Bab 32

1225 Kata
"Gak. Sama banyak orang. Termasuk kamu," jawab Shasa. "Maksudku, nggak ada teman SMP kamu gitu yang juga sekolah di sini?" tanya Gibran lagi. "Oh. Ada," jawabnya singkat. Gibran manggut-manggut mengerti. Dan kini sudah saatnya ia mengeluarkan jurus pamungkasnya. Detik-detik untuk menunjukkan kehebatannya dalam menghadapi seorang perempuan sudah datang. Dan akan ia perlihatkan pada Ridho, teman barunya. "Hei, kamu udah-" "Hai Sha. Dari tadi ya, nunggunya?" Seorang lelaki keren berseragam SMA tiba-tiba datang dan memotong ucapan Gibran. Anehnya, di saat lelaki itu datang, Shasa langsung berdiri seolah-olah dia memang sedang menunggu kedatangannya. "Oh. Hai. Iya, udah lumayan lama nih," kata Shasa. Dia nampak hangat sekali sifatnya. "Maaf, ya," kata lelaki itu. "Iya, gak apa-apa." Gibran yang sedang duduk seperti diacuhkan oleh dua orang itu. Merasa diacuhkan, dirinya pun mengubah gayanya. Ia mengalihkan pandang ke arah lain. Tak ingin lagi berkomunikasi dengan mereka ataupun salah satunya. "Dia siapa?" Meski pelan tapi Gibran dapat mendengarkan tentang bagaimana lelaki itu bertanya kepada sang perempuan. Gibran yakin betul bahwa yang sedang ditanyakan oleh si lelaki adalah dirinya. "Oh, gue cuma numpang duduk tadi, Bro," sahut Gibran sambil berdiri. "Oh." "Anak baru?" tanya lelaki itu. "Iya," jawab Gibran. "Kenalin, gue Arsa, pacarnya Shasa sekaligus kakak kelas lo nanti," katanya. Harapan untuk mendekati Shasa pun seketika musnah begitu saja akibat pernyataan dari lelaki itu. Ternyata Shasa adalah pacarnya. Tapi wajar saja jika dia bisa mendapatkan cinta dari gadis secantik Shasa. Secara dia juga tampan dan tentunya juga keren. "Oh. Iya, Bro. Gue Gibran. Sorry, ya. Gue tadi cuma numpang duduk kok di sini. Capek soalnya. Beneran deh, gue gak macem-macem sama Shasa. Kalau gak percaya tanya ke Shasa aja," kata Gibran. "Oke oke. Gue percaya," kata lelaki yang mengaku bernama Arsa itu. "Syukurlah kalau begitu. Ya udah gue pergi dulu, ya," kata Gibran. "Oke." Bukan masalah Gibran takut pada Arsa. Dia cuma tidak merusak hubungan orang lain. Biar bagaimanapun juga, dan seperti apapun sifat Gibran, dia tetaplah lelaki yang pantang untuk merebut hak orang lain, kecuali hak dua sahabat laknatnya itu. "Hahahaha." "Kenapa lo ketawa?" tanya Gibran ke Ridho. Sambutan hangat ia dapatkan di kala dirinya mendekati Ridho, teman barunya. Namun ia merasa sambutan hangat itu seperti sebuah penghinaan yang besar. Suara tawa yang Ridho keluarkan seolah-olah sedang menertawai kegagalannya dalam mendekati Shasa. "Adakah undang-undang yang melarang untuk tertawa?" tanya Ridho. "Ya gak ada. Tapi gue pengen tahu kenapa lo ketawa," ucap Gibran. "Lo sendiri pun pasti sudah tahu jawabannya," kata Ridho. "Cih. Sialan emang! Gue kira dia masih jomblo. Eh ternyata udah punya pacar. Kakak kelas pula. Kalau gue ada masalah sama kakak kelas, bisa-bisa gue hancur waktu MOS nanti," ucap Gibran. "Hahaha ... Iya juga, ya. Pasti lo terus yang akan diincar," ucap Ridho. "Makanya itu gue gak berani meneruskan ngobrol sama tuh cewek, tadi," kata Gibran. "Tapi lain kali gue benar-benar akan memperlihatkan bagaimana cara gue mendekati cewek dan mendapatkan cintanya. Lo cukup lihat aja nanti," ucap Gibran lagi. "Okelah siap," ucap Ridho. Sebetulnya bukan Ridho saja orang yang Gibran kenal di sekolahan barunya itu. Beberapa juga ada yang ia kenal. Akan tetapi yang paling dekat dengan dia baru Ridho seorang. Mungkin baru dia yang bisa se frekuensi dengan Gibran. Hari pertama masuk sekolah, apalagi masuk di sekolahan baru tentunya adalah saat-saat di mana banyak hal baru yang didapatkan. Dan kini Gibran telah mendapatkannya. Teman baru, suasana baru, tapi tidak dengan motor baru. Motornya tetaplah motor lama. Motor yang tidak pernah ia cuci entah sudah berapa bulan sehingga warnanya pun secara alami terganti. Dan besok akan dimulai sebuah kegiatan yang sudah sangat familiar bagi para murid baru. Kegiatan yang disebut dengan masa orientasi siswa, yang katanya adalah ajang para kakak kelas untuk menunjukkan kuasanya. "Gimana sekolahan baru lo?" tanya Indra ketika ia dan Iqbal sedang berada di rumah Gibran. "Ya sama sih kayak sekolahan SMP kita. Ada pintunya, ada ruang kelasnya, ada kantornya, ada ruang gurunya, dan tentunya juga ada atapnya," jawab Gibran asal. "Buset deh, nih orang udah beda sekolah masih aja ngeselin," kata Indra. "Lah. Apa yang salah emangnya?" tanya Gibran. "Gak. Gak ada yang salah," jawab Indra. "Hahaha ... Maksud Indra tuh gini, woi," kata Iqbal mencoba menjelaskan. "Oh gitu? Iya iya, paham," ucap Gibran. "Gue belum ngomong," ucap Iqbal. "Eh iya. Lupa. Ya udah, gimana?" tanya Gibran. Dengan menarik napas super panjang, Iqbal pun bersiap untuk menjelaskan apa yang dimaksud oleh Indra tadi. "Jadi maksud Indra tuh, gimana suasana di sekolahan baru lo? Gimana teman-teman baru lo? Dan yang paling penting, ada cewek cantik gak di sana? Hahaha," tanya Iqbal yang diakhiri dengan tawa. "Heh, pertanyaan konyol. Suasananya tentu saja ramai. Terus teman-teman gue ya ada yang laki-laki dan ada juga yang perempuan. Lalu soal cewek cantik, semua cewek di sana cantik, gak ada yang ganteng," jawab Gibran yang membuat kedua sahabatnya semakin emosi. "Jika membunuh orang itu diperbolehkan, maka gue pastiin membunuh lo adalah sebuah keharusan," ucap Iqbal kesal. "Wih, kejam," ucap Gibran. "Udah udah. Daripada lo bikin kesel mulu, bukankah lebih baik lo buatkan kopi untuk para tamu-tamu lo ini, wahai Kahlil Gibran?" tanya Indra dengan kesopanan tingkat tinggi. "Karena sejatinya, para tamu yang engkau punyai ini sedang kehausan dan teringin untuk meminum segelas atau secangkir kopi hangat. Kiranya dirimu berkenan untuk memuliakan para tamu ini, silahkan buatkan kopi untuk kami," lanjut Indra masih dengan gaya bicaranya yang sopan. "Wahai Indra ke enam. Jikalau diriku tak mau membuatkannya untukmu, lantas apa konsekuensinya?" tanya Gibran yang ikut-ikutan memakai gaya bahasa seperti itu. "Tak ada konsekuensinya, Tuan. Akan tetapi, itu berarti engkau sudah sangat berdosa. Bukankah tamu itu harus dimuliakan, wahai sang tuan rumah?" "Betul juga dirimu, wahai tamu tak diundang yang tiba-tiba datang. Baiklah, diriku akan memeriksa apakah butiran manis berwarna putih itu masih ada atau tidak. Sebab tadi sore, stoknya sudah mau habis wahai tamu tak diundang," ucap Gibran. "Bagus wahai tuan rumah yang tidak sopan. Silahkan memeriksanya. Kalaupun tidak ada, berkenanlah untuk menyempatkan diri guna membelinya di warung terdekat," kata Indra. "Baiklah, tamu tidak punya adab. Si tuan rumah ini akan mengusahakannya," ucap Gibran. Sebuah percakapan yang terdengar menggelikan di telinga Iqbal. Ia tak percaya, bisa-bisanya ia mempunyai sahabat seperti mereka. "Dasar orang-orang stres," gumam Iqbal. "Wahai engkau, si pendengar yang baik. Bukankah seharusnya tugasmu cuma mendengarkan saya tanpa harus berkomentar?" tanya Gibran. "Halah, ngomong gak jelas. Udahlah sana! Buatin kopi!" usir Iqbal. Gibran tertawa. Selanjutnya dirinya pun berdiri dan mulai berjalan untuk menuju dapur. Walau bagaimanapun juga, posisinya sekarang adalah sebagai tuan rumah, yang jelas harus memuliakan tamunya meski tamunya itu adalah para sahabatnya sendiri. Sementara itu, ketika Gibran pergi, muncul niatan jahat dari si Iqbal ketika melihat ponsel milik Gibran yang tergeletak lemah tak berdaya di meja. "Syut! Ponselnya si Gibran, tuh," kata Iqbal ke Indra. "Mau diapakan ponsel milik sang tuan rumah itu, wahai kawanku?" tanya Indra. "Sudah! Ngomongnya gak usah kayak gitu! Bikin orang emosi aja," ucap Iqbal. "Hahaha ... Mau lo apain tuh ponsel?" tanya Indra yang kembali dalam mode normalnya. "Kita bajak, lah," jawab Iqbal. "Sawah siapa yang mau dibajak?" tanya Indra dengan polosnya. "Hadeh. Daripada tuh mulut bunyi mulu, tapi gak paham-paham, mending diam aja," kata Iqbal. "Oke." Diambil lah benda kotak itu. Iqbal lalu menggerakkan jemarinya di layar kacanya. Sesuatu yang mengejutkan terjadi ketika ia melakukannya. Bahkan Indra yang melihatnya secara langsung pun seolah tidak percaya dengan apa yang Iqbal bisa lakukan. "E buset. Darimana lo tahu kata sandi ponsel si Gibran?" tanya Indra.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN