Pulang

1794 Kata

Asa, Arvino, dan Kei keluar dari mobil. Dugg… pintu tertutup keras. “Sudah beres, ya?” tanya Kei sambil menatap sekeliling area yang penuh darah dan puing. “Jelas. Kau pikir kami akan menunggu kalian dulu?” jawab Rora ketus. “Bagaimana dengan si Mega?” Asa mengangkat bahu santai. “Sudah ku tebas. Dia bahkan nggak punya kemampuan berarti. Aku nggak perlu keluar tenaga terlalu banyak untuk menghabisinya.” “Kalau semuanya sudah selesai, sebaiknya kita pulang ke markas. Tubuhku rasanya mau rontok,” gumam Rami letih. “Aku juga. Setelah istirahat, mungkin sore kita harus ke rumah sakit,” tambah Ruka sambil memegangi lukanya. “Iya,” jawab yang lain serentak. Mereka berpencar ke mobil masing-masing. Ruka, Rami, Asa, dan Rora satu mobil; sementara Kei, Arvino, dan Jose di mobil lainnya.

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN