"Oke, semua sudah lengkap ya?" Tanya Mas Ciko kepada semua anggotanya.
"Sudah, Mas." Jawab serempak dari semua orang yang ada di Aula.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, terimakasih banyak sudah meluangkan waktunya untuk hadir disini dan mengikuti kegiatan malam ini. Oke, saya tidak akan basa-basi, kita semua dikumpulkan malam ini untuk membentuk panitia Pagelaran Wayang sekaligus Jalan Santai yang diadakan pada hari kamis malam jum'at untuk Pagelaran Wayang dan hari minggu untuk acara Jalan Santai."
"Disini panitia-nya saya bagi dua sesi. Sesi pertama untuk Pagelaran Wayang. Di sesi Pagelaran Wayang ada sekitar 6 Sie yaitu, Sie Koordinasi acara, Sie Keamanan, Sie Ketertiban, Sie Bazar, Sie Penyambutan, dan Sie Konsumsi. Untuk pembagian anggotanya, setiap Sie terdiri dari 4-5 orang, kecuali Sie Keamanan dan Sie Ketertiban, itu khusus untuk laki-laki ya. Untuk nama-namanya menyusul setelah ini."
"Dan untuk sesi kedua adalah panitia Jalan Santai. Panitianya kurang lebih sama dengan panitia Pagelaran Wayang, bedanya cuman Sie Bazar diganti dengan Sie Pengumpulan Kupon. Oke, untuk nama-namanya, saya sudah siapkan dari jauh-jauh. Semoga bisa bekerjasama dengan baik ya? Kalau ndak tau, tanya kakak-kakak yang lebih tua dan lebih lama di karang taruna."
"Oke, untuk nama-namanya akan saya dikte. Mohon untuk didengarkan baik-baik. Untuk sesi Pagelaran Wayang, Sie Penyambutan ada Saya, Kak Dea, Kak Ratna dan Kak Reno. Untuk Sie Koordinasi acara ada Kak Heru, Kak Sita, Kak Nando dan Kak Feli. Untuk Sie Konsumsi ada Kak Rara, Kak Greesha, Kak Arsha, Kak Juna dan Kak Huda. Untuk Sie Bazar ada Kak Rani, Kak Mita, Kak Nina, dan Kak Puput. Untuk Sie Ketertiban ada Kak Doni, Kak Rama, Kak Damar, dan Kak Galang. Untuk Sie Keamanan ada Kak Riko, Kak Ahmad, Kak Yusuf, dan Kak Fendo."
"Ada yang ditanyakan? Atau ada yang kurang jelas. Untuk tugasnya sudah saya jelaskan kepada Co-nya masing-masing. Silahkan tanya ya. Untuk yang bagian jalan santai, khususnya yang bagian pengumpulan kupon, itu universal ya. Semua boleh membantu. Karena pesertanya juga nggak sedikit."
Semua yang ada disana diam dan mendengarkan, kecuali Gege tentunya. Ia masih memikirkan tentang kejadian tadi. Bagaimana ada orang yang tidak dikenalnya tiba-tiba berkata seperti itu? Ia melamun memikirkan hal itu. Itu benar atau hanya candaan?
"Gree?" Tepuk Arsha pada pundak Gege pelan.
"Eh, eh apa?" Gege gelagapan. Ia tidak sadar jika sedari tadi ia melamun.
"Lu kenapa? Kok nglamun aja daritadi?" Tanya Arsha.
"Em, nggak papa kok. Tadi Mas Ciko omong apa, Sha?"
"Hah? Jadi daritadi Lu nggak dengerin Mas Ciko ngomong sama sekali? Yang bener aja, Gree." Ucap Arsha tak habis pikir dengan Gege.
"Nggak." Jawab Gege polos sambil menggelengkan kepalanya.
"MasyaAllah! Tadi tuh pembagian Sie tugas. Dan Lu kebagian Sie Konsumsi sama Gue dan Bang Juna, terus ada Mbak Rara sama Mas Huda juga."
"Mas Huda yang pake motor olong itu?"
"Iyalah, Mas Huda disini kan cuman dia doang."
Huh. Kenapa harus valak itu lagi sih!! Oke, nanti Gue bales. Tunggu aja Lu!
"Oh oke, makasih banyak ya, Sha."
"Okey, sans aja."
Arsha dan Juna? Yap! Mereka adalah adik-adik dari Pak Kepala Desa kita yang paling ganteng se-desa. Mereka juga anak remaja biasa yang menyukai kegiatan diluar rumah. Seperti karang taruna ini. Bukan karena mereka adik dari Kepala Desa kemudian harus menjalani hidup yang berbeda. Mereka tidak seperti itu. Mereka suka bergaul dan berbaur dengan warga kakaknya
.
Flashback
"Kamu harus jadi istri saya."
Mata Gege melotot dan terbelalak karena ucapan tiba-tiba lelaki itu.
"Ha?!"
"Siapkan diri kamu. Mungkin beberapa minggu lagi saya akan kerumah kamu buat lamar kamu."
"Apa?! Emang Bapak siapa? Saya kenal aja nggak!"
"Saya nggak perduli."
"Bap--" Ucapan Gege terpotong karena Mas Ciko sudah memberikan salam dari arah depan. Dan lelaki itu sendiri pergi dan duduk di deretan tiga kursi depan disamping Mas Ciko.
"Dasar! Nggak ada akhlak!!"
***
Hari ini adalah hari kamis. Hari dimana Pagelaran Wayang dilaksanakan. Tepatnya malam ini. Rencana Gege hari ini adalah sekolah, pulang sekolah kerumah Mbah-nya, lalu sorenya ia akan siap-siap ke balai desa untuk menyiapkan konsumsi yang dibutuhkan untuk anggota dari tim Pagelaran Wayang yang telah diundang.
"Cup, nanti anterin Gue kerumah Kung aja ya?" Pinta Gege kepada Yusuf saat mereka sudah ada di parkiran sekolah.
"Oke, Gue mampir sekalian. Mau minta Jambu Darsono."
"Yok! Mari pulang, Ndoro Ayu."
"Okey. Mariiii!"
Gege dan Yusuf sudah sampai di kediaman Mbah Subarjo. Rumahnya berkonsep Jawa, dengan furniture, interior dan eksterior yang bertema Jawa juga. Mbah Subarjo memang sengaja mendesain rumahnya seperti itu. Ia ingin mengenang kenangannya bersama istrinya yang sudah meninggalkannya lebih dulu.
Rumahnya cukup besar dengan luas halaman sekitar 50 Meter. Halaman yang ditumbuhi berbagai macam pohon dan tanaman obat keluarga. Mbah Subarjo hanya ingin jika ia berada di rumah ini, ia menemukan kedamaian, keasrian dan keaslian alam. Dirumah itu ia hidup bersama adik laki-lakinya yang juga sudah ditinggalkan oleh istrinya. Dengan 2 pembantu perempuan dan 1 tukang kebun yang diperbolehkan tinggal dan tidur disana.
Gege sudah sampai di rumah Mbah-nya, Yusuf memakirkan motornya di halaman rumah dibawah pohon mangga gadung. Terlihat disana ada Mbah-nya yang duduk bersantai di kursi goyang dengan rokok lintingan ditangannya dan segelas teh di meja sampingnya.
"Assalamu'alaikum, Kung. Gege pulangggg!" Gege berlari kecil menuju ke pelukan Mbah-nya. Dan Yusuf mengikuti dibelakangnya.
"Wa'alaikumsalam. Wuahh! Putuku wedok. Rene, Nduk. Mbah kuangen e karo cah ayu iki." Gege disambut hangat oleh Mbah Subarjo. Bisa dikatakan Gege adalah cucu perempuan kesayangan. Karena memang cucu perempuan Mbah Subarjo hanyalah Gege seorang. Haha.
Ya, Ayah Hadi adalah anak semata wayang Mbah Subarjo.
"Assalamu'alaikum, Kung." Yusuf bergantian menyalami tangan Mbah Subarjo. Ia juga sudah dianggap cucu oleh Mbah Subarjo.
"Dengaren balek sekolah kok mrene? Ono opo, Nduk?" (Tumben pulang sekolah kok kesini? Ada apa, Nak?)" Tanya Mbah Subarjo kepada cucunya.
"Nggak ada apa-apa kok, Kung. Gege cuman kangen sama, Kung." Papar Gege.
"Kung, Yusuf boleh minta jambu yang di halaman depan nggak?" Yusuf menyela.
"Oleh, lapo raoleh. Engko lak kate balek ngepek sak waregmu kono." (Boleh, kenapa nggak boleh. Nanti kalau mau pulang, petik sepuas kamu.)
"Wes, mantul pokok e Kung Barjo ki." Puji Yusuf kepada Mbah Subarjo.
"Woiya no. Ge putune dewe kok e." (Woiya dong. Untuk cucunya sendiri.)
Siang hari itu diisi dengan canda tawa dari 3 orang yang berbeda generasi. Dengan ditemani jamu tradisional dingin buatan Mbok Darmi dan semangkok hangat serabi gula merah. Hah. Nikmat sekali!! Jam 15.00 mereka memutuskan untuk pulang, karena pada jam 16.00 mereka diwajibkan untuk menjalankan tugas karang taruna.
Yusuf menyempatkan untuk memetik jambu darsono yang warnanya sudah menggoda untuk segera disantap. Gege dan Yusuf juga dibekali sayuran segar oleh Mbah Subarjo. Mbah Subarjo tidak pernah berbelanja sayuran di pedagang keliling. Karena ia sudah menanam sendiri di area rumahnya.
Akhirnya mereka pulang dengan sayuran bayam dan sawi yang berada di pangkuan Gege. Mereka menyapa orang-orang yang melintas sepanjang perjalanan. Huh. Sungguh indah persahabatan mereka.
Pada malam harinya
Gege sudah berada di Aula Balai Desa yang sudah disulap menjadi basecamp tim Dalang yang telah diundang. Ruangan itu dibagi 2, 1 bagian untuk basecamp, dan 1 bagian untuk basecamp karang taruna. Gege sedang menata makanan untuk ditaruh di meja panjang. Konsumsi itu berkonsep prasmanan. Tapi untuk pelayanan tetap dilayani oleh panitia.
Sedangkan untuk panitia, konsumsinya berupa nasi kotak dan jus jeruk. Sie Konsumsi yang laki-laki bertugas untuk menjemput makanan prasmanan yang telah dipesan. Sekalian juga dengan nasi kotak yang telah dipesan.
Andanu POV On
Malam ini adalah malam dimana Pagelaran Wayang dilaksanakan. Semua tamu VVIP diwajibkan memakai pakaian adat Jawa lengkap. Kami tamu VVIP di beri tempat di samping panggung dengan kursi ukiran yang berjejer dan didepannya ada meja yang telah di isi beberapa jajanan tradisional, minuman, dan buah-buahan segar.
Untuk rapat karang taruna kemarin malam, itu adalah malam keberuntungan. Dimana aku akhirnya menemukan apa yang aku cari. Aku tak ingin basa-basi dengan melakukan pendekatan lebay ala anak remaja. Aku langsung mendatangi dia yang kebetulan duduk di pojok di samping pintu keluar. Aku bergegas mendatangi dan mengutarakan maksudku.
Mungkin cara itu terdengar konyol dan tidak efisien. Tapi itulah rencanaku. Akan ku buat dia bingung dan pusing akan kata-kataku kemarin. Akan ku buat dia selalu memikirkan ku meskipun ia sendiri tidak tau namaku. Miris bukan?
Aku hanya berdo'a bahwa saat nanti aku akan nembung dia ke orang tuanya, dia akan menerimanya. Soal orang tuanya, aku juga belum tau siapa orang tuanya. Nanti saja aku selidiki.