"Beneran?"
"Iya. Pergi aja sana!" kata Riani.
"Ya udah. Aku pergi, ya," ucap Gibran.
"Ya."
Tanpa rasa berdosa sama sekali, Gibran benar-benar pergi dari hadapan Riani. Entah ke mana tempat tujuannya setelah ini, yang pasti ia telah keluar dari perpustakaan dan meninggalkan Riani di dalam sana.
Riani kira, sang pacar akan kembali dalam beberapa saat kemudian, tapi perkiraannya ternyata salah. Gibran tak sedikitpun menampakkan batang hidungnya lagi. Ia benar-benar sudah hilang.
"Dasar laki-laki gak peka. Bukannya dibujuk malah ditinggal beneran," ucap Riani.
Sedangkan Gibran, ia dengan tenangnya berjalan menyusuri area sekolahan. Dari raut wajahnya, tak ada sedikitpun perasaan bersalah yang terlihat. Seolah-olah tak pernah ada konflik kecil antara dia dan Riani. Padahal konflik itu baru saja terjadi beberapa menit yang lalu. Bahkan belum sampai lima menit, atau bahkan empat ataupun tiga menit pun belum sampai.
"Woi, dari mana Lo?"
Sedang enak-enaknya berjalan, tiba-tiba ada suara yang mengagetkannya. Suara yang berasal dari arah belakangnya dan membuat dia refleks menoleh ke belakang.
Tepat seperti dugaannya, sang pemilik suara itu adalah salah satu sahabatnya, yaitu Indra, dengan satu sahabatnya lagi yang berdiri tepat di samping Indra. Gibran pun mendekati mereka.
"Biasalah. Dari bertemu dengan Riani. Dan dia marah sama aku, hahaha," jawab Gibran.
"Hahaha, syukurin! Tapi ngomong-ngomong, kenapa bisa marah?" tanya Iqbal.
"Ya sebenarnya cuma karena hal sepele, sih," jawab Gibran.
"Iya. Hal sepelenya itu apa?" tanya Iqbal lagi.
"Jadi kan tadi gue sama dia makan berdua di kantin. Nah, gue pesen mie. Eh, waktu gue ngambil mangkok yang berisi mie yang gue pesen, mie nya tumpah ke baju Riani. Ya dia marah, lah. Hahaha. Posesif sekali dia ternyata. Cuma kayak gitu doang aja marah," ucap Gibran, dan tentu saja itu adalah sebuah kebohongan besar.
"Sumpah, gue sebenarnya gak mau komen, tapi mendengar cerita Lo yang kayak gitu gue jadi ingin komen," kata Indra.
"Sama."
"Ya udah, komen aja! Komen itu gak bayar, kok," kata Gibran.
"Tapi lebih baik nggak usah aja, deh. Tiba-tiba males," kata Indra.
"Iya, sama," ucap Iqbal ikut-ikutan.
"Nggak jelas Lo berdua," ucap Gibran.
Itulah bentuk kecil dari sifat kekanak-kanakan mereka. Tak peduli dengan umur berapa mereka sekarang, yang penting keseruan dalam persahabatan itu selalu tercipta. Bahkan jika itu harus tercipta lewat hal-hal yang sedemikian rupa.
Dan masih di hari yang sama, tepatnya pada saat jam istirahat kedua tiba. Gibran masih mempunyai masalah dengan sang kekasih hatinya. Sebuah masalah yang hanya ia anggap sebagai canda. Tapi apapun itu, ia tidak boleh membiarkannya begitu saja.
Didatanginya Riani ke kelasnya. Ia tahu bahwa pada jam segini, kecil kemungkinannya bagi Riani untuk pergi ke tempat biasa. Tentu saja. Karena Riani juga bukan sepenuhnya seorang kutu buku, atau bahkan seorang gadis yang terkucilkan oleh teman-temannya. Ia mempunyai banyak teman, yang pastinya membuat dia tidak mungkin menghabiskan semua waktu istirahatnya untuk membaca saja.
Namun, entah bagaimana kedua insan itu bisa kebetulan bertemu di jalan. Gibran yang belum sempat sampai ke kelas Riani ternyata sudah berpapasan dengan gadis cantik itu di jalan. Itu adalah kebetulan yang sangat tidak disengaja. Tapi kini masalahnya Riani tidak sedang sendirian, melainkan bersama dua orang teman perempuannya yang entah Gibran kenali atau tidak.
"Eh, Riani," ucap Gibran.
"Apa?" tanya Riani. Ia nampaknya masih kesal dengan sang pacar.
"Eh, ada kalian berdua juga. Tadi kalian dicariin ibu kantin, lho," kata Gibran tanpa memperdulikan pertanyaan Riani.
"Kenapa dicariin?" tanya salah satu dari mereka.
"Gak tahu juga, sih. Tapi katanya kalian disuruh bayar utang, gitu. Kalian punya utang, ya, ke ibu kantin?" jawab sekaligus tanya Gibran.
Mendengarnya, kedua sosok gadis itupun bingung campur kesal. Beruntungnya yang berbicara seperti itu adalah Gibran. Boleh saja dibilang bahwa Gibran terselamatkan oleh paras tampannya itu.
"Kami gak punya utang," kata yang satunya lagi.
"Oh, nggak tahu juga, sih. Coba tanyakan saja pada ibu kantin," usul Gibran.
"Tapi kami emang gak pernah punya utang," bantahnya lagi.
"Iya udah sana! Tanyain langsung sama ibu kantin!" perintah Gibran.
Ia mendorong kedua gadis itu pelan untuk membuat mereka segera pergi dari sana. Satu alasan yang pasti kenapa ia melakukannya. Ia cuma ingin berdua dengan Riani. Itu saja.
Dan nampaknya kedua gadis itupun mengerti tentang apa yang Gibran inginkan. Setelah Gibran mendorong mereka berdua dan mereka menoleh ke arah Gibran, mereka tidak kembali ke posisi awal berdiri, melainkan malah berjalan pergi meninggalkan Gibran dan Riani. Gibran tersenyum melihatnya, sedangkan Riani berekspresi biasa-biasa saja.
Pandangan Gibran dialihkan ke arah si gadis cantik yang sedang berdiri dengan raut wajah biasanya itu. Kemudian Gibran berucap.
"Eh, ada Riani. Sejak kapan kamu ada di sini?" tanya Gibran.
"Jangan mulai, deh! Aku sedang marah sama kamu," kata Riani.
"Marah kenapa?" tanya Gibran sambil tertawa kecil.
"Gak usah nanya!"
"Kalau gak nanya, mana bisa aku tahu kamu kenapa marah ke aku," ucap Gibran.
"Ya udah. Gak usah tahu," kata Riani.
"Alhamdulillah. Aku juga sebenarnya gak ingin tahu," ucap Gibran.
Jika digambarkan di dalam sebuah buku komik, mungkin sudah keluar asap yang sangat banyak dari kepala milik Riani. Otaknya sudah panas sedari tadi. Dikarenakan oleh tingkah menyebalkan lelaki yang satu ini.
"Kok ngeselin, ya," ucap Riani.
"Siapa?" tanya Gibran. Ia seolah tak punya rasa bersalah sedikitpun.
"Enggak. Itu tetanggaku, ngeselin banget orangnya," jawab Riani.
"Oh. Kirain aku. Hahaha," ucap Gibran. Riani menghembuskan napas malas.
"Ya sudahlah. Aku mau ke kantin," kata Riani kemudian.
Gadis itu berjalan pergi tanpa persetujuan dari Gibran. Alhasil, setelah beberapa langkah melewati Gibran, Gibran pun memanggilnya, yang membuat dia mendadak menghentikan langkahnya sembari berbalik badan.
"Apa lagi, sih?" tanya Riani.
"Maaf kalau aku ada salah. Aku cuma ingin membuat hubungan kita berbeda dengan hubungan orang lain. Biar lebih spesial. Itu saja," ucap Gibran.
"Ya udah, aku juga ingin balik ke kelas. Sampai ketemu lagi nanti," lanjut Gibran.
Sama seperti Riani tadi, Gibran juga berjalan pergi tanpa persetujuan Riani. Dan satu kesamaan lagi, adalah tentang Riani yang memanggil Gibran hingga membuat langkah lelaki itu terhenti seketika.
"Iya. Ada yang mau diomongin?" tanya Gibran serius.
"Katanya mau kembali ke kelas. Harusnya arahnya ke sana dong, bukan ke situ," jawab Riani sambil menunjuk. Gibran terdiam sejenak.
"Oh, itu? Maksudku berjalan ke sana tadi emang mau putar balik, kayak gini," ucap Gibran.
Ia kemudian mencontohkan apa yang ia ucapkan tadi. Tentulah hal itu membuat Riani tertawa pelan sambil menutup mulutnya. Selalu saja ada tingkah aneh dari manusia bernama Al Gibran Ramadhana ini.
"Nah, ini maksudnya," ucap Gibran. Kini posisinya berada tepat di hadapan Riani.
"Hahaha, ya udah, jalan bareng aja, yuk!" ajak Riani.
"Kan kamu mau pergi ke kantin, sedangkan aku ke kelasku," ucap Gibran.
"Tapi itu masih bisa beberapa langkah untuk kita jalan bareng," ucap Riani.
"Ya udah, iya," kata Gibran menyetujui. Riani tersenyum manis.
Setelahnya, berjalanlah kedua insan itu beriringan. Tak ada kata yang keluar dari mulut mereka. Yang ada hanyalah bibir yang membentuk pola senyum yang indah. Namun tak lama kemudian, keduanya pun dipisahkan oleh arah dan tujuan.
Gibran diam di tempat di mana ia dan Riani terpisah. Ia memang sengaja melakukannya. Katanya biar tambah romantis.
"Waduh, para curut sudah keluar dari tempat persembunyiannya. Untung momennya tepat," ucap Gibran.
Ya, dia melihat dua sahabatnya yang keluar dari kelas. Sungguh momen yang tepat baginya. Setelah ia dan Riani memisahkan diri satu sama lain, mereka berdua baru muncul. Andai saja dia dan Riani masih sedang berbincang-bincang, sudah bisa dipastikan kalau kedua orang itu akan datang dan berperan sebagai tokoh pengganggu.
"Ah, malas juga gue berhadapan dengan mereka. Suasana hati gue sedang baik. Gue gak mau merusaknya. Mending gue ke kantin aja sekarang," batin Gibran dan kemudian secepatnya pergi dari tempat dia berdiri.
Di lain sisi, kedua manusia itu melihat satu sahabatnya yang pergi dari tempatnya berdiri. Mereka bertanya-tanya tentang hal itu.
"Lah, kenapa tuh anak?" tanya Indra.
"Gak tahu. Kebelet b***k kali," jawab Iqbal. Dan mereka pun tertawa kecil.
Masa-masa remaja memang masa-masa yang sangat menakjubkan. Di mana pada masa itu, hampir semua hal berbaur menjadi satu. Contohnya saja adalah persahabatan dan cinta, dua ikatan kuat yang pernah ada di muka bumi ini.
Kisah tentang Al Gibran Ramadhana masih berlanjut. Hari Minggu, sebuah hari yang sangat disukai oleh para pelajar, termasuk juga Gibran. Di mana pada hari itu, ia bisa terbebas dari mata pelajaran apapun, dan satu alasannya lagi adalah karena ia bisa main PS seharian bersama para sahabat laknatnya.
"Dia di rumah gak, ya?" tanya Iqbal ketika mereka bertiga sudah berada di depan tempat rental PS.
"Di rumah, lah. Kan hari libur. Lagian kata ibunya kalau Minggu dia ada di rumah," jawab Gibran.
"Iya. Di rumah, dia. Tadi dia sempat ngechat gue, katanya dia ada di rumah," ucap Indra.
"Halah. Yuk lah masuk!" ajak Gibran kemudian.
Suasana di dalam tentulah berbeda dengan hari-hari biasanya. Ini adalah hari Minggu, yang mana pada hari ini seluruh dunia merayakan hari libur. Pastilah akan banyak yang berkunjung ke tempat umum, misalnya saja tempat rental PS seperti itu.
Tapi keberuntungan masih berpihak kepada tiga lelaki tampan itu. Meski tempat rental PS telah dipenuhi oleh banyaknya manusia, tapi masih tersisa satu tempat yang belum terisi oleh siapapun. Ya, hanya tersisa satu, dan kebetulannya lagi, satu tempat itu berada di paling pojok. Yang mana tempat seperti itu adalah tempat favorit bagi Gibran, Iqbal dan Indra.
"Alhamdulillah. Rezeki anak sholeh. Untung masih ada tempat buat main," ucap Gibran.
"Bal, Lo panggil sono, si Mbaknya!" perintahnya kemudian.
"Lah, ngelunjak. Harusnya Lo yang manggil. Lo kan gak ikut bayar," kata Iqbal.
"Cih, perhitungan banget, Lo. Nanti kalau uang saku gue udah gak dipotong lagi, gue deh yang bayar," ucap Gibran.
"Itu kalau iya. Kalau enggak?" tanya Iqbal.
"Ya semoga aja iya," jawab Gibran.
"Woi, banyak omong Lo berdua. Udah tunggu di sini. Biar gue aja yang manggil," ucap Indra.
Gibran dan Iqbal duduk di depan televisi besar itu sambil menantikan Indra kembali dalam melaksanakan tugas untuk memanggil sang pemilik rental PS.
Suasana riuh dan penuh dengan teriakan kata-kata mutiara dari orang-orang yang berada di situ turut menghiasi tempat itu. Sebuah contoh buruk yang sialnya malah terlihat aneh jika tidak ditemukan di tempat semacam itu. Rasanya seperti ada yang kurang. Dan mungkin, setiap kata-kata mutiara yang mengatasnamakan nama hewan atau kata-kata mutiara lainnya memang sudah satu paket dengan permainan yang akan dimainkan oleh Gibran, Indra dan Iqbal.
"Lama banget. Mana orangnya?" tanya Gibran.
"Baru keluar dari kamar," jawab Indra.
"Parah. Jam segini ngamar," kata Iqbal.
"Hayo, sama calon mertua gitu. Gue bilangin ke dia baru tahu rasa Lo," ancam Gibran.
"Eh, jangan dong. Gue cuma bercanda, tadi," ucap Iqbal.
"Mana gue peduli. Kalau gue bilang ke dia kalau Lo udah gak sopan ketika di belakangnya, otomatis dia gak akan mau anaknya dekat sama Lo. Hahaha," kata Gibran.