"Kenapa sih , aku harus kayak gini?." Karina sedih melihat dirinya yang hanya sendirian berada di meja makan.
Tiba-tiba salah satu pembantu dirumah itu datang dan menghampiri Karina yang tengah bersedih.
"Nona, nona kenapa menangis?." Tanya pembantu itu.
"Aku tidak menangis kok , siapa bilang aku menangis." Karina menghapus air matanya dan menutupi wajahnya dari pembantunya.
"Benarkah begitu nona? Apa nona benar-benar tidak kenapa-kenapa?." Tanya pembantu itu lagi.
"Aku tidak kenapa-kenapa kok." Jawab Karina yang menghapus air matanya.
"Bik aku sudah selesai makan , tolong dibersihkan meja makan ini." Karina telah pun selesai makan.
"Baik nona." Jawab pembantu itu.
Karina pun pergi ke kamar nya dan meninggalkan pembantunya , setelah masuk ke kamarnya dan duduk diatas ranjang, Karina hanya terdiam dan melamun di dalam kamarnya.
"Ya tuhan , kenapa kau memberikan aku ujian seperti ini?." Karina menangis mengeluarkan air mata.
"Kenapa dari dulu aku harus mendapatkan ujian seperti ini?." Tambah Karina lagi yang masih mengeluarkan air mata.
Tak lama kemudian , pintu kamar Karina terbuka dan masuk seorang pria yang membuat Karina terkejut dan langsung menghapus air matanya.
"Kenapa kau belum tidur?." Tanya pria itu yang ternyata pria itu adalah Darren suami Karina.
"Aku hanya memikirkan keadaan rumah tangga kita." Jawab Karina.
"Rumah tangga kita?." Tanya Darren dengan datar.
"Iya Mas , selama ini aku capek bersikap seperti ini dan kau sama sekali tak mempedulikan aku." Jawab Karina yang sangat sedih
"Aku sudah cukup bersikap peduli untuk mu, asal kau tahu saja." Jawab Darren.
Perdebatan di rumah tangga mereka pun terjadi.
"Peduli apa? Kapan kau pernah memikirkan perasaan ku?." Tanya Karina.
"Perasaan apa ? Bukan kah aku sudah cukup sabar dengan mu." Jawab Darren.
"Sabar , sabar dari mananya ? Aku yang selama ini cukup bersikap sabar dengan mu mas." Jawab Karina.
"Dengarkan aku Karina , seharusnya kau itu bersyukur karena aku tak menceraikan mu." Jawab Darren.
"Maksud kamu apa? ." Tanya Karina.
"Kau pikir saja sendiri ." Jawab Darren.
Karina yang mendengar ucapan Darren , hanya bisa terdiam dan tak bisa berkata apa-apa.
"Capek aku kalau harus ribut dengan mu , aku mau bersih-bersih dulu." Darren pun meninggalkan Karina dan pergi ke kamar mandi.
Saat Darren pergi ke kamar mandi , Karina terjatuh lemas ke lantai dan hanya bisa menangis dengan perdebatan yang telah terjadi.
Hiks.....Hiks.......Hiks....
Suara tangisan Karina yang disertai dengan derasnya air mata yang keluar.
"Hati aku sakit , apa dan kenapa aku harus mendapatkan semua ini ?" Suara Batin Karina dan rasa sakit hati Karina memuncak.
"Aku tahu kenapa rumah tangga ku bisa berada di tameng kehancuran , tapi kenapa ini terjadi , apa salah aku?" Suara Batin Karina.
Karina terus saja menangis atas apa yang terjadi , dia merasa sudah tidak sanggup menjalani rumah tangganya , tapi dia juga sadar kalau dia tidak bisa mengakhiri hubungannya karena dia juga sudah terlanjur mencintai Darren.
Tak lama kemudian , Darren pun keluar dari kamar mandi.
"Kenapa kau belum tidur juga?." Tanya Darren kepada Karina.
"Aku tahu kalau aku belum bisa menjadi istri yang sempurna , tapi tidak bisakah kau membantu ku agar aku bisa menjadi istri yang sempurna." Pinta Karina kepada Darren dengan menyembunyikan perasaan hati yang hancur.
"Cukup Karina , aku sudah capek dengan terus mencoba dengan mu tapi hasilnya nihil dan gagal." Jawab Darren.
"Lalu bagaimana kita bisa punya momongan kalau kita saja sudah berhenti untuk mencoba?." Tanya Karina.
"Dengar Karina , intinya kau itu mandul dan sekeras apapun kita mencoba hal itu tidak akan berhasil dan tidak akan mendapatkan hasil apapun." Jawab Darren.
Hancur hati Karina mendengar ucapan itu dari suaminya sendiri , tapi dia tetap mencoba tegar dan berusaha menyembunyikan perasaan hatinya yang sakit di depan Darren.
"Lalu , apa yang kau inginkan ?." Tanya Karina.
"Entahlah aku pun tak tahu ." Jawab Darren.
"Apa benar kau ingin menceraikan ku?." Tanya Karina.
"Jika aku bisa melakukannya , aku pasti akan lakukan , tapi aku tidak bisa." Jawab Darren.
Karina yang mendengar ucapan Darren merasa sedikit senang , karena dia berpikir Darren tidak bisa melakukan itu karena mencintainya.
"Kenapa kau tidak bisa melakukan itu?." Tanya Karina.
"Karena aku sudah berjanji kepada Ibu ku yang telah meninggal." Jawab Darren.
"Berjanji apa?." Tanya Karina yang penasaran.
"Saat kita menikah , ibu ku meminta aku agar aku jangan mengakhiri hubungan rumah tangga ku , dan sebisa mungkin aku harus mempertahankannya dan tidak menceraikan mu." Jawab Darren dengan serius.
"Jadi , kau tak mencintai ku selama ini?." Tanya Karina.
"Aku Darren Hayes Atmadja tidak pernah mencintai kamu Karina Nadila Wijaya." Jawab Darren dengan tatapan yang serius.
Karina yang mendengar ucapan Darren merasa sangat sakit hati .
"Apa kau paham dengan ucapan ku? ." Tanya Darren.
"Aku paham kok mas , makasih sudah jujur kepada ku." Jika Darren tidak ada berada di depannya , Karina pasti akan menangis atas apa yang telah diucapkan oleh Darren , tapi Karina berusaha mencoba untuk menutupi rasa sakit hatinya.
"Bagus ." Jawab Darren.
Tiba-tiba Darren beranjak dari ranjang tempat tidur mereka untuk pergi keluar.
"Kamu mau pergi kemana mas ?." Tanya Karina yang melihat suaminya pergi.
"Aku mau pergi ke meja kerja ku." Jawab Darren sambil berjalan keluar dari kamar.
Setelah Darren pergi dan keluar dari kamar , Karina pun meneteskan air matanya dan merasakan sakit hati yang sangat dalam.
Hiks......... Hiks..........
Suara tangisan Karina dan derasnya air mata yang keluar
"Aku mandul? Hiks..... Hiks....." Karina tak menyangka suaminya sendiri adalah orang pertama yang melontarkan kata mandul ke dirinya , hatinya sangat sakit.
"Ya tuhan , kenapa...... Kenapa kau tak pernah adil dengan ku." Karina terus saja menangis.
Karina terus saja menangis tak berhenti , tapi kemudian , dia pun mulai berpikir dan berhenti menangis.
"Stop Karina, jangan menangis." Karina menghapus air matanya.
"Aku harus bisa mempertahankan rumah tangga ku, lagi pula aku belum di cap mandul oleh dokter , dokter hanya bilang kalau aku belum dikasih saja sama yang maha kuasa." Karina mulai kembali bangkit untuk mempertahankan rumah tangga nya.
Flashback off
Siang hari , sebelum makan malam.
Karina saat itu sedang duduk di rumahnya sambil melihat pemandangan kebun bunga yang berada di belakang rumahnya.
"Pemandangan yang indah." Puji Karina sambil melihat pemandangan yang indah itu.
Tiba-tiba Karina berpikir kenapa dia belum di berikan seorang anak.
"Kenapa ya? Aku belum juga di karuniai seorang anak." Karina bertanya pada diri nya sendiri.
"Apa benar aku ini mandul?." Karina terus saja berpikir tentang dirinya.
Setelah lama berpikir , Karina pun mendapatkan solusi untuk dirinya.
"Sebaiknya sekarang aku pergi ke dokter saja untuk mengetahui apakah aku benar-benar tidak bisa memiliki seorang anak." Karina berpikir untuk pergi ke dokter untuk mengetahui kenyataan.
Karina pun beranjak dari tempatnya berada sekarang untuk pergi ke rumah sakit.
Sesampainya Karina di rumah sakit ,dia pun langsung bertemu dengan dokter disana .
Setelah bertemu dengan dokter , Karina merasa sangat senang , dia pun berjalan keluar dari rumah sakit dan masuk ke dalam mobilnya.
Saat di dalam mobil.
"Hari ini kenapa nona sangat bahagia?." Tanya supir Karina yang melihat Karina tersenyum dan bahagia yang tidak seperti biasanya.
"Saya sangat bahagia pak ." Jawab Karina sambil memancarkan senyuman kebahagiaan dari wajahnya.
"Baguslah kalau menang non Karina bahagia." Supir Karina tersenyum dan merasa senang melihat Karina bahagia.
"Sudahlah pak ayo jalan." Pinta Karina.
"Baik nona ." Jawab Supir itu.
Supir Karina pun menancapkan gas mobil dan mereka pun pergi dari rumah sakit itu.
"Aku senang banget , ternyata dokter bilang aku nggak mandul dan rahim ku sehat , tapi memang belum diberikan sama yang maha kuasa aja." Gumam Karina dalam hati.
Flashback On
"Aku rasa , kami juga sudah lama tidak berhubungan suami-istri , mungkin karena itu aku belum bisa hamil." Karina pun mengganti pakaiannya dengan baju tidur wanita saat bulan madu yang berwarna merah menggoda.
"Aku cantik dan seksi." Puji Karina pada dirinya sendiri sambil menatap wajahnya di cermin.
Setelah itu , Karina juga menghias kamarnya dengan Darren , dia memberikan aroma wangi yang bila menciumnya akan membuat seseorang b*******h , dia juga mematikan lampu kamar dan menggantinya dengan lilin . Setelah itu , Karina pun duduk di atas ranjang , menunggu kedatangan Darren.
Tak lama kemudian Darren masuk ke kamar untuk tidur, Saat masuk Darren terkejut melihat penampilan Karina yang terlalu panas serta kamar mereka yang telah dihias.
"Kenapa kau seperti ini?." Tanya Darren kepada Karina sambil merasa terkejut dan heran atas apa yang dilakukan Karina.
"Aku sedang berusaha." Karina berjalan ke arah Darren sambil berada bidang suaminya.
"Jangan coba-coba, berhentilah Karina." Darren membentak Karina.
Karina yang mendengar bentakan Darren , tidak mempedulikan hal itu , dia terus saja meraba suaminya dan berharap suaminya mau melakukan nya lagi dengan nya.
"Karina , kau itu tak bisa punya anak." Darren berkata ke Karina karena tidak tahan dengan godaan yang Karina berikan.
"Setidaknya kita berusaha bukan? ". Tanya Karina kepada Darren
Darren hanya terdiam seperti patung atas ucapan dan kelakuan yang Karina berikan kepadanya.
"kalau begitu sentuh lah aku." Pinta Karina yang menggoda Darren
Karina mulai menyentuh kulit Darren dan mulai memeluk Darren, kemudian bibir Karina pun menyentuh bibir Darren dengan lihai.
Darren terus saja menolak godaan yang Karina berikan , tapi Karina terus saja menggoda , Karina pun dengan berani menyentuh bagian bawah Darren .
Dan pada akhirnya ,Darren yang awalnya tidak mau dan berusaha keras menolak godaan yang Karina berikan , justru dia terbawa nafsu atas godaan yang Karina berikan , Darren pun melucuti pakaian Karina dan pakaiannya juga yang membuat mereka berdua tampil polos dengan tubuh yang terekspos tanpa menggunakan sedikit pun benang.
Darren kemudian membaringkan tubuh Karina ke atas ranjang , dan memulai adegan percintaan suami-istri dengan durasi yang cukup lama dan Karina justru sangat menikmati atas apa yang mereka lakukan dan sangat merasa senang.
Karina pun mulai mengeluarkan desahan demi desahan yang membuat jiwa Darren semakin bangkit dan bersemangat , sampai pada titik puncak dimana Darren melemah dan menjatuhkan dirinya ke sebelah Karina , kemudian mereka berdua pun tertidur dengan keadaan berpelukan.
Keesokan paginya , Karina terbangun dari tidurnya dan melihat ke arah samping nya , yang ternyata Darren tidak berada di samping nya , Darren telah pun pergi bekerja ke kantornya , setelah melihat keberadaan Darren yang tidak ada , Karina justru tersenyum dan senyumannya itu terpancar dari wajahnya karena bahagia atas kejadian-kejadian yang terjadi tadi malam.
Bersambung.......