Keesokan paginya , Anindya bangun dari tidurnya dan bersiap-siap untuk pergi bekerja.
“Udah jam berapa ini?” Anindya terbangun dari tidurnya dan langsung melihat ke arah jam.
“Masih jam 5 ternyata , oke ayo siap-siap Anindya” Anindya pun pergi ke kamar mandi untuk bersiap-siap.
Setelah selesai mempersiapkan diri , Anindya pun turun ke bawah untuk sarapan pagi bersama keluarganya.
“Pagi Ma , pagi Pa” Anindya mengucapkan selamat pagi kepada kedua orang tuanya di meja makan.
“Pagi sayang , kamu udah siap?” Tanya Bu Sara.
“Udah dong ma , aku kan nggak mau kalau sampai aku terlambat di hari pertama aku bekerja” Jawab Anindiya.
“Baguslah kalau kamu punya prisip seperti itu Anindya , papa doakan semoga dihari pertama kamu bekerja semuanya berjalan dengan lancar ya” Pak Erlangga menyemangati Anindya.
“Amin , terima kasih Papa” Jawab Anindiya.
“Owh iya , kamu nggak telepon kakak kamu Karina buat ngabarin dia , kalau kamu akan bekerja hari ini ?” Tanya Bu Sara.
“Owh iya ya ma , maaf aku lupa, nanti aja deh aku kabarinnya pas aku diperjalanan menuju rumah sakit aja , baru aku kabarin dia Ma” Jawab Anindya.
“Ya udah terserah kamu, mama cuman bisa doain semoga pekerjaan kamu berjalan dengan baik dan lancar” Bu Sara juga mendoakan Anindya.
“Iya ma , terima kasih” Jawab Anindya.
Setelah selesai sarapan bersama, Anindya pun berangkat ke tempat kerjanya di antarkan oleh pak supir pribadinya.
Saat diperjalanan , Anindya pun menelpon kakaknya Karina.
“Halo , kak Karina” Sapa Anindya kepada kakaknya.
“Halo , Anindya” Jawab Karina.
“Kakak apa kabar?” Tanya Anindya.
“Alhamdulillah kabar kakak baik, kabar kamu gimana?” Tanya Karina.
“Alhamdulillah baik juga kak , owh iya aku mau kasih tau kakak kalau aku udah mulai kerja lho kak” Anindya memberi tahu kakaknya dengan sangat bahagia dan gembira.
“Wah selamat ya, semoga kamu lancar disana dan semoga kamu betah kerja disana” Karina menyemangati adiknya.
“Makasih banyak ya kakak , kakak memang kakak aku yang terbaik” Anindya berbicara dengan sangat bahagia.
“Tentu saja adikku , aku akan selalu menjadi kakak kamu yang terbaik” Jawab Karina.
“Makasih kak” Jawab Anindiya.
“Bagaimana dengan kabar Papa dan Mama?” Tanya Karina.
“Alhamdulillah kabar mereka juga baik kok kak, lalu bagaimana dengan kabar mas Darren kak ?” Tanya Anindiya.
“Alhamdulillah kabar dia juga baik kok, udah dulu ya teleponnya , yang penting kamu semangat kerjanya dan jangan mengecewakan” Pinta Karina dengan sedikit tertawa.
“Tenang aja kakak, aku nggak bakalan mengecewakan kok , hahahaha” Jawab Anindya.
Karina pun mematikan teleponnya.
“Non habis telepon sama non Karina?” Tanya pak supir , supir pribadi Anindya bernama Pak Udin.
“Iya pak Udin , aku habis teleponan sama kak Karina , buat ngasih tahu kalau aku udah kerja” Jawab Anindiya.
“Non Karina beruntung ya punya adik kayak non Anindya, non Anindya itu udah cantik , baik , pintar, cerdas lagi” Pak Udin melihat Anindya dari arah spion mobil.
“Nggak kok pak, justru aku yang beruntung punya kakak kayak kak Karina, kak Karina itu orang nya penyabar terus penyayang banget sama aku , dan setiap aku membutuhkan kak Karina , Kak Karina akan selalu ada untuk aku” Jawab Anindya yang memuji kakaknya.
“Iya deh , terserah non aja , bapak doakan semoga lancar ya pekerjaan nya non Anindya” Pak Udin menyemangati Anindya sambil tersenyum.
“Iya terima kasih ya pak Udin” Jawab Anindiya.
Pak supir pun mengantar Anindya ketempat kerja Anindya yaitu Rumah Sakit Bahagia.
“Non , kita sudah sampai” Pak Udin memberi tahu Anindya kalau mereka sudah sampai.
“Iya , terima kasih pak Udin” Jawab Anindiya.
“Saya jemput jam berapa nanti non?” Tanya Pak Udin.
“Nanti saya kabari bapak” Jawab Anindya.
“Baik non” Jawab pak Udin.
Anindya pun turun dari mobil dan masuk ke rumah sakit sedangkan Pak Udin pun pergi dari rumah sakit itu.
Di dalam rumah sakit , Anindya bertemu dengan Clara sahabatnya yang ternyata Clara juga bekerja di rumah sakit itu.
“Anindya...” Panggil Clara.
“Clara.....” Jawab Anindya.
“Clara , kamu kerja di sini juga?” Tanya Anindya dengan perasaan senang karena di rumah sakit itu dia bertemu dengan orang yang dia kenal.
“Iya , aku nggak nyangka lho, kalau kita bisa satu rumah sakit , aku kira kamu kerja dirumah sakit Harapan?” Tanya Clara.
“Iya aku juga nggak nyangka , kebetulan aku dapat kerja nya di rumah sakit ini bukan di rumah sakit harapan, katanya Sabrina yang kerja disana dan aku dapat kerjanya di sini.” Jawab Anindya.
“Owh begitu ternyata , tapi bagus juga , jadinya kita bisa sering ketemu” Clara berkata sambil tertawa.
“Hahahaha, kamu benar” Jawab Anindya.
“Owh ya , disini aku juga dapat teman baru lho , kamu mau kan aku kenalkan ke dia?” Tanya Clara.
“Mau lah, dia dimana?” Tanya Anindiya.
“Ada di kantin rumah sakit , ayo ikut aku” Clara pun mengajak Anindiya untuk ikut dengannya.
Clara kemudian berjalan bersama Anindya menuju kantin Rumah Sakit.
“Anindya , itu dia, ayo kita hampiri” Clara menunjuk seorang wanita yang berseragam dokter yang tengah duduk sendirian di kantin.
Anindya dan Clara pun menghampiri wanita itu.
“Anindya , kenalkan namanya kak Diara, dia dokter juga di rumah sakit ini dan sudah 3 tahun bekerja disini” Clara mengenalkan Kak Diara kepada Anindya.
“Salam kenal kak, nama aku Anindya Shafira Wijaya, panggil aja aku Anindya” Anindya pun berkenalan dengan Diara.
“Halo Anindya , nama aku Diara Puspa Sahara , kamu panggil saja aku kak Diara, salam kenal ya” Diara juga berkenalan dengan Anindya.
“Iya kak” Jawab Anindya.
“Ngomong-ngomong kamu dari keluarga Wijaya kan? Kamu pasti adiknya Karina kan?” Tanya Diara.
“Iya kak, kakak kok bisa tahu tentang kak Karina?” Tanya Anindya.
“Iya , kebetulan aku sama Karina udah kenal saat kami masih SMA, bisa dibilang kami sahabatan sama kayak kamu dengan Clara” Jawab Diara.
“Tapi kok kak Karina nggak pernah kasih tahu aku tentang Kak Diara ya ?” Jawab Anindya.
“Kamu nggak tahu ya?” Tanya Diara.
“Tahu apa kak?” Tanya Anindya yang agak heran dengan ucapan Diara.
“Karina itu tipikal orang yang nggak suka bercerita tentang kehidupannya kepada siapapun , tapi dia sering cerita tentang kehidupannya kepada ku” Jawab Diara.
“Kok aku nggak tahu ya , tapi kakak masih sahabatan kan sama kak Karina sampai sekarang?” Tanya Anindya.
“Masih kok , kami masih sering chattingan dan sering ketemuan juga” Jawab Diara.
“Owh gitu , makasih ya kakak atas informasinya” Jawab Anindya.
“Sama-sama , aku permisi dulu ya , aku mau balik ke ruangan aku” Diara pun berjalan keluar dari kantin menuju ke ruangannya.
“Iya kak” Jawab Clara dan Anindya.
Setelah ditinggal Diara , Clara pun berbincang-bincang dengan Anindya.
“Anindya, aku heran deh kok kakak kamu nggak pernah cerita tentang dia punya sahabat ke kamu?” Tanya Clara.
“Aku juga nggak tahu, padahal aku selalu cerita ke kakak aku tentang diri aku” Jawab Anindya.
“Jadi binggung aku deh , secara kan kamu dekat banget sama kak Karina” Jawab Clara.
“Udah lah nggak usah dipikirin , nanti aku tanya langsung aja ke kakak aku” Jawab Anidya.
“Ya udah deh, owh iya ayok ikut aku ke ruangan direktur rumah sakit ini, kan kamu belum kenal juga” Jawab Clara.
“Mentang-mentang kamu udah kerja 3 bulan disini” Jawab Anidya dengan perasaan sedih murung.
“Hihihi”Clara tertawa kecil.
Mereka pun berjalan masuk ke dalam ruangan direktur.
Tok tok tok
Suara ketukan pintu.
“Masuk” Pak direktur menyuruh mereka masuk.
“Pak , ini dokter baru yang akan bekerja di rumah sakit ini” Clara memberi tahu tentang Anindya kepada Pak direktur.
“Baik Clara , kamu bisa tinggalkan dia disini, dan kamu kembali bekerja.” Pinta pak direktur.
“Baik pak” Jawab Clara.
“Siapa nama kamu? Kamu dokter spesialis apa?” Tanya pak direktur.
“Nama saya Anindya Shafira Wijaya , bapak bisa panggil saya Anindya, saya dokter spesialis kulit” Jawab Anindya.
“Nama yang bagus Anindya , nama saya Erlangga , kamu panggil saya pak Rangga” Jawab Pak Rangga.
“Baik pak” Jawab Anindya.
“Kalau begitu saya akan panggil suster untuk kamu” Jawab pak Erlangga.
Tak lama kemudian seorang suster masuk ke dalam ruangan pak Erlangga.
“Iya pak Rangga , Ada perlu apa ya ?” Suster itu bertanya dengan pak Rangga.
“Suster Salsa , perkenalkan ini dokter Anindya , dia akan bekerja di rumah sakit ini mulai sekarang ,dan kalian akan menjadi partner dalam bekerja selama beberapa tahun ke depan” Pak Rangga memperkenalkan suster Salsa kepada Anindya.
“Halo dok , saya suster Salsa, semoga kita cocok bekerja bersama dengan baik” Suster Salsa berkenalan dengan Anindya.
“Halo sus saya Dokter Anindya , semoga kita cocok bekerja sama” Jawab Anindya.
“Baiklah , kalian bisa keluar dari ruangan saya , kamu bawa dia ke ruangan nya dan tunjukkan yang harus dia lakukan” Perintah Pak Rangga kepada suster Salsa.
“Baik pak, saya permisi kalau begitu , mari dok ikut saya” Jawab suster Salsa.
Suster Salsa pun membawa Anindya pergi ke ruangan nya.
“Dok ini ruangan dokter” Suster Salsa menunjukkan salah satu ruangan yang sudah tersusun rapi dan masuk ke dalam ruangan itu.
“Ruangannya bagus sekali , udah ada nama saya juga” Anindya merasa terkesima dan bahagia atas apa yang dia capai.
“Tentu saja dok, di rumah sakit ini , semua sudah tertata rapi , bersih dan detail” Jawab Suster Salsa.
“Iya kamu benar , sekarang ayo kita mulai bekerja” Anindya sangat bersemangat.
Setelah selesai bekerja tepatnya pukul 17.30 wib , Anindya pun keluar dari ruangannya dan bertemu dengan Clara.
“Clara.” Panggil Anindya.
“Hai Anindya , bagaimana dengan kerjanya , dan bagaimana ruangan mu?” Tanya Clara.
“Ruangannya bagus dan aku nggak nyesel deh kerja di rumah sakit ini “ Jawa Anindya dengan cengengesan.
“Hahaha, baguslah kalau kamu senang kerja disini, aku pulang duluan ya Anindya , aku takut orang tuaku sudah menunggu” Jawab Clara.
“Baiklah Clara , aku juga harus pulang dan aku juga nggak sabar ingin menceritakan tentang kerjaan aku disini ke keluarga ku” Jawab Anindya.
“Ok deh kalau begitu , aku pulang dulu ya , by Anindya” Clara berpamitan dengan Anindya.
Setelah Clara pergi , Anindya pun menelpon pak Udin.
“Halo ,pak Udin.” Sapa Anindya dari telepon kepada pak Udin.
“Halo non , udah pulang ya?.” Tanya pak Udin.
“Iya pak, jemput saya ya sekarang.” Anindya meminta pak Udin menjemputnya.
“Siap non.” Jawab pak Udin yang langsung bergerak membawa mobil menjemput Anindya.
Anindya pun mematikan teleponnya dan menunggu pak Udin menjemputnya.
Tak lama kemudian , pak Udin datang menjemput Anindya.
Bersambung....