Satu detik, Riani masih diam memandang Gibran. Dua detik, mulai ada tanda-tanda dari gadis cantik itu untuk merespon Gibran. Tiga detik dan seterusnya, tawanya yang menggemaskan pun ia keluarkan untuk menanggapi ucapan dari Gibran.
"Emang ada ya, bensin harga dua ribu?" tanya Riani.
"Ya nggak ada, sih. Tapi kan bisa aku tambahin, nanti. Ayo bayar!"
"Hahaha ... iya, iya. Kukira gratis. Eh ternyata malah disuruh bayar. Kayak tukang ojek aja," kata Riani. Gibran hanya tersenyum.
"Aku ada uang lima ribu. Tidak ada yang dua ribu," kata Riani setelahnya.
"Gak apa-apa. Aku ada kembalian tiga ribu," ucap Gibran sambil merogoh sakunya.
"Nih, mana lima ribu kamu?" lanjutnya.
Anehnya, lelaki itu benar-benar mengeluarkan uang senilai tiga ribu rupiah. Seolah-olah peristiwa ini sudah ia rencanakan dari jauh-jauh hari. Buktinya saja ia sudah mempersiapkan uang kembaliannya.
"Lah, kok bisa tiba-tiba punya kembalian?" tanya Riani seolah-olah tak percaya.
"Udah, jangan dipikirin! Sekarang mana lima ribu kamu?" tagih Gibran lagi. Riani pun memberikan uang itu ke Gibran bersamaan dengan dia yang menerima uang kembalian dari Gibran.
"Terima kasih. Lain kali pakai jasa transportasiku lagi, ya," ucap Gibran.
"Gak mau. Nanti disuruh bayar lagi," kata Riani.
"Tenang aja. Lain kali gratis, kok," ucap Gibran.
Dan itulah Gibran. Gayanya berpacaran tidaklah sama dengan gaya pacaran orang lain. Meski umurnya masih terlalu muda untuk mengenal cinta, tapi hebatnya dia dalam menjalani percintaan sungguh di luar dugaan.
Memperlakukan sang gadis seperti seorang ratu memanglah dibutuhkan. Tapi di dalam sebuah hubungan, hal itu tidak boleh terus-terusan dilakukan. Kenapa? Karena bisa jadi suatu saat, sang gadis akan terlanjur nyaman dengan posisi itu dan pada akhirnya akan terus memintanya.
Tapi, Gibran berbeda. Caranya yang unik dan aneh harusnya patut untuk ditiru. Hanya saja yang tidak patut ditiru darinya adalah tentang dia yang sudah berani berpacaran di umurnya yang masih sangat muda. Terlepas dari itu, apa yang ia lakukan memang sangat hebat.
Ia tidak sepenuhnya memperlakukan Riani seperti sang ratu. Ia memperlakukannya secara biasa-biasa saja lewat hal yang sederhana. Ia pun seringkali usil pada gadis cantik itu. Tapi, dengan caranya yang seperti itu, justru membuat Riani nyaman dengannya.
"Ya udah aku pulang, ya," ucap Gibran.
"Gak mau mampir dulu?" tawar Riani.
"Lain kali aja. Gak enak sama tetangga. Masa gadis seusiamu udah bawa cowok ke rumah," jawab Gibran.
"Hmm ... iya juga, sih," kata Riani.
"Nah, makanya itu. Aku mau pulang. Titip salam aja buat seluruh anggota keluargamu. Sampaikan juga maafku yang belum berani bertemu langsung dengan mereka. Mungkin suatu saat nanti, saat kita berdua udah semakin dewasa, aku akan menemui mereka. Untuk sekarang, tidak dulu. Setidaknya aku sudah tahu rumahmu," ucap Gibran panjang lebar.
"Katanya mau ngajak ke pantai. Masa gak mau ketemu orang tuaku?" ucap Riani.
"Eee, iya juga, ya. Ya sudahlah, tergantung besok aja. Ini udah petang. Aku mau pulang. Takutnya kemalaman," ucap Gibran.
"Hahaha, udah sana pulang! Hati-hati dan jangan sampai nyasar," ucap Riani.
"Nyasar ke hati cewek lain boleh?" tanya Gibran sambil cengar-cengir.
"Boleh aja kalau berani," jawab Riani.
"Hahaha, enggak, cuma bercanda kok," kata Gibran.
"Ya udah aku pulang," ucapnya kemudian.
"Iya."
Kebersamaan itu cukup sampai di situ saja. Sang senja yang perlahan mulai menghilang memaksa akan adanya perpisahan di antara mereka. Langit sudah mulai meredup, tanda akan hadirnya kegelapan. Gibran masih berada di wilayah orang lain, belum kembali ke asalnya.
Motornya terus melaju, seiring dengan detik demi detik yang berlalu. Pandangannya sibuk memandangi banyak objek, terutama ponselnya. Ya, satu-satunya cara untuk dia bisa pulang ke rumah adalah dengan memanfaatkan ponselnya itu. Tanpa benda kotak itu, mana mungkin ia tahu arah jalan pulang di mana ia diharuskan untuk melalui jalan tikus untuk menghindari razia.
Alhasil, perjuangannya pun tidaklah sia-sia. Ia pada akhirnya bisa sampai ke rumahnya dengan keadaan sehat walafiat.
Hari ini adalah hari yang sangat luar biasa baginya. Bukan hanya tentang kebersamaan dengan sang pujaan hatinya saja, tapi juga tentang dia yang pada akhirnya tahu letak rumah sang pujaan hatinya itu.
"Heh, dan pada akhirnya aku tahu rumahmu, Riani. Suatu saat aku pasti akan ke sana lagi. Itu pasti," ucap Gibran ketika ia sudah berada di kamarnya.
Tak ada satupun orang yang tahu, apa Gibran benar-benar memiliki perasaan cinta ke Riani atau cinta yang ia tampilkan itu hanya sekedar karena persaingannya dengan kedua sahabatnya itu saja. Tapi yang pasti, awal dari Gibran mencintai Riani adalah karena tantangan yang ia ikrarkan pada hari itu. Jadi tidak menutup kemungkinan jika Gibran sebenarnya tidak benar-benar mencintai Riani meski rasa cinta itu memang ada di dalam hatinya.
Hari esok pun kembali tiba. Di ujung cakrawala sana telah muncul sebuah cahaya harapan bagi dunia, yakni cahaya yang dibawa oleh sang mentari pagi. Sinarnya yang memancar seolah telah mengusir dinginnya suhu pagi hari hingga membuat Gibran mau tidak mau harus bangkit dari tidurnya.
Begitulah kehidupan Gibran setiap harinya. Ah, tidak. Lebih tepatnya setiap hari kecuali hari Minggu. Ia akan bangun pada waktu subuh, lalu setelah subuh akan tidur kembali. Dan khusus untuk satu hari yang sangat spesial buatnya, yakni hari Minggu, ia bisa bangun kapan saja. Bahkan jikalau pun orang tuanya sudah bersikeras untuk membangunkannya, ia pasti akan bangun hanya dengan mengikuti kata hatinya saja.
"Yah." Gibran memanggil ayahnya yang sedang sarapan bersamanya.
"Apa, Bran?" tanya sang ayah.
"Uang jajanku gak dikembaliin seperti semula lagi? Hehehe," tanya Gibran cengengesan.
"Tidak. Ini hukuman buatmu," jawab ayahnya.
"Kan aku gak sengaja, Yah. Lagian ayah juga sih, ngasih wallpaper malah gambar pocong. Ya aku kan jadi kaget dan jatuh lah tuh ponsel," ucap Gibran.
"Apapun itu yang jelas kamu salah. Kalau mau pakai ponsel ayah, ya harus izin dulu. Kamu lihat sendiri, kan, dampaknya apa? Ponsel ayah jadi rusak. Untungnya masih bisa diperbaiki," kata sang ayah.
"Iya, Yah. Maaf. Tapi tolong lah, jangan potong uang jajanku lagi. Nanti kalau teman-teman nyangkanya kita jatuh miskin gimana? Terus aku dijauhi, dibully, disakiti, tidak punya teman. Ayah tega lihat anak semata wayang ayah yang ganteng ini mengalami hal menyedihkan seperti itu?" tanya Gibran.
Sang ayah malah tertawa. Gibran yang melihatnya pun tak tahu harus berekspresi seperti apa. Bingung, mungkin cuma itu yang ia rasa. Melihat ayahnya yang tidak sesuai perkiraannya.
"Jangan berlebihan, Bran! Hukuman ini juga untuk memberi pelajaran buat kamu biar ke depannya kamu bisa jadi manusia yang lebih baik lagi. Jadi jalani saja hukuman ini sampai batas waktu yang telah ayah tentukan," kata sang ayah. Gibran menghembuskan napas pelan, sebal dengan perkataan sang ayah.
Ternyata ucapan Gibran kepada kedua sahabatnya pada waktu itu memanglah sesuai fakta. Bukan kata-kata yang hanya sebatas canda. Hanya saja mungkin tentang dia yang mengucapkan uang jajan dia dipotong sebanyak 90 persen adalah salah.
***
"Parah, parah," ucap Gibran ketika baru memasuki ruang kelas.
Di dalam ruang kelas itu baru ada beberapa orang. Beberapa di antaranya adalah dua sahabat laknat si Gibran yang sedari tadi sudah berada di sana.
"Apanya yang parah, Brain?" tanya Iqbal.
"Bran, woi, bukan Brain. Brain kan bahasa Inggrisnya otak," ucap Indra.
"Ah, iya. Maksud gue itu," ucap Iqbal.
"Parah. Gue udah mengadakan debat dengan ayah gue soal uang jajan gue yang dipotong, eh tetap saja gue yang kalah," kata Gibran.
Dengan serentak, keduanya pun tertawa. Namanya juga sahabat laknat. Ketika salah satu di antaranya mendapatkan musibah, pasti yang lain akan menertawainya. Tapi satu hal yang harus diingat dari suatu ikatan yang disebut dengan persahabatan. Meski seorang sahabat itu selalu menertawai ketika yang lainnya mendapatkan musibah, tapi sejatinya tawanya itu adalah topeng yang menutupi rasa simpatinya.
"Malah ketawa Lo berdua. Parah emang," ucap Gibran.
"Eh, tapi gue ada berita bagus. Lebih tepatnya mau pamer, sih," lanjut Gibran.
"Pamer apaan? Emang ada yang spesial dari Lo buat dipamerin?" tanya Indra.
"Wah, anda menghina saya. Oke, jadi gini...." Gibran menggantung ucapannya.
"Oh gitu?" tanya Iqbal.
"Belum cerita woi, gue," kata Gibran. Iqbal tertawa.
"Ya udah cerita!" perintah Iqbal.
Namun apa yang dilakukan oleh Gibran? Ia tiba-tiba bergelut dengan pikirannya sendiri. Sejatinya apa yang ingin ia ceritakan adalah tentang kebersamaan dia bersama Riani hari kemarin. Ditambah lagi dengan cerita tentang dirinya yang sudah berpacaran dengan Riani. Ya, para sahabatnya itu memang belum mengetahui kalau hubungan Gibran dengan Riani sudah sampai pada tahap itu.
Maka dari itu Gibran berpikir dua kali untuk menceritakannya. Bukannya apa-apa. Ia hanya takut jikalau nanti kedua sahabatnya itu tahu tentang hubungan dia dan Riani yang sebenarnya, mungkin kedua manusia laknat itu akan mencari 1000 cara untuk menghancurkannya, secara ini masihlah dalam masa perlombaan di antara mereka bertiga tentang siapa yang bisa mendapatkan pasangan terlebih dahulu.
"Jadi gini." Gibran kembali berucap.
"Jadi cerita gak, sih? Dari tadi jadi gini mulu," protes Indra.
"Sabar wahai, Kawanku, Indra ke enam. Aku sedang merangkai kata-kata biar nanti dialog ku sama kayak orangnya," ucap Gibran.
"Sama kayak orangnya gimana?" tanya Indra tak paham.
"Keren," jawab Gibran dengan percaya dirinya. Indra dan Iqbal pun tertawa meremehkan.
"Jangan tertawa! Gue sedang nggak ngelawak," ucap Gibran. Tapi keduanya masih saja tertawa.
"Sudahlah! Cepat cerita!" ucap Iqbal kemudian.
"Cerita apa?" tanya Gibran balik.
"Udah, udah. Gak usah aja. Males gue," jawab Iqbal.
"Sama," ucap Indra ikut-ikutan. Kali ini Gibran yang tertawa.
Lewat sikap menyebalkannya itulah ia akhirnya bisa mendapatkan jalan keluar hari dirinya tidak jadi menceritakan tentang hubungan dia dan Riani yang sebenarnya.
Meski mereka berdua juga tahu bahwa Gibran dan Riani sudah sangat dekat, tapi belum ada yang tahu kalau Gibran dan Riani sudah berpacaran. Bahkan mungkin bukan hanya mereka berdua saja, melainkan semua temannya, baik teman Gibran ataupun teman Riani pun belum ada yang tahu.
"Ingat! Waktu udah semakin menipis. Kalian berdua udah siap menerima kekalahan?" tanya Gibran.
"Gue gak akan kalah sama Lo," kata Iqbal.
"Apalagi gue. Malah gak mungkin, lah," ucap Indra.
"Oke. Kita buktikan saja nanti," ucap Gibran.
"Oke. Siapa takut."
"Gue udah ada dua calon. Nessa sama si anak pemilik rental PS. Lo berdua cuma punya satu, dan itupun belum tentu ada yang mau. Hahaha," ejek Iqbal.
Dalam hati Gibran, ia tertawa kencang. Bagaimana tidak? Ia dibuat geli hati dengan perkataan Iqbal yang seperti itu. Belum tentu mau bagaimana? Sedangkan Riani saja kini sudah berstatus sebagai pacar Gibran. Tapi diam masih menjadi kunci utama bagi Gibran untuk memenangkan pertandingan ini. Kalau sampai sebelum hari yang telah ditentukan mereka berdua tahu tentang hubungan asmara Gibran dan Riani, maka Gibran pun harus bersiap-siap karena kehancuran tentu akan dimulai.
"Percaya diri sekali kamu, Kawan. Padahal si anak pemilik rental PS itu semalam nelpon gue dan bilang kalau dia suka sama gue. Gue juga gak tahu darimana dia dapat nomor gue. Mungkin udah jodoh kali," ucap Indra.