Langit malam seperti menahan napas. Di ruang bawah tanah yang dingin dan penuh aroma besi, Alvaro duduk di kursi kulit hitam, mengetuk-ngetuk meja dengan jarinya. Suara langkah sepatu berat terdengar dari ujung ruangan — Karo, salah satu komandan lamanya, membawa map lusuh dan wajah penuh tekanan. “Mereka gagal lagi di pelabuhan, Tuan,” katanya pelan. “Shadow Rose. Unit baru milik Fandi.” Alvaro tidak langsung menjawab. Ia menyalakan cerutunya, menarik napas panjang, lalu menghembuskan asap ke udara seperti naga tua yang bosan pada dunia. “Aku kira Fandi sudah mati bersama idealismenya,” ucap Alvaro datar. “Ternyata bocah itu malah buat pasukan bayangan baru… perempuan pula.” “Perempuan, tapi bukan sembarangan, Tuan,” balas Karo cepat. “Satu dari mereka—mereka bilang bisa menumbangka

