Bab 12

1274 Kata
"Aku juga gak tahu, sih. Hehehe. Nanti khusus pertanyaan yang satu itu, tolong kamu aja yang jawab," kata Gibran. "Kok aku?" "Ya masa ayahku? Kan ayahku gak ada di sana kalau seandainya kita ditilang," jawab Gibran. "Ih, nyebelin deh. Maksudnya kenapa gak kamu aja?" tanya Riani. "Kan aku gak tahu jawabannya," jawab Gibran. "Terus aku harus jawab apa?" "Ya gak tahu." Hanya pembicaraan tidak berguna yang sedang mereka bicarakan. Tapi, itu sudah cukup untuk melepas kesunyian. Setiap hubungan memang seharusnya dijalankan dengan cara yang seperti itu. Biar tidak cepat bosan pastinya. "Eh, Gibran," ucap Riani. "Iya. Ada apa?" tanya Gibran sambil terus melajukan motornya. "Kelewatan, Bran. Kita harusnya tadi belok kiri, bukan jalan terus," jawab Riani sambil menyisakan sedikit tawanya. "Jadi kita putar balik dong, ini?" "Ya iya." "Ah, payah nih penunjuk arahnya. Bukannya menunjukkan arah yang benar malah disasarin," ucap Gibran. "Hehehe. Habisnya kamu ngajak ngomong mulu, sih " "Ya udah aku diam." "Hahaha... ya udah ayo putar balik. Lagian gak jauh tuh," ucap Riani. Beruntungnya jalanan kota di sore hari ini tak sepadat pada hari-hari biasanya. Tak tahu mengapa. Mungkin saja memang momennya saja yang tepat sehingga tidak terlalu banyak kendaraan yang melintas. Dengan begitu, Gibran pun bisa memutar balik motornya dengan mudah dan akhirnya ia pun bisa kembali melajukan motornya ke jalan yang benar. Sesuai apa yang ia ucapkan terakhir kalinya, ia pun benar-benar melakukannya. Sepanjang perjalanan melintasi jalan raya, dirinya hanya diam membisu tanpa berniat untuk hanya sekedar berbicara sepatah kata. Hingga ketika sampai di suatu tempat, barulah ia mulai bicara. "Wah, gawat," ucapnya pelan. Laju motornya pun dikuranginya secara drastis. "Gawat kenapa, Bran?" tanya Riani. "Itu, ada rahasia," jawab Gibran. "Rahasia? Maksudnya?" tanya Riani tak paham. "Itu lho, polisi," jawab Gibran. "Oh, razia?" "Ya udah putar balik, cepat!" pinta Riani setelahnya. Lagi-lagi ia menuruti apa yang Riani ucapkan. Namun sial baginya. Tepat di saat ia ingin memutar balik motornya, bunyi peluit dari pak polisi terdengar. Sontak, tubuhnya seolah-olah kaku untuk dibuat bergerak. Harusnya ia masih punya banyak waktu untuk melarikan diri. Tapi entah karena saking ketakutannya atau apa, ia malah terdiam. "Sial!" umpatnya dalam hati. Polisi si peniup peluit itupun mendekatinya. Belum sempat sang polisi sampai di hadapannya, tiba-tiba terlintas sebuah ide cemerlang di pikirannya. Pikirnya, dibandingkan melarikan diri, ide yang ia punya itu jauh lebih baik. "Riani, kamu tenang. Jangan panik! Ada aku di sini," ucap Gibran sok melindungi. Padahal sejatinya dirinya lah yang sedang panik. Ia segera merogoh saku celananya dan mengambil ponsel dari dalam sana. Itu adalah bagian pertama dari idenya. Bersamaan dengan itu, si polisi pun datang. "Iya Yah," ucapnya dengan ponsel yang ia tempelkan di telinganya. Itulah yang dilakukan oleh Gibran. Ia berpura-pura menerima telepon dari ayahnya untuk menghindari petaka yang akan ditimbulkan oleh polisi. "Apa? Nenek ...?" Gibran menggantung ucapannya. Ia berekspresi sedih. Dan itu nampak sekali dari pandangan sang polisi yang dengan baiknya memilih untuk diam ketika Gibran sedang berpura-pura menerima telepon dari ayahnya. Gibran menolehkan pandangannya ke arah Riani yang berada di belakangnya. Gadis itu nampak menundukkan kepalanya. Mungkin ia sedang takut. "Riani," panggil Gibran. Riani pun menatap Gibran. "Nenek meninggal," ucap Gibran sambil berakting sedih. Untuk membuat Riani sadar bahwa itu cuma akting, Gibran pun mengedipkan sebelah matanya sebagai isyarat. Dan nampaknya Riani pun dengan begitu mudahnya menyadari. "Apa?" tanya Riani. Ia menutup mulutnya menggunakan tangan kanan seakan tak percaya. "Nenek ...." Sama seperti Gibran, ia pun berakting sedih. Gibran menganggukkan kepalanya. Setelahnya ia kembali fokus dengan akting berteleponnya. "Iya Yah. Aku sama Riani sudah ada di jalan mau ke sana," ucap Gibran. Setelahnya ia pun menunggu beberapa saat. "Waalaikumsalam," ucap Gibran kemudian. Ia pun menutup teleponnya dan memasukkannya ke saku celananya lagi. Masih dengan berakting sedih, dirinya kembali menoleh ke arah Riani. Riani pun juga terlihat sangat pintar dalam berakting. Bahkan bisa dibilang lebih pintar dari Gibran. Bayangkan saja! Gadis itu benar-benar sampai meneteskan air matanya. Gadis yang hebat, dan layak untuk menjadi bintang film. "Permisi, Dik." Polisi itu tiba-tiba berucap. Gibran pun menolehkan pandangannya ke arah si polisi. "Pak, maafkan kami, Pak. Tolong jangan tilang kami! Saya sama sepupu saya tadi buru-buru. Jadi lupa mau bawa helm, Pak. Tolong jangan tilang kami!" pinta Gibran. Ia mengatupkan tangannya sebagai bentuk permintaannya. "Iya Dik. Untuk kali ini, nggak akan saya tilang. Tapi lain kali, kalian jangan melakukannya lagi. Kalian masih di bawah umur. Belum pantas untuk berkendara. Apalagi tanpa mengenakkan helm," kata Pak Polisi. "Iya, Pak. Sekali lagi maafkan kami. Kami mengaku salah. Dan terima kasih. Sekarang apa boleh kami pergi? Kami sedang buru-buru, Pak," ucap Gibran. "Iya, silahkan," jawab si polisi. Akting itu berjalan dengan sangat mulus. Sebuah trik hebat yang tidak semua orang bisa melakukannya. Beruntungnya pula Gibran bertemu dengan polisi yang baik. Sekali-kali memanfaatkan kebaikan seseorang pun tidak apa-apa, pikirnya. Dan pada akhirnya, ia benar-benar bisa lolos dari razia itu. Tertawalah ia dengan bangganya karena sudah bisa mengelabuhi seorang polisi. Ekspresi sedih sudah tidak ia butuhkan lagi. Kini ekspresi dia yang sebenarnya lah yang ia munculkan. "Hahaha ... ternyata mudah sekali membohongi seorang polisi," ucap Gibran. "Tapi keterlaluan gak, sih? Kamu sampai bilang kalau nenekmu meninggal." "Nenekku kan emang udah meninggal. Ya gak apa-apa, lah," kata Gibran. "Sumpah deh, parah. Katanya tadi mau alasan kalau helmnya helm gaib, eh kok ini alasannya malah ganti," ucap Riani. "Bukan tanpa alasan. Saat kulihat si polisi itu, sepertinya dia adalah orang yang mempunyai rasa simpati tinggi. Makanya rencana aku ubah seketika itu juga," kata Gibran. Riani tertawa pelan. "Tapi nanti baliknya kamu gimana? Mau lewat sana lagi, gitu?" tanya Riani. "Ya enggak, sih. Lewat jalan tikus aja," jawab Gibran. "Oh, baguslah." "Tapi emang tahu jalannya?" lanjut Riani bertanya. "Ya semoga aja, sih," jawab Gibran. "Kan ada ponsel. Setidaknya ponselku lebih berguna sebagai penunjuk arah dibandingkan dengan orang yang berada di belakangku ini," lanjutnya. "Ooo ... jadi maksudnya aku tidak berguna?" tanya Riani. Dengan kekuatan penuh, ia mempergunakan jemari lentiknya itu untuk mencubit pinggang milik Gibran. Alhasil lelaki tampan itupun menjerit kesakitan karenanya. "Aduh, sakit!" "Makanya jangan menghinaku seperti itu," kata Riani. "Iya iya, maaf. Tapi sakit tahu. Untung gak jatuh," kata Gibran. "Salahmu." "Iya. Emang laki-laki selalu salah," kata Gibran. "Hmm ... depan ada pertigaan. Nanti belok kanan. Terus nanti ada toko. Nah di samping toko itu rumahku," ucap Riani. "Kamu udah punya rumah sendiri? Hebat dong. Masih kecil udah bisa punya rumah sendiri," puji Gibran. "Gibran, maksud aku rumah yang aku huni bersama keluargaku. Jangan bercanda mulu, deh!" ucap Riani. Gibran tertawa pelan. Hangatnya canda tawa yang tercipta benar-benar membuat hilangnya suasana canggung. Gibran memang sangat berbakat dalam hal berbicara. Gaya bahasanya serta pintarnya ia mencari topik patut diacungi jempol. Ya meski kebanyakan dari pembicaraan yang ia lakukan adalah tentang bercanda. Hingga sang waktu telah mengakhiri sebuah cerita. Cerita singkat tentang kebersamaan sang Pangeran dan Bidadarinya. Di depan sana terdapat sebuah rumah yang tak begitu mewah tapi sudah bisa dikategorikan sebagai rumah yang besar dan luas. Rumah itu adalah rumah milik Riani, katanya. "Inikah rumahmu?" tanya Gibran setelah dia menghentikan laju motornya. "Iya. Terima kasih, ya, sudah dianterin pulang," kata Riani. "Iya," jawab Gibran sambil terus memandang rumah Riani. "Kenapa ngelihatin rumahku terus? Jangan-jangan mau ngajak teman-temanmu buat ngerampok di rumahku, entar," tebak Riani ngawur. "Eh, yang benar aja. Ya tentu saja iya. Hahaha," kata Gibran. Riani malah tertawa. Riani turun dari motor Gibran. Biar bagaimanapun juga, ia sudah sampai di depan rumahnya. Jadi tidak ada alasan lagi untuk dia tetap duduk di boncengan motor milik si Gibran. "Sekali lagi, terima kasih, ya," kata Riani. "Terima kasih aja, gitu?" tanya Gibran. "Terus?" "Hari gini mana ada yang gratis. Dua ribu," ucap Gibran sambil menyodorkan telapak tangannya ke depan Riani. "Buat apa?" tanya Riani bingung. "Beli bensin, lah," jawab Gibran.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN