"Mas Danu nih! Masa album terbaruku di tumpahin kopi sih, Ma! Ini tuh aku beli pake duit sendiri. Pree Ordernya lama lagi! Aku nungguin ini udah 3 bulan baru sampek di aku. Baru seminggu punya masa udah rusak aja!!" Ucap Arjuna tanpa jeda. Tampaknya ia sangat murka kepada Kakaknya.
"SEMUA INI GARA-GARA MAS DANU!!" Teriak Arjuna berapi-api sambil menatap tajam Kakaknya.
Ya, Arjuna adalah ARMY garis keras. Bisa dikatakan ia adalah Fanboy dari BTS. Terdengar aneh, tapi itulah kenyataannya. Mungkin penyuka K-Pop mayoritas adalah kaum hawa, tapi tidak dengan Arjuna. Ia memilih menjadi Army karena ia bisa mendapatkan inspirasi dari Boygroup tersebut. Dan masih banyak alasan lainnya yang membuat ia bisa menjadi Army.
Ia rela merogoh kantong demi untuk membeli album, merchandise, ataupun hal-hal yang berkaitan dengan BTS. Tapi satu yang belum terwujud, yaitu menonton konser mereka secara langsung. Ia di bolehkan menonton jika ia mempunyai budget sendiri dan tidak ada kucuran dana dari orang lain. Itu adalah kata-kata Papanya. Baginya tidak apa jika ia tidak bisa menonton konser secara langsung, setidaknya ia tidak dilarang untuk mengidolakan mereka.
"Ya, maaf. Tadi kan Mas cuma niat bangunin, eh malah kopinya oleng kena album kamu."
"Apa?! Maaf? Mas harus gantiin albumnya Juna pokoknya!! Titik! Nggak pake koma!"
"Harganya 2 juta, sini uangnya!!" Ujar Arjuna dengan kesal.
Andanu melotot dan terkejut. "MasyaAllah!! Mahal banget! Kamu yang bener aja dong, Jun!"
"Ya bener lah, Mas! Nanti siang tak tunggu transferannya. Awas kalo bo'ong!" Arjuna menyeringai dalam hatinya. 2 juta adalah fake price, selagi ada kesempatan memanfaatkan Kakaknya, kenapa tidak? Hehe.
"Setan!" Andanu terlanjur kesal hingga tak sengaja mengumpat.
***
Hari senin yang sibuk dan melelahkan bagi kedua siswa menengah atas seperti Gege dan Yusuf. Upacara adalah hal yang paling di do'akan untuk batal pelaksanaannya. Di hari itulah mereka dituntut rapi dan lengkap atribut seragamnya. Jika tidak, maka bersiap-siaplah untuk menghadap meja merah Bu Nani, guru BK sekaligus Kepala Sekolah ter-dangerous. Jika sudah pernah menghadapi guru tersebut di meja merah, jangan harap kau akan punya niat mengulangi kembali perbuatan yang sama!
Kenapa meja merah? Karena the favorit color of Bu Nani adalah merah. Hampir 4 hari dari 6 hari dalam seminggu, ia akan mengenakan kerudung berwarna merah saat ia di sekolah. Taplak meja guru beliau pun berwarna merah.
Eh, kok malah bahas Bu Nani?!
Udah-udah skip!! Lanjut.
"Gege, yuhuuu! Anybody home?!" Yusuf berteriak memanggil Gege dari atas motor Vario-nya.
"Bentarrrr!! Masih ngaca!" Jawab Gege yang juga berteriak. Karena kamarnya yang berada di lantai 2, ia berteriak dari atas balkon kamarnya.
Apakah aku sudah bercerita bahwa Gege dan Yusuf adalah salah satu hal yang tak terpisahkan? Mereka selalu berangkat dan pulang bersama saat ke sekolah. Lebih tepatnya, Yusuf yang mengantar jemput tetangganya itu. Jadi jangan salahkan jika banyak orang yang salah paham akan hubungan mereka.
"Bunda, Ayah, Gege berangkat ya." Pamit Gege kepada orang tuanya.
"Iya, nanti bekalnya jangan lupa dihabisin ya, Sayang." Ujar Bunda Ery.
"Iya, Bun."
"Nanti Ayah ke sekolah kamu, ngurusin administrasi sekolah kamu sekalian ketemu temen Ayah." Ujar Ayah Hadi setelah anaknya menyalimi tangan kanannya.
"Oke, Ayah. Nanti suruh temen Ayah naikin nilai aku ya, Yah." Canda Gege.
"Eits! Sayangnya, Ayah gamau. Konspirasi itu namanya." Jawab Ayah Hadi.
"Canda, Yah. Hehe."
"Assalamu'alaikum." Gege mengucapkan salam sambil berlari keluar sembari menenteng sepatu sekolahnya.
"Wa'alaikumsalam." Jawab kedua orangtuanya.
"Yok Cup!! Berangkattttt!" Gege langsung memakai helm dan bergegas menaiki motor Yusuf.
"Losssss!"
Tempat Parkir
"Ge." Panggil Yusuf saat ia turun dari motor dan menaruh helm-nya di spion.
"Apa?"
"Kok kayak ada yang kurang ya." Ujar Yusuf sembari mengingat apa yang dirasa kurang.
"Sik-sik, topi Lo ada nggak?" Tanya Gege.
"Tadi Gue taruh di atas meja be-- Lhoooo!! Topi Gue ketinggalan, Ge!" Habis sudah nasib Yusuf hari ini.
"Mati kon! Yok opo iki, Ge!" Yusuf panik karena topinya tertinggal di meja belajar kamarnya.
"Waduh, Lo gimana sih, Cup!" Gege ikut panik melihat Yusuf.
"Lo beli di koperasi aja deh kalo gitu." Sambung Gege.
"Uang Gue juga ketinggalan Ge. Tadi Gue taruh barengan sama topinya. Gimana dong?" Jika saja uang sakunya tidak ketinggalan, mungkin ia akan bergegas ke koperasi sekolah untuk membeli topi baru.
"Udah-udah pake uang Gue dulu. Daripada nanti Lo dihukum sama si p****t Merah."
Astaghfirullah Gege! Bu Nani dipanggil p****t merah.
"Tapi Lo nanti nggak jajan, Ge. Gue nggak mau ah!"
"Bodo amat! Gue bawa bekal kali! Udah, nih sekarang Lo ke koperasi, terus beli tuh topinya." Gege menyodorkan uang sakunya kepada Yusuf dan mendorong tubuhnya agar segera bergegas ke koperasi sekolah.
"Bener nih?" Tanya Yusuf ragu.
"Bener."
"Nanti Lo nggak jajan lho, Ge."
"We ngomong pisan engkas, tak jungkrak kon lambemu!" Ucap Gege geram.
"Hehe, iya iya. Matursuwun sanget." Ucap Yusuf sambil merapatkan tangan ke dadanya.
"Hm."
***
"Nduk, gimana sama surat pengantarnya? Udah kelar?" Tanya Ayah Hadi kepada anak perempuannya.
"Udah kok, Yah."
"Terus kapan mau lanjut ngurus ke Kantor Desa?"
"InsyaAllah, besok sama Ucup. Karna tadi ada pemberitahuan belajar dirumah satu hari."
"Eh Yah, gimana cara ngomongnya kalo di Kantor Desa?" Tanya Gege.
"Kasih tau nggak ya?" Goda Ayah Hadi sambil menopang dagunya.
"Ish! Ayah mah gitu. Nggak satu tim deh kalo gitu."
"Hahaha, ya kamu tinggal masuk ke gedung bagian utara. Terus temuin yang namanya Pak Zein, habis itu tinggal sampein apa yang kamu butuhin." Terang Ayah.
"Loh? Petugasnya laki-laki, Yah."
"Lah? Emang laki-laki kan? Kalo yang perempuan itu bagian ngurus penyaluran bantuan desa." Ayah Hadi menjawab pertanyaan Gege dengan pertanyaan juga.
"Jangan bilang kamu juga nggak tau kepala desanya siapa?" Tanya Ayah Hadi.
"Emang siapa? Gege kan kemarin waktu pemilhan kepala desa belum genap 17 tahun." Gege tidak pernah perduli siapa yang menjadi kepala desanya. Yang penting hidupnya Happy! Haha.
"Dasar. Udahlah, besok juga ketemu sendiri. Sekarang siapin berkas-berkasnya buat besok, taruh di map biar rapi."
"Oke Pak Dosen."
Pagi harinya
Gege dan Yusuf sudah berada di depan Balai Desa. Mereka berangkat pada jam 8:30 waktu setempat. Gege sudah memegang map kertas berwarna merah ditangannya, begitu juga dengan Yusuf. Mereka masih berdiri di atas motor Vario milik Yusuf. Mereka sama-sama takut untuk masuk kedalam, lebih tepatnya ragu dan malu.
Yusuf menoleh kebelakang. "Masuk nggak, Ge?" Gege mendongak karena ia sedang memeriksa berkas-berkas yang ia siapkan tadi malam sambil menunduk. "Ya mau nggak mau harus masuk, kalo nggak jadi sekarang, pasti Bunda bakal bikin Gue jadi rempeyek."
Gege turun dari atas motor dan merapikan penampilannya. Tunik berwarna Army, dengan bawahan celana hitam, hijab pashmina berwarna hitam, flat shoes hitam, masker scuba putih serta kacamata photochromic menambah kesan simple but elegan Gege.
"Yuk, masuk." Gege berseru dan Yusuf segera mengikutinya dari belakang.
"Assalamu'alaikum." Ucap Gege dan Yusuf bersamaan saat keduanya berada di ruangan pengurusan KTP dan KK.
"Wa'alaikumsalam, mau apa, Dek?" Jawab orang yang berada di ruangan itu. Ada tiga orang yang berada di sana, dan semuanya laki-laki.
"Ya Allah, malu banget Hambaaaa! Kok laki-laki semua sih! Ini yang namanya Pak Zein yang mana coba" Batin Gege berseru.
"Mau buat KTP, Pak." Ucap Gege. Sedangkan Yusuf sedari tadi hanya terdiam. Dasar Ucup!