Kencan

1126 Kata
Gege terdiam dan termenung. Ia masih sekolah, pantaskah kalau ia sudah diinginkan oleh seorang lelaki untuk dijadikan istri? Pikirnya. Tapi wajah itu juga menghiasi mimpinya beberapa hari terakhir ini. Ia selalu memimpikan bahwa ia sedang sholat dam di imami di oleh lelaki itu. Dan mimpi itu terulang hingga 3 kali. "Ge, gimana?" Panggilan Bunda Ery membangunkan Gege dari lamunannya. "Eh, eh. Iya, Bun?" Gege tergagap. "Gimana? Kamu terima lamarannya Pak Kades?" Pak Kades? Siapa yang Pak Kades? Orang ini ya? Batin Gege. "Siapa yang Pak Kades, Bun?" Ucap Gege polos. Andanu tersentak. Apakah calon wanitanya ini tidak tahu bahwa ia seorang Kepala Desa? Apa ia kurang famous, hingga ada yang tak mengenalinya? "Ya ini, yang mau lamar kamu. Masa nggak tau sih, Nduk?" Bunda Ery geram. "Oh, Maaf Gege nggak tau." Gege merasa bersalah dengan kecerobohannya. "Yaudah, nggak papa. Jadi gimana? Mau nggak?" Tanya Bunda Ery kembali. "Gege mau. Tapi maunya kenalan dulu. Nanti kalo udah beneran kenal satu sama lain, baru Mas-nya boleh lamar Gege lagi." Ujar Gege. Ini aku beneran dilamar jadi istri orang ya? Andanu terdiam sebentar. "Oke, kalau itu mau kamu. Saya akan berusaha kenal kamu lebih jauh begitupun juga dengan kamu." Ucap Andanu mantap. "Alhamdulillah." Ucap Ayah Hadi dan Papa Arya. Akhirnya aku bakal nikah! Otw Bye-bye sabun! Batin Andanu bersorak kegirangan. *** 3 minggu kemudian Hari ini adalah pengambilan e-KTP Gege dan Yusuf yang sudah selesai dicetak. Dan pengambilannya di Kantor Desa. Itu adalah kata petugas kecamatan yang melayani Gege dalam pembuatan e-KTP. Kebetulan sekolah Gege hari ini diliburkan karena ada salah satu anggota guru disekolahnya yang telah berpulang ke Rahmatullah, sehingga KBM hari ini diliburkan selama satu hari. Jam menunjukkan pukul 9:15, Gege sudah siap dengan terusan polos hitam tanpa renda, kerudung segiempat hitam, hoodie berwarna denim serta sandal selop rumahan menambah kesan imut dalam diri Gege. "Ge, nggak bawa apa-apa lagi kan?" Tanya Yusuf saat mereka sudah berada di atas motor. "Nggak lah. Kata Ayah kalo mau ambil ya tinggal ambil aja." Terang Gege kepada Yusuf. "Oke, yaudah yuk berangkat!!" "Siaaappp." Karena jarak rumah dan kantor desa dekat, belum 5 menit perjalanan mereka sudah sampai dipelataran kantor desa. Sudah berjejer beberapa sepeda motor dan mobil milik pejabat desa dan beberapa orang yang sedang memiliki urusan dengan kantor desa. Setelah sampai mereka berjalan beriringan memasuki ruangan yang sama dengan yang satu bulan lalu mereka masuki. "Assalamu'alaikum." Salam mereka berdua ketika sampai di depan pintu ruangan. "Wa'alaikumsalam, mau apa, Dek?" Tanya Pak Zein. "Mau ambil KTP, Pak." Ucap Gege. "Oh, iya. Tadi baru aja dianterin sama kecamatan. Tunggu ya. Saya cari dulu. Monggo duduk dulu." Ucap Pak Jogoboyo. Masih ingat kan Pak Jogoboyo itu siapa? Pak Gashul temennya Pak Kades. "Nggih, Pak." Jawab Gege dan Yusuf serentak. Beberapa menit berlalu, nama Gege disebut terlebih dahulu oleh Pak Jogoboyo. "Greesha Danurdara Priyambodo." Gege beranjak dari duduknya dan beralih duduk didepan meja Pak Jogoboyo. "Monggo tanda tangan disini." Gege membubuhkan tanda tangannya di kolom yang sudah disediakan. "Ini KTP-nya. Dua tahun lagi bisa digunakan buat nikah." Goda Pak Jogoboyo sambil menyerahkan KTP-nya kepada Gege. Ia juga sempat melirik kearah Yusuf saat mengatakan itu. Gege salah tingkah dan menanggapinya dengan senyuman. Masih sempet-sempetnya ngegoda Gue lagi. Batin Gege. Ia memilih keluar lebih dulu dan meninggalkan Yusuf yang masih berada di dalam. Ia menunduk sembari melihat hasil dari KTP-nya. Terutama untuk fotonya. Ia tidak ingin jika KTP-nya berfotokan b***k. Gege POV On Duk! "Astaghfirullah!!" Duh! Kaki siapa nih yang Gue sandung. Batinku. Aku mengalihkan pandangannya kearah pemilik kaki yang telah ku tabrak. Mas Kades! Aku berharap saat aku berada disini, aku tidak akan bertemu dengan makluk satu ini. Dan ternyata tidak! Bukan aku benci atau nggak suka. Sejak ia memintaku pada Ayah dan Bunda tempo hari, aku selalu merasa jantungku sedang senam aerobik jika berhadapan langsung dengannya. Inilah yang kubenci saat aku berhadapan dengan orang ganteng. Dasar Ndeso! "Eh, calon garwo. Duduk dulu sini. Kebetulan Mas nggak terlalu sibuk." (Garwo= Sigar Nyowo/istri/separuh nyawa). Duh! Kok malah diajak duduk sih. Ya Allah jantung hamba mau marathon ini. Gini nih kalo nggak pernah punya pacar. Noob banget dalam hal cinta-cintaan! "Maaf, Mas. Tapi habis ini Gege disuruh Bunda ke pasar." Alibiku padanya. "Oh, yaudah deh gapapa. Tadi kesini sama siapa?" "Sama Yusuf, tuh anaknya didalem. Lagi ambil KTP." Terangku padanya sambil menunjuk ruangan yang tadi ku singgahi. "Oh. Nanti pulangnya hati-hati ya. Insyaallah nanti malem Mas mau kerumah kamu. Mas mau ajak kamu jalan-jalan. Mau?" "Iya, Gege mau. Udah ya, Mas. Itu Yusuf udah selesai. Nanti dilanjut di WA aja. Oh, ya. Maaf tadi kakinya udah Gege sandung. Assalamu'alaikum." "Iya. Gapapa. Wa'alaikumsalam calon istri." Alhamdulillah. Udah keluar dari zona orang ganteng! Aku dan Ucup bergegas pulang setelah urusan KTP selesai. Karena aku tidak ada kegiatan dirumah selain mengganggu Abangku tercinta, maka aku dan Ucup menghabiskan waktu sebelum dzuhur untuk jalan-jalan keliling desa. Hal sederhana tapi bikin efek bahagianya lama. Valid no kecot! Keliling desa sama sohib aja udah seneng banget! Apalagi kalo sama suami. Heh! Sadar! Masih on going jadi istrinya. Tapi menghalu dulu juga gapapa sih. Orang aku juga udah ada yang minat. Yang jomblo diem aja! Tenang aja, jodohmu mungkin masih on the way dikirim kurir. Percayalah! Jomblo itu sendiri. Atau kerennya Alone. Gege POV Off *** Malam hari di rumah keluarga Priyambodo Tok Tok Tok "Bang, bukain tuh pintunya. Mungkin itu Andanu yang mau ketemu Gege." Ujar Bunda Ery menyuruh Gandhi untuk membuka pintu depan. Bunda Ery tau karena memang Andanu sendiri yang meminta izin di w******p malam ini untuk membawa Gege jalan-jalan. Gandhi beranjak dari duduknya dan berjalan menuju pintu depan. Dan benar saja, itu adalah Andanu yang sudah berpakaian rapi dan casual, ditangannya membawa dua kotak martabak manis dan telur. Pasti mau kencan iki. Batin Gandhi. "Oh, Pak Kades. Mari masuk, Pak. Tak panggilin Ayah sama Bunda dulu. Monggo lenggah riyen." "Iya, Matursuwun Mas Gandhi." Beberapa saat kemudian Ayah Hadi dan Bunda Ery turun dan menghampiri Andanu yang duduk di ruang tamu. Mereka menyambut ramah orang yang diprediksi takdir akan menjadi mantu mereka. "Oh, Mas Kades. Pripun kabare, Mas?" (Bagaimana kabarnya) Tanya Ayah Hadi membuka obrolan. "Alhamdulillah. Sae, Pak. Njenengan pripun?" (Baik. Kamu bagaimana?) "Alhamdulillah. Kulo sae." "Saya kesini mau minta izin ajak putri Bapak jalan-jalan sebentar." Andanu langsung mengutarakan maksudnya. "Iya, itu anaknya masih macak. Tunggu bentar ya." Bunda Ery menjawab. (Macak= Dandan) Tiga orang diruang tamu itu larut dalam obrolan-obrolan santai. Selang beberapa saat, Gege turun dari kamarnya yang berada dilantai 2 rumahnya. Gege tampak bersinar dalam balutan rok plisket putih, sweater rajut turtleneck warna mustard, berkerudung putih dan bersandal wanita hitam. Di bahunya tersampir tas hitam kecil yang menambah kesan stylish Gege. Ya Allah, sae sanget Njenengan milih calon emak saking yoga-yoga hamba. Batin Andanu. Ternyata gini ya rasanya di apelin malem selasa sama calon suami. Batin Gege.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN