Bukan gadis biasa

1950 Kata

Udara malam itu seolah menahan napas. Di antara desiran angin, jantung Epi berdegup cepat, tak seperti biasanya. Ia berdiri di bawah cahaya samar bulan, jemarinya menggenggam erat gagang pisau kecil di pinggangnya. Ada sesuatu — sebuah rasa bahaya tajam yang tidak datang dari arah biasa. Naluri binatang di dalam dirinya berbisik: ada yang mengintai balik. Ia menoleh perlahan. Di ujung jalan berpasir yang remang, dua sosok berpakaian hitam berjalan cepat, kepala mereka sesekali menoleh ke belakang, memastikan tidak ada yang mengikuti. Salah satunya menatap punggung temannya, lalu berkata dengan nada rendah, “Anak kecil itu… matanya beda. Aku hampir nggak bisa lihat dia tadi.” Yang satu lagi mengangguk pelan, “Kalau bukan karena topeng, mungkin aku udah ketahuan.” Mereka berdua te

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN