"Nyanyi Bal. Astaghfirullah. Masih nanya lagi?" tanya Rina.
"Oh. Nyanyi ya? Oke deh, gue paham," kata Iqbal.
"Ya udah ayo kita latihan!" ajak Rina lagi.
"Latihan apa? Emang mau ada acara apa kok pakai latihan?" Gibran yang sedari tadi diam akhirnya berucap.
Sekali berucap, lelaki itu langsung membuat yang lain terpancing untuk merespon ucapannya. Bagaimana tidak? Pertanyaan yang ia lontarkan benar-benar jauh dari kata penting. Jika tidak dijawab pun seharusnya dia sudah tahu dengan sendirinya.
"Nih anak malah lebih parah. Wahai Gibran, temanku. Rekan main PS ku yang sering terbantai. Cobalah untuk menjadi manusia yang tidak menyebalkan untuk satu hari saja. Bisakah kau wahai temanku?" tanya Ali dengan gaya bahasanya yang tidak enak didengar.
"Wahai Ali, orang yang ngaku temanku tapi tidak kuanggap sebagai teman. Sebenarnya aku bisa menuruti permintaanmu itu, wahai orang yang menganggapku teman. Tapi tidak tahu mengapa rasanya susah sekali. Aku bingung bagaimana cara melakukannya. Namun untuk menghargai, aku akan mencobanya wahai orang yang menganggapku teman," ucap Gibran ikut-ikutan.
"Lo berdua ngomong apa, sih? Jijik gue dengarnya," ucap Iqbal.
"Wahai Iqbal. Engkau tidak usah-"
"Ah sudah! Jangan buang-buang waktu lagi! Ayo kita latihan!" sahut Rina.
Entah sudah ditakdirkan atau bagaimana, intinya setiap kelas pasti ada paling tidak satu saja seorang perempuan yang super berani. Seolah-olah dia tak mempunyai ketakutan sedikitpun ke para lelaki. Dan dalam kelas Gibran, perempuan seperti itu adalah si Rina. Galak orangnya, lumayan cantik wajahnya dan mungkin juga jago berantem.
Dengan jiwa kepemimpinannya ia bahkan berhasil menundukkan lelaki paling menyebalkan, siapa lagi kalau bukan si Gibran. Ya, bahkan seorang Gibran pun mau tunduk kepadanya. Entah Gibran yang lemah atau Rina yang terlalu hebat.
Hari ini adalah hari terakhir mereka berkumpul di sekolahan ini. Berbeda dari hari-hari sebelumnya yang katanya akan menjadi hari terakhir berkumpul tapi nyatanya masih ada hari yang lain. Hari ini benar-benar akan menjadi momen terakhir mereka semua bisa berkumpul. Dalam arti berkumpul di sekolahan.
Dan di hari terakhir pula juga akan ada pertunjukan terakhir yang nantinya akan mereka buat. Di atas panggung yang tak begitu megah dan disaksikan oleh banyak orang terutama para orang tua murid dari kelas 7 sampai kelas 9.
"Memasuki acara selanjutnya adalah sambutan-sambutan yang akan disampaikan oleh Pak Anwar."
Sang pembawa acara membacakan acara selanjutnya. Gibran yang mendengar nama Pak Anwar disebutkan pun langsung jadi sensi seketika sembari merasakan akan ada hal yang kurang menyenangkan yang bisa saja menimpanya.
"Hadeh si Anwar. Kenapa sambutannya harus tuh orang, sih?" tanya Gibran entah ke siapa.
"Hahaha ... Emang kenapa, Bran, kalau dia?" tanya Iqbal yang memang sedang berada di sampingnya.
"Dia kan punya dendam pribadi sama gue. Bisa aja dendam itu dipublikasikan. Dan nanti ibu gue bisa tahu kalau anaknya yang baik hati dan agak sombong ini nakal sewaktu di sekolahan. Padahal aslinya kan enggak," ucap Gibran.
"Enggak dari mananya sih, Bran? Udahlah, mending terima nasib aja jika memang benar Pak Anwar akan mempublikasikan apa yang telah lo perbuat ke dia," ucap Iqbal.
"Halah, ya sudahlah. Palingan dia juga gak berani melakukannya," kata Gibran.
Oh ya. Memang Gibran dan teman-temannya sudah selesai melaksanakan gladi bersih. Maka dari itu kini mereka sudah bisa melihat acara perpisahan sekolah itu.
Gibran menantikan Pak Anwar berbicara. Sungguh ia yakin sekali kalau nanti Pak Anwar pasti akan menyebut namanya dalam sambutannya. Sial memang. Padahal yang diinginkan Gibran sebenarnya adalah disebut namanya oleh Liya di dalam cerita yang dibuat oleh Liya. Tapi yang didapat malah seperti itu.
Kekhawatirannya ternyata terbukti benar. Pak Anwar menyebutkan nama Gibran sekaligus tingkah usil yang Gibran lakukan ke Pak Anwar. Sontak karena itu pula suara tawa terdengar begitu menggelora di seluruh penjuru. Namun Gibran cuma bisa menepuk dahinya pelan karena malu. Dan kira-kira beginilah apa yang dikatakan oleh Pak Anwar di depan semuanya.
"Saya ucapkan selamat jalan bagi anak-anak kelas 9. Saya harap kalian bisa masuk di sekolahan yang kalian impikan, dan jujur, saya pribadi pasti akan merindukan kalian. Terutama merindukan salah satu murid yang menurut saya pribadi paling usil. Gibran namanya."
Mulai dari situ sudah terdengar suara tawa yang teramat kencang. Belum lagi ketika Pak Anwar menambahkan kata-katanya.
"Saya mungkin nanti akan rindu untuk menghukumnya ketika dia ketahuan menggedor-gedor pintu toilet secara sengaja ketika dia tahu di dalamnya sedang ada saya," tambah Pak Anwar.
Betapa malunya Gibran mendengarnya. Itu baru Gibran. Tak tahu bagaimana perasaan ibunya ketika mendengarkannya. Pasti akan tambah malu. Bisa-bisanya dia punya anak yang seperti Gibran. Terkenal di sekolahan bukan karena prestasinya, melainkan karena keusilan dan kenakalannya.
"Sial! Gue gak menyangka gue ini terkenal," ucap Gibran.
"Terkenal karena nakal. Hahaha," kata Iqbal.
"Tak apa. Setidaknya gue terkenal," ucap Gibran.
Sambutan dari Pak Anwar masih belum selesai. Dan di akhir sambutan, Gibran lagi-lagi harus tertimpa kesialan di saat Pak Anwar menyampaikan sesuatu yang langsung membuatnya mati kutu.
"Dan di akhir sambutan ini, saya ingin meminta sesuatu kepada murid paling usil yang pernah saya punya itu untuk maju ke depan dan memberikan kesan dan pesan untuk semuanya," ucap Pak Anwar.
Deg!
Tentu saja itu terlalu mendadak. Meski Gibran sangat pandai dalam berbicara, tapi tetap saja ia bisa grogi ketika harus berbicara di depan banyak orang. Perlu diketahui, berbicara atas dasar keinginan sendiri jauh lebih gampang daripada berbicara atas dasar permintaan atau perintah dari orang lain.
"Udah, sono Bran, maju!" perintah teman-temannya.
Dan para teman laknat itu dengan bahagianya malah mendorong-dorong tubuh Gibran agar dia mau maju ke depan. Lalu berdiri di atas panggung sekaligus menyampaikan pesan dan kesan selama ia bersekolah di SMP itu.
"Iya iya. Emang parah tuh si Anwar. Gue mulu yang kena," kata Gibran dengan nada tak suka.
"Udah jangan banyak omong! Cepat sana maju!" kata Indra.
"Iya Ndra, iya," ucap Gibran.
Suara tepuk tangan turut mengiringi naiknya seorang Al Gibran Ramadhana ke atas panggung. Semua mata menyorot ke gesture tubuh yang nampak biasa saja itu. Ya, Gibran bersikap seolah-olah dia biasa-biasa saja, tapi di dalam hatinya tersimpan sebuah rasa grogi yang luar biasa.
Namun ia tahu kalau ini bukan saatnya dirinya menampilkan rasa tidak percaya diri. Dengan ia menampilkannya, itu sama saja dengan bunuh diri. Aneh saja jika seorang manusia seperti Gibran dibuat mati kutu hanya karena disuruh berbicara di depan banyak orang.
Mikrofon telah ia pegang. Kini bukan cuma grogi dan tidak percaya diri yang ia rasakan. Tapi juga bingung mau bicara apa. Hatinya sedang gelisah. Otaknya dipaksa untuk berpikir berat secara cepat. Namun raganya mau tidak mau harus selalu terlihat santai.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh," ucap Gibran. Dan semua orang pun menjawab salamnya.
Ketegangan yang ia rasa tak sepantasnya tetap berada di dalam hatinya. Ia hanya perlu menghilangkannya. Setidaknya sampai tugas dia berbicara di depan banyak orang itu selesai.
"Banyak orang yang sibuk dengan rindunya. Entah itu merindukan pasangan atau yang lainnya. Rasa rindu itu memang tak akan pernah bisa dibendung. Bahkan di hari tua nanti, kita semua pun juga pasti akan merasakannya, dan hal yang paling dirindukan ketika tua nanti adalah masa lalu. Seperti sekarang ini, ketika saya berdiri di sini, di depan semua orang dan disaksikan banyak pasang mata. Ini pasti akan menjadi kenangan yang sangat saya rindukan. Terima kasih untuk Pak Anwar yang telah memberikan kenangan ini untuk saya," ucap Gibran panjang lebar.
Dalam bicaranya, sebenarnya Gibran juga sedang memikirkan kata-kata apa yang akan ia ucapkan di depan semua orang. Motivasinya hanya satu. Yang penting selesai. Itu saja.
"Sekolahan ini tentu akan menjadi sejarah. Saya tentu saja tidak akan melupakannya. Melupakan semua yang ada di sini. Atau bahkan melupakan kenakalan saya selama bersekolah di sini. Terlalu banyak peristiwa yang telah terjadi di sini. Sehingga saya pun tak bisa menyebutkan satu-persatu. Intinya, kesan yang saya dapatkan, itu benar-benar sangat menyenangkan," lanjut Gibran.
"Dan untuk pesan kepada semuanya. Kepada adik-adik kelasku khususnya. Jadilah murid seperti saya. Karena dengan menjadi seperti saya, kalian akan dikenal oleh para guru. Jahili guru, karena dengan begitu, kalian akan meninggalkan kesan yang dirindukan oleh para guru. Ingat itu baik-baik para adik kelas!"