Kalau menurut orang-orang, gombalan yang dilakukan oleh Gibran itu terlalu berlebihan. Bahkan terkesan alay. Tapi, semua orang punya prinsip dan caranya masing-masing untuk bahagia. Begitupun juga dengan Gibran. Ia seperti itu karena dengan itu dirinya bisa merasakan apa itu bahagia. Kalau ada yang menanggapinya dengan buruk, Gibran tinggal tidak memperdulikannya saja. Lagipula, di umur yang masih segitu wajar saja jika caranya menggombal masih terkesan berlebihan.
"Hahaha ... Artinya kamu akan mencintaiku selamanya?" tanya Riani.
"Iya," jawab Gibran.
"Selamanya?" Pertegas Riani.
"Iya."
"Akan selalu ada untukku?"
"Iya."
"Akan menjagaku sampai akhir hidup nanti?"
"Iya."
"Akan bisa membuatku tertawa saat aku sedih?"
"Iya."
"Akan selalu membahagiakan aku?"
"Iya."
"Kamu Gibran?"
"Iya."
Terdengar tawa yang cukup imut dari ponsel milik Gibran. Tentu tawa itu adalah tawa dari Riani. Gibran agak bingung, tapi beberapa saat kemudian ia akhirnya tersadar. Kebodohannya lagi-lagi yang membuat dia gagal dalam melakukan sesuatu.
Ia menepuk jidatnya sendiri karena kesal, sedangkan Riani masih saja tertawa karena rencananya telah berhasil membuat Gibran terjebak.
"Hei, kau yang di sana. Apanya yang lucu sehingga membuatmu mengeluarkan gelak tawa seperti itu?" tanya Gibran.
"Udah dong, Bran. Masih aja gitu, ih," protes Riani.
"Siapa itu, Bran?" tanya Gibran lagi.
"Hmm, kalau kamu gak mau ngaku, aku matiin nih telepon. Terus nomermu aku blokir. Mau?" ucap Riani.
"Asyik. Mau," ucap Gibran dengan gembiranya.
Tak bisa dibayangkan apa yang dirasakan Riani di seberang sana. Ia pasti kesal, bingung, senang atau apalah. Mungkin sekarang perasaannya sedang bercampur aduk hanya gara-gara satu manusia tampan yang oleh orang tuanya diberi nama Al Gibran Ramadhana ini.
"Hahaha ... iya iya, ini Gibran, pacar kamu. Emang nomerku belum kamu simpan, ya? Jahat banget," ucap Gibran kemudian.
Namun, pada akhirnya pun dia mau mengaku. Bukan karena takut diblokir atau apa, tapi karena mungkin sudah saatnya dia mengaku.
"Tuh, kan? Kamu suka bohong, ih. Aku gak suka," kata Riani manja.
"Hahaha ... minta maaf, lah."
"Gak mau," tolak Riani.
"Ya udah kalau gak dimaafin. Sebentar, aku matiin dulu teleponnya. Nanti aku hubungi lagi," ucap Gibran.
"Ya," jawab Riani singkat.
Dan Gibran pun memutuskan sambungan teleponnya dengan Riani. Ia kemudian melempar ponselnya ke sembarang tempat, lalu berdiri dan berjalan seolah-olah ingin mengambil sesuatu.
Diambilnya tas sekolah yang ia punya. Ah, tidak. Lebih tepatnya buku dan pulpen yang berada di dalam tas tersebut. Tak tahu apa yang akan ia perbuat dengan dua benda itu.
Tapi pada akhirnya, maksud dari ia mengeluarkan dua benda itupun terlihat. Ternyata ia pergunakan untuk menuliskan sesuatu. Sebuah goresan tinta spesial yang akan ia persembahkan kepada orang yang spesial juga tentunya.
"Baiklah, dengan ini dia pasti akan semakin mencintai gue," ucap Gibran sambil mengangkat buku itu.
Setelahnya, Gibran memotret tulisan yang ia buat. Lalu, dikirimkannya gambar itu ke gadis pujaan hatinya. Ia tersenyum ketika melakukannya.
Di sisi lain, seorang gadis cantik sedang duduk di sofa depan televisi. Gadis itu adalah Riani. Kini dia pun sedang sibuk dengan ponselnya.
Hingga kemudian, ada sebuah notifikasi yang membuat ponselnya mengeluarkan bunyi nada dering. Ia pun segera melihatnya, dan ternyata ada sebuah kiriman pesan dari nomor yang tidak dikenal. Saat ia membukanya, ternyata pesan itu adalah berbentuk sebuah foto.
Terdapat sebuah kata-kata yang ditulis tangan di dalam foto kertas putih tersebut. Riani membacanya dengan seksama dan juga penuh dengan tawa. Kira-kira beginilah apa yang tertulis di dalamnya.
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
Salam rindu, dari Gibran untuk Riani.
Dengan ini kutulis sebuah maaf untukmu. Tentang aku yang tadi sempat berbohong kepadamu. Aku tak ada maksud untuk melakukan hal itu. Karena inginku adalah cuma membuatmu candu denganku. Kuingin juga melihat tawamu. Tentu pula dengan indahnya senyummu. Karena Riani ku tak akan pernah hilang dari ingatanku.
Demikianlah tulisan ini saya buat. Atas perhatiannya saya ucapkan terima kasih.
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
Dari orang yang sudah, sedang dan akan selalu mencintaimu. Al Gibran Ramadhana namanya.
Itulah tulisan yang dibuat oleh Gibran. Dan anehnya, Riani dibuat tertawa bahagia karenanya. Gibran telah sukses membuat gadisnya tertawa gembira dengan hal yang menurut orang lain sangat tidak pantas. Tapi Gibran tak peduli itu. Apapun itu, yang penting ia bisa membuat Riani tertawa.
"Dasar cowok aneh," ucap Riani. Tawanya masih menghiasi raut wajahnya.
Ia kemudian memutuskan untuk menyimpan nomor ponsel milik si Gibran. Ya, memang sedari tadi dirinya belum sempat menyimpannya.
Hari yang indah juga buat Riani. Di hari ini, sang manusia tampan seperti seorang Pangeran telah membuat hatinya berbunga-bunga lewat hal yang sangat sederhana. Hanya sebuah tulisan, dan itupun juga berbentuk foto. Namun dirinya bisa tertawa sebahagia itu.
Gibran adalah anugerah yang sangat indah buat Riani. Dia adalah cinta pertama yang ia dapatkan meski sejatinya sudah banyak lelaki yang pernah menyatakan cinta kepadanya. Dan untuk Gibran, Riani adalah gadis pertama yang ia cintai. Riani juga gadis pertama yang berperan besar untuk dia bisa mulai mengenal apa itu cinta. Lagi, yang lebih penting adalah Riani juga cinta pertama bagi Gibran. Ya meskipun berawal dari sebuah perlombaan yang mengorbankan harga diri. Tapi tetap saja kenyataannya kini Riani adalah milik Gibran, dan Gibran adalah milik Riani.
Hari-hari pun berlalu, dengan segala kebersamaan yang membuatnya candu. Gibran diam membisu, dengan Riani yang duduk di sampingnya di sebuah bangku.
"Hei, Riani," panggil Gibran.
"Iya, Gibran?"
"Aku baru ingat," kata Gibran.
"Ingat apa?" tanya Riani.
"Saat aku menyatakan cinta ke kamu di perpustakaan sekolah waktu itu, kan setelahnya, sebelum aku kembali ke kelas aku bilang kalau sebenarnya masih ada hal yang ingin aku bicarakan ke kamu," jawab Gibran.
"Iya. Terus kenapa?" tanya Riani.
"Nah, ya sekarang aku baru ingat tentang itu," jawab Gibran.
"Hahaha, pikun ih. Ya udah, apa hal yang ingin kamu bicarakan?" tanya Riani lagi.
Semua mata yang berada di taman kota itu seolah tak mau terpejam. Hanya untuk sekedar menyaksikan kisah romansa dua anak SMP yang sangat menakjubkan. Namun Gibran dan Riani tak peduli dengan hal yang demikian.
"Liburan nanti, aku ingin mengajakmu jalan-jalan ke pantai. Kamu mau?" tanya Gibran.
"Ke pantai?" tanya Riani balik.
"Iya."
"Nggak ah, jauh," kata Riani. Betapa kecewanya Gibran ketika mendengarnya.
"Jauh ya, menurutmu?" tanya Gibran.
"Iya, pasti capek kalau ke sananya jalan kaki," jawab Riani.
"Lah, siapa yang bilang ke sananya jalan kaki?" tanya Gibran.
"Lha itu katanya kamu ngajak aku jalan-jalan ke pantai. Itu berarti dari rumah sampai ke pantai, kita jalan kaki dong. Pasti capek," ucap Riani panjang lebar.
Gemas, bukan kesal. Itulah yang Gibran rasakan di kala gadis pujaan hatinya menanggapi ajakannya untuk jalan-jalan ke pantai dengan hal yang seperti itu. Geli hati dan tidak bisa berhenti. Ia pun tak tahu kenapa dirinya bisa seperti itu.
"Maksudku naik motor, ke pantainya," jelas Gibran.
"Tadi kamu bilang jalan-jalan."
"Oke lalat aja yang tadi," ucap Gibran.
"Maksudnya lalat?" tanya Riani.
"Itu lho, perbaikan," jawab Gibran.
"Itu ralat, Gibran, bukan lalat. Kalau lalat kan hewan. Tahu ah, gak jelas kamu," ucap Riani. Gibran tertawa pelan.
"Hehehe, kok kesel sih," ucap Gibran.
"Ya kamu ngeselin," balas Riani.
"Iya sih ngeselin. Tapi juga ngegemesin, ngebahagiain, dan juga ngangenin, kan?" tanya Gibran dengan kepercayaan diri tingkat tinggi.
"Idih, dengan percaya dirinya bilang begitu. Padahal nggak benar," kata Riani. Gibran cuma tertawa.
Tawanya adalah simbol dari kebahagiaannya. Kehidupannya nampak sangat indah, seperti indahnya sang senja yang kini mulai muncul di langit sana.
"Jadi gimana, apa kamu mau?" tanya Gibran mulai serius lagi.
"Mungkin mau. Asal kamu jemput aku ke rumah dan kamu juga yang memintakan izin ke orang tuaku agar aku dibolehin pergi," jawab Riani.
"Bahkan rumahmu saja aku belum tahu letaknya. Hahaha," kata Gibran.
"Hahaha, iya. Mau ketemuan aja harus janjian dulu ketemuannya di mana. Kayak sekarang ini. Kan kalau kamu tahu rumahku kamu bisa jemput aku," kata Riani.
"Iya. Aku payah, ya? Udah sekian lama pacaran sama kamu, tapi belum tahu letak rumahmu," ucap Gibran.
"Lama dari mananya? Baru juga 5 hari," ucap Riani.
"Eh, iyakah? Kirain udah 5 tahun," kata Gibran.
"Baru 5 hari, Gibran."
"Hahaha, iya, baru 5 hari. Tapi biarpun baru 5 hari, tetap saja aku ini payah. Belum bisa tahu letak rumah kamu," kata Gibran.
"Gampang, gak usah dipikirin. Aku kasih alamatnya aja, nanti," ucap Riani.
"Jangan!"
"Kenapa jangan?" tanya Riani.
"Ya jangan aja," jawab Gibran.
"Iya kenapa?"
"Kan nanti pulangnya aku anterin kamu sampai ke rumahmu. Lalu apa gunanya nanti kamu kasih alamat rumah kamu untukku?" jawab sekaligus tanya Gibran.
Dua bola mata indah dari gadis jelmaan Bidadari itu membulat. Ia menyadari sesuatu setelah Gibran mengucap. Atau mungkin pula ia tak menyangka kalau Gibran mempunyai inisiatif untuk mengantarkan dia pulang nantinya, secara dia bisa sampai ke taman inipun dengan naik angkutan umum.
"Kamu mau nganterin aku pulang?" tanya Riani.
"Iya. Emang kenapa? Gak boleh?"
"Hmm ... jadi ternyata ini cara kamu untuk tahu alamat rumahku? Hahaha. Trik yang hebat," ucap Riani.
"Trik apa lagi, sih? Ini sudah senja, lho. Sebentar lagi petang. Aku gak tega kalau biarin kamu pulang sendirian," ucap Gibran.
"Hahaha, iya, iya. Ya udah, ayo pulang!" ajak Riani.
"Lah. Mau pulang sekarang?" tanya Gibran.
"Terus maunya kapan?" tanya Riani balik.
"Terserah si tuan putri aja," jawab Gibran. Riani tersenyum malu-malu.
"Ah kamu mah gitu mulu. Ya udah ayo pulang!" ajak Riani.
Gibran mengangguk paham sambil tersenyum bahagia. Ia pun menuruti permintaan si tuan putrinya. Sungguh, dari tampilannya, tak sedikitpun ditemui dalam diri Gibran kalau dirinya adalah orang yang baru mempunyai pengalaman berpacaran. Apa yang ia lakukan benar-benar menampakkan bahwa dirinya adalah lelaki yang sudah sangat berpengalaman dalam hal cinta. Terlepas dari umurnya yang masih cukup belia, dan baru kelas 3 SMP.
Keindahan dari sang senja menghiasi semesta. Motor Gibran terus melaju menyusuri jalanan kota. Ada rasa bahagia yang berada di dalam hatinya. Bahagia itu berasal dari kebersamaan dia dengan Bidadarinya. Keindahan dari sang senja dan semesta berpadu dengan keindahan seseorang yang kini berada di belakangnya. Paras cantiknya, seolah-olah telah mengalahkan segala kecantikan yang pernah ada.
"Aneh gak, sih?" Riani tiba-tiba berkata. Perkataannya sungguh ambigu.
"Apanya yang aneh?" tanya Gibran.
"Gimana, ya? Aneh gak sih kalau remaja seumuran kita sudah berpacaran?" tanya Riani.
"Aneh banget. Malah harusnya sangat tidak pantas. Hahaha. Kita adalah contoh yang buruk," jawab Gibran terang-terangan.
Mungkin, hanya Gibran seorang satu-satunya orang yang ketika ditanyai tentang hal seperti itu oleh pasangannya malah menjawab dengan jawaban yang tidak pernah disangka-sangka oleh siapapun.
"Contoh yang buruk, tapi tetap dilakuin, ya?" tanya Riani.
"Iya. Menyalahi aturan kita ini," kata Gibran.
"Ngomong-ngomong, kita gak pakai helm, lho. Nanti kalau ada polisi gimana?" tanya Riani.
"Ah, gampang itu. Nanti kalau ada polisi yang nilang kita, kita tinggal bilang kalau kita sebenarnya sedang pakai helm, tapi helmnya helm gaib. Tidak bisa dilihat oleh sembarang orang," jawab Gibran ngawur.
"Hahaha ... emang bisa?" tanya Riani.
"Ya semoga aja."
"Terus kalau ditanya SIM, STNK dan lain-lainnya? Dan kamu juga kan masih di bawah umur. Harusnya belum boleh berkendara," ucap Riani.
"Kalau ditanya SIM sama STNK, ya kita tinggal jawab dengan jawaban yang sama seperti saat dia nanya tentang helm. Dan tentang aku yang masih di bawah umur, bisa diatur lah tuh nanti jawabannya," ucap Gibran.
Selalu ada jawaban yang sangat aneh dari Gibran. Jika menurut logika, mana mungkin ada polisi yang akan percaya jika jawaban Gibran seperti itu.
"Emang mau kamu jawab gimana?" tanya Riani kemudian.