bisa pecah nih kepala kalau nanggepin kamu."
"Ya jangan lah, Bu," kata Gibran.
"Makanya jangan membantah mulu kalau sama orang tua!" kata ibunya.
"Lah. Aku tidak membantah. Aku cuma berbicara fakta, Bu. Gimana sih?"
Memang tidak seharusnya seorang anak berbuat semacam itu kepada ibunya. Tapi atas dasar canda, serta untuk menghindari sesuatu yang buruk terjadi padanya, apapun akan Gibran lakukan termasuk apa yang kini ia lakukan ke ibunya.
Bahkan orang yang telah mengandungnya, orang yang telah merawatnya dari kecil, orang yang telah mengenalnya sudah sejak lama pun juga berhasil dibuat kesal. Keahlian Gibran dalam hal membuat kesal orang lain memang tidak ada lawannya. Dia adalah yang terhebat dalam melakukannya.
Ibunya sampai menyerah dan tak mau memarahinya lagi. Untuk sementara Gibran bisa berada dalam posisi aman. Namun itu baru ibunya, belum lagi ayahnya. Tapi bagi Gibran, dalam hal ini ia lebih takut kemarahan ibunya daripada ayahnya.
Dan malam harinya pun Gibran kembali disidang oleh kedua orang tuanya di sofa ruang tamu. Ada sedikit perasaan tidak tenang yang Gibran rasakan. Tapi berhasil ia hadapi dengan mudah.
"Makanya jangan main game terus! Belum punya PS aja udah kayak gini apalagi jika ayah beliin kamu PS," kata sang ayah.
"Kalau Ayah jadi beliin aku PS, ya aku belajarnya malah lebih semangat, lah," bantah Gibran.
"Semangat gimana? Kamu belum punya PS aja udah kayak gini."
"Itu karena ada kesalahan teknis, Yah. Eh mah berujung fatality. Eh, maksudku berujung fatal," ucap Gibran.
"Gibran! Kalau orang tua ngomong gak usah jawab mulu!"
"Ah, kayak Ibu aja. Nanti kalau Ayah nanya terus aku diam aja, entar diomelin lagi, disuruh ngejawab. Sumpah jadi serba salah aku," kata Gibran.
Dengan tanpa rasa berdosanya, si ibu yang juga sedang berada di sana malah tersenyum melihat kelakuan anak semata wayangnya.
"Kalau begitu, Ayah jadi semakin mantap untuk menyekolahkan kamu di sekolahan pilihan Ayah. Dan di sana nanti kamu harus menjadi lebih baik dari yang sekarang."
"Eh, Yah. Kok gitu, sih. Kalau nanti gak sesuai dengan selera aku gimana?" tanya Gibran.
"Udah gak usah protes! Pokoknya mulai sekarang, kamu cuma harus menurut. Akan Ayah sekolahin di mana itu urusan Ayah nanti. Dan mulai sekarang juga, uang jajan kamu kembali Ayah potong sebagai hukumannya," kata sang Ayah.
"Lah. Ini gak ada di dalam perjanjian lho, Yah. Kok seenaknya Ayah tambah-tambahin sendiri tanpa ada keputusan bersama. Itu namanya tidak adil, Yah. Harusnya sebagai warga negara yang baik Ayah bisa mengamalkan pancasila sila ke lima," ucap Gibran.
"Eh, hebat ya anak Ayah. Tapi hebatnya kenapa cuma saat membantah? Buktikan di SMA nanti kamu bisa jadi lebih baik. Nanti akan ada hadiah lagi yang akan Ayah berikan ke kamu," kata sang Ayah.
Gibran beranjak. Ia ingin pergi ke kamarnya sekarang juga. Rasanya ia sudah tidak sanggup menghadapi beban hidupnya. Uang jajannya akan kembali dipotong. Itu artinya ia harus sedikit hemat dalam membelanjakannya. Sungguh beban yang berat bagi orang yang boros seperti Gibran.
"Hm ... Ya sudahlah. Emang Ayah nih terlalu tega sama anak semata sapinya," kata Gibran sok melas sambil berlalu pergi.
Dan lelaki itupun benar-benar pergi. Lebih tepatnya pergi masuk ke dalam kamarnya. Ia sudah sangat lelah menghadapi kedua orang tuanya itu. Pikirnya menyendiri di kamar sambil bermain ponsel adalah pilihan yang terbaik untuk saat ini.
"Lihat tuh anak kamu! Anak semata sapi katanya," ucap sang Ayah.
"Anakmu juga tuh. Katanya kalau mata wayang kekecilan. Jadinya sekarang dia ubah jadi mata sapi."
"Heh. Kok bisa-bisanya ya kita punya anak kayak gitu?" tanya sang Ayah.
"Ya gak tahu. Kan Ayah yang buat."
"Iya juga ya. Buat lagi yuk!" ajak si Ayah dan hanya dibalas dengan senyuman oleh istrinya.
Sementara itu di dalam kamar, Gibran tengah merenungi nasibnya yang kurang beruntung. Ia memainkan ponselnya, tapi dengan keadaan hati yang tidak tenang. Sepertinya ada banyak sekali masalah yang ia pikirkan.
"Kalau dipikir-pikir, betul juga apa yang dikatakan sama Ayah dan Ibu. Gue disekolahin kayak gini harusnya bisa jadi pribadi yang pandai, bukan malah kayak gini," ucapnya pelan.
"Tapi kemampuan gue emang cuma segini. Gimana bisa gue dapat peringkat satu dengan kemampuan terbatas kayak gini? Haduh! Mungkin lebih baik pasrah aja lah. Gak dibeliin PS ya sudah. Uang jajan dipotong juga bodoh amat. Yang penting sekarang gue tidur," ucap Gibran lagi.
Liburan panjang telah tiba. Bagi remaja seumuran Gibran, yang dipikirkan hanyalah main dan berkumpul bersama teman-temannya atau mungkin juga menyendiri di dalam kamar seharian. Bagi mereka, liburan sekolah adalah hal yang sangat spesial. Waktu di mana mereka bisa bersantai tanpa harus memikirkan beban mata pelajaran lagi.
Tak ada hal lain yang dilakukan oleh Gibran dan teman-temannya selain hanya bermain PS, pergi ke warung kopi atau ke tempat-tempat hiburan lainnya. Bukan cuma itu, bagi Gibran pribadi, ia memanfaatkan waktu libur sekolahnya untuk bisa pergi keluar rumah bersama Riani, sang pujaan hatinya. Setidaknya itu bisa menjadi penghapus rindu karena nantinya ada kemungkinan yang sangat besar bahwa dirinya tidak bisa bersekolah di sekolahan yang sama dengan Riani.
"Gibran," panggil Riani ke Gibran sewaktu mereka berada di gedung bioskop. Ah, lebih tepatnya di depan gedung bioskop.
Ya, mereka berdua baru saja menonton film di gedung bioskop. Hal yang benar-benar tidak patut untuk dicontoh dari kedua remaja seperti mereka. Mengurus diri sendiri saja pun belum bisa, kenapa harus mengurus anak orang?
"Iya Riani?" Gibran berucap.
"Kamu tiap hari main PS, ya?" tanya Riani.
"Ya nggak tiap hari, sih. Tapi sering. Emang kenapa?" jawab sekaligus tanya Gibran.
Entah kenapa saat Riani menanyakan soal hal itu jantung Gibran terasa berdetak 2 kali lebih cepat dari biasanya. Dia takut kalau Riani sampai tahu tentang si anak pemilik rental PS. Kalau tahu, bisa-bisa hubungannya dengan Riani hancur seketika pada saat itu juga.
"Gak apa-apa, sih. Nanya aja. Berarti hebat dong main PS nya?" tanya Riani.
"Hebat banget. Apalagi waktu main game sepak bola. Bahkan aku juga dapat julukan, lho," ucap Gibran.
"Julukan?" tanya Riani.
"Iya. Julukan. Saking hebatnya aku main game sepak bola, aku sampai dapat julukan dari teman-temanku. Kamu tahu mereka menjuluki aku apa?" jawab sekaligus tanya Gibran.
"Apa?"
"Si papan bawah," jawab Gibran sambil cengar-cengir.
Riani memutar bola matanya. Dia yang sudah sangat serius mendengarkan setiap kata yang terucap dari mulut pacarnya itu pun akhirnya harus kecewa.
"Hm. Kita udah mau lulus SMP, kan?" tanya Riani.
"Mungkin," jawab Gibran.
"Kok mungkin."
"Karena kamu belum tentu lulus," kata Gibran.
"Ih. Ya lulus lah. Kamu kali yang gak lulus," balas Riani. Gibran cuma tertawa.
"Iya iya. Terus kenapa kalau udah mau lulus SMP?" tanya Gibran.
"Kamu beneran gak mau sekolah di SMA yang sama kayak aku?"
"Em ... Gak tahu juga. Tergantung ayah mau masukin aku ke sekolahan mana," jawab Gibran.
"Gitu ya? Ya semoga aja ayah kamu mau masukin kamu ke sekolahan yang sama kayak aku," kata Riani.
"Diaminin gak?" tanya Gibran.
"Ya terserah," jawab Riani.
"Ya udah. Aamiin," ucap Gibran.
Di umur yang baru segitu, wajar saja kalau mereka belum bisa menciptakan kebersamaan yang lebih hebat. Gibran pun juga belum punya banyak pengalaman tentang pacaran. Jadi dimaklumi saja jika gaya pacaran mereka masihlah gaya berpacaran yang biasa saja.
"Besok aku boleh ke rumah kamu?" tanya Gibran.
"Ngapain?" tanya Riani balik.
"Ngasih sumbangan," jawab Gibran.
"Ih, serius dong. Mau ngapain?" tanya Riani lagi.
"Mau nawarin barang dagangan ibuku," jawab Gibran lagi.
"Gibran. Aku nanya serius, lho," ucap Riani.
"Aku juga jawab serius lho," balas Gibran.
Banyak orang bilang. Apapun yang dilakukan oleh orang tersayang, pasti akan dibenarkan. Begitu pula sebaliknya. Apapun yang dilakukan oleh orang yang sangat dibenci, sekalipun yang dilakukannya itu benar, pasti akan disalahkan. Tapi Riani tidak. Gibran adalah lelaki yang sangat ia sayangi. Tapi apa yang ia rasakan ketika Gibran bertingkah? Hampir dari semua tingkah Gibran ia salahkan. Bukannya apa-apa. Karena memang sejatinya sikap Gibran yang seperti itu tidaklah pantas untuk dibenarkan.
Riani dipaksa oleh sifat Gibran untuk selalu kesal dalam setiap pertemuan dengannya. Contohnya saja yang sekarang ini terjadi. Jika bukan karena cinta, tak mungkin Riani mau bertahan di depan manusia yang sudah hampir sakit jiwa.
"Aku tanya sekali lagi dan jawab dengan serius! Mau ngapain?" tanya Riani lagi.
"Mau nyoba nginjakin kaki ke lantai rumah kamu," jawab Gibran. Riani memalingkan wajahnya dari Gibran karena kesal.
"Hahaha ... Wajarnya orang kalau mau datang ke rumah itu mau ngapain sih?" tanya Gibran.
"Main, berkunjung," jawab Riani.
"Nah itu tahu. Masa aku gak boleh datang ke rumah kamu?" ucap Gibran.
"Em ... Gimana, ya? Bukannya gak boleh, Bran. Tapi aku takut kalau orang tuaku marah," kata Riani.
"Marah kenapa?" tanya Gibran.
"Sebenarnya, aku ini nggak boleh pacar-pacaran dulu. Masih belum saatnya katanya. Takutnya nanti aku gak bisa jaga diri dan terjadi apa-apa sama aku," jawab Riani.
"Lah. Cuma itukah alasannya?" tanya Gibran. Riani mengangguk lemah.
"Tapi ini aku, lho. Ya kali aku mau ngapa-ngapain kamu," kata Gibran.
"Ya pokoknya gitu lah kata ayah sama ibu aku. Makanya aku gak berani," ucap Riani.
Rupanya itu alasan kenapa Riani selalu menolak ketika Gibran ingin datang berkunjung. Bahkan baru sekarang Gibran mengetahuinya. Ini benar-benar alasan yang menyakitkan. Kalau urusannya sudah sama orang tua, maka tinggal pasrah lah jadinya.
"Begitu, ya? Ya udah sih, gak apa-apa," kata Gibran.
"Maaf, ya. Aku juga pengen kamu datang ke rumahku. Tapi mau gimana lagi? Aku dilarang pacaran," ucap Riani.
"Tidak masalah. Eh, tapi aku pernah nganterin kamu pulang itu kamu bilangnya gimana?" tanya Gibran.
"Bilang kalau dianterin teman. Hehehe," jawab Riani.
"Cih. Jadi aku cuma dianggap teman?" tanya Gibran.
"Ih. Bukanlah, Gibran. Itu cuma alasan aja. Kalau ngaku dianterin pacar, ya bisa tewas akunya," ucap Riani.
"Wih, mengerikan."
"Terlalu berlebihan, ya?" tanya Riani.
"Ha? Enggak kok. Mungkin emang benar kalau kamu ketahuan pacaran, kamu bisa tewas di tangan ayah kamu sendiri," kata Gibran. Riani cuma diam.
Padahal sejatinya perasaan Gibran mengatakan kalau dia sedang tidak ingin bercanda. Mendengar pengakuan dari Riani membuat dia merasa sebal dan kesal. Terlalu banyak peraturan yang diberikan oleh orang tua gadis itu kepada sang anak.
"Pulang yuk! Jangan petang-petang pulangnya. Kasihan kamu kalau terlalu petang," ajak Gibran.
"Heh. Aku udah biasa kali, Bran. Kamu tuh yang kasihan," balas Riani.
"Hahaha ... Iya udah ayo pulang!" ajak Gibran lagi. Riani cuma mengangguk.
Pertemuan singkat dan diakhiri dengan perpisahan yang sementara. Hampir setiap hari begitulah kegiatan mereka berdua selama liburan. Hanya saja yang sangat disayangkan adalah tentang Gibran yang tak bisa menjemput atau mengantarkan Riani pulang. Tentu alasannya adalah terletak pada Riani sendiri yang mengaku tidak diperbolehkan oleh orang tuanya untuk berpacaran. Andai saja diperbolehkan, mungkin setiap hari Gibran akan datang ke rumah Riani.
Hari-hari berlalu hingga saat perpisahan itu akhirnya tiba. Perpisahan sekolah, satu hal yang paling menyedihkan bagi para pelajar. Gibran datang ke sekolahan dengan mengenakan pakaian putih birunya. Bersama dengan teman-temannya, dirinya pun berkumpul.
"Kita gladi bersih dulu yuk, teman-teman!" ajak Rina.
"Gladi kotor aja gimana?" tanya Indra.
"Terserah Lo aja, lah. Ayo teman-teman! Giliran kita tampil sudah mau tiba, nih," ucap Rina.
"Emang kita mau tampil apaan?" tanya Iqbal dengan polosnya.