APA BENAR?

1578 Kata
Aku dan Sagara duduk di taman. Kami menghadap ke panti, melihat anak-anak berkerumun per kelompok, mengaji dan menyimak Al-Qur’an. Indah benar melihatnya. Aku jadi ingat masa kanak-kanak dulu yang berebut menyetor hafalan lebih dulu agar bisa cepat-cepat bermain dengan yang lain. Ah … masa anak-anak memang indah. Tak ada yang perlu dipikirkan selain mengerjakan PR dari sekolah. “Sering kamu ke sini?” tanyaku. “Hampir setiap bulan sekali aku ke sini. Tapi yang jelas kalau aku ke sini setiap ulang tahunku,” jawabnya sembari memakan nasi yang sudah dipuluknya. Aku hampir saja tersedak. Jadi Sagara ulang tahun? Aduh kok malu banget. Mana tidak bawa hadiah lagi. Lebih-lebih ke sininya juga malah dikasih. “Kok kamu nggak bilang kalau lagi ulang tahun?” tanyaku. Aku tidak mau dong dijadikan kambing hitam seperti ini. Bukan salahku juga tidak bawa hadiah. “Soalnya aku mau kejutan dari kamu,” jawabnya renyah. Aku pun menaikkan dahi. “Kejutan? Kejutan bagaiman? Aku kan nggak tahu kamu ulang tahun. Otomatis aku juga tidak bawa hadiah dong Mas Sagara yang terhormat. Aku sama sekali tak menyiapkan ….” “Kehadiranmu,” potong Sagara tiba-tiba. “Hah?” tanyaku gagal paham. Sagara menarik napas. Dia lantas memandangku. “Apa kamu ingat pesanku beberapa waktu lalu yang menyuruhmu untuk tidak membalasnya?” Aku mengangguk. Tentu aku ingat pesan aneh itu. Di mana-mana kalau ada pesan permintaan, tentu si pengirim ingin ada balasan. Lah ini tidak. Sagara tersenyum lagi. Dan ya ampun, ganteng banget. Remang lampu dari panti membuat wajah tegasnya itu lebih terpatri kian jelas. Matanya itu loh, sorotnya kian sempurna. Untungnya aku pandai mengontrol mimik wajah, kalau tidak, Sagara pasti sudah kegeeran lebih dulu. “Dan kehadiranmu malam ini adalah hadiah sekaligus kejutan terindah untukku Balqis,” lirih Sagara. Dia sempat termenung menatapku, begitu pun aku. Tapi tak berselang begitu lama, kami saling beristighfar dan menoleh ke arah lain. Aku tersentuh. Sumpah. Baru kali ini aku menemukan sosok manusia yang tidak menginginkan apa pun di hari ulang tahunnya. Dia murni hanya ingin berbagi di hari kelahirannya. Anak-anak panti juga tak menyiapkan apa pun. Ibu dan pengurus panti juga terlihat biasa saja. Padahal aku yakin kalau mereka tuh tahu kalau Sagara hari ini ulang tahun. “Mas …,” panggilku. “Hmm?” Sagara yang masih melanjutkan makan pun menoleh. “Selamat ulang tahun, ya. Semoga apa yang kamu inginkan di tahun ini segera terwujud.” Sagara tertawa renyah. “Kamu unik, ya, Qis. Kenapa mendoakan impianku di tahun ini saja?” “Agar kamu tidak lupa denganku dan senantiasa meminta doa di setiap tahunnya.” Aku tertawa dalam hati. Sengaja aku melempar sedikit kata-kata manis kepada Sagara. Sumpah aku penasaran dengan calon yang dikatakan Manda. Sagara tersenyum. “Kalau aku meminta doamu di setiap kamu habis sholat boleh?” timpal Sagara. Aku menaikkan alis. Ini orang satu susah ditebak jalan pikirannya deh. Tapi santai saja, aku tak akan terjebak. Aku harus mengungkap apa yang dia tengah sembunyikan. “Boleh saja. Tapi dengan satu syarat.” “Apa syaratnya?” “Beri tahu apa pertanyaanmu tempo hari. Kan kamu menang bertahan di laut di kala subuh hari dulu.” “Oh kalau begitu, mending tak usah.” Aku melongo. Hei! Kamu tinggal tanya satu pertanyaan