Sugeng Ambal Warsa, Mas

1231 Kata
Hari ini adalah harinya Andanu karena sekarang umurnya akan bertambah tua 1 tahun menjadi 33 tahun. Acara perayaan ulang tahunnya hanya dilaksanakan secara sederhana. Andanu sendiri yang meminta. Baginya perayaan ulang tabun yang meriah hanya untuk anak kecil. Dia sadar, dia sudah tua. Eh ralat. De-wa-sa. Paket nasi kuning lengkap yang bagian tengahnya berdiri tulisan angka 3 dan 2, tersaji di meja ruang tamu rumah keluarga Hastungkara. Acara itu hanya dihadiri oleh 2 keluarga. Keluarga siapa lagi kalau bukan keluaga Priyambodo dan Hastungkara sendiri. Lagi-lagi ini adalah kemauan dari Andanu sendiri. "Sugeng ambal warsa, Le. Semoga apa yang kamu inginkan dan harapkan akan segera dikabulkan sama Gusti Allah. Tetep jadi anak Mama yang Mama kenal. Jailnya dikurangi, apalagi sama mantu Mama. Jangan digoda terus. Jangan lupa juga jaga kesehatan. Habis ini mau nikah, kan nggak lucu kalo kamu KO. Nanti nggak bisa 'iya-iya' lagi. Hahaha." Tutur Mama Sonia sambil memeluk erat anak lelaki sulungnya. "Ah! Mama do'anya nggak asik. Tapi makasih banyak lho, Ma. Mama ter-the best pokoknya." Ucap Andanu membalas pelukan Mamanya. "Papa nggak mau bicara panjang-panjang. Semoga kamu tetep sehat, sukses, sama cepetan nikah. Papa kasihan sama kamu, tampang kamu kayak kurang belaian. Haha." Kelakar Papa Arya sembari merangkul bahu Andanu. "Ya Allah! Awas lho, Pa. Nanti Danu bocorin rahasia Papa kalo Papa sering top up Game. Mama kan benci banget sama Game." Bisik Andanu di dua kalimat terakhir. "Heh! Jangan aneh-aneh kamu. Nanti kalo diusir dari kamar berabe Papa!" Bisik Papa Arya. "Rasain, Pa. Hahahaha." "Met ultah, Mas. Semoga nggak tambah nyebelin dan tambah dermawan sama Juna. Dah itu aja." Ucap Arjuna dengan tampang yang ogah-ogahan. Andanu kagum dengan sikap adiknya yang satu ini. "Heh! Yang bener kalo do'a-in orang. Uang jajan kamu Mas kurangin." Sarkas Andanu. Arjuna melotot dan seketika mengubah mimik wajahnya dengan ekspresi terbaik yang pernah dimilikinya. "Hehe. Jangan dong, Mas. Mas Danu ganteng deh, tapi tetep gantengan Juna kok. Cuman beda 50 persen aja." Ujar Arjuna. "Mas Juna minggir! Sasa juga mau ngucapin selamat sama Mas Danu." Sela Arsha sambil mendorong tubuh Arjuna menjauh dari Andanu. Arjuna menyingkir diganti dengan Arsha yang ditangannya membawa kotak kecil yang kemungkinan adalah sebuah jam. "Barakallah fii umrik, Mas kuhh! Nih, dari Sasa. Mahal loh, Mas. Nanti gantiin ya uangnya, soalnya Sasa belinya pake uang temen. Hehe. Peace." Ucap Arsha cengengesan dengan jari tangannya membentuk tanda 'peace'. "MasyaAllah!" Andanu hanya bisa mengelus d**a melihat tingkah semua anggota keluarganya. "Barakallah fii umrik, Mas. Semoga selalu diberi kesehatan, ketabahan, kesabaran dan rejeki yang melimpah dari Allah. Makasih banyak juga udah nemenin dan nyemangatin Gege satu tahun terakhir ini. Maaf kadonya nggak seberapa sama jasa-jasa Mas di hidup Gege." "Makasih banyak, Sayang. Kehadiran kamu di hidup Mas aja udah berarti banget. Sayang banget sama kamu." Ucap Andanu yang langsung memeluk erat tubuh Gege setelah calon istrinya itu menyelesaikan ucapan selamatnya. "Ehem! Mohon sabar, ada jomblo disini." Dehem keras Arjuna. "Ganggu aja! Cari istri sana! Udah tua juga." Balas Andanu kesal. "Dimohon ngaca Bapak Kepala Desa, anda lebih tua!" Perdebatan itu menambah warna di acara ulang tahun Andanu. Kalau bukan Arjuna, siapa lagi yang akan selalu julid dengan Andanu? Dan mengalirlah acara sederhana itu dengan lancar. By the way, pernikahan 2 sejoli ini akan dilaksanakan kurang dari 1 bulan mendatang. Acara mengusung tema adat jawa untuk akad dan modern untuk resepsi. Pesta pernikahan itu dilaksanakan secara besar-besaran, mengingat ini adalah pernikahan pertama yang dilakukan oleh kedua keluarga. Meskipun Gege bukan anak sulung. *** "Bang jangan nyalip dong! Kalah nih Gue!" Gandhi memandang aneh kearah Yusuf. "Lo gimana sih! Namanya mabar ya wajar dong salip-menyalip! Nggak waras Lo!" "Geeee buatin jus jeruk dong!" Teriak Gandhi tanpa mengalihkan pandangannya dari layar televisi yang memuat gamenya. "Gue juga!! Jus jambu tanpa s**u!" Teriak Yusuf yang juga mengutarakan request-nya kepada Gege yang sedang berkutat dengan adonan kue di dapur. Ruang keluarga dan dapur yang bersebelahan memudahkan Gege mendengar teriakan Gandhi dan Yusuf. Gege mendesah pelan. Selalu saja seperti itu, ia akan menjelma menjadi Babu ketika 2 orang itu berkumpul. Apalagi kalau sedang memainkan PlayStation berdua, mereka berdua kompak akan memperbudak Gege. Seperti, 'Ge, ambilin cemilan!' 'Ge, buatin jus jeruk!' 'Ge, ambilin selimut sama hape Abang di atas! Itu adalah sebagian kecil perintah Gandhi dan Yusuf ketika sedang memperbudaknya. Tidak peduli Gege sedang sibuk atau tidak. Mereka akan tetap memerintah Gege. Gini banget jadi anak bungsu! Batin Gege. "Niki, Ndoro. Monggo diinum." (Ini, Tuan. Silahkan diminum.) Kata Gege dengan ekpresi yang dibuat selembut-lembutnya walaupun hatinya dongkol setengah hidup dan mati. "..." Tidak ada sahutan dari kedua orang yang disuguhi minum, mereka sibuk memainkan game dan melupakan keadaan di sekitarnya. "Sabar je lah!" Ucap Gege pelan sambil mengelus dadanya sabar. Ia kembali ke dapur dan melanjutkan pekerjaan yang sempat ia tinggal. Hari ini ia mencoba membuat Red Velvet cake dengan bantuan resep dari calon adik iparnya, Arsha. Kata Arsha, Andanu sangat menggemari kue yang berwarna merah itu. Dan Gege berinisiatif untuk membuatnya agar saat nanti mereka menikah, ia akan selalu membuatkannya sendiri untuk suaminya itu. Istri idaman kan? Ngomong-ngomong, pernikahannya akan berlangsung 3 minggu lagi. Keluarganya dan keluarga Andanu sudah mulai menyiapkan persiapan dari 2 minggu yang lalu. Mulai dari dekor, tenda, catering, dan lain-lainnya. Ketika pernikahan mendekati H-7, ia akan melangsungkan beberapa prosesi yang wajib dilakukan oleh calon pengantin di keluarganya. Mengingat keluarga Mbah-nya yang masih menganut kental adat istiadat Jawa. "Ge! Mana jus-nya! Lemot banget sih!" Gege yang mendengar teriakan itu menjadi gelap mata. Gege menghentikan kegiatannya lagi dan berjalan cepat dengan membawa spatula di tangannya. Ia geram sekali dengan kedua manusia laknat itu. Tak! Tak! "Matamu picek a!" Gandhi dan Yusuf yang kepalanya tiba-tiba diketuk keras oleh spatula seketika menoleh kearah teriakan Gege. Mereka melihat Gege sudah berdiri dengan tampang sangar menandakan emosinya sudah meluap naik. Bukan tanpa alasan Gandhi berteriak untuk yang keduanya kalinya kepada Gege. Ia memang tidak menemukan jus itu di depannya. Dan ketika ia menengok kebelakang karena mendengar u*****n Gege, ternyata jus itu ditaruh di meja samping sofa di belakangnya. Mampus! Gandhi seketika melunak dan leleh melihat wajah adiknya yang sudah berubah warna. "Oh, udah dibuatin ya? Hehe, maaf ya. Peace." Ucap Gandhi yang disertai puppy eyes yang bisa dikatakan gagal. "Maaf maaf! Makanya punya mata tuh dipake! Jangan dibuat nge-gameeee mulu! Heran Gue, punya dua sodara kok nggak ada yang penuh semua! Andai Lo semua bisa ditukar tambah, udah dari dulu Gue tukar tambah! Pengen tak hihhhhh! Gemes Gue!!" Semburan Gege membuat dua orang yang sudah membuat ulah itu kicep seketika. Tidak berani menyela apalagi bergerak seinchi pun. Hanya bisa menunduk sambil memilin jarinya masing-masing. "Minggat aja sana!" Setelah mengatakan itu Gege berlalu lagi ke dapur. "Ya Allah!" "Astaghfirullah!" "Serem juga ya kalo udah meledak." Ucap Yusuf ketika Gege sudah berlalu. "Bukan adek Gue." Kata Gandhi dengan sedikit keras dan tidak menyadari jika kata-katanya dapat didengar oleh Gege. "Kowe ngomong pisan engkas, tak mixer ginjalmu!" *** "Bismillah, headshot!!" Brak!! Dugh!! "Huaaaa! Mamaaaaa! Sakittt!" Rintih Arjuna mengadu kepada Mamanya. "Kenapa kamu?" Ujar Mama Sonia santai. Ia sudah biasa dengan tingkah ajaib anak tengahnya ini. "Sakitt!" Kata Arjuna sambil menyodorkan tangannya yang dirasa sakit olehnya. "Kenapa lagi?" Tanya Mama Sonia. "Tadi mau nyoba smackdown pohon mangga depan rumah, tapi jadinya kayak gini. Maaaaa, sakit lho ini." Mama Sonia melotot mendengar penuturan anaknya. "Heh! Lha kamu lho ngapain juga nyoba smackdown pohon?!" Luar binasa sekali anaknya ini. Nggak ada samsak, pohon pun jadi. "Gabut." Jawab Arjuna singkat, padat dan polos. "Wooo! Ancene gemblung!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN