Rasa yang tak pernah habis

1814 Kata

Semua terdiam. Terbelalak. Tak satu pun mampu berkata-kata setelah melihat sisi Asa yang baru saja muncul. Hanya Epi yang tampak tenang — seolah apa yang terjadi bukan hal baru baginya. Sementara yang lain—Rami, Rora, Ruka, Arvino, Kei, dan Jose—menoleh ke arah Epi hampir bersamaan, heran bagaimana ia bisa tetap setenang itu. Epi tidak bicara. Tidak bereaksi. Ia hanya duduk, menunduk pelan, tangan terampil membersihkan katana yang masih meneteskan sisa darah hangat. Di sisi lain ruangan, Asa mengambil parang besar. Matanya menyipit, sudut bibirnya terangkat pelan — senyum yang membuat udara terasa membeku. Syuuhh… Wuush—Sreet—TUSSH!! Dalam satu gerakan yang hampir tak terlihat, Kepala Sahara terbang. Tubuhnya jatuh menyamping, darah memancar membentuk garis di lantai. Ruangan

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN