Kalo seumpama Mas nggak ngebolehin gimana? Kamu mau apa?
Ya Gege nggak akan kuliah di luar kota. Kan Mas bakal jadi Rajanya Gege dirumah tangga kita nanti, jadi Gege harus nurutin Mas dong. Ya kan?
Gemes banget! Punya-nya siapa sih ini?
Calonnya Bapak Kepala Desa yang gantengnya sekebon
Aduh, duh! Jantungku, Dek!
Eh, eh kenapa Mas?!
Mau geser denger kata-kata kamu. Hahahaha.
Ish! Bikin kaget aja! Nggak lucu tau
Begitulah kira-kira kemesraan online yang terjalin antara Andanu dan Gege. Andanu yang jahilnya nggak tertolong dan Gege yang terima-terima saja jika dijaili oleh Andanu.
***
"Sa, aku masih cinta sama kamu. Dia itu cuman mantan aku, dia yang fitnah aku. Kamu jangan percaya sama dia. Kamu yang selalu ada di hati aku. Percaya ya sama aku? Mau ya balikan sama aku?"
Arsha hanya diam dan bersidekap d**a melihat Rendi yang memohon di depannya. Bagaimana bisa lelaki itu memohon untuk berhubungan lagi dengannya setelah hal b***t yang dilakukannya?
Arsha tak gila cinta untuk menerima ajakan lelaki itu. Lagi pun, setelah kejadian 1 tahun lalu ia sudah tak memiliki rasa sama sekali terhadap Rendi. Ia juga sudah menemukan pengganti yang jauh lebih baik dari Rendi.
"Boyo!" (Buaya)
"Apa?" Tanya Rendi yang tidak menangkap baik kata-kata Arsha.
"Aku kok gobl*k banget yo biyen! Nompo kowe segampang iku. Mungkin ae biyen aku mbok pelet." (Aku kok bodoh banget ya dulu. Nerima kamu semudah itu. Mungkin aku dulu kamu guna-guna.) Ucap Arsha sambil memandang jijik kepada Rendi.
Belum lama setelah Arsha mengatakan itu, datang dua orang kearah mereka dan memanggil Rendi dengan kata 'Beib'.
"Beb, kamu kenapa disini? Daritadi udah tak tungguin juga." Ucap perempuan itu sambil menggendong bayi yang berumur kurang dari satu tahun.
"Kamu siapa?! Mau godain suami saya ya?!" Tuduh perempuan itu sambil menunjuk-nunjuk wajah Arsha.
Arsha hanya diam dan memperhatikan perempuan yang sedang memakinya itu. Tak lama kemudian ia berkata.
"Awas Mbak, sandingmu iku Boyo! Uduk menungso." (Sampingmu itu Buaya! Bukan manusia.) Ucap Arsha kemudian berlalu dari hadapan dua manusia yang berbeda ekspresi dengan raut puas.
"Arsha di baperin? Ya nggak mempan! Haha." Puji Arsha pada dirinya sendiri.
Rumah Keluarga Yusuf
"Geeee, Gue patah hati!"
"Tega banget si Sinta nikung Gue, Ge!"
"Gue butuh pelampiasan! Tolong ambilin samsak Gue di belakang, Ge."
Hati Yusuf sedang dalam keadaan yang tidak baik, ia di selingkuhi oleh pacarnya. Yang notabene adalah teman sekolah Gege dan Yusuf. Yusuf melihat dengan mata kepala sendiri bahwa Sinta sedang duduk berdua di taman dengan laki-laki. Dan sialnya, Yusuf melihat mereka berciuman singkat.
"Rasane mak kratak! Loro temen, Geee."
Aduan Yusuf ditanggapi Gege santai dengan menonton TV dan memakan cemilan. Ia sering di curhati oleh Yusuf tentang percintaannya. Jadi ia tidak kaget jika Yusuf akan patah hati lagi karena perempuan.
Yusuf bersandar di bahu Gege dan badannya memyamping dari posisi Gege. Dengan memeluk bantal yang sudah ia jadikan lampiasan kemarahannya, ia menggerutu sambil memukul-mukul bantal sofa rumahnya.
Karena Gege sedang dalam mode muntab terhadap Gandhi, maka dengan otomatis ia akan memutasikan dirinya kerumah Mama Masruroh. Dan kebetulan sekali setelah ia sampai disana, ia melihat Yusuf akan turun dari motornya dan wajahnya di hiasi oleh kemarahan.
Saat ia sedang bersantai di depan TV, ia dikagetkan dengan gerakan tiba-tiba Yusuf yang menubruk bahunya lalu menempati sisi sofa yang kosong. Ia sudah tahu jika setelah ini Yusuf akan berbicara panjang lebar dan membeberkan masalahnya tanpa ditanya.
"Ge, Lu dengerin nggak sih?" Tanya Yusuf karena ia tidak mendapat balasan dari semua aduannya.
"Hm." Jawab Gege singkat sembari mengunyah keripik kentang di tangannya.
"Ah! Lu mah nggak asik. Gue patah hati nih." Adunya lagi karena ia hanya mendapat deheman.
"Terus Gue harus gimana? Jungkir balik mikirin pacar Lu yang tingkahnya sebelas dua belas sama babi!" Ucap Gege yang masih menatap fokus pada televisi di depannya.
"Ambilin samsak Gue deh kalo gitu. Males berdiri Gue."
"Alah lebay!! Titisan kunti kok di tangisin! Yang keren tuh dibales."
"Gue setia ya, Ge. Jadi nggak bisa buat selingkuh."
"Iya, tau. Balesnya juga nggak gitu Bambang! Putusin dia, cari yang lebih baik."
"Eleh! Kayak Lu pengalaman aja soal cinta, pacar aja nggak pernah punya." Ejek Yusuf sambil memandang remeh sahabatnya.
"Wah wah! Nantangin nih. Asal Lu tau ya, pelatih tidak bermain!"
"Iya-iya. Tapi tadi langsung tak putusin dia. Dan epicnya, dia nggak ngejar Gue kayak di sinetron-sinetron. Melas nggak tuh."
"Btw, gimana tuh ceritanya? Kepo Gue, komuk Lu pasti the best banget tadi. Hahaha." Gege mengalihkan pembicaraan agar Yusuf tak membahas topik perselingkuhan itu lagi.
Flashback on
Yusuf sedang mengendarai motor melewati taman, kemudian ia berhenti karena melihat Sinta sedang duduk sendirian di salah satu kursi taman. Sinta terlihat sedang menunggu seseorang.
Dengan insting pacar yang baik, Yusuf bergegas membeli dua cup minuman di salah satu kedai di taman itu. Setelah dua cup minuman itu berada di tangannya, ia berjalan menuju tempat Sinta duduk.
Tapi setelah sampai disana, yang ia dapatkan hanyalah kepahitan. Sinta duduk berdempetan dengan laki-laki dan berciuman singkat disana.
Yusuf yang melihat live adegan 15+ itu langsung memalingkan mukanya, hatinya serasa di belah dengan pisau. Tapi ia juga sadar jika tindakan yang mereka lakukan tidaklah benar. Ia harus membalas Sinta yang seenak jidat menduakannya. Ia berjalan dan berhenti di depan pasangan m***m yang sialnya salah satunya adalah pacarnya.
"Hai, nih buat yang kehausan habis ciuman. Pasti butuh tenaga kan buat selingkuh? Gue ikhlas kok nyumbang minuman demi kelakuan terpuji Lo." Ucap Yusuf to the poin sambil tangannya menyodorkan dua cup minuman Boba Tea.
"Sungkan ya mau nerima? Nih, Gue taruh aja disini ya. Mungkin Lo nggak nyaman minum kalo ada Gue."
"Dan buat Lo. Minuman ini spesial karena disertai kata-kata mutiara Gue. Kita Putus! Bye!" Ucap Yusuf sambil matanya menatap tajam kearah Sinta.
Setelah mengucapkan itu semua, Yusuf berlalu pergi dan kedua orang laknat itu hanya bengong dan terdiam melihat kejutan dari Yusuf.
Yusuf sendiri sudah merelakan cintanya kandas lagi, yang ia tidak terima adalah kenapa ia bisa sebodoh itu untuk dibodohi orang yang lebih bodoh dari dia.
Flashback off
"Jadi gitu, Ge. Gue jantan kan?"
"Top! Habis ini buka Handphone Lu, dan rasakan sensasi diteror titisan kunti."
"Gue block habis ini."
"Mantul tuh! Eh tapi, Mama tau kalo kamu pacaran?" Gege menanyakan hal itu karena Yusuf tidak diperbolehkan pacaran sama sekali oleh Papa dan Mamanya.
"Ya nggaklah. Kalo tau bisa di geprek Gue!" Ucap Yusuf sambil memelankan suaranya.
"Nah, itulah karma karena tidak menuruti orang tua! Percintaan Lu kandas semua."
"Nasib nasib! Jomblo lagi."
Kamar Utama Keluarga Priyambodo
Selimut sudah berada dilantai, bantal dan sprei sudah berantakan dan tak beraturan bentuknya. Di atas ranjang terdapat 2 insan yang sedang berpelukan erat. Mereka adalah Ayah Hadi dan Bunda Ery.
Ayah Hadi memeluk erat sambil mengusap pelan bahu telanjang istrinya. Keadaannya juga sama, telanjang bulat tapi masih berbalut selimut tebal. Itu adalah selimut bersih yang tadi ia ambil selepas berhubungan dengan istrinya.
"Bun, beneran nggak mau tambah baby lagi?" Canda Ayah Hadi seraya mengubah posisinya menyusup ke ceruk leher istrinya.
"Ish! Apasih, Yah! Nggak inget umur apa? Anak bungsu udah mau nikah juga!!" Sembur Bunda Ery yang lagi-lagi di goda dengan pertanyaan itu.
"Hahaha, canda Bos!"
Keadaan hening seketika setelah tawa Ayah Hadi reda. Tiba-tiba Bunda Ery berkata. "Yah, Bunda nggak rela deh Gege cepet-cepet nikah."
"Kenapa? Dia-nya juga udah lulus, Bun."
"Apa kita batalin aja ya nikahannya?"