bc

Derita Istri Muda

book_age18+
2.6K
IKUTI
15.3K
BACA
love after marriage
pregnant
arranged marriage
doctor
drama
city
wife
sisters
like
intro-logo
Uraian

Anindya Shafira Wijaya adalah salah satu wanita yang terlahir sempurna , dia adalah anak bungsu dari keluarga kaya raya yang sangat dihormati di kotanya , keluarganya adalah keluarga Wijaya yang tak lain adalah pemilik Wijaya Group yaitu sebuah perusahaan raksasa yang bergerak di bidang property, fashion , keuangan dan kesehatan. Keluarga Wijaya sangat menyayangi Anindya sehingga semua permintaan Anindya akan selalu di turuti .

Anindya juga memiliki seorang kakak perempuan yang sangat cantik dan telah menikah dengan seorang pria kaya raya yang bernama Darren Hayes Atmaja, nama kakaknya adalah Karina Nadila Atmaja . Karina sangat menyayangi Anindya dan akan selalu ada untuk Anindya terutama jika Anindya merasa sakit dan sedih.

Semua kehidupan yang Anindya jalani berjalan dengan sempurna , apalagi Anindya bisa lulus menjadi seorang dokter muda di usia 21th , dan dia juga telah di lamar oleh pacar nya yang bernama Ryan yang tak lain adalah seorang pengusaha muda yang sukses.

Akan tetapi semuanya tak berlangsung lama , kebahagiaan itu tiba-tiba menjadi sirna dan hilang , karena kebahagiaan itu telah direnggut oleh seseorang yang tak lain adalah kakak kandungnya sendiri , siapa lagi kalau bukan Karina.

Saat Anindya mengetahui dalang dibalik semua permasalahan yang terjadi kepadanya adalah ulah dari kakaknya ,Anindya sangat kecewa dan merasa sangat sakit , ingin sekali rasanya Anindya membongkar semuanya ,akan tetapi terungkap sebuah kenyataan masa lalu yang sangat menyakiti kakaknya yang membuat Anindya memilih bungkam , Anindya merasa apa yang di alami Karina di masa lalu adalah karena dirinya .

Anindya tak tahu harus berbuat apa , dia tak menyangka jika kakaknya dengan teganya menghancurkan hidupnya , padahal kakaknya sangat menyayanginya dan melindunginya sejak dari dia masih kecil , Karina dengan sengaja menjebak adik kandungnya sendiri untuk di jadikan istri muda suaminya yaitu Darren Hayes Atmaja.

chap-preview
Pratinjau gratis
Kebahagiaan
5 tahun yang lalu , dua keluarga besar yang sangat berpengaruh di salah satu kota melakukan upacara pernikahan kepada anak mereka , tetapi kemudian tak lama setelah upacara pernikahan diadakan , ibu dari pihak mempelai pria meninggal dunia. Pernikahan tetap di lanjutkan dengan seksama , meskipun terlihat wajah penuh air mata dari sang mempelai wanita dan wajah tertekan dari sang mempelai pria, namun kebahagiaan terpancar dari kedua belah pihak keluarga besar. Sang mempelai wanita terbayang akan kekasihnya yang telah dia tinggalkan. "Karin, aku cuman mau kamu bahagia , apa kamu yakin dengan memutuskan aku dan memilih dengannya kamu akan bahagia?" Kekasih tercintanya hanyalah seorang pria yang bekerja sebagai penyanyi jalanan. "Maafkan aku Ammar , tapi aku tidak punya pilihan lain , hanya ini yang bisa aku lakukan"Wanita itu berkata dengan penuh kesedihan kepada sang pria yang sangat dia cintai. "Aku tak bisa melakukan apapun lagi jika kamu berkata seperti itu , tapi aku harap kamu tidak akan membenci adikmu suatu saat nanti hanya karena kamu mengorbankan segalanya untuknya"Air mata jatuh berlinang dari wajah sang pria. "Aku ikhlas dengan semuanya, semoga kamu bahagia dan menggapai apa yang kamu impikan" Wanita itu pun berjalan pergi meninggalkan sang pria yang sedih. 5 tahun kemudian Seorang wanita cantik sedang sibuk mempersiapkan diri untuk wisuda. "Nin, kamu belum selesai juga ?" Tanya Bu Sara kepada anak gadisnya yang menginjak usia 21 tahun yang akan melaksanakan wisuda. "Belum Ma , aku bingung apa yang kurang dengan yang aku pakai ya?" Anindya melihat dirinya terus-menerus di kaca dengan aura bahagia yang terpancar dari wajahnya. Tiba-tiba seseorang masuk ke kamarnya, yang tak lain adalah kakak nya yaitu Karina. "Kak Karin , kapan kakak datang?" Anindya bertanya kepada kakaknya yang lebih tua darinya 5 tahun. "Baru saja kakak sampai , kenapa kamu belum juga siap Nin?" Anindya melihat dirinya di kaca dengan rasa yang tidak puas. "Soalnya aku lihat kayak ada yang kurang dari penampilan ku" Jawab Anindya dengan murung. "Karina , lebih baik kamu bantu adik kamu untuk bersiap-siap karena dari tadi dia kebingungan terus-menerus" Pinta Bu Sara kepada Karina yang terampil dalam make up. "Baik ma" Karina mengeluarkan peralatan make up nya dan mulai merias wajah adiknya. "Mama tinggal kan dulu kalian ya , karena ada urusan lain yang harus mama kerjakan" Bu Sara pun meninggalkan Karina dan Anindya dikamar. "Kak , apa aku sudah cantik?" Tanya Anindya dengan sedikit menggoda kakaknya dengan senyum manis nya. "Tentu saja kau sudah cantik" Karina mencubit hidung adiknya yang menggemaskan itu. "Kakak......" Anindya kesal karena hidung nya dicubit kakaknya. "Hahahaha, kau itu lucu sekali kalau seperti ini" Karina tertawa melihat perlakuan adiknya. "Kak , aku mau tanya sama kakak , menikah itu enak enggak sih?" Tanya Anindya. "Kenapa kau bertanya seperti itu padaku?" Karina bertanya balik kepada adiknya . "Kakak jawab saja pertanyaan ku dulu , baru aku akan menjawab pertanyaan kakak nanti" Jawab Anindya. "Ya udah Kakak jawab nih , menikah itu bukan suatu hal yang bisa kita katakan enak , tapi jika kau menikah kau akan merasakan bagaimana kehidupan yang sesungguhnya" Jawab Karina. "Jadi menikah itu tidak enak ya kak?" Tanya Anindya kembali. "Kau akan mengetahuinya sendiri nanti , tapi kenapa kau bertanya seperti itu kepada ku?" Tanya Karina. "Karena Ryan akan melamar ku kak" Jawab Anindya dengan kegirangan. "Apa? Selamat ya , kapan emang dia melamar mu? Bukanya dia sekarang sedang di luar negeri ?" Tanya Karina. "Iya kak , aku tahu dia sedang di luar negeri karena ada urusan bisnis , akan tetapi sebenarnya kami udah janji satu sama lain kalau kami akan menikah setelah aku lulus" Anindya berkata dengan senyum-senyum sendiri di wajahnya sambil membayangkan dirinya dengan Ryan. "Apa kau sudah yakin dengan hal itu ?" Tanya Karina yang ragu. "Tentu saja , dulu dia kan sudah berjanji dengan ku , setelah aku mengambil kelulusan ku dan menjadi seorang sarjana, kami akan langsung menikah" Jawab Anindya. "Ya udah kalau begitu , kakak ucapakan selamat ya adikku, aku harap kau akan bahagia nanti" Karina mengucapkan selamat kepada adiknya. "Tapi kakak jangan bilang siapa-siapa dulu ya , karena setelah dia melamar ku , baru aku akan memberi tahu mama dan papa" Pinta Anindya. "Baiklah , tapi apa kamu nggak kesal dengan dia yang berada diluar negeri sekarang?" Tanya Karina. "Aku kesal banget kakak, padahal seharusnya malam ini dia melamar ku , sedih aku jadinya kak" Anindya berbicara dengan wajah imut yang murung. "Adikku sayang , yang sabar ya , tapi aku yakin pasti nanti dia akan datang melamar mu"Jawab Karina yang menyemangati adiknya. "Sekarang sebaiknya kita turun yuk dari pada kita terlambat nanti" Karina mengajak Anindya untuk turun bersama. "Ayo kak , owh iya apa suami kakak juga datang ke kelulusan ku nanti ?" Tanya Anindya sambil berjalan turun bersama Karina. "Mas Darren sedang sibuk dan kayaknya dia nggak mungkin datang, tapi dia mengucapkan selamat kepada kamu Nin" Terlihat jika Karina menyimpan sesuatu yang menyedihkan. "Owh , ya udah sih nggak apa-apa kok , yang penting kakak datang, karena aku bahagia banget kalau kakak datang" Anindya terus berjalan bersama Karina dan sampai di bawah yang ternyata sudah ada Bu Sara dan Pak Erlangga. "Kalian sudah siap?" Tanya pak Erlangga. "Sudah kok Pa"Jawab Karina. "Wah kamu cantik sekali Nin" Puji Bu Sara. "Makasih Ma , ini berkat bantuan Kak Karin juga loh" Anindya memuji Karina yang pandai dalam berdandan. "Wahhh , kamu memang hebat Karina!" Puji Pak Erlangga. "Terima kasih Pa , sudah lah Pa sebaiknya kita segera berangkat saja agar nanti tidak terlambat, kan kasihan Anindya kalau sampai terlambat" Pinta Karina. "Iya iya ayo kita berangkat" Bu Sara pun mengajak mereka untuk segera berangkat. Mereka semua pun berangkat bersama menuju kampus untuk mengambil kelulusan Anindya. Setelah selesai dari kampus, mereka pun pulang ke rumah . "Karina , kamu ikutan makan malam dulu di rumah ya" Pinta Pak Erlangga. "Baik Pa" Karina menyetujui permintaan papanya itu. Saat di meja makan terlihat kebahagiaan yang terpancar dari keluarga Wijaya. "Owh iya , ngomong-ngomong Ryan tadi kenapa nggak datang ke acara kelulusan kamu Anindya?" Tanya Bu Sara. "Dia lagi di luar negeri Ma , katanya 3 hari lagi dia akan pulang" Jawab Anindya. "Owh begitu rupanya , Lalu dimana suamimu Karina?" Tanya Bu Sara kepada Karina. "Dia sedang sibuk di kantor Ma" Jawab Karina. "Ya sudahlah Ma , mungkin memang banyak kerjaan di sana , ayo kita sambung makan malamnya saja" Pinta pak Erlangga. Mereka pun lanjut makan malam hingga selesai, lalu Karina pun berpamitan karena ingin pulang. "Ma , Pa , dan adikku sayang ,aku pamit dulu ya" Karina berpamitan kepada keluarga Wijaya. "Iya hati-hati ya" Jawab Bu Sara dan Pak Erlangga secara bersamaan. "Hati-hati kakak, sampai jumpa lagi" Anindya melambaikan tangannya kepada Karina. Karina pun pulang dengan mobilnya. "Ma , kapan ya kita punya cucu?" Tanya Pak Erlangga kepada Bu Sara. "Entahlah pa , mama juga tidak tahu , alangkah baiknya kita doakan saja agar Karina bisa segera memiliki anak" Jawab Bu Sara. "Iya ma , padahal kak Karina sudah menikah 5 tahun , tapi dia belum di karunia seorang anak , mungkin mas Darren pengen pacaran terus sama kak Karina kali ya , hahahaha....." Jawab Anindya sambil tertawa. "Sudahlah Anindya, kamu ini" Bu Sara sedikit tertawa atas apa yang di ucapkan Anindya. "Tapi aku ada benarnya juga kan ma , hahaha" Jawab Anindya. "Hahaha , iya lah anak ku sayang kamu memang yang paling benar" Bu Sara mencubit hidung Anindya. "Mama Iiihh......, nggak mama, nggak kakak sukanya cubit hidung aku , bikin kesal deh" Anindya menunjukkan wajah cemberutnya kepada kedua orang tuanya. "Hahahaha, kamu ini lucu sekali , anak kecil mama sekarang udah besar ya , nggak nyangka mama" Bu Sara menggoda Anindya. "Hahaha , mama ini lihat tuh kan anak kita jadi cemberut , tapi kamu memang lucu kok , hahaha" Pak Erlangga pun mencubit hidung Anindya. "Iiihhh....... Kesal banget aku , moga-moga aku cepat menikah biar nggak di gangguin terus" Ucap Anindya. "Hahaha , emang kamu mau nikah sama siapa ? kamu kan masih kecil" Pak Erlangga mengejek Anindya. "Iya adalah... , banyak juga lagian yang mau sama aku" Jawab Anindya. "Pasti kamu mau menikah dengan Ryan lah, Siapa lagi coba? Tapi kapan dia melamar kamu? Apa jangan-jangan dia sudah ngelamar kamu ya?" Tanya Bu Sara. "Iya belum lah ma , kalau udah , aku pasti udah cerita sama mama , sama papa , ini kan belum" Jawab Anindya. "Ya kalau memang begitu ya nggak apa-apa , lagi pula kamu masih terlalu muda untuk menikah" Pak Erlangga memberi nasehat kepada Anindya. "Iya lagi pula anak kita yang masih kecil ini masih terlalu manja dan mama nggak mau kalau kamu nggak tinggal lagi sama mama dan Papa"Bu Sara sedikit merasa sedih tapi juga mengejek anaknya itu. "Mama.... Aku itu udah besar udah jadi sarjana lagi udah dapat kerja juga , masak di bilang masih kecil terus....." Anindya terlihat murung. "Iya-iya maaf ya , kamu memang udah besar , tapi di mata mama kamu tetap anak mama yang masih kecil dan belum tau apa-apa, Anak yang selalu bisanya hanya nangis dan selalu minta coklat dan suka berlari-lari ke sana kesini setiap harinya" Jawab Bu Sara sambil memegang pipi Anindya. "Mama, jangan kayak gitu aku jadi ikutan sedih ni" Anindya menghapus air mata Bu Sara. "Iya maaf ya sayang" Jawab Bu Sara. "Sudah-sudah jangan terus berbicara, ayo kita beristirahat, hari juga sudah larut malam" Pak Erlangga mengajak anak dan istrinya untuk masuk ke dalam rumah . Mereka pun masuk ke dalam rumah dan masuk ke kamar masing-masing untuk beristirahat. Dikamar Bu Sara dan Pak Erlangga. "Pa , papa ngerasa nggak sih?" Tanya Bu Sara kepada suaminya. "Ngerasa apa Ma?" Pak Erlangga bertanya balik kepada suaminya. "Aku ngerasa kalau rumah tangga Karin dan Darren itu seperti ada masalah" Jawab Bu Sara. "Masalah apa sih ma? Sudahlah ma aku sih yakin rumah tangga mereka dalam keadaan baik-baik saja" Jawab pak Erlangga. "Aku ngerasa mereka punya masalah rumah tangga karena mereka belum punya anak , papa pikir aja sendiri ,setiap Karina datang kesini dia nggak pernah lagi pergi bersama Darren , kalau dulu Darren masih sering nganterin Karina kalau datang ke rumah kita" Bu Sara merasa kalau rumah tangga Karina dalam keadaan yang tidak baik-baik saja. "Iya itu bisa jadi sih ma , tapi aku yakin kalau rumah tangga mereka pasti akan baik-baik saja" Jawab Pak Erlangga. "Pa, kalau sampai beneran mereka ada masalah , aku ngerasa bersalah sama Karina" Jawab Bu Sara. "Mama jangan bilang kayak gitu , mereka pasti baik-baik aja , kalau mama ngerasa bersalah, papa lebih merasa bersalah lagi Ma" Jawab Pak Erlangga. "Tapi Pa , papa kan tahu kalau pernikahan Darren dan Karina terjadi karena perjodohan yang dilakukan oleh keluarga kita dengan keluarga mereka" Bu Sara mengingat kejadian masa lalu dan merasa bersalah. "Iya Ma , papa tahu itu , papa juga bersalah , saat itu menyuruh Karina menikah , padahal dia baru saja lulus dari kuliah nya dan masih belum bekerja" Pak Erlangga pun ikut merasa bersalah. "Papa ingat kan , yang seharusnya menikah saat itu adalah Anindya dengan Darren , tapi karena Anindya saat itu masih SMA , mama sengaja menggantikan Anindya dengan Karina" Bu Sara berbicara dengan perasaan sedih. "Papa juga salah , andai saja waktu itu papa lebih memilih mengakhiri hubungan keluarga kita dengan keluarga Atmaja , mungkin Karina bisa menikah dengan pacarnya yang waktu itu" Jawab Pak Erlangga. "Kalau tentang pacarnya yang itu , mama sih lebih baik dia nikah sama Darren , kan papa tau sendiri pacarnya itu seperti apa" Jawab Bu Sara. "Iya papa tau , nama pacarnya kan Ammar kalau nggak salah , Ammar itu kerjaannya kan jadi musisi jalanan dan sering nyanyi di cafe-cafe" Jawab Pak Erlangga. "Tu kan, orang tuanya aja nggak jelas , Ammar itu masih punya orang tua atau enggak juga kita nggak tau , pokok nya mama nggak mau kalau keluarga kita keluarga Wijaya punya hubungan dengan keluarga yang nggak jelas asal-usulnya, untungnya pacar Anindya berasal dari keluarga terpandang jadinya sederajat sama kita" Pinta Bu Sara. "Tapi ma , biar bagaimanapun waktu itu Karina sangat mencintai Ammar , dan papa sangat merasa bersalah karena sudah memaksakan dia untuk menikah dengan Darren, papa harap Anindya benar-benar menikah dengan Ryan , lagi pula benar kata mama , mereka sederajat dengan kita" Jawab pak Erlangga. "Sudahlah Pa , lebih baik kita tidur saja sekarang , nggak usah dipikirkan tentang masa lalu" Pinta Bu Sara. Pak Erlangga dan Bu Sara pun tidur , sedangkan di kamar Anindya. "Tapi kata mama benar juga" Gumam Anindya dalam hati. "Kalau dipikir-pikir kasihan juga kak Karina yang belum punya anak, padahal sudah 5 tahun menikah" Gumam Anindya dalam hatinya. "Sudahlah , apa yang aku pikirkan sebaiknya aku doakan saja agar kak Karina segera punya anak dan semoga dia selalu bahagia" Anindya pun memilih untuk tidur saja. "Owh iya besok kan hari pertama aku kerja , sebaiknya aku sekarang tidur untuk menghadapi hari besok, agar semuanya bisa berjalan dengan baik" Anindya teringat jika besok dia akan bekerja dan itu adalah hari pertamanya bekerja. "Ya tuhan , aku mohon lancar kan lah kegiatan ku besok hari , dan berikan lah anak kepada kakak ku Karina dan berikan lah kebahagiaan dalam kehidupan rumah tangga kakak ku dan suaminya" Anindya berdoa sebelum tidur , dia berdoa untuk dirinya dan juga kakaknya. Kemudian, Anindya pun tertidur. Bersambung......

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Bukan Calon Kakak Ipar

read
146.6K
bc

Air Mata Maharani

read
1.4M
bc

Istri Simpanan CEO

read
214.5K
bc

Pengganti

read
304.1K
bc

Pengantin Pengganti

read
85.9K
bc

CEO and His Cinderella

read
56.7K
bc

Dia Suamiku

read
821.2K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook