Bab 31

1718 Kata
Anehnya, gaya bicara Gibran sudah sangat berbeda. Dibanding di awal, ketika dirinya baru mengucap salam, nyatanya kini sudah sangat jauh berbeda. Dia sudah lebih percaya diri dan sepertinya perasaan groginya pun sudah sepenuhnya menghilang. "Hahaha ... Tidak tidak. Saya cuma bercanda. Pesan saya, semoga kalian bisa mencontoh yang baik-baik dari saya dan dari kakak-kakak kelas yang lain. Hormatilah guru! Ya biarpun sebenarnya orang seperti saya tak pantas bilang seperti itu. Tapi kalau memang mau menjadi orang sukses, hormatilah guru! Jangan banyak membantah, apalagi membentak dan menyakiti hatinya. Karena sejatinya guru itu orang tua kita sewaktu di sekolahan. Maka dari itu kita harus mengormati mereka seperti kita mengormati orang tua kita," ucap Gibran. "Dan sekali lagi, jangan contoh saya! Saya adalah contoh yang gagal," lanjutnya. "Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh," ucapnya lagi dan dijawab oleh semua orang. Barulah setelah itu keringat dinginnya keluar. Hembusan napas leganya nampak jelas di mata orang yang melihatnya. Ini adalah satu pengalaman baru yang tak kan pernah bisa ia lupakan. "Wih, lumayan. Ada peningkatan," kata Indra. Entah kata-kata itu adalah pujian untuk Gibran atau apa. "Apanya yang lumayan? Apanya yang ada peningkatan?" tanya Gibran bertubi-tubi. "Lo lumayan udah berani maju dan ngomong di depan banyak orang," jawab Indra. "Huff ... Tuh guru udah detik-detik terakhir masih aja bikin kesel. Sebenarnya maunya apa sih, dia?" tanya Gibran. "Disyukuri aja lah, Bran. Anggap saja ini persembahan terakhir dari lo selama bersekolah di sini," ucap Indra. "Persembahan terakhir apaan? Nanti masih ada nyanyi-nyanyi gak jelas itu," ucap Gibran. "Eh. Iya juga sih. Kalau begitu anggap saja ini dua persembahan terakhir dari lo," kata Indra. "Ah, terserah lah. Yang penting gue udah selesai melaksanakan apa yang diminta oleh tuh guru," kata Gibran. Hari ini, hari di mana semuanya akan berakhir. Perpisahan sekolah yang dilaksanakan pada hari ini adalah penutup dari 3 tahun lamanya Gibran bersekolah di SMP itu. Tinggallah kenangan dan segala apa yang telah terjadi di sana. Akan ada kerinduan yang mendalam di kala dia mengingat momen-momen itu. Itu pasti. Segalanya benar-benar telah berakhir. Diakhiri dengan persembahan terakhir dari Gibran dan teman-temannya. Menyanyi di atas panggung dengan penuh penghayatan dan mimik wajah sedih yang meyakinkan. Lagu-lagu yang dinyanyikan pun bukanlah lagu-lagu galau atau lagu-lagu tentang cinta, melainkan khusus lagu perpisahan sekolah. Bahkan seorang Gibran yang kelihatannya tidak peduli dengan apapun, nyatanya juga ikut bersedih di kala lagu-lagu itu ia nyanyikan. Mungkin bukan masalah lagunya, tapi masalah hatinya yang tak siap untuk berpisah dengan teman-temannya. Terlalu banyak kenangan yang telah terjadi, dan rasanya sulit untuk ditinggalkan begitu saja. "Oi, foto-foto dulu, yuk!" Lamunan Gibran harus buyar seketika di kala salah satu teman perempuannya berucap kepada teman-temannya. Ia pun sontak langsung memandang ke sembarang arah, mencari siapa orang yang sudah membuyarkan lamunannya itu. "Oi, ayo foto-foto!" ajaknya lagi. Dan ternyata orang itu adalah Cheryl. "Foto aja sendiri. Ngapain ngajak-ngajak?" sahut Gibran. "Lo ngeselin banget sih jadi orang. Lagian siapa juga yang ngajak lo," ucap Cheryl. "Huu ... Emang ada yang mau Lo ajak foto? Hahaha," kata Gibran. "Ih." Cheryl memposisikan tangannya seolah-olah sangat ingin menerkam Gibran. Ia sungguh kesal dengan lelaki itu. "Hadeh. Berantem aja terus sampai jadi jodoh," ucap Ali di tengah-tengah perkelahian Gibran dan Cheryl. "Idih. Lo aja sono yang jodoh sama Gibran," kata Cheryl. "Mana bisa. Gue kan cowok. Gibran juga cowok. Kalau gue sama lo, ya bisa diatur lah ini perasaan," kata Ali. "Cie ...." "Hahaha ... Ya udah lah. Ayo kita foto-foto!" ajak Rina. "Oke Bos," jawab Rina. "Kalau sama Rina aja gak berani bilang kayak yang tadi. Eh sama gue berani. Penakut lo," ucap Cheryl. "Lah. Bodoh amat," kata Gibran. Tentang Gibran dan Cheryl, sebenarnya mereka lebih cocok jadi kakak beradik. Mungkin dari pandangan Gibran, postur tubuh Cheryl yang mungil membuatnya gemas sehingga dirinya senang sekali menjahilinya. Dan perlu diketahui. Sebelum ada Riani, Cheryl lah gadis yang paling dekat dengan Gibran. Maksudnya adalah dekat karena sering berkelahi seperti itu. Bahkan setiap kali mereka berantem, teman-temannya kerap kali menjodoh-jodohkan mereka berdua. Tapi bagi Gibran sendiri, ia seolah-olah tak memperdulikannya dan tetap melakukannya di lain hari. Dan sudah, foto bersama itu akan menjadi foto paling fenomenal yang pernah ada. Dari jepretan kamera ponsel yang tak sebegitu bagus, dan akan dijadikan kenangan sampai hari tua. Kini pertanyaannya tinggal satu. Jika berpisah dan suatu saat nanti bertemu kembali, apa mereka masih tetap sama seperti dulu lagi? "Sebenarnya aku tidak terlalu takut dengan yang namanya perpisahan. Yang aku takutkan adalah ketika bertemu kembali, sifat mereka ke aku tak lagi sama." Ada kata-kata yang Gibran ingat seputar perpisahan. Dan itulah yang membuat dia merasa sedih. Padahal ini barulah perpisahan sementara yang masih ada kemungkinan untuk bisa berjumpa kembali. Lalu bagaimana jika sudah ada perpisahan untuk selama-lamanya? 2 bulan kemudian.... Hari baru telah tiba. Sekolahan baru telah menanti di depan mata. Teman-teman baru juga sudah menunggu untuk memperkenalkan namanya. Ditambah lagi juga kakak-kakak kelas baru yang tak sabar untuk bergaya di depan para adik kelasnya. Dan khusus bagi Gibran, gadis-gadis baru juga telah menanti untuk siap dijadikan pacarnya. Kini lelaki itu bukan lagi seorang siswa berseragam putih biru. Kini seragamnya telah berganti menjadi seragam putih abu-abu. Dia adalah seorang anak SMA, bukan lagi SMP seperti beberapa bulan yang lalu. Namun sayangnya, sang ayah menyekolahkan dia di sekolahan yang berbeda dari teman-teman SMP nya. Bahkan tak ada satupun dari teman SMP nya yang bersekolah di sekolahan yang sama dengannya, termasuk juga Iqbal, Indra atau bahkan juga Riani. Tapi itu tak begitu menjadi masalah untuknya. Selagi di sana ada gadis-gadis yang cantik, pasti dia akan betah sekolah di sana. "Oi Bro. Sendirian aja?" tanya Gibran ke seorang lelaki yang tidak dikenalnya. "Iya," jawabnya. "Emang di mana teman-teman lo?" tanya Gibran lagi. "Gak ada. Teman-teman SMP gue gak ada yang sekolah di sini," jawabnya. "Waduh! Kita sama. Hahaha," kata Gibran. Begitulah Gibran. Di samping sifatnya yang menyebalkan, dia juga sangat pandai dalam bergaul. Termasuk juga bergaul dengan teman-teman barunya. Maka dari itu ia tak begitu masalah jikalaupun harus datang sendirian ke sekolahan yang baru. Biasanya, kebanyakan orang akan berpikir dua kali untuk memilih sekolahan baru jika tidak ada teman yang sudah kenal lama. Mereka takut jika nantinya di sekolahan baru akan dijadikan bahan bully-an. Mereka juga takut tidak bisa mendapatkan teman di sana ataupun pemikiran buruk lainnya. Tapi Gibran tidak. Ia optimis bisa bergaul dengan mereka layaknya pergaulannya dengan teman-teman SMP-nya. "Oh ya. Gue Gibran. Nama lo siapa?" tanya Gibran setelah ia memperkenalkan namanya. "Gue Ridho," ucap lelaki itu. "Waduh! Jadi kalau ada orang yang jahat sama lo atau jika anak lo kelak durhaka sama lo, lo akan tetap Ridho, ya? Hahaha," ucap Gibran. "Hahaha ... Ya begitulah," ucap Ridho. Belum lama Gibran berada di sekolahan barunya dan dengan begitu mudahnya dirinya bisa mendapatkan seorang teman. Ridho namanya. Ciri-cirinya agak membingungkan. Lumayan ganteng, tapi matanya agak ada benjolan kecilnya. Entah itu benjolan permanen atau sementara saja singgah di matanya. Lama Gibran dan Ridho berbincang. Mulai dari nanya-nanya soal alamat atau berasal dari sekolahan mana. Lama-kelamaan Gibran mulai menyadari kalau Ridho orangnya juga mengasyikkan. Maksudnya, tingkahnya juga ada kesamaan dengan dua sahabat semasa SMP nya meskipun cuma sedikit. Maklum saja. Kalau orang baru kenal, mungkin masih ada rasa canggungnya. "Eh, ngomong-ngomong, tuh mata lo kenapa?" tanya Gibran. "Nggak tahu juga gue. Tiba-tiba ada kayak gini," jawab Ridho. "Menurut mitos yang beredar, jika mata seseorang kayak gitu, itu tandanya dia pernah memberikan sesuatu ke orang lain, tapi sesuatu itu diambil kembali. Lo pernah ngelakuin hal kayak gitu, nggak?" tanya Gibran. "Parah. Ya nggak pernah, lah. Ya kali gue kayak gitu," ucap Ridho. "Hahaha ... Kan siapa tahu aja gitu," ucap Gibran. "Nggak lah," ucap Ridho. Perbincangan antara keduanya berakhir sampai di situ saja sebelum pada akhirnya ada pengumuman lewat pengeras suara yang menyuruh para siswa baru untuk segera memasuki aula. Tak tahu untuk apa. Mungkin untuk diberi pengumuman. Gibran dan Ridho pun pergi ke aula dan mendapati sudah ada banyak orang di sana. Mereka berdua pun memilih duduk bersama para murid laki-laki yang lainnya. Ada satu pengumuman penting dari sang guru kepada para murid barunya. Besok, semua murid akan menjalankan masa orientasi siswa yang bisa disingkat dengan sebutan MOS. Di hari esok pula akan dibentuk kelompok-kelompoknya. Untuk hari ini, sepertinya belum ada kegiatan apa-apa selain hanya perkenalan antar murid baru. "Wih. Bening juga tuh anak," ucap Gibran pelan. "Dho. Lihat deh tuh cewek," ucap Gibran. "Ha? Mana mana?" tanya Ridho. "Itu, yang lagi makan cilok," jawab Gibran. "Buset. Cantik bener dia," kata Ridho. "Itu juga murid baru, ya?" tanya Gibran. "Kalau gue pandang dari raut wajahnya, sepertinya iya. Dia itu murid baru," jawab Ridho. "Oke. Bagus. Itu berarti cocok lah sama gue. Hahaha," kata Gibran. "Buset. Lo mau apa?" tanya Ridho. "Lo lihat saja dari sini. Mumpung dia lagi sendirian tuh," ucap Gibran. "Gue akan mengajari lo bagaimana caranya nembak cewek," lanjutnya. Penyakitnya dari SMP ternyata masih dibawa oleh Gibran sampai ke jenjang SMA. Setiap kali melihat gadis cantik, maka hatinya seolah langsung tertarik untuk mendekatinya dan kemudian memilikinya. Sialnya penyakit itu malah didukung oleh keberaniannya yang teramat besar. Ia tak punya rasa sungkan untuk memulai pembicaraan dengan seorang gadis yang baru saja ia kenal. Bahkan di saat banyak lelaki lain yang ragu untuk hanya sekedar mendekati. "Hei," sapa Gibran pada gadis itu. Gadis cantik itu pun menoleh. Dan di saat itu pula Gibran langsung menunjukkan senyuman termanisnya. Namun sialnya, senyumannya gagal untuk membuat sang gadis salah tingkah. Ia hanya direspon dengan tatapan tak bermakna dari si gadis. "Boleh gue duduk di situ?" tanya Gibran sambil menunjuk tempat duduk yang ada di samping gadis itu. Untuk yang kedua kalinya, gadis itu hanya memberikan respon diam. Dari situ Gibran memahami bahwa gadis yang ia lihat saat ini adalah gadis yang mahal. Sifatnya yang tertutup menandakan bahwa dia tidak gampang menerima kehadiran seorang lelaki dalam kehidupannya. "Hei. Kok diam," kata Gibran. "Iya. Silahkan," ucapnya. Dan Gibran pun segera duduk di sampingnya. "Nama lo .... Eh, maksudnya nama kamu siapa?" tanya Gibran. "Shasa," jawab gadis itu singkat. "Shasa, ya? Nama yang bagus," ucap Gibran. "Terima kasih," ucap Shasa. Berbagai pertanyaan basa-basi kemudian dilontarkan oleh Gibran dan dijawab seadanya oleh Shasa. Rupanya gadis itu benar-benar sangat dingin. Mungkin dinginnya jauh lebih dingin dari kutub utara. Gibran memberikan tatapan penuh arti dengan senyum manisnya yang tak bisa diartikan. Kalau untuk kebanyakan gadis, seharusnya senyuman yang ia tampilkan itu bisa membuat mereka salah tingkah. "Kamu sendirian aja masuk SMA ini?" tanya Gibran lagi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN