Aku mengangkat tangan. Ingin sekali kuusap wajahnya dan mengecup keningnya. Tapi kami bukanlah mahrom, aku tak bisa melakukannya. Berduaan di ruangan ini pun tak mungkin. Meski Mustafidz masih memejamkan mata, aku tetap tak mau di ruangan ini hanya berdua dengannya. Maka dari itu, pintu terbuka lebar. Husna dan pak kiai serta beberapa santri dalem, berjaga di depan pintu. Aku mengembuskan napas. Kata dokter, Mustafidz hanya kelelahan. Tapi mengapa dia tak kunjung bangun. Pemeriksaan juga telah dilakukan, hanya saja tak ada yang aneh. Dokter hanya menyarankan untuk terus mengajaknya bicara agar bisa bangun. “Mas …,” panggilku. Aku mengikuti apa kata dokter. Dan sebenarnya inilah alasanku dipanggil ke sini. Kata dokter, Mustafidz perlu motifasi. Tubuhnya memang tidak mengalami keanehan, ta

