Setelah selesai makan bersama, Nathan dan Matthew akhirnya berdiri. Keduanya saling bertukar pandang sebelum berjalan menuju laboratorium di belakang markas untuk memeriksa daging misterius itu. Laboratorium itu menyambut mereka dengan bau alkohol medis yang menusuk hidung. Lampu neon putih menyorot tajam, memantul dari permukaan logam dan kaca, membuat ruangan terasa dingin sekaligus tegang. Suara mesin yang berdengung halus mengisi keheningan. Nathan—dengan wajah tajam dan rambut tersisir rapi ke belakang—memasang sarung tangan, lalu menyalakan komputer analisis. Matthew berada di sampingnya, diam namun matanya bergerak cepat mengikuti grafik yang mulai muncul. Di sudut ruangan, Arvino berdiri sambil melipat tangan, tampak gelisah. “Jadi… steak yang viral itu beneran daging sapi atau

