Ara berjalan mendekati sudut halaman belakang yang tadi ditunjuknya, gudukan tanah yang terbingkai batako setinggi setengah meter di sekitarnya ada beberapa tanaman bunga yang terlihat tidak terawat ada pohon yang telah mati mengering, namun ada juga pohon yang tumbuh subuh hingga terlalu rimbun, dan baru saja dipangkas beberapa saat yang lalu. Ara yang merasa sangat penasaran berjalan mendekat tanpa mengalihkan pandangannya ia semakin terkejut sekaligus takut saat semakin mendekat dan mendapati sebuah batu nisan berda dia tas gundukan tanah berrumput tebal yang baru dipangkas itu. "Pak, ini makam?" Ara menoleh pada Adi yang berdiri sekitar satu meter di belakangnya. Ara melihat pandangan mata bapaknya menerawang menatap batu nisan itu. "Pak, kenapa ada makam di belakang rumah begi

