"Hahaha. Enaknya dulu nih? Enaknya itu waktu pas suami gajian. Uang suami milik istri, uang istri milik istri. Terus kalo mau pegangan tangan udah nggak dosa lagi. Semua yang dilakuin jadi pahala kalo sama suami. Dan masih banyak lagi. Nanti kamu juga ngrasain sendiri, Ge. Setiap orang kan beda-beda pengalamannya."
"Oh, gitu ya. Kalo nggak enaknnya gimana, Mbak?" Gege ternyata masih kepo.
"Nggak enaknya waktu pas mepet tanggal tua, uang udah nipis juga, tapi kebutuhan mengalir terus kayak air. Pas waktu kayak gitu kita diuji buat sabar dan nerima apa yang ada. Dan jangan lupa bersyukur juga. Ini kenapa nih kok tanya-tanya soal nikah muda? Mau nikah juga ya, Gree?"
"Ih, enggak. Aku cuman kepo sama Mbak. Mbak berani banget umur 20-an udah punya anak. Tangguh banget! Hahaha."
"Hahaha. Bisa aja kamu." Mereka bercanda ria sembari menunggu Ciko kembali.
Acara jalan santai berjalan dengan lancar sampai selesai. Setelah acara bubar, para anggota karang taruna berbondong-bondong untuk membersihkan sampah yang ada di sekitar lokasi jalan santai dan samping panggung.
Setelah selesai bersih-bersih, mereka diwajibkan untuk berkumpul di Aula untuk evaluasi kegiatan. Mereka juga akan diberikan konsumsi dan reward panitia.
"Cup, pulang yok! Capek banget, Gue." Gege menghampiri Yusuf yang tengah duduk disamping teman laki-lakinya yang lain.
"Pulang dulu aja, Ge. Ada yang ajak mutualan, sayang kalo dilewatin." Yusuf berkata dengan entengnya.
"Ish! Cariin tebengan kalo gitu!" Ujar Gege kesal.
"Bentar-bentar."
"Eh, itu Mas Ciko juga mau pulang tuh. Sana nebeng!" Ujar Yusuf saat melihat Ciko juga akan pulang.
"Oke deh. Jangan lama-lama pulangnya. Nanti Gue di teror sama chat-nya Ibuk."
"Iya-iya. 2 jam lagi Gue pulang."
"Bye, Cup!"
"Bye! Ati-ati."
Fyi, Ibuk dan Bapak adalah sebutan Ibu dan Ayah dari Yusuf. Nama Bapaknya adalah Ahmad Hidayatullah dan Ibu Masruroh.
Sore hari di ruang keluarga Hastungkara
Semua anggota keluarga berkumpul untuk sekedar sharing-sharing tentang hari yang telah mereka jalani. Kecuali Arsha dan Arjuna yang tidak bergabung karena sedang ada urusan.
"Pa, Ma, Danu mau lamar anak orang."
"Apa?!!"
"What?!!!" Papa Arya dan Mama Sonia terkejut dengan ucapan tiba-tiba Andanu.
Yang benar saja anaknya ini.
"Kamu salah makan? Atau lagi halusinasi?" Cecar Mama Sonia kepada anak sulungnya.
"Mama gimana sih! Katanya suruh cepet cari istri, ini Danu udah punya calonnya loh!"
"Emang siapa? Jangan asal ambil anak orang ya, An!" Ujar Papa Arya.
"Ya nggak lah, Pa! Malam ini Danu rencananya mau nembung ke orang tuanya." Ungkap Andanu.
"Hah?!! Yang bener aja kamu! Kamu nggak kenalin ke Papa Mama dulu?!" Mama Sonia geram dengan tingkah anaknya yang satu ini.
"Bentar, tak ambilin sesuatu kalo mau tau siapa calonnya Danu." Andanu bangkit menuju ke kamarnya untuk mengambil file yang berisi biodata Gege.
Setelah beberapa saat, Andanu turun dengan ditangannya membawa sebuah Map merah. Lalu Map itu ia serahkan kepada Papa dan Mamanya.
"Monggo dibaca. Itu calon mantunya. Ya, meskipun masih sekolah sih. Tapi nggak papa, Danu bakal tungguin."
"Hahahaha!!" Mama Sonia dan Papa Arya tertawa terbahak-bahak setelah melihat file itu.
Andanu yang melihat itu merasa heran. Kenapa Mama dan Papanya malah tertawa? Apa ada yang salah dengan biodata calon istrinya itu?
"Ya Allah, Danu! Mama capek ketawa! Hahahaha."
"Emang kalo jodoh itu nggak kemana ya, Pa."
"Iya, Ma. Hahahaha."
"Mama sama Papa kenapa ketawa? Ada yang salah ya?"
Mama Sonia berhenti tertawa dan masih menyisakan sedikit kekehan. "Kamu tahu Greesha itu siapa?"
"Calonnya Danu" Jawab Andanu polos membuat orang tuanya semakin tertawa terbahak-bahak.
"Haduh! Bocah iki rek. Gak paham dadakno." (Haduh! Anak ini. Nggak paham ternyata.) Ucap Mama Sonia sambil memegangi perutnya yang sakit karena terlalu lama tertawa.
"Jelasin, Pa. Mama capek ketawa."
"Andanu Hastungkara, Greesha yang katanya mau kamu lamar itu ya gadis yang mau dijodohkan sama kamu! Masa kamu nggak teliti sih sama nama belakangnya? Itu kan Marga kepunyaan Mbah Subarjo Priyambodo. Greesha itu cucu perempuan satu-satunya keluarga Priyambodo dari jalurnya Mbah Subarjo."
"Duh! Saking cintanya udah meluber ya gini. Hahahaha."
"Apa?!!" Andanu melotot dan kaget karena ucapan Papanya. Kenapa seperti sudah di rencanakan? Pikirnya.
"Yang bener, Pa?!" Andanu masih tidak percaya bahwa Greesha yang ia impikan menjadi istrinya ternyata adalah gadis yang akan disiapkan oleh orangtuanya untuknya.
"Ya bener! Masa Papa bohong."
Yes!
Ini adalah kabar gembira bagi Andanu. Dimana hanya ia yang akan memiliki Greesha seutuhnya. Khawatirnya sedikit memudar karena kabar ini.
"Yes! Ayok sekarang ke rumahnya Greesha, Pa. Mau tak tembung sekarang." Ucap Andanu dengan antusias.
"Gendeng kamu!"
***
Dan disinilah Andanu beserta Papanya, Mamanya, di rumah keluarga Hadi Putra Priyambodo. Papa Arya mengetuk pintu yang tertutup itu tiga kali.
Tok
Tok
Tok
"Assalamu'alaikum."
Tak berselang lama pintu pun terbuka, menampilkan Gandhi yang baru saja selesai sholat isya', karena Gandhi masih menggunakan sarung kotak-kotak dan baju koko putih serta kopyah hitam yang bertengger di kepalanya.
"Wa'alaikumsalam, wonten nopo nggeh?" Sahut Gandhi.
"Ayahnya ada, Mas?" Tanya Papa Arya kepada Gandhi.
"Ada, Om. Monggo mlebet riyen." (Silahkan masuk dulu) Gandhi mempersilahkan tiga orang itu untuk masuk dan duduk di kursi ruang tamu.
"Bentar ya, Om. Gandhi panggil dulu." Gandhi bergegas memanggil Ayahnya yang berada di ruang keluarga.
Beberapa saat kemudian Ayah Hadi dan Bunda Ery keluar melihat siapa gerangan yang mencari kepala rumah ini. Keduanya duduk dihadapan tamu mereka. Sebelum itu, mereka menyuruh Gege untuk membuatkan minuman dan makanan kecil.
"Madosi kulo? Enten nopo nggeh?" (Cari saya? Ada apa, ya?)
"Lho? Enten Pak Kades?" Ayah Hadi terkejut karena kedatangan tamu yang tidak disangka-sangka. Pak Kades kesini ada urusan apa? Pikirnya.
"Enggeh, kulo mriki enten niat sae kaleh putrine njenengan, Pak. Niki yoga kulo, mestine njenengan nggeh sampun leres kaleh Andanu." (Iya, saya kesini karena ada niat baik sama anak perempuan Bapak. Ini anak saya, pastinya Bapak sudah kenal dengan Andanu.) Kata Papa Arya singkat dan jelas.
Ayah Hadi sedikit terkejut dengan kata-kata Papa Arya. Bunda Ery? Kaget setengah mati. Ia berfikir, apakah putrinya selama ini mempunyai pacar? Yang ia tau anaknya adalah jomblo ngenes. Duh. Bunda Ery bener banget ngatainnya.
"Enggeh, Pak. Saya kesini karena ada niat baik sama putri Bapak. Saya mau meminang putri Bapak buat jadi istri saya." Ucap Andanu mantap.
Ha?! Ini bener anakku mau dilamar orang? Pikir Ayah Hadi.
Belum sempat Ayah Hadi bicara, Gege datang dan menyela dengan meletakkan 5 gelas minuman dan 2 piring cookies. Gege tidak mengetahui siapa tamu Ayahnya, ia hanya diperintahkan untuk membawa 5 minuman dan 2 piring camilan.
"Ngapunten. Monggo di inum." (Maaf, silahkan di minum.) Gege meletakkan suguhan itu di meja sekaligus menata minuman itu agar tepat dihadapan orang-orang yang duduk disitu.
Andanu terpaku pada gadis itu. Dia tersepona. Eh eh, salah. Dia terpesona pada satu titik. Brown eyes milik Gege yang terlihat jernih dan berbinar cerah.
"Nduk, duduk dulu. Ada yang mau lamar kamu jadi istrinya." Ucap Bunda Ery.
Gege? Tentu saja terkejut. Ia lalu mendongak. Dan benar saja! Itu adalah lelaki yang selalu menggangu pikirannya akhir-akhir ini.
"Greesha, mungkin ini terlalu cepat. Tapi saya bakal nungguin kamu sampai lulus SMA, baru saya akan meresmikan lamarannya."
Ha?! Ini orang gimana sih? Dijawab aja belom!! Batin Gege.