dan harus aku jawab. Itu hanya pertanyaan lho. Kok jadi seperti permintaan. Apa pentingnya sih pertanyaan itu bagimu, wahai Sagara. Sumpah aku jadi geregetan sendiri deh di sampingnya. Tiba-tiba aku jadi ingin punya skill detektif agar bisa menguak semua rahasianya. Sagara lanjut makan. Dia sudah berada di suapan terakhirnya. Setelahnya, dia bangkit, mencuci tangan lalu kembali lagi ke bangku di sampingku. Dia mengucap basmalah lalu meneguk air minumnya. “Boleh aku tanya satu aja?” pintaku. Bisa gila malam ini aku kalau rasa penasaranku tak kunjung terjawab juga. Belum lagi besok aku harus bertemu dengan sang mantan. Lebih baik aku menuntaskan hubungan dengan Sagara malam ini. Maksudnya kalau benar-benar nyata, ya aku bilang ke Mustafidz kalau sudah punya penggantinya. Tapi kalau belum, mending sudahi saja dan mencari pria lain. Mas-mas yang suka bersin itu misal, siapa namanya, oh ya, Cakra. Sagara menurunkan gelasnya. Dia biarkan air menuruni kerongkongannya terlebih dahulu sebelum menjawab pertanyaanku tadi. “Boleh.” “Aku mau tanya …,” sergahku secepatnya. “Hanya satu saja dan dengan satu syarat!” potongnya. Aku melempar pandangan ketus. “Aduh kalau jadi tunanganmu, keknya harus banyak-banyak minum air putih, deh. Menguji kesabaran banget. Masa tanya kayak minta duit. Harus ada syaratnya segala.” Sagara tertawa. “Kamu tuh kalau marah sama ketika bahagia, sama ya?” “Hah? Sama bagaimana?” “Sama-sama lucu.” “Iih apaan sih.” Sekali lagi dia mau menghindari permintaanku. Fix aku akan pergi dari sini. Lagipula ini juga sudah malam. Besok harus kerja pula. Aku tak mau kalau besok sampai kelelehan. Karena apa? Karena besok hari Jum’at dan sabtunya aku akan pulang ke rumah. “Syaratnya nggak susah, kok,” pancing Sagara. Dan bodohnya aku terkena pancingannya. “Apa syaratnya?” “Pulangnya harus aku antar.” Aku nyaris tersedak saat dia mengutarakan syaratnya. Syarat macam apa itu. Tentu aku ingin ditemani oleh seseorang untuk pulang. Meski bulan ini, bulan Ramadhan, tapi tak menutup kemungkinan kejahatan masih mengintai. Lagipula aku juga pertama kalinya ke daerah ini. Takut saja kalau tersesat. “Seriusan itu syaratnya?” tanyaku tak percaya. “Yap. Satu syarat itu saja.” Aku tertawa kembali. “Ok.” Sagara benar-benar unik. Aku jadi tambah curiga kalau dia itu pemodus yang handal. Awas saja kalau dia sampai macam-macam, aku pemegang sabuk kuning perguruan pencak silat lho. Sekali dia macam-macam denganku, aku tak akan membiarkannya selamat. Ah … tapi Sagara saja menjaga sholatnya. Dan aku yakin orang yang menjaga sholatnya itu orang baik. Malam kian larut. Kami pun pamit dari panti. Anak-anak sempat berkumpul dan mengucapkan selamat ulang tahun pada Sagara. Satu per satu dari mereka berpelukan. Aku tertawa ketika anak-anak kecil berebut antrian dan beradu untuk memeluk lebih dulu. Sagara dengan kedua tangannya menyuruh mereka untuk memeluk dirinya secara bersamaan. Alhasil Sagara pun jatuh dan ditubruk oleh semua anak yang tersisa. Pengurus panti pun secepatnya melerai mereka. Melihat yang kayak begini nih, sumpah buat hati adem banget. Sagara sama sekali tidak marah. Dia tertawa bersama dengan anak-anak yang menubruknya. Tidak ada satu pun dari mereka yang berkelahi lagi. “Yuk,” ajaknya ketika bisa berdiri. Aku tersenyum. Betah banget melihatnya yang riang seperti ini. Masya Allah … keindahan di bulan Ramadhan ternyata banyak bentuknya. Termasuk …. “Pak Sagara!” panggil seorang anak perempuan kecil. Sagara menoleh. Dia jongkok, membuat anak itu mendekat dan tak usah mendongak. “Ya?” katanya. “Tadi di sekolah, Caca buat gelang disuruh sama ibu guru. Katanya nanti kalau pulang boleh dikasih sama orang yang Caca sayang. Mau nggak Pak Sagara nerima gelang buatan Caca?” kata si anak perempuan kecil dengan polos. Matanya juga dipenuhi dengan harapan. Sagara menarik bibirnya. Dia tersenyum. “Tentu boleh sayang. Tapi Caca yang masangin ya!” Anak kecil itu mengangguk singkat. Dia pun membuka pengait di gelang yang ia buat, lalu memakaikannya di lengan Sagara yang sudah terjulur. Demi melihatnya, satu tetes air mataku mengalir. Sudah satu tahun rasanya aku tidak terharu seperti ini. “Terima kasih, Caca,” ujar Sagara lalu memeluk dan mengecup dahi si anak kecil. Ouh … asli ini heart touching banget. Aku sampai merinding melihat scene ini dalam hidupku. Aku kira adegan seperti ini hanya bualan film, ternyata ada kenyataannya. Mana mungkin sih Sagara tidak punya calon kalau dia sebaik ini? Ah mustahil lah. Sagara kembali berdiri seusai Caca pergi. Dia menoleh ke arahku. “Butuh tisu? Mau aku ambilkan?” Aku pun membuang pandang. “Apaan, sih. Nggak perlu,” kataku sembari menyeka air mata dan mulai melangkah pergi. Sagara masih saja memandangi gelangnya. Tampaknya dia suka sekali dengan gelang yang baru dia dapat, meskipun gelang itu sedikit feminim. “Baru sekali ya, pakai gelang?” tanyaku. Sagara mengangguk. “Biasanya aku pakai jam tangan. Aku bersyukur jam tangan itu hilang jadi Caca bisa mengikat gelang ini di sini.” “Lalu kamu nggak mau pakai jam tangan lagi?” Sagara tertawa. “Ndak usah membelikan aku, Nona Balqis.” Aku bergidik. Asem pikiranku ketebak. Tapi aku tentu tak mau dong kalau sampai ketangkap basah gini. Aku harus mengalihkan pembicaraan dan jual mahal. “Jangan kegeeran Mas Sagara. Siapa juga yang mau beliin kamu jam tangan. Mending buat makan aja besok,” elakku. Sagara membuka mulutnya. Dia lalu memandang ke bawah. “Iya tidak usah. Karena uang meski penting, tapi uang tak terlalu berharga. Berjalan denganmu seperti saja gratis,” seringainya. “Ok, besok aku mau pasang tarif. Satu langkah denganku dua ribu,” tanggapku. Sagara merogoh sakunya. “Ini sepuluh ribu!” Aku menerimanya. Dan kami berdua bertatapan lalu tertawa. Aku tak menyangka ada orang yang sanggup menanggapi recehnya diriku. Angin malam berhembus di antara kami. Setelah pembicaraan dan canda tawa tadi, keheningan membalut kami. Aku pun memandang lengangnya jalan. Jam sudah menunjukan pukul sebelas malam. Sayup-sayup tadarus Al-Qur’an masih terdengar di beberapa penjuru. Indahnya malam Ramadhan. Tak ada malam yang dipenuhi dengan suara tadarus seperti ini di bulan-bulan selain bulan Ramdhan. Sagara menghela napas. “Jadi kamu mau tanya tentang apa?” tanyanya kemudian. Aku turut menghirup napas. Agak sedikit aneh sebenarnya. Tapi mau bagaimana lagi. Aku tak mau pacaran. Dan harusnya aku juga punya pengganti Mustafidz secepatnya agar dia segera menikah dengan tunangannya. Jadi aku harus bertanya malam ini juga. “Apa benar kamu sudah dijodohkan, Mas?” tanyaku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN