Calon Mertua

1338 Kata
Andanu tampak casual dengan celana jeans, kaos polo hitam, dan jaket denim serta sepatu Nike hitam putih menambah kadar ketampanan seorang Andanu Hastungkara. Rencananya, mereka akan menghabiskan malam ini dengan keliling dengan vespa dan sekalian mampir di McD untuk makan. Tapi kemungkinan rencana itu tidak akan terlaksana. Karena tiba-tiba Andanu ada suatu pekerjaan yang harus dilaksanakan saat ini juga. Akhirnya daripada dandanan Gege sia-sia, mereka memutuskan untuk kerumah Andanu untuk bertemu Mama Sonia dan Papa Arya. Itung-itung biar lebih deket lagi sama Mama Papa, Dek. Kata Andanu. Jadi sekarang disinilah mereka. Di rumah keluarga Hastungkara. Saat keduanya datang, Mama dan Papa Arya sedang berbincang santai diruang tamu. Ditemani dengan dua cangkir teh herbal dan cemilan sehat ala Mama Sonia. "Assalamu'alaikum." Ucap keduanya saat memasuki ruang tamu. "Wa'alaikumsalam. Lhoh? Kok pulang lagi, Dan? Ada yang ketinggalan ya?" Cecar Mama Sonia ketika melihat Andanu pulang lagi. Ia belum melihat Gege yang berada di belakang Andanu. "Lho? Ada calon mantu!! Sini Nduk sama Mama. Sini, sini, duduk sama Mama. Tadi darimana aja? Danu ngeselin ya, makanya kamu ngajak pulang. Udah, Danu emang gitu, julid. Nanti Mama pelintir kupingnya biar kapok." Mama Sonia mencecar Gege dengan beragam pertanyaan dan pernyataan. Gege hanya bisa melongo melihat kecerewetan Calon Mama mertuanya. Ini beneran calon mak mertua Gue? Bar-bar banget woy! Batin Gege. "Ya Allah, Mama. Biarin calon istrinya Danu salim dulu dong! Dateng-dateng langsung dicecar." Ucap Andanu. "Gimana kabarnya Tante, Om?" Ucap Gege sembari menyalami tangan Mama Sonia dan Papa Arya. "Kok Tante sih?! Mama! Panggil gitu aja ya, Nduk. Kamu kan juga bakal jadi anak perempuan kedua Mama. Panggil Papa juga. Jangan Om, oke?" Protes Mama Sonia kepada Gege. Gege hanya mengangguk. "Enak aja anak perempuan kedua Mama! Ini calon istrinya Danu kok." Ucap Andanu. Gini ya kalo Pak Kades udah bucin. Semuanya yang ada pada Gege adalah miliknya. "Sama aja Samsul! Udah jangan debat sama Mama. Mama mau pinjem Greesha sebentar. Mau Mama ajak eksekusi dapur." "Lho! Gege mau tak ajak ke kamar lho, Ma." Protes Andanu. Mata Mama Sonia melotot mendengar ucapan absurd anaknya. "Heh! Mau kamu apain mantu Mama kok di ajak ke kamar! Belum nikah. Haram!" Anaknya ini ada-ada saja. Belum sempat Andanu angkat bicara Papa Arya sudah menyelanya. "Udah, biarin Mama kamu ajak calon mantunya. Kamu kalo mau kelarin kerjaan, kelarin disini. Atau nggak, sekalian di meja makan sana." Ucap Papa Arya kepada Andanu. Andanu mengangguk setuju. Karena meja makan dan dapur keluarganya berada pada satu ruangan yang cukup besar. Ia segera mengambil laptop dan beberapa berkas di kamarnya untuk dikerjakan di meja makan agar ia bisa sekalian melihat pujaan hatinya memasak bersama Mamanya. Uh! Indahnya pemandangan. Di dapur Terlihat ada dua orang perempuan yang sedang bercanda ria sambil mengeksekusi bahan masakan. Gege yang sedang mengulek bumbu sayur lodeh dan Mama Sonia yang sedang memotong labu siam menjadi pemandangan yang indah bagi seseorang yang duduk di meja makan sembari mengerjakan beberapa file di laptopnya. Keduanya memakai celemek pink polkadot kesukaan Mama Sonia. Gege tampak mungil dan imut dengan celemek itu. Dengan lincah dan luwes Gege mengulek semua bumbu hingga menjadi halus dan siap untuk dibuat sayur lodeh. Urusan memasak, Gege jangan diragukan lagi. Dia ahli dalam hal mengolah bahan makanan menjadi makanan yang mengenyangkan perut dan memanjakan lidah. Karena semua itu adalah didikan dari Bunda Ery tercinta. Gege sudah dikenalkan dengan empon-empon sejak kecil. Maka dari itu memasak adalah hal kecil bagi Gege. Tetep lebih besar cinta kamu ke dia kok, tenang aja! "Kamu ternyata pinter ngulek ya, Nduk. Nggak nyangka Mama." Kagum Mama Sonia melihat betapa luwes dan lincahnya Gege saat mengulek bumbu yang lumayan banyak. "Alham--" "Woiya dong! Istrinya siapa dulu." Potong Andanu saat mendengar Mamanya memuji Gege. Mama Sonia dan Gege menoleh kebelakang. "Ngapain kamu disini?!" Tanya Mama Sonia melihat Andanu yang duduk manis di meja makan sambil mengetik sesuatu di laptop. "Nemenin istri." "Heleh! Istri katanya. Wong kemaren-kemaren aja disuruh nikah susahnya minta ampun! Nikahin dulu baru bilang istri." Ucap Mama Sonia. "Biarin. Mama kalo iri sama Danu, monggo keluar. Tuh, Papa nungguin dikamar." "Nggak. Nanti Mama kecolongan, mantu Mama kamu bawa ke kamar." Sedangkan Gege hanya menonton perdebatan Anak dan Ibu yang terlihat seperti Tom and Jerry. Tapi Gege juga bahagia, karena akan mendapatkan keluarga baru yang sayang padanya. Ia tidak menyangka bahwa keluarga barunya nanti akan sebaik ini dan sekocak ini. Memang jodoh tidak akan kemana. Gege bermimpi mempunyai suami yang domisilinya jauh dari rumah orangtuanya. Tapi takdir tidak ada yang tau. Ia mendapatkan calon suami yang kebetulan satu desa dengannya. "Assalamu'alaikum! Halloooo!! Arjuna ganteng pulang. Mamaaaaa!! Juna bawa seblak pesenan Mama!" Perdebatan kedua orang beda generasi itu dibubarkan oleh teriakan Arjuna dari ruang tamu. "Bawa sini, Jun!! Kedapur." Teriak Mama Sonia dari arah dapur. "Nih, Ma. Tad--, lho? Greesha?" Arjuna terkejut melihat Gege ada di dapur bersama Mas dan Mamanya. Arjuna memang belum tau jika calon dari Mas-nya adalah Greesha, teman karang tarunanya. Ia hanya tau bahwa Mas-nya akan segera melepas masa lajang. Ia tidak terlalu perduli dengan urusan Mas-nya. "Iya. Kenalin, ini calon kakak ipar kamu. Kamu juga pasti udah tau namanya, jadi nggak usah jabat tangan. Haram!" Ucap Andanu mengenalkan Gege kepada Arjuna. "Oalah, ternyata ini toh calonnya Mas ku. Selamat datang di keluarga Gesrek, Gree." Ujar Arjuna sambil tertawa. Ia tidak menyangka jika Mas-nya akan bertekuk lutut dihadapan gadis yang bahkan lebih muda 13 tahun dari umur Mas-nya. "Iya, Mas. Matursuwun sambutannya." Ucap Gege sambil tersenyum. "Ngapain kamu panggil dia 'Mas'! Dia bakal jadi adek kamu, Dek. Ganti! Panggilan 'Mas' cuman buat Mas aja." Ucap Andanu dengan raut wajah kesal. "Terus harus panggil apa, Mas? Biasanya Gege juga pangginya gitu." "Ya, lainnya. Jangan 'Mas' pokoknya. Mas nggak suka!" Ya Allah kuatkan hamba dalam menghadapi hambamu ini. Untung sayang. Batin Gege. "Parah juga ya kalo Mas mu jealous." Bisik Mama Sonia di telinga Arjuna. Ia hanya menyaksikan perdebatan pasangan yang baru 3 minggu ini dekat tanpa berniat melerainya. "Hahahaha. Itu kan anak Mama." Ucap Arjuna dengan bisik-bisik juga. Setelah perdebatan itu, Gege dan Mama Sonia melanjutkan untuk memasak makan malam. Setelah setengah jam berkutat dengan alat tempur dapur, akhirnya sayur lodeh spesial siap dihidangkan. Berteman dengan tempe mendoan ala Mama Sonia dan es timun serut ala Gege. "Yuhuuuuu! Papa, Juna, Arsha, turun yuk! Makan malem udah jadi." Teriak Mama Sonia dari bawah memanggil semua anggota keluarganya. Kecuali Andanu yang sedari tadi sudah duduk di meja makan, dan sekarang sedang menggoda calon istrinya. Mereka satu per satu turun dan mengisi kursi meja makan. Papa Arya yang berada di ujung meja makan, disamping kanannya ada Mama Sonia dan Arsha, di samping kirinya ada Andanu dan Gege, dan di ujung meja makannya lagi ada Arjuna. Arsha tidak kaget jika ada Gege ditengah-tengah mereka, karena ia sudah tau dari Mamanya. Ia bersyukur jika Mas tertuanya sudah menemukan tambatan hatinya setelah sekian lamanya menjomblo tidak jelas. "Segini cukup nggak, Mas?" Tanya Gege kepada Andanu saat ia mengambilkan nasi di piring Andanu. "Udah. Ampasnya banyakin, Dek. Kuahnya dikit aja." Request Andanu ketika Gege akan mengambilkan sayur lodeh untuknya. "Makasih, Dek." "Iya, sama-sama." "Enak banget, Ma! Mama kesambet malaikat apa kok masakannya bisa uenak gini?" Celetuk Arjuna. "Ini masakannya mantu Mama tau! Enak kan? Mantu Mama gituloh." Ujar Mama Sonia dengan bangga menyebutkan Gege sebagai menantunya. "Wuih! Kalo nanti Mas Danu nikah, pasti bakal cepet gemuk kalo masakannya enak gini." Ledek Arjuna. Gege menanggapi ucapan Arjuna dengan senyuman. Ia senang jika masakannya disukai banyak orang. Artinya didikan Bundanya berhasil dan tidak sia-sia. Andanu? Ia semakin cinta dan bangga bisa menemukan Gege dan akan menjadikan Gege istrinya. Ia tidak akan melepaskan Gege. Setelah acara makan malam, Gege memutuskan untuk pulang. Karena jam juga sudah menunjukkan pukul 21:30. "Nduk, jangan pulang dulu. Nginep disini aja, ya?" Mama Sonia sudah terlanjur senang dengan kehadiran Gege. Apalagi saat tadi acara masak-masak. Ia sangat bahagia bisa menghabiskan waktu dengan calon menantunya. "Besok insyaallah Gege kesini lagi, Ma. Gege besok kan juga sekolah." Ucap Gege lembut. "Yaudah deh. Dan, anterin mantu Mama. Awas! Jangan sampek lecet!" Ancam Mama Sonia. "Iya-iya. Ya Allah!" Mereka pulang setelah menyalami tangan Mama Sonia dan Papa Arya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN