Mereka akhirnya kembali ke kamar masing-masing, naik ke ranjang, lalu tertidur tanpa sempat berbincang lebih jauh. Sedangkan Fandi, yang sebelumnya berada di kamar ketiga gadis itu, kini sudah kembali ke kamarnya sendiri. Ia berdiri lama di depan jendela, mencoba mengurai sesuatu yang mengganjal di dadanya setiap kali mengingat Epi. “Ada apa dengan Epi…? Kenapa dia terlihat begitu tersiksa?” gumamnya pelan, hampir tidak terdengar. Fandi menghela napas berat. Tangannya mengepal, bukan karena marah, tapi karena sesak yang tidak bisa ia jelaskan. “Hatiku sakit sekali melihatnya seperti itu,” bisiknya lirih. “Aku tidak tahu apa yang pernah terjadi padamu, Epi… tapi aku berharap kamu bisa bahagia, sejauh apa pun luka itu mengikuti langkahmu.” Malam merangkak, waktu berjalan, dan pagi akhir

