Malam kian kelam. Angin bertiup agak pelan. Lantunan ayat Al-Qur’an yang membahana pun sudah tak terdengar lagi bergantikan dengan suara deru mesin kendaraan. Aku hanya bisa menghela napas sembari merebahkan badan. Pikiranku sedikit kacau memikirkan bagaimana kelanjutan cerita ini. Aku yakin ada beberapa temanku yang bingung dengan alurnya. Namun jangan salahkan mereka, aku saja bingung menjalani jalan ceritaku sendiri. “Ya Allah …,” desahku. Aku masih ingat, benar-benar ingat. Sewaktu aku kecil, semarah apa pun, sekecewa apa pun, bahkan ketika aku pergi kemana pun, aku pasti pulang ke rumah. Aku tak pernah menyangka kalau rumah itu bisa di mana saja asal ada kasih tulus dari orang-orang. Aku lebih tak menyangka lagi kalau rumah itu bisa berupa orang. Orang itu Mustafidz sekarang. Dia

