2

1160 Kata
Tangan Nina bergerak-gerak mengusap air mata. Si kembar terus menangis berbarengan, ramai sekali ya Allah, sampai ayahnya ini bingung. Aku memijit kepala karena pusing. Tapi sebagai kepala rumah tangga yang baik dan bertanggung jawab yang seharusnya menjadi panutan anak-anak juga istri, aku tidak boleh terlihat pusing. Lelaki itu, harus tegar dan kuat. Aku pun merangkul bahu Nina, lalu menoleh menatapnya dengan penuh kasih sayang. Istriku ini walaupun sangat manja dan cengeng, tapi aku begitu mencintainya. Sangat cinta. "Sayang, jangan menangis lagi, ya? Malu pada Hanif dan Hanifa, masa sudah gede nangis terus." Aku mengusap air mata yang meleleh di pipi Nina. Wajah Nina terlihat sedih sekali, ia bahkan sedikit tersengal. Pasti dia syok mendapati dia hamil. Sama, sejujurnya aku juga kaget. Tapi sebagai lelaki, aku tidak boleh terlihat kaget. Toh yang dikandungnya adalah anak kami. Mau tidak mau, siap tidak siap, ya dijalani. Anggaplah rejeki. Banyak anak banyak rejeki. Bukankah begitu? "Ayo, Sayang, Mas antar kembali ke kamar. Ayo, cuuup, jangan menangis terus." Aku kembali mengusap air mata di pipi Nina, berusaha sabar menghadapinya. Dengan pelan, aku menarik Nina berdiri lalu menuntunnya. Tapi saat kami tiba di ambang pintu kamar mandi, Hanif dan Hanifa kembali menangis kencang. Saat aku menoleh ke belakang, tangan keduanya terulur ke arahku, minta digendong. "Ayah antar bunda kalian ke kamar dulu. Ayo, Sayang." Aku kembali menuntun Nina, Nina berjalan sambil sebentar-sebentar menoleh ke belakang. Sepertinya dia tidak tega melihat si kembar terus menangis minta gendong. Dan benar saja, Nina akhirnya berhenti. Ia melepas tanganku. "Mas urusin aja mereka." Saat melihat Hanifa dan Hanif berbarengan merangkak keluar dari kamar mandi, aku pun langsung menggendong keduanya, satu di pinggang sebelah kanan satunya kiri. Baju keduanya basah karena duduk di lantai kamar mandi tadi. "Mas gantikan mereka baju dulu, kamu jangan menangis lagi ya, Sayang?" ucapku melihat Nina yang masih begitu sedih. Lalu aku menuju kamar dan melepas baju si kembar. Karena sudah pagi, aku berpikir lebih baik dimandikan saja sekalian baru ganti baju. Biasanya selalu Nina yang memandikan si kembar, tapi karena dia sedang sedih, aku jadi tak tega. Nina memandangiku saat suaminya ini menumpangkan ketel besar ke atas kompor. Walau sudah 8 bulan, tapi si kembar masih mandi menggunakan air hangat. Si kembar yang kini hanya memakai pempes, sekarang duduk diam di lantai sedang melumat biskuit. Aku mendekati Nina yang duduk di kursi dapur, menggeser kursi lalu duduk di sampingnya. Tanganku terangkat mengusap air matanya. "Sayang, sudah, jangan menangis terus. Kita urus mereka bersama-sama, ya?" "Aku sedih, Mas, si kembar masih kecil eh aku malah hamil lagi. Mas, siiih!" Dia mendelik padaku dengan bibir mengerucut, dengan sekuat tenaga tangannya mencubit pahaku membuatku langsung meringis kesakitan. "Kok jadi Mas yang disalahkan, siih? Kan kita melakukannya bersama-sama makanya kamu hamil lagi." Aku menggelengkan kepala, heran kenapa aku yang disalahkan padahal dia hamil karena perbuatan berdua. Dengan mata berkaca-kaca, Nina menginjak kakiku kuat. Aku kembali meringis. "Mas jangan pura-pura lupa, deh! Mas gak pernah mau tiap aku suruh pakai kontrasepsi katanya gak enak!" Dia mendelik. Aku nyengir kecil. "Memang tidak enak, Sayang. Tapi kan kita melakukannya bersama dan anak bersama-sama juga, jadi tidak boleh menyalahkan mas." "Hu, hu, huuuuu." Nina terisak-isak. Aku menggeser kursi mendekat lalu memeluknya. "Cup, cup, jangan menangis. Iya, iya, Mas yang salah." "Hiks, hiks. Terus gimana ini, Mas? Gimana?" Nina mengusap perutnya. Aku ikut mengusap perutnya dengan lembut. "Ya dilahirkan, kan anak kita. Mas senang punya banyak anak. Nanti rumah kita ramai dengan suara tawa anak-anak." Itu adalah keinginanku dari dulu. Tapi ya tidak secepat ini juga Nina hamil lagi. Tapi karena sudah terlanjur hamil, ya harus diterima. Tidak mungkin digugurkan karena itu dosa besar. Aneh sekali senang cara memproduksinya, tapi tidak mau hasil jadinya. "Sudah, jangan menangis lagi." "Pasti akan repot banget, Mas. Ngurus si kembar aja aku udah kewalahan eh ditambah aku hamil dan bawaannya mual mulu pengen muntah mulu." "Tenang saja, Mas akan bantu kamu mengurus si kembar. Si kembar kan anak kita jadi tanggung jawab kita berdua. Mas akan memandikan si kembar, memberi makan, kamu santai saja tidak usah mengurus si kembar tidak usah masak biar tidak kelelahan. Dengar?" Nina menatapku. Aku mengangguk meyakinkannya. "Yang penting, kamu jangan menangis. Kan sudah gede. Tidak malu, apa, sama mas?" tanyaku sambil mengerling menggoda, lalu aku menyentil hidungnya. "Beneran, lho, batuin aku ngurus si kembar." Tanganku menempel di kening. "Siap, Sayang." Nina tersenyum kecil. Aku mengusap air mata di pipinya. "Hanya mengurus si kembar mah gampang, Sayang. Yang susah itu mendapatkanmu dulu." Aku mengerling menggodanya. "Ii-iiih!" Nina mencubit kuat pahaku, lalu tersenyum malu-malu. Senang rasanya melihat Nina kembali tersenyum. "Mas mandikan si kembar dulu," kataku saat mendengar bunyi nyaring dari ketel pertanda air sudah mendidih. Saat aku berdiri, Nina juga ikut berdiri, dia berlari cepat masuk ke kamar mandi. Huek, hu-ek, hu-eek! Aku yang mengikutinya refleks berhenti di ambang pintu, sebaiknya ambil masker dulu sebelum memijiti tengkuknya karena aku orangnya jijik an. Jika melihat orang lain muntah dan mencium baunya, bisa-bisa aku ikut muntah. Tapi saat aku mau ke kamar untuk mengambil masker, Nina sudah keburu keluar dari kamar mandi. Aku pun memberikannya minum. "Mas yakin mau mandiin si kembar?" Nina menatapku ragu. Aku mengangguk tegas. "Iya, Sayang. Hanya memandikan saja, ke-ciiil. Yang susah itu mendapatkanmu dulu." Aku mengerling menggodanya. Nina mesam-mesem. Terlihat malu, dia. Aku selalu senang melihatnya malu-malu seperti itu, membuatnya terlihat begitu menggemaskan. Aku segera mengisi bak dengan air dingin, tambah air hangat, cek. Masih kepanasan. Cek lagi. Masih panas. Tambah air dingin, akhirnya suhu pas. Nina berdiri di ambang pintu kamar mandi memperhatikanku, aku sesekali menatapnya dan mengerling penuh percaya diri. "Bagaimana? Benar, kan, hasil kerja, Mas?" Nina mengangkat ibu jarinya ke udara. "Iya, bener." "Mas, dilawan," kataku bangga sambil menepuk d**a, Nina tersenyum kecil. Aku membawa si kembar ke kamar mandi, melepas pempes Hanifa, setelah mengguyur tubuhnya dengan air hangat agar tidak najis aku pun memasukkannya ke bak besar berisi air hangat, Hanifa langsung memukul-mukul air dalam bak, membuat air menyiprat ke mana-mana. Ganti aku melepas pempes Hanif. Sambil melepas, kutatap Nina. "Kamu harus bersyukur memiliki mas, Sayang. Mas ini pintar cari uang, apa saja yang kamu inginkan selalu mas turuti, mas juga sayang istri, pintar masak, bisa memandikan anak juga. Kurang apalagi suamimu ini?" Aku melempar pempes Hanif ke kotak sampah di sudut kamar mandi sambil mengerling pada Nina. PUK! Apa ini yang jatuh dari atas terasa hangat dan lunak di kaki? Aku menunduk dengan perasaan tidak enak. Mataku melebar dan semakin melebar saja saat melihat benda kuning pucat di kakiku. Hu-ek, hu-eeek! Aku membekap hidung. Aku rasanya ingin muntah saking baunya, tapi tak bisa muntah walau sudah mencoba muntah. Mataku melebar melihat Hanif dengan wajah polos kembali menjatuhkan bom kekuningan dari pantatnya, jatuh mengenai kakiku sebagian lantai. Huuu-eek! Perutku mengejang dan aku muntah-muntah. "Sa-yang, ambilkan kaca mata hitam dan masker, ce-pat!" Perintahku pada istriku yang berdiri di ambang pintu. Bukannya segera mengambil benda yang kuperintahkan, dia malah cengengesan. "Cepat!" kataku panik. "Iya siap, Mas." "Cepat Sayang, ce-pat!" Hu-ek, hu-eeek! Aku membekap hidung dan kembali muntah-muntah. Perutku bergejolak.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN