Cepet Nikah, An!

1314 Kata
"HEI!! BUNDA NGGAK GEMUK YA!! MOUTH SIAPA ITU YANG NGOMONG!! SINI!" Sahut kesal Bunda Ery dari dalam rumah, karena ia, suaminya dan juga Gege sedang menonton televisi bersama. Bunda Ery memang sensitif jika ada yang mengomentari bahwa ia gemuk. Karena itulah ia menjadi instruktur senam. Ia sangat memuja tubuh ideal meskipun sudah berbuntut dua.  "Abang yang bilang Bunnn!!" Jawab Yusuf dengan berteriak dari luar.  "Heii! Mana ada! Ucup yang bilang Bunnn!" Elak Gandhi. Bisa runyam nih kalo diterusin. Batin Yusuf berbicara. Yusuf segera masuk kedalam rumah dan menemui Gege. Jika ia meladeni Gandhi, maka semalaman pun tidak akan habis. Ia dan Gandhi adalah partner serasi untuk bertengkar dan bercanda. Akan selalu ada bahan dan topik untuk bertengkar ataupun saling menjaili satu sama lain. "Maaf Bun, tapi Yusuf beneran nggak ngomong gitu kok. Suer deh." Rayu Yusuf saat ia sudah berada di tengah-tengah keluarga Gege. "Iya, Santuy wae. Gandhi emang julid." Jawab Bunda Ery. "Nah, gitu dong. Bunda cantik deh." Goda Yusuf. "Heh! Ngomong apa kamu!" Giliran Ayah Hadi yang jealous istrinya di puji orang lain. "Eh, ada Ayah. Maaf, Yah. Hehe." Yusuf hanya nyengir melihat ayah Gege hampir mengeluarkan taringnya. Ayah dan Bunda, Yusuf memanggil ayah dan ibu Gege dengan sebutan yang sama dengan Gege bukanlah tanpa alasan.  Bukankah darah lebih kental daripada air? Ah, istilah itu ya? Maaf, tapi itu tidak berlaku untuk Gege dan Yusuf. Kedua keluarga mereka lebih pantas disebut keluarga adik dan kakak. Mungkin karena saking eratnya tali persaudaraan mereka. Karena kedua orang tua mereka dulunya adalah sahabat karib. Lebih tepatnya Ayah Gege dan Ayah Yusuf adalah sahabat dari kecil. Jika Yusuf memanggil orang tua Gege dengan panggilan yang sama dengan Gege, maka Gege pun juga begitu. Ia memanggil ayah dan ibu Yusuf dengan sebutan yang sama dengan Yusuf. Yaitu, Papa dan Mama. Kedua orangtua mereka juga sudah menganggap Gege dan Yusuf adalah anak mereka sendiri.  "Mau cari surat pengantar ke RT ya?." Tanya Bunda Ery. "Iya Bun, Mama suruh cepet-cepet cari KTP. Kalo nggak nanti di coret dari KK." Ujar Yusuf sambil mendudukkan tubuhnya di sofa sebelah Gege. "Hahahaha, ada-ada aja Mama kamu." Bunda Ery dan Ayah Hadi tertawa keras karena ucapan Yusuf. "Ge, ayo! Nanti keburu malem." Ucap Yusuf sambil melirik ke arah Gege yang berada di samping kanannya. "Ini juga udah malem, Sutris!!" "Dari tadi Gue tungguin nggak dateng-dateng!" Sambung Gege kesal karena ia menunggu dari Ba'da isya' sampai jam menunjukkan pukul 8 malam. "Ye Maap. Tadi tuh ada panggilan alam." Jawab Yusuf. "Udah, kalian berangkat sana." Ujar Bunda Ery kepada kedua anaknya. *** Sementara itu di kediaman Hastungkara yang bisa dibilang mewah. Satu keluarga sedang berkumpul untuk makan malam. Anggota keluarga tersebut terdiri dari Andanu, Papa Arya, Mama Sonia, Arjuna dan Arsha, yang semua nama belakangnya bermarga Hastungkara. Marga ini didapat dari kakek moyang keluarga ini. Dan keluarga ini adalah keturunan ke-6 dan ke-7 keluarga Hastungkara.  "Cause I-I-I'm in the stars tonight, So watch me bring the fire and set the night alight (hey), Shining through the city with a little funk and soul, So I'ma light it up like dynamite, whoa oh oh." "Dy-na-na-na, na-na, na-na-na, na-na-na, life is dynamite, Dy-na-na-na, na-na, na-na-na, na-na-na, life is dynamite, Shining through the city with a little funk and soul, So I'ma light it up like dynamite, whoa oh oh." "Junaaaa!! Diem! Taruh Headphone-nya!." Mama Sonia kesal karena anaknya yang satu ini adalah maniak K-Pop. Jika tidak sedang melakukan apa-apa mungkin tidak masalah jika Juna terus bersahabat dengan Headphone-nya. Lah ini?? Saat ini mereka semua sedang makan! Dan dengan tidak tahu dirinya Juna memakai barang itu dan bernyanyi dengan suara seperti ular tercekik. Bagaimana tidak terganggu coba? "Ck! Mama mah nggak asik!" Decak Arjuna kepada Mamanya. "Mas, nurut napa sih?! Ditaruh bentar juga nggak ngaruh sama kefanatikannya Mas!" Arsha menyela ucapan Mas-nya yang kesal karena di tegur Mamanya. "Arjuna. Taruh Headphone-nya!" Arjuna langsung diam dan melaksanakan perintah dari Papanya. Papa Arya adalah sosok yang tegas dan disiplin tinggi. Mungkin karena ia adalah seorang pejabat di Pemerintahan. Jika ia bicara singkat dan padat, maka semua anggota keluarga tidak akan ada yang berani menyela. "An, gimana sama usulan Papa yang soal irigasi di hulu sungai kemarin?" Papa Arya membuka suara setelah acara makan malam selesai. "Besok ada rapat mingguan kok, Pa. Jadi besok Danu usulin." Jawab Andanu. Papa Arya memang sedang mengusulkan rencana pembangunan irigasi di salah satu hulu sungai di desanya. Ia mengusulkan hal tersebut karena ia tidak sengaja mencuri dengar dari warga sekitar tentang kurangnya pasokan air untuk sawah di desa yang jauh dari sungai.  "Kalau bisa langsung accepted aja deh, An. Soalnya Papa kasihan sama yang jauh dari sungai, sawahnya nggak bisa maksimal ngolahnya."  "Iya, Pa. Nanti tak jadiin bahasan utama rapat. Pasti semua setuju kok, Pa." Jawab Andanu tenang. "Oh ya, kemarin Papa terima laporan dari kolam pusat, kok ada penurunan? Kenapa, An?" Tanya Papa Arya. "Oh, itu. Akhir-akhir ini kan pagi sampek siang panas terik, habis itu sore sampek malemnya hujan lebat. Gara-gara itu akhirnya hasil dari panen kemarin agak menurun. Mungkin nanti tak ganti aja vitamin sama nutrisinya. Biar lebih bisa adaptasi sama cuaca." Terang Danu kepada Papanya. "Oh gitu. Biasanya kan menurun juga nggak drastis kayak yang baru-baru ini. Makanya Papa kaget waktu terima laporannya." Ujar Papa Arya. "Alhamdulillah-nya kerugian dari kejadian itu bisa ditutup, Pa. Masih cukup kalo buat gaji 20 karyawan pusat sama cabang."  Sistem dari usaha keluarga Hastungkara adalah Individual. Maksudnya adalah, gaji karyawan tiap usaha adalah uang dari hasil usaha yang dipekerjakan tersebut. Contohnya, uang hasil dari sektor perikanan hanya boleh menggaji karyawan dari sektor perikanan. Kecuali ada permasalahan darurat.  Sistem itu diterapkan semata-mata hanya untuk menambah rasa puas dari tiap karyawan, bahwa gaji yang diterima adalah pure dari hasil keringat mereka. Meskipun terlihat sepele dan ribet, tapi itu memudahkan dalam me-manage keuangan hasil dari semua usaha. Hasilnya terlihat lebih transparan dan jujur. Karena keluarga Hastungkara tidak mengelola usaha yang kecil. Setiap usaha mempunyai cabangnya, meskipun tidak banyak.  "An, kamu tahu nggak? Kemarin tuh Mama reunian kan, terus salah satu sahabat Mama bawa cucu kembarnya, lucu banget anaknya--" "Mama pasti suruh aku cepet-cepet nikah kan?" Potong Andanu cepat, karena ia tahu akan kemana arah pembicaraan Mamanya. "Alhamdulillah, akhirnya nyadar. Kamu tuh cepetan dong cariin Mama mantu! Mama pengen banget ajak mantu Mama jalan-jalan kayak temen Mama yang lain." Kesal Mama Sonia. "Suruh aja Juna. Anak laki-laki Mama kan bukan Danu doang." Jawab Andanu enteng. "Heii!! Siapa tuh panggil-panggil Arjuna yang paripurna!" Arjuna langsung menyambar pembicaraan Mama dan Mas-nya. "Mas nih ya! Aku aja masih kinyis-kinyis gini kok di suruh nikah duluan." Sambung Arjuna dengan PD-nya. "Mama nggak mau kasih tempo atau jodohin kamu kalo kamunya nggak cepet-cepet nikah, tapi seenggaknya kamu umur 32 udah punya istri." Ucap Mama Sonia. "Ih! Itumah sama aja Ma. 6 bulan lagi kan Danu udah 32." Bagaimana Mamanya ini, Katanya tidak memberi tempo tapi umur 32 sudah harus punya istri. "Beda dong, An! Kalo Mama kasih tempo itu satu bulan lagi kamu harus udah nikah. Itu baru tempo!" Mama Sonia ikut kesal karena anaknya yang menyalahartikan kata-katanya. "Terserah Mama ae wes!" Andanu pasrah. "Awas lo, An! Kalo tahun depan nggak bawa calon mantu, Mama coret kamu dari KK!!" Teriak Mama Sonia karena anaknya meninggalkannya begitu saja dan berlalu memasuki kamarnya. "Nggih Kanjeng Ndoro." Teriak Andanu kembali menyahuti Mamanya. Pagi Harinya "MAMAAAAA!!!!!" Suasana pagi hari keluarga Hastungkara disambut dengan teriakan Arjuna dari lantai dua. "Astaghfirullah!! Haduh! Kenapa lagi sih itu!!" Balas Mama Sonia dengan berteriak ke arah lantai dua. Ia sedang memasak di lantai satu. Dan teriakan dari anak keduanya itu membuatnya kaget dan hampir menumpahkan nasi goreng yang akan ia hidangkan di meja makan. Arjuna turun dari tangga dengan wajah merah dengan ekpresi yang berapi-api sambil menghentakkan kakinya ke lantai. Ditangannya membawa album terbaru milik BTS yang sudah kotor berwarna kecoklatan. Sedangkan di belakangnya ada Andanu yang memasang wajah tanpa dosa sambil memegang cangkir yang kosong. "Kenapa lagi ini? Hah?" Tanya ulang Mama Sonia.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN