CERITA PAK RAHMAN

1655 Kata

Aku menepuk dahi. Hadeh. Apa yang aku khawatirkan terjadi. Dua manusia di depanku ini jika bertemu pasti hawa-hawanya langsung bermusuhan. Lihat saja mata mereka, penuh dengan kesinisan. Sorot teduh Mustafidz yang sedari tadi hinggap di matanya, kini hilang sudah. Sagara juga. Mata birunya yang sedari tadi aku perhatikan, pun kini berubah menjadi sorot mata biru yang sarat akan badai. Dua orang yang umurnya sudah tiga puluhan seketika langsung berubah menjadi anak-anak. Heran deh. "Gus Mustafidz yang baik hati serta budiman, saya bukannya menawari minuman yang sudah saya minum ya. Tapi biasanya kan kalau kita lagi makan, menawari yang ada di tangan. Baru nanti diambilkan!" jawab Sagara dengan nada yang tak enak didengar. Aku makin mengusap d**a. Ada-ada saja ini. Kenapa pula Sagara mela

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN