POV Ara. Aku menyandarkan kepala di jendela bus antar kota antar provinsi yang kamu tumpangi, di sebelahku Bapak juga duduk dalam diamnya. Sama seperti saat aku menanyakan hendak ke mana ia mengajakku, tidak ada jawaban yang ia berikan kecuali memulai hidup baru. Dari yang aku tahu bus yang kami tumpangi saat ini menuju ke Jakarta, kota metropolitan nan gagah dengan segala kemewahannya tapi juga kejam dengan segala keangkuhannya. Aku beberapa kali menginjakkan kakiku di sana saat menjadi murid sekolah dulu, saat ada program study tour maka kota inilah yang akan menjadi tujuannya sebagai ibu kota negara tentu saja banyak yang bisa kami pelajari di sana. Tapi kali ini, aku sama sekali tidak tahu apa dan ke mana tujuan kami, lebih parah dari seorang buta meraba tentang tujuan Bapak pun a

