Bab 10

1175 Kata
"Tapi aneh aja gitu, Bran," kata Riani. "Ya gak usah dianehin," ucap Gibran dengan entengnya. "Oh ya, kamu punya ponsel, kan?" tanya Gibran kemudian. "Punya lah. Ada apa?" jawab sekaligus tanya Riani. "Gak apa-apa. Cuma mau bilang bahwa salah satu fungsi utama dari ponsel adalah untuk komunikasi. Kamu udah tahu belum soal itu?" Riani tertawa kecil. Ia merasa kalau Gibran bukanlah seorang anak SMP lagi. Cara dia berbicara telah membuat Riani menganggap bahwa Gibran hampir setingkat dengan para pejabat tinggi di negeri ini. Gibran bahkan dengan begitu mudahnya merangkai kata-kata yang tidak pernah ia persiapkan sebelumnya. "Hahaha, bilang aja mau nomor teleponku," tebak Riani. Dan tebakan itu sangat tepat. "Sini ponselmu. Aku tuliskan," lanjutnya sambil meminta ponsel milik Gibran. Tak ingin basa-basi lagi, Gibran pun segera merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah ponsel mahal yang ia punya. Setelah itu ia berikan ke Riani. "Bukan aku lho ya, yang minta. Tapi kamu sendiri yang ingin memberi," kata Gibran. "Iya, iya. Terserah kamu aja," ucap Riani sambil memainkan jemarinya di layar ponsel milik Gibran. "Nih," ucap Riani kemudian. Gibran pun menerima kembali ponselnya itu. "Oh, jadi ini nomormu? Kosong delapan...." "Eh, jangan disebutin!" pinta Riani dengan manjanya. "Loh, kenapa?" tanya Gibran. "Nanti kalau ada yang nyatet gimana? Terus nanti dia nelponin aku, video call aku mulu. Kan jadinya gimana gitu," ucap Riani. "Tenang aja. Gak ada yang dengar kok. Lihat tuh mereka juga sibuk baca buku," ucap Gibran. "Pokoknya jangan!" ucap Riani. "Iya deh iya." "Sebenarnya ada yang ingin aku bicarain lagi," lanjut Gibran. "Ya udah bicara aja." "Tapi nanti aja. Sekarang, sepertinya bel masuk udah mau bunyi," kata Gibran. "Hmm, iya." Gibran lagi-lagi menampakkan senyum manisnya. Sepertinya ia benar-benar bahagia pada hari ini. Sang pujaan hati telah ia luluhkan hatinya, dan sekarang ia sudah menjadi pemilik gadis cantik itu. "Oh ya, kapan-kapan aku boleh main ke rumahmu?" tanya Gibran. "Boleh aja. Tapi ngakunya sebagai teman dulu, ya," jawab Riani. "Teman hidup?" "Ih, teman sekolah, lah," jawab Riani. Gibran tertawa. Tentu ia paham kenapa Riani meminta hal tersebut. Di umurnya yang masih seumur jagung, tidak mungkin jika ia datang ke rumah seorang gadis dengan mengaku sebagai pacar sang gadis. Dia masih terlalu kecil untuk hal yang demikian. Pikirannya pun masih terlalu labil. "Tapi emang kamu tahu rumahku?" "Enggak," jawab Gibran. "Oh ya udah. Aku kasih alamatnya," kata Riani. "Eh, tidak usah." "Kok nggak usah?" "Maksudku, cinta itu butuh perjuangan, kan? Jadi, aku akan berusaha untuk mencari tahu alamat rumahmu sendiri," jawab Gibran. Riani tersenyum. "Heh, laki-laki aneh," ucap Riani. "Dan keanehanku itu yang membuatmu cinta, kan?" tanya Gibran sambil tertawa pelan. "Hahaha, mungkin." "Udah ah, katanya mau ke kelas," lanjut Riani. "Iya deh aku ke kelas dulu," pamit Gibran. Riani mengangguk sambil tersenyum. Hari yang sangat indah untuk Gibran. Ia dengan segala yang ada di dalam dirinya telah berhasil membuat sang Bidadari membuka hati untuknya. Mungkin terlalu cepat dan mudah, tapi yang namanya cinta tentulah tidak ada yang tahu kapan dan di mana cinta itu mulai tumbuh dan tercipta. Dan Al Gibran Ramadhana telah membuktikannya sebagai seorang lelaki. Lelaki hebat yang sanggup menaklukkan hati sang Bidadari dalam waktu yang sangat singkat. Dalam dunia ini, mungkin hanya satu per sekian orang yang bisa melakukan hal sama seperti apa yang Gibran lakukan. Namun ini barulah awal terbentuknya kisah cintanya dengan Riani, gadis pujaan hatinya. Setelahnya pasti akan ada banyak hal yang terjadi. Entah itu kebahagiaan, atau bahkan juga konflik. Satu hal yang harus diketahui, bahwa tidak ada sebuah hubungan yang akan terus-menerus berjalan penuh dengan kebahagiaan. Pasti suatu saat akan ada konflik yang terjadi. Begitupun sebaliknya, tidak ada satu hubungan pun yang akan berjalan penuh dengan konflik. Akan ada saat di mana kebahagiaan itu akan datang. "Gue udah dapat nomornya, tapi belum tahu alamatnya. Cih, ibarat mau makan nasi tapi belum ada wadahnya," ucap Gibran sewaktu ia berada di rumahnya. "Oh Kahlil Gibran. Kenapa sih Lo sok jadi pejuang banget? Pakai mau berjuang untuk mengetahui alamat rumahnya sendiri pula. Padahal tinggal minta alamatnya, semuanya udah beres," lanjutnya. Dan itulah manusia. Gibran juga sang manusia. Penyesalan itu pasti ada. Entah penyesalan karena hal kecil ataupun hal besar. Lelaki tampan itu memutar-mutar ponselnya. Ia sangat menyesal atas keputusan yang ia buat tadi sewaktu di sekolahan. Andai ia membiarkan Riani memberitahukan alamat rumahnya, pastilah ia tidak perlu repot-repot lagi untuk mencari tahu. Atas dasar laki-laki sejati yang akan selalu memperjuangkan cinta kepada gadisnya, ia sampai rela seperti itu. "Nampaknya gue harus segera meneleponnya," ucap Gibran. Ia pun mencari nama Riani di kontak ponselnya. Tak begitu lama ia mencari, akhirnya ia pun menemukannya. Ada nama Riani di sana, diiringi dengan simbol love yang langsung membuat Gibran tersenyum. Ia tak menyangka bahwa gadis cantik itu akan menamai dirinya sendiri seperti itu di ponselnya. "Halo," ucap Gibran di telepon dengan suara yang dibuat-buat. "Halo. Ini siapa, ya?" tanya Riani. Suaranya terdengar sangat imut. "Apa benar ini dengan Nek Riani?" tanya Gibran. "Iya. Saya Riani. Tapi saya bukan nenek-nenek. Ini siapa, ya?" jawab sekaligus tanya Riani lagi. Gibran tertawa mendengarnya. "Saya dari pegawai asuransi jiwa. Saya ingin memberitahukan bahwa jiwa saya sedang terombang-ambing oleh cinta saya kepada anda," ucap Gibran. Lama, tak ada jawaban dari gadis yang ia telepon, tapi panggilan masih terhubung. Gibran merasa aneh. Dilihatnya terus detik demi detik berlalu dengan keadaan panggilan yang masih terhubung. Ia menunggu beberapa saat lagi, namun belum ada suara yang terdengar dari seberang sana. Karena itu ia pun berbicara kembali. "Hei, apa anda masih berada di sana?" tanya Gibran. "Masih kok," jawab Riani. "Syukurlah. Saya kira anda menghilang. Kalau menghilang, bagaimana saya bisa mencari lagi wanita yang sempurna seperti anda, dan di mana saya bisa menemukannya?" tanya Gibran. Saat itulah gelak tawa Riani tak dapat dibendung lagi. Di seberang sana ia pasti sudah menyadari kalau yang sedang meneleponnya saat ini adalah si manusia tampan sekaligus aneh yang tak lain dan tak bukan adalah Gibran. Ya meski Gibran sudah berusaha berbicara dengan suara yang ia buat-buat. Kalau memang Riani tidak sadar kalau yang meneleponnya itu adalah Gibran, pasti sudah dari tadi ia memutuskan panggilan telepon itu. "Ini Gibran, ya?" tanya Riani kemudian. "Gibran? Siapa itu Gibran?" tanya Gibran balik. "Bran, udah ah, jangan bercanda lagi. Aku capek ketawa," kata Riani. Ia terus saja tertawa. "Maaf, saya tidak mengerti apa yang anda maksud. Saya bukan Gibran dan tidak kenal Gibran itu siapa. Saya ini benar-benar seorang petugas kepolisian," ucap Gibran. "Petugas kepolisian? Katanya tadi petugas asuransi jiwa," kata Riani. Gibran mengutuk dirinya sendiri akibat kebodohan dan kelalaian yang ia lakukan. Pikirnya, sebentar lagi akan benar-benar ketahuan bahwa dirinya adalah Gibran. Namun, bukan Gibran namanya kalau tidak punya seribu ide. Sekalipun ia telah melakukan sebuah kesalahan, ia masih saja punya ide untuk menutupi kesalahan itu. "Iya. Saya aslinya memang petugas kepolisian, tapi merangkap juga sebagai petugas asuransi jiwa," ucap Gibran. "Hmm." "Kamu tahu kenapa?" tanya Gibran kemudian. "Apanya yang kenapa?" tanya Riani balik. "Kenapa aku memilih untuk menjadi petugas kepolisian." Gibran menjawab. "Enggak. Memang kenapa?" tanya Riani. "Karena aku ingin menangkap rasa cintaku ke kamu dan memenjarakannya sampai sang pemilik rasa ini kembali ke sisi Tuhan yang maha esa," jawab Gibran.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN