"Halu," ucap Gibran.
"Hai Kahlil Gibran. Biarkanlah pendongeng andal ini mendongeng. Kita harus menjadi pendengar yang baik demi menghargainya," kata Iqbal.
"Lah, kalian gak percaya? Bener deh tadi malam dia nelpon gue. Katanya mau video call juga, tapi gue bilang besok aja, gitu," ucap Indra.
"Hahaha, iya, gue percaya kok," kata Iqbal.
"Apalagi gue. Gue tahu Lo itu orangnya gak pernah bohong. Gue juga tahu kalau Lo itu sangat benci mengkhayal. Karena itu dalam hidup Lo, Lo gak akan pernah mau mengkhayal. Apalagi kalau soal cewek," ucap Gibran.
Kebersamaan dengan para sahabat. Canda tawa yang akan selalu ada setiap saat. Meski dalam waktu yang sangat singkat, tapi sudah memberikan sebuah kenangan yang hebat. Sahabat itu bagaikan obat, yang bisa menyembuhkan hati yang tersayat.
Gibran, Iqbal dan Indra. Tiga sahabat yang telah membentuk ikatan sejak lama. Tanpa adanya salah satunya, maka yang ada hanyalah hampa. Dan jika saja mereka saling berpisah satu sama lain, mungkin hati mereka seperti sedang terpenjara. Tak bisa bersuara. Berbeda dengan pada saat mereka masih bersama.
"Minggu ini jangan lupa pergi ke rental PS itu lagi. Minggu lalu udah gak datang, kita. Hilang deh kesempatan untuk bertemu anak pemilik rental PS itu," ucap Iqbal.
"Asal nanti Lo yang bayarin, gue sih siap," kata Gibran.
"Cih, orang kaya minta dibayarin. Orang kaya apaan?" ejek Iqbal.
"Kan Lo tahu sendiri, woi. Uang jajan gue dipotong. Jadi ya gue harus hemat. Sungguh kasihan sekali gue ini. Rasanya gue adalah remaja paling menderita di muka bumi ini," ucap Gibran dengan nada suara melasnya.
"Lebay Lo. Baru gitu doang, juga," ucap Indra.
"Cerewet!" kata Gibran.
"Woi, sudah, jangan bertengkar! Pokoknya hari Minggu nanti kita ke sana lagi. Dan lihatlah cara gue untuk mendapatkan cinta dari si anak pemilik rental PS itu," kata Iqbal.
"Gue bilangin ke Nessa tahu rasa, Lo," ancam Gibran.
"Oh silahkan! Kayak Nessa percaya aja sama Lo. Hahaha," kata Iqbal.
"Pastinya percaya. Tapi gue gak akan bilang dulu ke dia," ucap Gibran.
"Kenapa gitu?" tanya Iqbal.
"Pertamanya gue ingin lihat gadis yang Lo maksud itu dulu. Kedua gue pengen menyaksikan apa Lo berani mendekatinya kalau gadis itu memang beneran ada. Dan yang terakhir, gue ingin ngelihat Lo yang ditolak mentah-mentah oleh gadis itu. Baru setelah itu gue akan bilang ke Nessa kalau dalam masa menyukai Nessa, Lo juga menyukai gadis lain selain Nessa. Dan Nessa akan marah. Lalu menjauh deh dari Lo. Alhasil Lo gak akan dapat satupun dari mereka. Hahaha," jawab Gibran panjang lebar. Iqbal memberikan tatapan malas ke dia.
"Dasar pemikiran seorang psikopat," kata Iqbal. Gibran tertawa.
"Menarik juga itu. Gue ikut dalam rencana Lo," ucap Indra.
"Baguslah. Bertambah anggota gue. Hahaha. Oke, besok Minggu kita ke sana. Dan yang paling penting, bayarin gue!" kata Gibran.
"Cih, dasar beban," ucap Iqbal. Gibran hanya tertawa cengengesan.
Dan lagi. Atas nama persahabatan, tak akan pernah ada pertengkaran yang nyata. Sekalipun bertengkar, besoknya pun akan kembali seperti sedia kala. Bukan malah terpecah dalam waktu selamanya. Indahnya persahabatan akan selalu ada. Dengan segala hal yang ada di dalamnya.
Tak ada yang menganggap serius di setiap ejekan yang diberikan. Kesal tentulah ada, tapi tidak dengan marah atau benci yang akan selalu terjaga dalam ingatan. Sayangnya, selalu ada kata perpisahan. Bahkan kedekatan antara Gibran, Indra dan Iqbal pun pasti pada akhirnya akan terpisahkan. Entah itu karena jarak atau bahkan karena kematian.
Meski begitu, setidaknya telah ada kenangan yang tak akan pernah terlupakan. Tentang canda tawa yang hampir selalu terjadi di setiap perbincangan. Tentang serunya bertingkah seperti anak kecil di setiap perbuatan, atau mungkin tentang kuatnya kisah persahabatan yang bahkan cinta saja tak bisa menghancurkan. Nantinya semua akan tersaji di dalam sebuah buku tanpa lembaran yang disebut dengan kenangan.
"Riani." Gibran memanggil Riani yang sedang membaca buku di perpustakaan.
Mau bagaimana lagi? Satu-satunya tempat yang aman untuk kedua insan itu mengadakan pertemuan hanyalah di perpustakaan sekolah. Karena perpustakaan itu hanya seperti ruang hampa yang sangat sedikit pengunjungnya. Dan yang paling penting adalah tentang ketidak mungkinan dua sahabat laknat Gibran untuk pergi ke sana.
"Kok baru ke sini, sih," kata Riani.
"Iya, maaf. Bukan hal yang mudah untuk lolos dari pengelihatan dua sahabat laknatku itu," jawab Gibran. Riani tertawa sambil menutup mulutnya. Ia nampak sangat lucu.
"Ya udah, duduk!" ucap Riani. Gibran pun menurutinya.
"Kemarin gimana? Selamat sampai tujuan?" tanya Riani kemudian.
"Kalau gak selamat, mana mungkin sekarang aku bisa duduk di hadapan seorang gadis cantik," kata Gibran.
Riani tersenyum. Malu-malu dia sepertinya. Memang, tak salah jika para sahabat Gibran menamainya Kahlil Gibran. Secara kata-kata yang dirangkai sendiri oleh Gibran pun benar-benar menakjubkan.
"Udah ah, jangan gitu!"
"Maksudku, gak sempat kesasar, kan?" tanya Riani.
"Hampir, sih," jawab Gibran.
"Hampir kesasar?" tanya Riani lagi.
"Iya."
"Terus?"
"Terus aku ingat kamu. Terus gak jadi deh kesasarnya," jawab Gibran.
"Lah, kok? Masa cuma ingat aku aja udah gak jadi kesasar," ucap Riani.
"Iyalah. Kan kemarin sewaktu aku pulang, aku sempat melewati sebuah rumah yang dihuni oleh perempuan yang sangat cantik. Ya mungkin umurnya lebih tua dari kita, lah. Entah kenapa dia memberikan kode ke aku melalui lambaian tangannya. Mungkin menyuruhku mampir ke rumahnya. Untungnya waktu itu aku segera ingat kamu. Terus gak jadi deh aku kesasar ke rumah perempuan itu," ucap Gibran panjang lebar.
"Ah, masa? Jadi saat ingat aku, godaan itu bisa kamu kalahkan?" tanya Riani memastikan. Wajahnya terlihat sumringah karena mendengar cerita dari Gibran.
"Em, bukan karena itu aja, sih," jawab Gibran.
"Lah, terus?"
"Jadi, saat dia melambai-lambaikan tangannya kan sebenarnya aku ada maksud untuk mendekati dia. Eh akunya keingat kamu. Terus aku masih ragu apa aku harus mendekat atau pergi. Dan saat itu juga dia masih melambai-lambaikan tangannya sambil tersenyum. Kubalas senyumnya itu. Eh, setelah dia berucap aku baru menyadari sesuatu dan langsung pergi dari sana," jawab Gibran.
"Emang ada apa? Apa ada yang salah dengan ucapannya?" tanya Riani antusias.
"Iya. Ternyata maksud dia melambai-lambaikan tangannya itu bukan ditujukan ke aku, melainkan ke pedagang eskrim keliling yang kebetulan berada di belakangku," jawab Gibran.
Tertawalah gadis cantik itu setelah mendengar cerita dari sang pacar. Gibran yang melihat pacarnya tertawa gembira pun ikut bahagia dengan mempertontonkan senyuman manisnya.
"Hahaha, syukurin! Salah siapa genit," ucap Riani.
"Tidak, aku tidak genit. Mataku saja yang tiba-tiba tertarik untuk melihatnya. Jadi salahkan saja mataku, jangan diriku!" kata Gibran.
"Kamu ih, udah berani main mata ke cewek lain. Aku gak suka," kata Riani.
"Hahaha, emang kamu percaya ceritaku?" tanya Gibran.
"Iyalah," jawab Riani.
"Padahal itu cerita bohongan lho, nggak nyata," ucap Gibran.
"Maksud kamu, kamu bohongin aku, gitu?" tanya Riani.
"Hahaha, iya," jawab Gibran.
"Jahat."
Tawa itu kembali terdengar menggelegar bagai suara petir. Sebuah penampakan deretan gigi putih yang menyimbolkan rasa bahagia yang teramat besar. Gibran merasakannya sekarang, bersama Riani yang berstatus sebagai korban keusilannya.
"Riani," panggil Gibran. Suara tawanya masih tersisa sedikit.
"Hmm."
"Jangan cuek. Aku gak suka," ucap Gibran.
"Biarin."
"Aku mau nanya," kata Gibran.
"Apa?"
"Soal aku yang ngajak kamu pergi ke pantai," jawab Gibran.
"Iya kenapa?" tanya Riani lagi.
"Ya gimana. Kamu mau, nggak?"
"Izin dulu ke orang tuaku," jawab Riani.
"Aku disuruh izin?" tanya Gibran.
"Iya."
"Bagaimana aku ngomongnya?" tanya Gibran lagi.
"Ngomong ya tinggal ngomong, lah. Itupun harus kamu tanyakan bagaimana?"
"Iya iya. Jangan marah-marah terus, dong!" kata Gibran.
"Habisnya kamu ngeselin," ucap Riani.
Pantas jika Riani kesal dengan sang pacar tersayangnya. Pasalnya, Gibran memang lelaki yang sangat menyebalkan. Dan mungkin itu sudah bawaan dari lahir yang selamanya tidak akan bisa diubah walaupun dengan cara yang bagaimanapun juga.
"Ya udah iya, aku minta maaf," kata Gibran.
"Hmm."
"Loh. Masih cuek lagi," ucap Gibran. Riani diam saja.
"Kalau kamu cuek, aku pergi, lho," ucap Gibran lagi.
"Ya udah, pergi aja!"