“Maaf, apakah benar jenengan Mba Balqis?” seorang wanita berhijab datang ke menemuiku. Dia memakai baju lengan panjang dengan sarung. Tangannya saling tumpang tindih. Dia menunduk, sama sekali tak mau mengangkat wajahnya. Meski lirih, tapi nada bicarnya penuh dengan ketegaran. “Iya benar,” jawabku singkat. Aku selesai salat asar di sebuah masjid. Sengaja memang. Hari ini aku yakin baik Vika maupun Widya tengah sibuk. Tidak pernah ada kata sendiri dalam kamus hari Minggu mereka. Tadi Vika hanya mengantarkanku ke tempat ini serta yakin Husna akan datang, dia pun pergi. Jadilah aku berjalan sendiri setelah salat sembari menunggu magrib plus mencari menu bebuka puasa. Hari ini memang menjelang akhir bulan. Dan besok aku akan mudik. “Boleh bicara sebentar?” tanyanya sopan. Aku mengangguk. Se

