“Kalian pulang saja bersama yang berjaga di depan. Semua sudah beres,” ujar Arvino. “Baik, Bang.” Salah satu dari mereka berdiri, menjabat tangan Arvino, lalu pergi bersama rekan-rekannya. Kini hanya Arvino, Kei, Jose, Rora, Ruka, Rami, dan Asa yang tersisa. Mereka langsung duduk di bangku deretan luar kamar rawat. “Kita nggak masuk saja?” tanya Rora pelan. “Jangan dulu,” jawab Jose. “Bisa saja Epi dan Tuan Muda sedang istirahat.” Semua mengangguk. Mereka lalu kembali sibuk dengan ponsel masing-masing, menjelajah media sosial. “Hei, lihat ini. Kematian Mega sudah viral. Mereka bilang penyebabnya ulah perampok jalanan,” kata Rora sambil memutar video dari t****k. “Cepat banget,” gumam Kei. “Biasalah… dia orang kalangan atas. Berita soal mereka selalu cepat menyebar,” timpal Rami.

