"Hush! Bunda ngomong apa sih?!"
"Ya maaf, tapi Bunda beneran nggak rela Gege nikah secepet ini."
"Bunda salah dan jangan menyalah. Gege juga nikahnya nggak sama orang yang rumahnya jauh dari kita. Jadi ilangin pikiran kayak gitu! Jangan egois terus ngorbanin perasaan banyak orang."
"Tap--."
"Udah diem! Kalo Bunda mau protes, berarti Bunda sama aja ngelukain anak kita!"
"Ayah nggak bakal mau ngomong kalo Bunda belum sadar apa kesalahan Bunda!"
Melihat suaminya yang kesal, Bunda Ery ikut kesal dengan membalikkan tubuhnya membelakangi suaminya. Dan terjadilah pertengkaran kecil diantara mereka.
Paginya, Bunda Ery merenungkan ucapannya sambil duduk di atas closet. Ia sedikit menyadari jika ucapan dan tindakannya salah. Ia tidak akan betah berdiam diri dan tidak berbicara kepada suaminya tersebut. Ia akan segera meminta maaf kepada suaminya.
"Ayah." Panggil Bunda Ery saat melihat Ayah Hadi sedang menyisir rambut di depan meja rias.
Yang dipanggil hanya diam saja. Malu dong kalo mau bicara, orang kemaren janjinya kalo udah minta maaf kok!
Bunda Ery yang tidak mendapatkan respon, menghela nafas dalam. Ia bergerak memeluk suaminya dari belakang sambil menggumamkan kata maaf.
"Yah, maaf ya? Bunda janji nggak egois lagi deh. Suer!" Adunya dengan suara yang redam karena pelukan.
"Hm. Udah sadar salahnya apa? Salah nggak kalo Bunda gitu sama anak sendiri?"
"Iya, maafin ya? Bunda tuh nggak betah kalo diem-dieman sama Ayah. Kayak ada yang kurang gitu. Tadi aja waktu bangun Bunda belum di sun." Ucap Bunda Ery sambil mencebik.
"Haha. Itu kan juga salahnya Bunda. Sini-sini yang belum di sun. Sun fulll!" Ujar Ayah Hadi sembari menghujani ciuman di wajah istrinya.
"Aaaa! Udah, Yah!"
"Dimaafin nggak nih?" Tanya Bunda Ery setelah ciuman suaminya berakhir.
"Dimaafin tapi nanti malem double. Titik!" Tekan Ayah Hadi tanda tak ingin dibantah.
"Nggak mau!"
"Nolak suami dosa Sayang!"
***
"Potoin, Mas!"
"Ini lo, pemandangannya bagus banget!"
"Satu, dua, ti--ga."
Cekrek!
"Satu kali lagi, Mas!"
Sebelum dilaksanakannya pernikahan mereka, Andanu mengajak Gege untuk berlibur bersama perangkat desanya ke Pantai Klayar. Bukan tanpa alasan, karena liburan itu adalah tradisi para perangkat desa setiap tahunnya.
"Huh! Capek juga ya ternyata." Keluh Gege saat ia dan Andanu memilih duduk di gazebo di bawah pohon Nyiur.
"Ya capek, Yang. Orang dari tadi kamu aktif banget!" Tukas Andanu yang ikut duduk memandang pantai dari tempatnya duduk.
"Tapi terbayar lunas sama pemandangannya. Apalagi tadi perjalanannya jauh banget!" Ucap Gege sambil mengipaskan topi pantai ke wajahnya.
Hari ini Gege memakai Gamis satin motif bunga-bunga berwarna biru, pashmina putih, kacamata hitam dan sandat flat berwarna hitam. Dan jangan lupakan topi pantai berwarna putih yang ia beli ketika sampai di Pantai Klayar.
Sedangkan Andanu memakai kaos pantai, celana pendek selutut warna coklat, kacamata hitam, dan topi yang serupa dengan calon istrinya tapi berwarna coklat. Bedanya ia hanya bertelanjang kaki.
"Mas, makan yuk! Laper."
"Ayo. Mau makan dimana?" Ucap Andanu sembari berjalan dan menggenggam erat tangan Gege.
"Disana aja, kayaknya enak. Bau ikan bakarnya ngajak makan terus!" Ucap Gege menunjuk ke arah satu kedai ikan bakar yang baunya menarik hidung, lidah dan perut.
Setelah sampai di kedai itu, mereka langsung mengambil makanan yang disajikan secara prasmanan. Tertera di depan kedai bahwa 'tambah nasi tak bayar' membuat Andanu kalap karena memang dirinya yang penyuka ikan akut.
"Mas, beneran makan segitu banyaknya?" Tanya Gege heran kepada calon suaminya. Yang bener aja, masa makan nasinya sampek ngebentuk gunung?!
"Ya bener. Ini mah kecil kalo lauknya sama ikan bakar."
"Oke, deh. Yuk makan!"
Keadaan kedai lumayan ramai, karena hari ini adalah weekend. Wajar jika kawasan pantai akan ramai pengunjung. Disana juga berjejer toko yang menyediakan baju, topi ataupun sandal yang beragam rupa dan warna.
Perangkat desa yang hanya sekitar 50 orang memgharuskan untuk menyewa satu unit Bus dan satu unit Elf yang dapat menampung sekitar 60 orang lebih karena dibolehkan juga untuk membawa anggota keluarga yang dibatasi hanya 2 orang.
"Eh, ada Bu Kades juga disini. Pak Kadesnya mana, Bu?" Gashul tiba-tiba datang dan mengisi kursi kosong disebelahnya bersama dengan istri dan 2 anaknya. Kebetulan Andanu masih berada di kamar mandi untuk buang air.
18 tahun dipanggil 'Bu'? Sungguh membagongkan! Sisi muda Gege menyeru melihat pemiliknya di panggil dengan kata yang err-- horor!
"Oh itu, masih ke kamar mandi bentar. Darimana aja, Pak?"
"Dari kedai depan beli es Boba buat anak-anak. Terus mampir kesini buat makan, eh malah ketemu sama Bu Kades." Terang Gashul.
"Nah, itu Pak Kadesnya." Celetuk Gege saat melihat Andanu berjalan kearahnya.
Andanu tersenyum melihat ada Gashul di samping mejanya.
Ia menyapa dan berbicara ringan dengan Gashul. Juga Gege yang memulai obrolan ringan dengan istri Gashul dan kedua anaknya.
Memang dasarnya Gege adalah orang yang friendly dan easy going, membuat ia tidak sulit untuk memulai percakapan dengan orang yang baru dikenal.
"Aslinya mana, Mbak?" Tanya Gege.
"Saya aslinya Bantul, Bu."
"Waduh, panggil nama aja, Mbak. Saya mah masih belasan umurnya. Hehe." Ujar Gege.
"Nggak berani, Bu." Ucap istri Gashul dengan sopan.
"Nggak papa. Mulai hari ini kita temenan ya, Mbak." Ucap Gege sambil menyodorkan tangannya agar di jabat oleh istri Gashul.
"Em, yaudah deh. Nama saya Ratna. Panggil aja Mbak Ratna."
"Nggak usah formal-formal kalo sama Gege, Mbak. Pake aku-kamu aja ya."
"Iya-iya siap. Btw kamu umur berapa, Ge." Tanya Ratna sembari menyuapi anaknya makan.
Gege mendongak, karena ia sedang memangku anak kedua Gashul di pahanya sambil bercanda ria dengan anak balita itu. "Jalan 18 tahun, Mbak. Masih muda kan?" Ujar Gege sambil tersenyum jahil.
"Wah! Masih muda ya ternyata calon Bu Kadesnya. Hahahaha." Ucap Ratna memandang tak percaya akan kata-kata Gege.
"Haha. Iya dong! Emang Mbak dulu nikahnya umur berapa?"
"Dulu aku nikah sekitar umur 22, waktu itu habis lulus kuliah langsung nikah." Terang Ratna.
"Itu mah juga masih muda, Mbak."
"Bagi kamu masih muda, nah di keluargaku tuh umur segitu kayak udah telat nikah."
"Wah, pasti tertekan banget tuh dulu."
"Banget! Kalo ketemu sodara deket, pasti ditanyain 'kapan nikah?' 'kok masih sendirian aja?'"
"Mbak pasti tegar banget waktu itu." Puji Gege.
"Bukan pasti. Harus! Hahaha."
Obrolan ringan berjalan lancar sampai acara makan siang itu selesai. Sore harinya, rombongan perangkat desa akhirnya pulang. Gege dan Andanu membeli lumayan banyak oleh-oleh. Mulai dari ikan asap, belut kering, kaos pantai bertuliskan I love klayar, topi, sandal dan masih banyak yang lainnya.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam. Eh, anak mantu udah pulang! Pasti capek ya dari Pacitan. Jauh kan ya itu? Sini, sini. Tadi udah tak buatin pudding kesukaan kalian."
"Ma, biarin mereka duduk dulu dong. Kebiasaan!" Tegur Papa Arya kepada Mama Sonia.
Andanu dan Gege masuk lalu menyalami tangan Papa Arya dan Mama Sonia.
"Nduk, nginep disini aja ya? Nanti tak kabarin Bundamu. Biar kamu tidur sama Arsha atau nggak sama Mama." Tawar Mama Sonia kepada Gege yang duduk di sebelahnya.
"Lho kok dikamar Arsha." Sesal Andanu berkata lirih dan sialnya dapat didengar oleh Mama Sonia.
"Heh! Ngomong apa kamu. Mama nggak bakal biarin kejadian itu terulang lagi!"