Kamu Harus Jadi Istri Saya

1098 Kata
"Woy! Suruh kedalem tuh. Buru!" Kejut Gege kepada Yusuf karena ia melihat Yusuf sedang melihat sekumpulan PNS cantik yang berada di depan tak jauh dari ruangan itu. "Astaghfirullah! Kaget, Ge. Ya Allah!" Yusuf tersentak dan dengan gerakan refleks ia memukul lengan Gege. "Aduh! Sakit bambang! Udah-udah, buruan kedalem." Setelah semua proses sudah dilewati oleh kedua anak manusia itu, mereka bersiap untuk pulang. Jam menunjukkan pukul 11.30 ketika mereka keluar dari wilayah Kantor Kecamatan. Angin berhembus pelan ketika mereka memulai perjalanan. "Cup, beli cilok cinta yuk!" Gege berucap sambil memajukan tubuhnya kedepan Yusuf. "Beli yang dimana, Ge?" "Beli yang sampingnya toko pupuk itu loh, Cup." "Oke siap, berangkattttt!" Sesampainya di gerobak pedagang cilok, Gege turun terlebih dahulu untuk memesan cilok. "Lek, ciloknya 3000-an 4 bungkus ya?" "Cup, Lu beli nggak?" "Bungkusin 3 bungkus kayak Lu aja." "Lek, tambah lagi 3000-an 3 bungkus." "Oke siap, Mbak." "Mbak, itu pacarnya ya?" Tanya penjual cilok kepada Gege sambil menunjuk Yusuf yang tidak jauh dari mereka. Gege terkejut dan sedikit melotot. "Eh, bukan Lek!" "Ah, masa sih? Wong boncengan berdua gitu, masa bukan pacarnya?" Penjual itu tetap tidak percaya. "Beneran, Lek! Nggak bohong." Huh! Males banget ditanyain gitu terus kalo lagi jalan berdua. Batin Gege bersuara. *** Dirumah Andanu "An, undangan Pagelaran Wayang kapan dilaksanain-nya?" Papa Arya memulai obrolan dengan anak sulungnya. "Oh itu, lusa, Pa. Malam ju'mat kayak biasanya." Jawab Andanu kemudian. "Siapa aja yang diundang jadi tamu VVIP?" "Para tetua desa, perangkat desa, sama tamu luar ada beberapa. Kenapa emangnya, Pa?" "Tetua desa ya? Papa kenal deket tuh sama salah satunya." Papar Papa Arya. "Siapa, Pa? Kalo Danu mah juga kenal sama semua tetua desa." "Kalo kamu ya harus kenal semua. Masa Kades nggak kenal tetua desa. Papa kenal deket sama Mbah Subarjo. Yang anaknya jadi Dosen itu loh!" "Oh, Mbah Subarjo Priyambodo, ya? Kenal lah. Orangnya hiperaktif banget, kocak lagi. Hahaha." "Nah, Papa mau jodohin kamu sam---" "Nggak ya, Pa! Danu mau cari jodoh sendiri." Andanu menentang keras usulan Papanya. Ia sudah memiliki tambatan hatinya lewat first sight. "Emang sekarang kamu punya pacar?" Andanu diam saat Papanya melontarkan pertanyaan seperti itu. "Ya-ya belum. Tapi bentar lagi. Masih pendekatan." Ujar Andanu dengan sedikit malu-malu. "Masa? Papa bakal tetep jodohin kalo dalam 1 bulan ini kamu nggak kenalin calon mantu Papa kehadapan Papa dan Mama." "Loh?! Kok gi--" "Lagian nih ya, An. Cucunya Mbah Subarjo itu anak baik-baik. Ya, meskipun sekarang masih sekolah sih. Tapi nggak papa. Sekali-kali senengin Papa gitu loh, An? Mau ya?" "Ah, Papa mah kayak Mama, ngasih tempo singkat banget! Mana ada cari calon mantu dalam waktu sebulan. Dikira biro jodoh apa?!" "Nah, bener tuh, Pa. Jodohin aja kalo nggak cepet-cepet ngasih kita mantu! Nggak sadar apa kalo udah mau tuwir!" Mama Sonia menyahut obrolan suami dan anaknya dari dapur. "Dan, Mama tuh kenal sama mantunya Mbah Subarjo, dia temen Mama waktu kuliah di Malang. Cucunya juga cantik kok, manis, sopan lagi." Sambung Mama Sonia sembari berjalan dan berakhir duduk disebelah suaminya. "Tuh! Dengerin." Timpal Papa Arya. "Huh! Iya iya. Danu nurut." "Nah, gitu dong! Akhirnya kita otw punya first mantu, Pa." Mama Sonia sangat berbahagia atas kesediaan anaknya untuk dijodohkan. Ya Allah tolong pertemukan Hamba dengan gadis tadi pagi, Hamba mohon. Batin Andanu. Grup w******p Karang Taruna 17/18 17:15 +628512xxxxxxx Cah, nanti rapat bulanan ya? Jam setengah 8 malam. Tempatnya kayak biasa. Di aulanya Balai Desa. Oke, sekian. Terimagaji! 17:17 +628854xxxxxxx Oke siap +628578xxxxxxx Siap, 86 Ucup Laknat!! Siap Mas Dea Kartar Pake Baju apa ya, Mas? Atau pake seragam yang kemaren? 17.20 +628512xxxxxxx Pakai baju bebas, asal sopan dan menutup aurat. Karena kita cuman mau nyusun panitia buat pagelaran wayang lusa. Dea Kartar Oke, Mas. Siap Gege POV On Huh. Rapat lagi. Aku malas untuk berangkat jika ada orang itu! Ada 2 orang yang sempat mengganggu ketentraman hidupku pada waktu itu. Aku padahal nggak salah sama sekali. Aku yang adem ayem tiba-tiba diusik oleh orang yang kukenal dan satu lagi tidak kukenal. Rasanya aku ingin menghilang saja untuk hari ini. Tapi kalau malam ini aku nggak datang, sayang seblaknya dong! Tadi kata Mas ketua Kartar ada konsumsi seblak langgananku. Huh, Eman! Yaudah, berangkat aja deh. Awas kalo nanti mereka gangguin Gue lagi! Tak dadekno peyek kon! Aku sampai di Balai Desa pukul 19:25. Belum banyak ternyata yang datang. Hanya sekumpulan anak perempuan yang berada di beranda Balai Desa, mungkin sedang ghibah. Haha. Oh iya, aku lupa bahwa ini adalah Indonesia. Dimana jam molor adalah hal awam yang tak perlu dipikir panjang. Apaan!! Menurutku, On Time adalah prinsip yang wajib dimiliki oleh semua jiwa! Apalagi untuk ketua karang taruna, bagaimana bisa Mas Ciko itu tak datang tepat pada waktunya? Padahal tadi di w******p koar-koar harus datang jam sekian! Huh, Dasar lemot! Aku datang dengan gandengan yang seperti biasa, Ucup. Siapa lagi kalau bukan anak itu? Aku hari ini memakai rok plisket berwarna putih, dengan manset putih dan sweater long cardy berwarna lilac. Bersandal flat warna hitam serta berkerudung putih. Eh, eh Siapa itu? Gaya banget pake Motor vespa jadul! Eh, tapi kok aku nggak pernah lihat kalau dia anggota kartar? Mosok anak baru? Tapi kok wajahnya agak, em--dewasa ya? Bukannya anak kartar itu terbatas sampek umur 25? Kutepuk pelan lengan Ucup dari samping. "Eh, Cup. Itu siapa yang pake vespa? Anggota baru ya? Kok nggak pernah lihat?" Kok aku ngrasa ada yang beda ya sama orang itu. Batinku Gege POV Off "Masa Lo nggak tau sih, Ge? Itu kan Ke-" "Suf, suruh kedalem sama Mas Heru, bantu natain kursi." Potong salah satu teman laki-laki Yusuf sebelum Yusuf menyelesaikan ucapannya. "Gue kedalem dulu ya, Ge." Pamit Yusuf kepada Gege. "Oke, deh." Jawab Gege. Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya rapat akan segera dimulai. Di Aula itu ada beberapa kursi berjajar rapi dan berbaris. Di depan barisan ada meja yang di seberangnya ada 3 kursi yang diperuntukkan untuk ketua dan pengurus karang taruna. Gege sedari tadi sibuk memainkan handphone-nya dan tidak menyadari bahwa orang membuat ia penasaran ada didepan dan duduk disamping ketua karang taruna. Ia terlalu sibuk dengan aplikasi Twitter-nya. Ia duduk di pojok belakang samping pintu keluar. Saat ia sedang asyik berselancar dunia maya, ada seseorang yang berdiri di sampingnya dan memperhatikan apa yang Gege lakukan. Gege akhirnya menyadari bahwa ia sedang diawasi, ia mendongak dan melihat bahwa orang itu adalah lelaki yang tadi mengendarai vespa. Ia membuka maskernya dan bertanya. "Wonten nopo nggeh?" Lelaki itu diam dan menatap Gege lekat. "Pak? Saya nggak pake semar mesem lho. Kok bapak liatin saya terus?" Sambung Gege, karena lelaki itu hanya diam dan terus menatapnya. "Kamu harus jadi istri saya." Gege melotot dan terbelalak karena ucapan tiba-tiba lelaki itu. "Ha?!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN