Gege terus memikirkan kata-kata lelaki itu. Apakah lelaki itu sedang menge-Pranknya? Tapi laki-laki itu siapa? Apa jabatan yang dipegangnya hingga dia bisa duduk di kursi VVIP? Gege sampai susah tidur memikirkannya.
Oke, lupakan!
Pagi ini adalah hari minggu. Dan nanti sekitar jam 07:00 pagi, akan dilaksanakan kegiatan jalan santai. Rute yang dilewati lebih panjang dibanding tahun kemarin.
Sebelum jalan santai dilakukan, kegiatan diawali dengan senam aerobik bersama yang dipandu oleh Bundanya Gege, yaitu Bunda Ery.
Gege dari pagi sudah sibuk menyiapkan atribut yang akan ia kenakan saat nanti menjadi panitia. Mulai dari sepatu, seragam, kerudung, id card, topi dan juga kacamata photocromic.
Hari ini ia akan mengenakan celana cargo hitam, seragam karang taruna berwarna navy, kerudung segi empat navy, sepatu Converse serta topi hitam bertengger manis di kepalanya. Dan jangan lupakan masker kesehatan berwarna tosca.
Ia berangkat sekitar jam 06:00, karena ia harus menyiapkan panggung, konsumsi dan juga menata hadiah jalan santai. Ia berangkat dengan Yusuf. Sesampainya disana, ia langsung menuju panggung dan membantu apa yang dibutuhkan disana. Disana juga sudah banyak panitia lain yang datang.
Sekitar jam 06:30, senam aerobik bersama sedang dilaksanakan. Diatas panggung ada Bunda Ery dan beberapa rekan senamnya yang sedang memimpin ibu-ibu untuk senam bersama. Gege hanya memperhatikan dan tidak ingin ikut disana. Ia tidak menyukai hal-hal berbau senam.
"Bundanya mulai aktif ya Bund." Celetuk Yusuf yang tiba-tiba berada di samping Gege sembari melihat Bunda Ery yang sedang memimpin senam.
"Hahaha, emak Lu tuh!" Gege terbahak.
"Emak Lu juga kali!" Mereka tertawa keras bersama-sama.
Di belakang mereka ada seseorang yang memandang iri terhadap kedekatan Gege dan Yusuf. Seseorang itu juga ingin akrab seperti halnya hubungan Gege dan Yusuf. Ia sudah memendam rasa asing ini terlalu lama.
***
Rumah keluarga Hastungkara
Minggu pagi ini diwarnai dengan tangisan Arsha karena ia telah memutuskan pacarnya yang sudah 2 tahun dipacarinya. Pacarnya itu ternyata sudah menghamili gadis lain. Dan Arsha baru mengetahui itu dari temannya. Dia sangat kecewa dengan pacarnya itu. Arsha telah memimpikan kehidupan pernikahan dengan pacarnya. Dan semua itu kini sudah hancur lebur.
"Hiks, hiks.. Dia jahat banget sama Sasa, Ma." Tangisan Arsha pecah di pelukan sang Mama.
"Sssttt, udah. Jangan ditangisin lagi, Sayang. Berarti Allah udah nunjukin sama Sasa kalo dia itu nggak baik buat Sasa. Udah ya? Kamu kan bentar lagi jadi panitia jalan santai kan? Tetep berangkat atau nggak?" Ucap Mama Sonia lembut kepada anak perempuan satu-satunya.
"Sasa boleh izin aja nggak, Ma? Masa mata Sasa sembab gini mau tetep ikut. Malu Sasa." Arsha mendongak kearah Mamanya.
"Yaudah, nanti suruh Mas Juna-mu izinin. Mas mu ada dibelakang. Gih, kesana."
"Iya, Ma."
Papa Arya, Andanu, dan Arjuna yang mengetahui itu hanya bisa menghibur dan menasehati Arsha agar tidak berlarut-larut dalam kesedihan. Mereka juga menjaga agar kabar itu tidak menyebar terlalu luas. Bukan karena rasa malu, tapi hanya agar Arsha cepat melupakan kejadian itu.
***
"Mas Juna!" Panggil Gege dari kejauhan.
Arjuna menoleh kebelakang. "Oey! Kenapa-kenapa?"
Gege berhenti dihadapan Arjuna. "Arsha kemana, Mas? Kok aku nggak lihat dia dari tadi?"
"Oh itu. Arsha lagi sakit, Gree. Makanya tadi nggak bisa ikut." Terang Arjuna.
"Oh, gitu ya. Yaudah makasih ya, Mas. Get well soon buat Arsha."
"Iya, makasih ya, Ge."
"Hu'um." Gege berlalu setelah menyelesaikan urusannya dengan Arjuna.
Jalan santai dimulai pukul 07:30, digaris start sudah dipimpin oleh iringan mobil dari pejabat desa. Dilanjutkan Tim Drumband dari Mts Al-Furqon dan dibelakangnya ada peserta jalan santai yang terdiri dari berbagai generasi.
Panitia tidak diperbolehkan mengikuti jalan santai karena mereka harus berada di pos-pos pengumpulan kupon yang telah disediakan.
Kali ini Gege bergabung dengan Ciko selaku ketua karang taruna dan Feli. Terdapat 4 pos pengumpulan kupon, dan Gege berada di pos terakhir. Selagi ia menunggu para peserta dan rombongan jalan santai sampai, ia berbincang-bincang santai dengan Ciko dan Feli.
Ciko yang sudah memasuki jenjang perkuliahan menjadi narasumber terbaik untuk Gege mencari referensi tentang dunia perkuliahan.
Sedangkan Feli adalah Mama muda yang telah memiliki 1 orang anak. Ia dan Feli menjadi partner yang klop untuk ber-ghibah ria. Bisa dikatakan Gege akrab dengan semua anggota karang taruna, tentu saja karena ia adalah anak yang easy going dan friendly. Jadi ia tidak akan canggung untuk berkomunikasi meskipun ia tidak kenal sekalipun.
Di dalam mobil
Andanu duduk di kursi depan bersandingan dengan Pak Jogoboyo yang sedang menyetir. Perjalanannya diselingi dengan obrolan-obrolan ringan yang menyenangkan. Membahas tentang bisnis yang mereka geluti, tentang perkembangan desa, tentang pendanaan rencana yang akan segera dilaksanakan dan banyak lagi yang lainnya.
Umur mereka juga tidak terpaut jauh. Hanya terpaut 5 tahun lebih tua Pak Jogoboyo daripada Andanu. Mereka juga sering membicarakan permasalahan layaknya seorang teman. Tetapi bedanya, Pak Jogoboyo sudah sold out. Bahkan ia sudah mempunyai ekor 2. Dan Andanu masih betah men-single. Betah men to Le!
Jogoboyo itu bukan nama, melainkan sebutan dari jabatan. Nama asli dari Pak Jogoboyo adalah Ahmad Gashul. Tapi lebih akrab dipanggil Pak Jogoboyo. Ia memiliki perawakan tinggi, besar, dan sedikit berisi.
"Des, yang rencana irigasi itu mau dipersiapkan kapan? Nanti tak buat dulu proposalnya."
Des, pejabat desa di kantor desa akrab memanggil Andanu dengan panggilan Pak Kades atau Des jika itu lebih tua daripada Andanu.
"Mungkin habis acara ini. Nanti keburu Ramadhan, kasihan tukang yang buat irigasi. Masa kerja berat waktu puasa? Yo kan?"
Gashul mengangguk setuju. "Iyo sih. Yaudah, mungkin besok atau lusa tak serahin proposalnya."
"Iya, siap-siap." Jawab Andanu.
Hening terjadi beberapa saat.
Tiba-tiba Gashul membuka suara. "Des, kamu ndak cari pendamping ta?" Gashul langsung to the poin menanyakan hal tersebut kepada Andanu.
"Ya cari, Pak. Insyaallah udah ada kok calonnya. Tinggal pdkt aja." Papar Andanu sambil tersenyum malu.
"Lho mosok?! Siapa yang udah menangin hati batunya Pak Kades ini?" Gashul menggoda Andanu saat tau bahwa Kadesnya ini akan segera sold out.
"Ada lah pokoknya. Nanti tak ajak kalo mau lamar dia. Hahaha."
"Hahaha. Iyo-iyo siap wes Pak Kades!"
Mereka bergurau sepanjang rute jalan santai. Dan tak terasa mereka dan peserta jalan santai sudah mencapai finish. Gashul segera memakirkan mobil desanya ke halaman kantor desa.
Andanu keluar dan menyusul Gashul yang akan memasuki aula kantor desa. Aula yang disulap menjadi basecamp panitia penyelenggara jalan santai.
Ia berhenti sebentar untuk mengangkat telepon dari Mama Sonia. Mamanya mengatakan bahwa ia ingin langsung pulang tanpa ikut mengundi hadiah karena ia sudah kelelahan saat mengikuti jalan santai tadi.
Saat ia akan berbalik masuk, ia melihat pemandangan yang tidak menyehatkan untuk hati dan pikirannya. Ia melihat Gege dan Ciko bergurau dengan lepasnya di pos 4. Saking lepasnya, Ciko sampai menggoyang-goyangkan tubuh Gege.
Cuaca yang panas dengan hati yang panas! Huh, menyesatkan pikiran!
Ia iri? Tentu saja, Esmeralda! Andanu juga ingin dekat dengan Gege seperti Ciko.
Andaikan ia masih muda dan belum menjabat sebagai kepala desa, ia akan dengan senang hati mengikuti karang taruna. Karena disitu ada Gege. His first sight!
Oke, tenang Andanu. Nanti kau juga akan merasakan semua moment yang sudah kau fantasikan di otakmu. Biarlah waktu yang bicara.
Mungkin teman Gege hanya mendapat bagian luar dari Gege. Tapi ia? Ia akan mendapatkan semua bagian luar dalam dari seorang Greesha Danurdara Priyambodo.
Dengan motto "I want it, I got it", ia yakin bahwa apa yang ia inginkan akan ia dapatkan meskipun dengan perjuangan yang menguras tenaga, hati dan pikiran.
***
"Hahahaha, Gree Lo lucu banget sih! Sakit perut Gue ketawa mulu dari tadi." Seru Ciko sembari menggoyang-goyangkan tubuh Gege ke kanan dan ke kiri.
"Hahaha, iya-iya. Tapi jangan gini dong, Mas!" Gege meronta dan akhirnya lepas juga.
"Lo sih! Gue jadi kebelet kan. Jaga pos dulu ya sama Mbak Feli. Gue kebelakang dulu. Bye!"
"Wokey. Jangan risau! Serahkan tugas ini kepada Greesha." Ciko berlari kecil menuju kamar mandi mushola depan kantor desa.
"Eh, Mbak Fel. Jadi Mama muda enak nggak sih?" Tanya tiba-tiba Gege kepada Feli yang berada di sebelahnya.
"Mau tau enaknya atau yang nggaknya nih?" Wah. Nantang Gege nih!
"Yang enaknya dulu, Mbak." Jawab Gege dengan antusias. Hehe, yang enak emang nyenengin.