Pagelaran Wayang

1204 Kata
Panggung sudah tertata rapi dengan alat-alat musik dan gamelan, di pinggir panggung ada batang pisang yang telah ditancapi oleh beberapa tokoh wayang. Dalang dan tim-nya juga sudah siap ditempatnya masing-masing. Warga juga menyambut antusias Pagelaran itu. Ditunjukkan dengan ramainya lapangan tempat diselenggarakannya pagelaran. Mereka berbondong-bondong datang dan membawa jajanan lalu menggelar alas plastik di tanah untuk mereka duduki. Di acara ini juga diadakan bazar yang di hadiri oleh beberapa umkm dari berbagai dusun. Mereka menggunakan kesempatan ini untuk membuat produk mereka semakin dikenal. Banyak juga penjual yang sengaja memanfaatkan momen ini untuk menjual jualan mereka. Acara dimulai pukul 21:00 dan berakhir semalam suntuk sampai pukul 04:00. Pagelaran Wayang ini rutin dilakukan setiap tahunnya untuk memperingati bahwa panen sudah berakhir dan menyambut bulan suci ramadhan. Gege POV On Aku sedari tadi mondar-mandir untuk mengambil dan menata makanan di meja. Dibantu oleh Arsha dan Mbak Rara. Aku sadar jika diperhatikan terus-menerus oleh Mas Huda, tetapi aku memilih untuk diam dan membuang muka. Aku sudah terlanjur sakit hati oleh perbuatannya. Flashback on Aku sedang menepi di pinggir jalan dengan motor scoopy-ku, aku ingin menelepon Ayah jika hari ini aku akan pulang telat karena harus membeli buku dahulu di Gramedia. Tiba-tiba ada seseorang yang menarik kuat kerudungku dari belakang. Aku tidak tahu kapan orang itu ada dibelakangku. "Arrrghh! Apasih!!" Teriakku pada orang itu. "Kowe dadi wedokan gausah ngetek! Nggondol pacare wong sak penakmu ae!" (kamu jadi perempuan nggak usah gatel! Ngrebut pacar orang seenaknya!) Ini apasih? Siapa yang rebut siapa? "Colno sek, Mbak! Kon iku salah uwong." (Lepasin dulu, Mbak. Kamu itu salah orang.) "Ora mungkin! Wong jelas-jelas ndek Wa-ne pacarku onok jenegmu ngono!" (Tidak mungkin! Udah jelas-jelas di w******p-nya pacarku ada namamu kok!) "Endi buktine? Gorene! Aku kenal pacare Mbak ae ogak kok! Ngono kok ngarani wong. Gorene! Tak tontok e!" (Mana buktinya? Bawa kesini! Aku kenal pacarnya Mbak aja nggak kok! Gitu aja kok malah nuduh orang. Bawa kesini! Aku pingin lihat!) Perempuan itu mengeluarkan screenshot chat beserta nomor yang ia tuduh sebagai selingkuhan pacarnya. Lalu ia menyodorkannya kearah ku. "Nyoh! Iki mesti kowe kan?! Wong jeneng Gree kan gur kowe tok!" (Nih! Ini pasti kamu kan?! Yang namanya Gree kan cuman kamu doang!) Aku melihat screenshot-an itu. Dan firasatku benar! Aku hanya korban salah paham. Itu bukanlah kontak w******p ku. Huh. Nambah-nambah i masalah ae!! "Mbak, pisan-pisan lak kapene nglabrak uwong iku di cek sek wonge. Seng mbok labrak ae salah. Iki uduk nomerku. Gak percoyo? Nyoh! Uduk kan? Makane ojo Gabluk dadi wedokan!" (Mbak, lain kali kalo mau melabrak orang itu di cek dulu orangnya. Yang kamu labrak aja salah. Ini bukan nomorku. Nggak percaya? Nih! Bukan kan? Makanya jadi perempuan jangan bodoh!) Aku berkata sambil menunjukkan profil w******p-ku. Tiba-tiba datang seorang laki-laki yang tergesa-gesa dan nafasnya terlihat ngos-ngosan meskipun ia menaiki motor. "Yang, kowe ki lapo to jane? Kowe iki salah paham!" (Yang, kamu ini kenapa sih? Kamu itu salah paham!) Perempuan itu diam dan memperhatikan laki-laki itu. "Lapo sampean nggak ngomong lak uduk cah iki?! (Kenapa kamu nggak bilang kalau bukan anak ini?!) Ucapnya perempuan itu dengan menggebu-gebu. "Lha kowe ra takon sek kok! Malah nyluntung ra karuan." (Lha kamu lho nggak nanya dulu! Malah nyelonong nggak jelas.) "Mbak, sepurane seng akeh yo. Aku salah uwong tibak e." Ucap perempuan itu dengan tangan menangkup didepan d**a. "Huh. Iyowes gaopo. Lain kali ojo ngono maneh yo, Mbak? Sakno coro wong liyo yo ngalami koyok ngene ki maneh." Ucap Gege. (Huh. Yaudah gapapa. Lain kali jangan gitu lagi ya, Mbak? Kasihan kalo orang lain ngalamin yang kayak gini lagi.) "Iyo, Mbak. Sepurane." Ya, dua orang tadi adalah Mas Huda dan Mbak Dea. Mereka adalah sepasang kekasih. Entah kenapa sampai sekarang aku masih saja kesal. Yang ku kesali adalah Mas Huda yang sama sekali belum minta maaf kepadaku sejak kejadian itu. Flashback off Huh. Mengingatnya saja membuatku muak. Aku adalah remaja yang belum memiliki pengalaman pacaran satu kali pun! Dan bagaimana bisa aku dituduh sebagai perebut pacar orang? Ilmu pacaran saja aku tak khatam. Apalagi ilmu pelakor! Nol besar! "Gree." Mendengar ada yang memanggilku, aku segera menoleh kearah panggilan itu. Ternyata valak itu yang memanggilku. "Iya, ada apa?" "Em--, Gue minta maaf soal yang kemaren." "Iya, nggak papa." Jawabku datar. "Gree, sebenarnya Gue ada rasa sama Lo. Mau ya jadi pacar Gue?" What!? Berani banget abis minta maaf terus nembak Gue. "Apa? Gak salah denger aku, Mas?" Sumpah demi apa?! Dia nembak Gue dong. Di hadapan Gue lagi. Ya, aslinya sih mah udah biasa ditembak laki-laki, tapi seringnya di w******p, bukan kayak gini. "Nggak, Gree. Lo nggak salah denger. Jadi, gimana?" "Maaf nih, Mas. Aku terlalu berharga untuk dimiliki." Haha. Sombong dikit nggak papa kan? Ini kan juga demi kebaikan aku, yaitu menghindari perzinaan! "Haha, sombong banget, Lo." Dia tertawa sumbang. "Bodo amat." Ucapku datar. "Ayolah, Gree. Mau ya?" Paksanya padaku. "Lah? Kok maksa?!" "Gue nggak akan maksa kalo Lo nggak mau!" "Aku nggak mau Mas! Kalo mau temuin Ayah aku dulu!" Aku jadi ikut kesal karenanya. "...." Hah. Langsung kicep kan! Sukurin! Aku tau dia hanya sekedar main-main denganku. Buktinya? Dia aku suruh menghadap Ayah saja nggak berani. Huuuu cemen! "Nggak berani kan? Cemen!" Ku ejek sekalian saja dia. Gedhek aku! Kutinggalkan dia yang termenung dengan kata-kataku, dan kulanjutkan pekerjaan menata makanan untuk anggota tim Pagelaran Wayang. "Gree, tolong buah ini taruh di meja tamu VVIP ya? Sekalian di tata lagi." Perintah Mbak Rara menghentikan kegiatanku. "Tapi, Mbak. Disitu udah banyak yang ngisi kursinya, malu aku, Mbak." Ini nih kelemahanku. Aku sangat nggak PD menghadapi banyak orang. Dan kelemahan ini sering jadi bahan omelan oleh Bunda. "Heh! Gitu aja kok malu. Tinggal taruh sambil bungkuk hormat aja. Jadi karang taruna itu harus PD dong, Gree. Udah nggak papa. Santuy aja." Bujuknya padaku. "Oke deh, mana buahnya." Aku pasrah, Mas! "Nih! Tata yang bener ya?" "Hm. Ya." Aku bergegas pergi ke samping panggung, dimana ada beberapa kursi cantik berjajar dan meja kayu terbentang. Disana sudah ada beberapa orang yang duduk. Hanya ada 3 kursi yang belum terisi. Mereka menghadap membelakangiku, aku tidak tau siapa saja yang ada disana. Kakung?! Lhoh? Kung juga diundang? Oiya lupa! Kung kan juga termasuk tetua desa. Bodoh kali kau Ge! Aku melihat ada Kung-ku yang duduk di salah satu jajaran kursi cantik itu. Dan juga aku melihat ada-- Lelaki itu!! Hei! Dia siapa kok duduk disitu! Bukankah tamu VVIP adalah orang yang bukan sembarangan? Ah, lupakan! Aku menaruh mangkuk buah itu tepat dihadapan Kung dan sekalian menata barisan makanan disamping mangkuk buah itu. "Nduk? Melu karang taruna barang to tibak e. Ngguaya yo. Hahahaha." (Nak? Ikut karang taruna ternyata. Gaya banget ya. Hahahaha.) Aku menanggapi kata-kata Kung dengan senyuman dan pringisan. "Hehe. Nggeh, Kung. Monggo di dhahar, Kung. Buah e sueger." (Hehe, iya, Kek. Silahkan dimakan, Kek. Buahnya segar banget.) Tawarku pada Kung-ku. "Oiyo siap-siap, maturnuwun ya, Nduk." "Nggeh. Monggo, Kung. Kulo ajenge teng wingking riyen." (Iya. Silahkan, Kung. Aku mau kebelakang dulu.) "Monggo, Mbah, Pakde, Pak." Aku menyebutkan semua orang yang duduk disana untuk ku pamiti. Termasuk juga lelaki itu. Mereka juga tersenyum membalas sapaan ku. Aku melewati lelaki itu. Dan tiba-tiba dia berbisik lirih. "Kamu harus mau jadi istri saya. Tidak ada penolakan untuk itu. Ingat itu Greesha!" Aku kaget! Meskipun lirih tapi terdengar tegas. Gege POV Off
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN