"Karina." Panggil Darren.
"Iya mas." Karina berkata dengan lemah lembut.
"Apa sebaiknya kita mencoba bayi tabung saja ya ?." Tanya Darren , semenjak kejadian tadi malam Darren berpikir agar dia dan Karina bisa segera mendapatkan seorang anak.
"Aku rasa itu tidak perlu , aku janji nanti pasti akan ada seorang anak yang akan hadir di rumah tangga kita ." Karina tersenyum ke arah Darren.
"Semoga saja itu benar dan aku harap kau jangan terus menangis karena belum dapat keturunan , karena aku berjanji akan menjadi suami yang baik seperti yang kau harapkan ." Darren memegang tangan Karina dan dia berjanji kepada Karina.
"Tidak apa-apa mas aku tahu itu." Karina tersenyum ke arah Darren sambil berkata dengan lemah lembut.
"Aku harap rumah tangga kita akan baik-baik saja dan akan terus bertahan seperti yang ibuku harapkan." Darren memegang tangan Karina dan meyakinkan Karina untuk menjadi lebih baik kedepannya.
"Aku percaya itu , aku yakin kita pasti bisa melewati ini semua bersama , sekarang sebaiknya mas pergi saja bekerja karena mungkin mas bisa terlambat nanti." Pinta Karina.
"Baiklah aku pergi dulu ya , jaga dirimu baik-baik di rumah." Darren pun beranjak pergi dari meja makan dan pergi ke kantornya.
Sedangkan Karina yang masih duduk di meja makan , dia pun beranjak pergi ke kamarnya .
Sesampainya Karina di kamarnya , Karina tertawa kesenangan yang disertai dengan senyum licik.
"Hahahaha , aku berhasil melakukan rencana ku untuk mu suamiku sayang." Karina berkata sambil tersenyum licik.
"Oke sekrang rencana selanjutnya." Karina menjalankan rencananya dengan mengambil handphone untuk menelpon Diara.
"Halo." Sapa Diara dari telepon.
"Halo Diara , ini aku Karina , kamu lagi sibuk ya?." Tanya Karina.
"Halo Karina , iya nih aku lagi sibuk banget , tapi nggak apa-apa kalau sekedar ngangkat telepon dari kamu ." Jawab Diara.
"Aku kangen sama kamu kan udah lama juga kita nggak ketemuan." Karina berkata dengan nada yang lemah lembut.
"Aku juga kangen banget sama kamu , kapan nih kita ketemuan?." Tanya Diara.
"Nanti pasti aku bakal kabarin kamu kok." Jawab Karina.
"Oke Karina , aku tunggu ya nanti ." Jawab Diara.
"Kamu bisa nggak sih tolong aku?." Tanya Karina yang sebenarnya telah merencanakan sesuatu.
"Emang kamu mau minta tolong apa?." Tanya Diara yang sedikit heran karena Karina tidak pernah meminta tolong kepada nya.
"Ada deh , tapi kamu mau nggak nolongin aku?." Tanya Karina.
"Mau kok , aku pasti bakal nolongin kamu , kamu mau minta tolong apa emangnya ?." Tanya Karina.
"Aku mau kamu ajakin Anindya pergi ke cafe racer tepat pukul jam 8 malam dan itu harus kamu sama dia aja ya, jangan ajak orang lain." Pinta Karina.
"Terus kalau misalnya temannya dia yang namanya Clara mau ikut gimana dong?." Tanya Diara.
"Pokoknya kamu harus bisa bawak Anindya ke cafe itu sendiri dan kamu pasti bisa lah atasi Clara ." Pinta Karina.
"Oke deh nanti aku pasti ngelakuin itu." Jawab Diara.
"Oke aku tutup ya teleponnya , assalamualaikum." Karina menutup teleponnya.
"Walaikum salam." Diara juga menutup teleponnya.
"Aneh tumben banget Karina minta tolong sama aku , selama aku bersahabat sama dia , dia nggak pernah minta tolong sama aku , tapi masak minta tolong nya aneh gini sih , tapi ya udah lah aku lakuin aja." Diara merasa heran dengan kelakuan Karina , tapi dia tetap akan melakukan apa yang Karina minta.
Sedangkan disisi lain , Karina sedang merasa kesenangan dan dia pun melakukan rencananya yaitu menelpon Darren suaminya.
"Halo." Sapa Darren dari telepon.
"Halo mas ." Jawab Karina.
"Ada apa kamu nelpon aku?." Tanya Darren.
"Kamu sibuk nggak?." Tanya Karina.
"Sibuk kayak biasa , tapi masih ada waktu buat kamu ." Jawab Darren.
"Aku mau ngajakin kamu ketemuan di cafe , karena kan kita juga baru baik kan." Suara Karina dengan tulus dan lemah lembut.
"Bisa kok , mau di cafe mana ? Jam berapa?." Tanya Darren.
"Di cafe racer jam 7.30 malam ini ya mas." Pinta Karina.
"Oke , aku pasti datang kok." Jawab Darren.
"Makasih ya mas , aku matiin ya teleponnya dan kamu semangat ya kerjanya." Karina menutup teleponnya.
"Oke , assalamualaikum." Darren pun mematikan hp nya.
"Oke , rencana ku akan ku pastikan berjalan mulus , dan kau adikku sayang akan ku buat kau merasakan apa yang aku rasakan ." Karina tersenyum licik.
Sedangkan di rumah sakit ,saat itu tepat waktu istirahat , Anindya dan Clara pun pergi ke kantin rumah sakit yang disusul oleh Diara.
"Hay , aku boleh gabung nggak ?." Tanya Diara kepada Anindya dan Clara.
"Boleh kok kak , gabung aja." Jawab Clara.
Terjadilah sedikit perbincangan diantara mereka bertiga , kemudian Diara pun mulai melancarkan aksinya.
"Clara." Panggil Diara.
"Iya kak , ada yang bisa aku bantu?." Tanya Clara.
"Kakak boleh minta tolong sama kamu?." Tanya Diara.
"Boleh kok kak , mau minta tolong apa?." Tanya Clara.
"Tolong kamu ke ruangan pak Rangga dan ambil berkas disana , bilang aja berkasnya Kak Diara , dan kalau boleh kamu sendiri aja soalnya aku mau ngobrol sama Anindya." Pinta Diara.
"Baik kak , Kalau begitu aku pergi dulu ya Anindya, kak Diara ." Clara pun beranjak pergi dan berjalan ke ruang pak Rangga.
Setelah Clara pergi , Diara pun mengajak Anindya untuk pergi ke cafe yang Karina minta.
"Anindya." Panggil Diara.
"Iya kak , ada apa ya kak ? Dan kakak mau ngobrolin apa sama aku?." Tanya Anindya.
"Kamu sibuk nggak nanti malam?." Tanya Karina.
"Nggak kak dan kayaknya aku bakal di rumah aja nanti malam deh , emangnya kenapa?." Tanya Anindya.
"Jalan yuk ke cafe racer jam 8 malam ini , mau nggak?." Tanya Diara.
"Boleh Juga kak , tapi Clara nggak kakak ajak sekalian?." Tanya Anindya.
"Kemarin waktu Clara pertama kali kerja dirumah sakit ini aku udah ngajakin dia ke cafe itu dan sekarang gantian kamu pula , kamu mau kan?." Tanya Diara dengan tersenyum kepada Anindya.
"Owh gitu , aku mau kok kak." Jawab Anindya.
"Kalau begitu kamu langsung datang ke sana dan temuin aku di sana ya ." Jawab Clara.
"Oke kak Diara." Jawab Anindya.
"Kalau begitu aku balik dulu keruangan aku dan jangan lupa datang nanti malam." Diara pun beranjak pergi dari tempat itu dan berjalan ke ruangan nya.
"Oke kak, aku pasti datang kok , kakak nggak perlu khawatir." Jawab Anindiya.
Diara yang telah masuk ke ruangan nya , dia pun langsung menelpon Karina.
"Halo." Sapa Karina dari telepon.
"Halo Karina , aku mau ngasih tahu kamu nih." Jawab Diara.
"Tentang permintaan aku ke kamu kan , apa berhasil?." Tanya Karina.
"Kok kamu tahu sih kalau aku mau kasih tau kamu itu , ya udah de intinya aku mau bilang kalau permintaan yang kamu minta ke aku buat ngajakin Anindya ke cafe udah aku lakukan dan Anindya mau dan dia bilang dia pasti datang." Jawab Diara.
"Oke Diara , kamu memang yang terbaik ." Jawab Karina.
"Oke , kalau begitu aku matikan dulu ya teleponnya lagi pula aku banyak pasien juga di sini ."
"Oke Diara , makasih ya , assalamualaikum." Jawab Karina.
"Sama-sama , Walaikum salam." Karina pun menutup teleponnya.
Karina kemudian melihat pantulan dirinya dari cermin yang ada dikamar nya.
"Bagus Karina kamu memang yang terbaik dan tunjukkan lah kekuatan kamu seperti apa, jadilah Karina yang kuat dan jangan sampai kamu dipandang lemah lagi , dan sekarang Karina Nadila Wijaya akan menunjukkan kepada kalian semua bagaimana aku yang sebenarnya apa lagi untuk kamu adikku Anindya Shafira Wijaya." Karina memandang pantulan dirinya dari cermin dan tersenyum licik.
Sedangkan Clara yang berada di ruangan pak Rangga sedang meminta berkas yang Diara inginkan.
"Permisi pak." Sapa Clara.
"Iya , Ada apa ya ? ." Jawab Rangga.
"Pak saya mau ngambil berkasnya kak Diara." Pinta Clara.
"Owh , ini berkasnya Clara ." Pak Rangga memberikan berkas dan tiba-tiba memegang tangan Clara.
"Clara , sampai kapan kita terus saja begini." Ternyata Pak Rangga dan Clara memiliki hubungan spesial selama ini yang mereka rahasiakan kepada siapapun.
"Rangga , aku juga tidak mau kita seperti ini , tapi kau sendiri kan tak ada niat untuk menikahi aku ?." Clara menatap wajah Rangga dengan tatapan yang indah.
Secara tiba-tiba , Rangga mendarat kan bibirnya ke bibir Clara , Clara yang terkejut dengan Rangga yang secara tiba-tiba justru membuat Clara terbuai dengan apa yang Rangga lakukan dan terhanyut dalam ciuman panjang itu , Rangga kini semakin memperdalam ciumannya, ia pun menyesap habis bibir tersebut , dan membuat bibir itu sedikit membengkak.
Ciuman pun beralih dan turun kebagian leher , disesapnya dalam-dalam leher tersebut , dan Rangga meninggalkan bekas kemerahan disana.
Clara ikut terbuai dengan permainan yang Rangga mainkan ,birahi keduanya sama-sama memuncak , tanpa Clara sadari , tangan Rangga menyelinap masuk ke dalam pakaian dalamnya dan meremas gundukan kenyal yang ada di dalamnya .
Clara menikmati setiap sentuhan yang diberikan , tak lama setelah itu ,kini baju Clara telah tersingkap , dan gundukan kembar tersebut mulai terpampang jelas di mata Rangga, yang masih berbalut bra. Rangga yang melihat itu menelan Saliva nya , tak dapat menahan birahinya yang sudah memuncak tinggi , ia membenamkan wajahnya diantara gundukan kembar itu ,lalu perlahan saat Rangga membuka bra itu , tapi tiba-tiba.
Tok tok tok
Suara ketukan pintu
Rangga dan Clara pun langsung kelabakan dan Clara pun langsung memakai pakaiannya kembali dan keluar dari ruangan Rangga.
Sedangkan Rangga bersikap biasa saja dan menyuruh orang tersebut masuk , meskipun dalam hatinya dia sangat kesal karena gagal melakukan yang seharusnya dia lakukan.
Sedangkan Anindya yang telah kembali ke ruangan nya , Anindya sedang membaca surat cinta dari kekasihnya yaitu Ryan dengan tersenyum-senyum sendiri, lalu tiba-tiba suster Salsa masuk ke ruangan nya yang membuat nya sedikit terkejut dan juga malu , Anindya pun langsung menutup surat itu .
"Ada apa ya sus?." Tanya Anindya.
"Biasa dok , saya mau memberikan berkas pasien selanjutnya." Suster Salsa menyerahkan berkas pasien.
"Oke , persilahkan mereka masuk." Pinta Anindya.
Sedangkan Clara yang berada di ruangannya , dia pun tersenyum-senyum sendiri atas apa yang dia lakukan , lalu dia teringat jika ada pasien selanjutnya yang harus dia obati dan dia pun lantas melakukan pekerjaannya.
Karina yang berada dirumahnya tengah merasa kesenangan atas rencana yang dia lakukan , dan dia juga sudah mempersiapkan segalanya.
Malam harinya tepat pukul jam 7 ,saat itu Darren ternyata telah sampai di cafe racer dan menunggu kedatangan Karina.
Bersambung.......