Cini-Cini Tak Tium

1119 Kata
Flashback on Beberapa bulan yang lalu "Mas! Udahhh, itu ditunggu Mama lho!" "Bentar...." "Ih! Geli, Masss! Hahahaha" Mama Sonia yang berada di lantai bawah heran karena calon menantunya tidak turun dari 10 menit yang lalu. Ia menyuruh Gege untuk memanggil Andanu untuk makan malam, dan kamar Andanu berada di lantai dua. Jarak lantai satu dan lantai dua tidak sejauh cintaku padamu hingga calon menantunya tidak kunjung turun. Waduh, ndelalah mantuku nangsang! (Waduh, jangan-jangan mantuku nyangkut!) Mama Sonia bergegas ke lantai dua untuk melihat anak dan calon menantunya. Ia khawatir sesuatu yang 'iya-iya' akan terjadi jika dibiarkan. Semakin dekat dengan kamar Andanu, ia mendengar suara yang tak asing ditelinganya. Kebetulan pintu kamar Andanu terbuka setengah dan memperlihatkan Gege yang telah terbaring di ranjang dan Andanu yang berada diatasnya setengah menindih Gege. Mama Sonia melotot melihat pemandangan itu. Dimana otak anaknya itu? Gege masih belum menjadi istrinya, tapi dengan enteng Andanu bermain tindih-tindihan dengan calon istrinya. "Andanu!!! Kamu apain mantu Mama!" Seru Mama Sonia sambil berjalan cepat kearah ranjang dimana calon suami istri itu berada. Seketika Andanu dan Gege menoleh kearah teriakan tersebut. Gege refleks mendorong kuat d**a Andanu dan yang di dorong pun berakhir jatuh di karpet bulu dengan posisi yang mengenaskan. "Aduh! Sakit, Yang!" Erang Andanu sambil berusaha bangkit dari jatuhnya. Gege gelagapan dan bergegas bangun dari tempat tidur. Ia sangat malu dengan Mama Sonia atas kejadian tadi. "Ma maa--" "Aw!! Sakit, Ma!" Belum sempat Gege menyelesaikan permintaan maafnya, Mama Sonia sudah mengambil alih dengan memelintir telinga Andanu. "Pinter ya?! Udah berani macem-macem sama mantu Mama! Nih, rasain!" Ucap Mama Sonia dengan tangan kirinya yang masih aktif memelintir telinga Andanu. "Maaa! Sakit, udah lepasin dong!" Ekpresi Andanu tak bisa dijelaskan lagi. "Diulangin nggak?!" Tanya Mama Sonia ketika tangannya sudah lepas dari telingan Andanu. "Mama tuh salah paham, aslinya nggak git--" "Diulangin nggak?!" Tanya Mama Sonia sekali lagi tanpa menerima penjelasan Andanu. "Iya-iya, Ma. Nggak lagi." Ucap Andanu lirih sambil menundukkan kepalanya. Kejadian itu tidak sepenuhnya benar dan tidak sepenuhnya salah. Tadi Gege di perintahkan oleh Mama Sonia untuk memanggil Andanu yang sedang mandi di kamarnya. Memang semua itu adalah ulah Andanu. Ia berniat mengerjai Gege. Setelah ia menyuruh masuk dari dalam kamar, ia berjalan pelan kebelakang pintu dan bersembunyi disana. Kebetulan jarak pintu kamar mandi dan kamarnya tidaklah jauh. Setelah Gege masuk, ia beringsut memeluk Gege dari belakang dan menggelitikinya. Gege yang mendapat serangan itu tidak kuasa menahan rasa kaget, terkejut dan tentunya geli. Andanu yang menjadi pelakunya malah semakin membuat suasana menjadi panas. Gege yang dikerjai seperti itu tidak tahan untuk menggerak-gerakkan tubuhnya karena kegelian. Karena gerakannya itu, mereka akhirnya terjengkang ke belakang dimana itu adalah ranjang tidur Andanu. Dan setelah kejadian itu adalah momen dimana Mama Sonia memergoki mereka dengan posisi yang dapat mengeruhkan pikiran dan memancing jiwa jomblo untuk merasa iri. Kalian iri nggak? "Mama nggak mau tau, lamaran kalian harus di majuin! Titik!" "Yes! Akhirnya." Dugaan kalian benar, itu adalah seruan kemenangan dari Andanu. "Sekalian nikahnya juga ya, Ma." Pinta Andanu dengan memelas. "Wooo! Lhakok nglunjak!" (Kok ngelunjak) "Hehe. Kebelet, Ma. Maklum dong." Flashback off "Itu mah Mama yang salah paham." Bela Andanu yang tak terima dirinya disalahkan. "Heleh. Nggak usah ngeles kamu. Kamu nyosoran!" "Ya Allah anak sendiri digituin." Ucap Andanu lirih. "Udah ah! Gimana, Nduk? Mau ya?" Tanya Mama Sonia kepada Gege sekali lagi. Dengan pasrah Gege akhirnya menurut. "Iya, Ma. Gege bakal nginep disini." Lumayan nyenengin calon mertua. Batin Gege. "Nah, gitu dong. Nanti tidur bareng Mama aja dikamar tamu. Tadi Mama udah suruh Bibi buat bersihin kamarnya. Yuk kesana." Gege digiring oleh Mama Sonia dan meninggalkan Andanu yang duduk di ruang tamu dengan Papa Arya. "Lihat aja nanti." Batin Andanu. *** "Sip! Nggak dikunci. Rejeki anak soleh." Ucap lirih Andanu saat ingin membuka pintu kamar tamu tempat Gege dan Mama Sonia tidur. Dengan pelan dan hati-hati, Andanu melangkah dan masuk kedalam kamar tamu. Disana ia melihat Gege dan Mama Sonia yang sedang tertidur lelap. Tentu mereka sudah lelap, karena saat ini jam menunjukkan pukul 12 malam lebih beberapa menit. Andanu berdiri disamping Gege dan memperhatikan betapa manis dan imutnya Gege saat tidur. Ditambah piyama banana warna kuning menambah keimutan Gege dimata Andanu. Tapi jangan khawatir, Gege masih menggunakan jilbab instan saat tidur. Karena ini bukan rumah Gege sendiri, ia wajib menggunakan jilbab meskipun saat tidur. Kecuali kalau ia sudah menikah tentunya. "Pindah ke kamar Mas bentar ya, Sayang." Bisik Andanu lalu mengangkat tubuh Gege kedalam gendongannya. "Maaf ya, Ma. Gege malam ini milik Andanu. Nanti tak balikin kok Ma, jangan khawatir." Andanu meminta izin lirih yang tentunya tidak akan didengar oleh Mama Sonia. Andanu berjalan perlahan dan keluar dari kamar tamu dengan Gege berada di gendongannya. Setelah sampai di kamarnya, ia membaringkan Gege dengan hati-hati agar tidak terbangun. Menyelemuti Gege dengan selimut yang sudah ia siapkan di tengah ranjang. Kemudian ia masuk kedalam selimut dan memeluk Gege dari samping. "Gemes banget sih. Jadi pengen cipok." Astaghfirullah! Pagi harinya Gege terbangun karena suara adzan dari mushola sebelah rumah keluarga Hastungkara. Ia baru sadar jika ia saat ini tidak sedang tidur di rumahnya sendiri. Sedikit-sedikit kesadarannya terkumpul. Ia merasa ada yang salah dengan tubuhnya. Ini Gue ketindihan apa gimana? Batin Gege. Tubuhnya terasa berat seperti ditindih oleh sesuatu. Ia membuka matanya yang masih dalam mode pengumpulan nyawa dan melihat sesuatu yang membuatnya terkejut setengah mati. Ia melihat tubuh besar Andanu menindih sebagian besar tubuhnya. Kepala Andanu yang bersembunyi di lekuk lehernya membuat dagunya geli ketika rambut Andanu menggesek dagunya. Tak lupa tangan dan kaki Andanu yang ikut membelitnya membuat ia tak bisa bergerak sama sekali. "Astaghfirullah!! "Mas! Bangun ih!!! Lepasin aku!" Ucap Gege sambil menepuk-nepuk pipi Andanu yang berada dipelukannya. "Mas!!!" Yang dibangunkan hanya bergumam tidak jelas dan malah mempererat pelukan terhadap subjek yang dipeluknya. "Ya Allah! Bangun, Mas!" Dibangunkan dengan cara halus tak mempan, maka dengan dicubit adalah jalan terakhir. "Aw! Apasih, Yang. Masih pagi tau." Ucap Andanu yang tetap setia memejamkan matanya meski sudah diberikan cubitan maut dari Gege. Gege melotot mendengar penuturan Andanu. Bagaimana calon suaminya ini tetap santai sedangkan ia sedang kalang kabut karena tiba-tiba berteleportasi kamar? "Ih! Bangun dulu!" "Apa?" Ucap Andanu mendongakkan kepalanya kearah Gege. "Mas kok nekat banget sih! Nanti kalo Mama tau aku disini gimana? Mas kan yang pindahin aku kesini?!" Ujar Gege menggebu-gebu. "Iya. Aku yang pindahin." Ucap Andanu santai. "Ya Allah! Udah ah, aku mau pindah ke Mama dulu. Minggir, Mas!" Ucap Gege sembari berusaha melepaskan dirinya dari lilitan tubuh Andanu. "Kiss dulu. Baru tak lepasin." Andanu ngelunjak! "Nggak! Belum mahrom." Tolak Gege. "Ish! Ndang to, Yang. Sedilut ae." (Ayolah, Yang. Bentar aja.) "Emoh!" Gege langsung mendorong tubuh Andanu dengan segala kekuatannya. Dan akhirnya ia berhasil keluar dan segera bergegas ke kamar tamu. "Awas aja nanti kalo udah nikah, Mas kurung kamu seharian!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN