“Itu dari aku,” sambut Sagara sembari menambilkan senyumnya yang sungguh memesona. Merinding aku dibuatnya. Tapi tetap saja.
“Ini apa maksudnya, Mas Sagara?” gregetku sendiri. Enak saja ada orang asal foto lalu diedit dan difilter. Mirip sekali dengan aku tapi lima puluh tahun ke depan.
“Coba buka satunya!” ujar Sagara.
Aku memiringkan dahi. Ada satunya? Bukankah ini cuma satu halaman foto? Ringan gini kok ada dua halaman.
Sagara lagi-lagi tersenyum. Dia membalik foto yang sudah ada di tanganku lalu membukanya lebar-lebar.
“Ini aku,” sambungnya.
Aku tercengang dan sedikit menahan tawa. Lucu juga Sagara dalam mode tua seperti ini. Di antara matanya yang sudah tak lagi imbang, keriput di dahi, dan pipinya yang tak lagi kencang, mata birunya tetap menyala.
“Gar!” teriak seseorang dari kejauhan. Sagara segera menimpali dengan melambaikan tangannya.
“Aku duluan, ya, Qis!” pamitnya.
Belum juga aku bertanya tentang maksud dua foto ini, lelaki itu sudah berlari menuju temannya yang menunggu di ujung sana. Kenapa pula tidak temannya saja yang menghampiri ke sini? Aku kan jadi bisa tanya kalau begitu. Apa mungkin mereka sengaja tak menghampiriku biar aku bertanya-tanya gitu.
“Dasar Mas Sagara si sok misterius,” tawaku sendiri.
Aku pun menyimpan dua foto itu ke dalam tas. Untung saja aku selalu membawa tas gendong. Meski tidak anggun, tapi simpel kalau terjadi apa-apa. Siapa tahu akan ada rezeki nomplok datang. Kan bisa aku bawa pakai tas gendong tanpa merasa malu sama sekali.
Aku terus memandangi foto Sagara sesampainya di indekos. Baru kali ini ada foto lelaki lain di kamar ini selain fotonya Mas Mustafidz dan ayahku di kamar indekosku ini. Yah … biarlah. Aku juga ingin tahu kelanjutan kisahku dan dia. Lagipula aku tak mau terus-terusan merepotkan Vika untuk mencarikan pengganti Mustafidz.
Aku mengambil Qur’an dan membacanya. Jadwal malam ramadhan seperti ini tak mau aku sia-siakan. Jika biasanya sepulang kerja aku skrol youtube untuk memancing kantuk, sekarang aku mau membaca Al-Qur’an sampai kantuk itu tiba.
Namun bukannya mengantuk, aku malah teringat akan Mustafidz. Dulu di taman, di saat kami tengah memandangi langit, di kala senja hari, dia membacakan Surat Ar-Rahman, sebuah surat cinta dari Allah kepada hamba-Nya.
“Kamu tahu kenapa Surat Ar-Rahman disebut-sebut sebagai pengantin Al-Qur’an?” tanyanya waktu itu.
Aku menggeleng. Selain karena tidak tahu, aku juga ingin mendengar penjelasnnya yang teramat indah.
“Karena surat ini begitu indah dan begitu sempurna. Ar-Rahman, Yang Maha Penyayang. Allah berbicara tentang sifat-sifat-Nya yang begitu indah, sifat-sifat yang memberi tahu kita bahwa Allah senantiasa ada untuk kita. Maka sering kali ada lafadz fa biayyi ala irobbikuma tukadziban – maka nikmat mana lagi yang kamu dustakan?.” Mustafidz tersenyum. Dan di saat itu angin berembus amat pelan dan sangat sejuk, menambah keindahan senyum Mustafidz.
“Aku tidak akan mendustakan nikmat-Nya. Karena Allah telah menciptakanmu yang insya Allah untukku,” lanjutnya yang langsung membuatku tersipu.
Cukup. Balqis cukup. Kamu sudah memilih untuk menutup kisahmu dengannya. Jadi janganlah lagi mengingat kisahnya lagi. Jangan siksa dirimu lagi! batinku bergemuruh seketika.
Benar. Itu hanya secuil masa lalu yang indah. Dan aku yakin akan banyak masa-masa indah selain dengan Mustafidz. Aku hanya tinggal menguburnya sedalam mungkin dan menjadikannya pupuk untuk kisah-kisah indahku di masa depan.
“Ya Allah … tolong bantu hamba!” desisku.
Aku pun mengecup mushaf Al-Qur’an, menaruhnya di atas rak buku lalu bersiap untuk tidur. Jam sudah menunjukan pukul dua belas malam. Aku tak mau terlambat bekerja. Terlebih besok adalah hari kamis, hari yang paling riweh karena biasanya akan banyak pekerjaan. Apalagi besok juga harus mulai persiapan untuk mempresentasikan hasil temuanku ke si bos. Ya semoga saja Mas Mustafidz tak bicara macam-macam kepada Pak Rahman. Aku tak mau kalau sampai dia protes lagi masalah restoran yang digunakan untuk buka bersama.
Aku pun mengembuskan napas. Aku buka gawai terlebih dahulu, memastikan semua chat telah dibalas. Namun mataku yang sudah mulai mengantuk, seketika membelalak kala melihat sebuah chat dari Sagara.
MAS SAGARA
Maaf ya tadi main ninggalin gitu saja. Besok bisa datang ke Panti Al-Hikmah?
Send a location
Tidak usah di balas. Balaslah dengan kehadiranmu di sana pada jam buka puasa. Tapi kalau semisal lelah, jangan memaksakan diri. Semoga Allah menjagamu ketika tidur dan mengizinkan kita untuk bertemu lagi.
Aku tersenyum. Apaan sih ini manusia satu. Lucu juga di mengirim pesan seperti ini. Sok misterius juga. Ya lihat saja bagaimana jadwalnya besok. Dia sendiri yang bilang kalau tidak usah membalas pesannya dan tidak usah memaksakan diri. Lagipula kami juga masih sebatas kenalan. Aku juga tidak berharap lebih padanya yang katanya sudah memiliki calon tunangan. Yap, lihat saja besok, apakah aku sibuk atau tidak.
Aku berdoa sebelum tidur lantas berkata “Selamat malam diriku, aku cinta padamu selalu dan terima kasih telah berjuang hari ini.” Kemudian aku mengecup telapak tanganku sendiri dan menempelkannya di dahi. Semoga malam ini Mas Mustafidz bisa tidur dengan nyenyak tanpa memikirkan lagi diriku. Kisah kami sudah benar-benar usai.
***
“Terima kasih, Balqis, Tika. Ini sekiranya sudah cukup. Kalian tinggal urus sisanya. Oh ya, kamu juga undang anak-anak panti, ya! Sekalian kalian juga umumkan ke karyawan kalau mau memberikan santunan,” ujar si bos setelah mendengar penjelasanku dan Tika.
Aku dan Tika mengangguk. Kami pun pamit dan pergi mengurus sisanya. Alhamdulillah banget si bos tidak komplain macam-macam. Untungnya tadi aku menjelaskan secara rinci semua hal mengenai keinginan kantor mulai dari buget, akomodasi, tempat, menu, dan segala hal mengenai restoran sesuai dengan rapat dahulu. Aku juga menjelaskan mengenai kriteria yang diinginakan oleh Mas Mustafidz, sehingga Pak Rahman sama sekali tak aku berikan celah untuk tidak setuju. Dan melihat si bos hanya mengangguk-angguk saja, sepertinya Mas Mustafidz tak bilang apa pun. Dia juga semenjak pergi waktu itu, sama sekali tak mengirimiku pesan. Yah … tak apa lah. Harusnya aku tak berpikiran macam-macam dan bersyukur dia sudah mengambil jarak.
“Gimana nih, Qis? Kamu ada gambaran mau mengundang panti mana? Kupikir dengan buget yang segini, kita tidak bisa mengundang banyak,” kata Tika setelah kami duduk di kubikel masing-masing.
“Itu biar aku yang urus. Dua puluh anak kan, ya? Bisa lah. Kamu yang urus uang santunan dari temen-temen,” ujarku.
Tika mengangguk. Ia lalu berlalu. Sedang aku pun menuju ke desainer. Aku ingin mengajukan sebuah pamflet santunan dan buka bersama. Hal ini penting karena nantinya ini akan menjadi image tahunan yang akan disorot masyarakat. Kan tugas dari humas adalah membuat perusahaan terlihat menarik di mata masyarakat sehingga produk kami bisa laris manis.
Lama aku berdiskusi dengan tim desain sampai tahu-tahu waktu pulang pun tiba setelah aku menyelesaikan beberapa laporanku di kubikel. Jam sudah menunjukan pukul empat sore. Aku pun sudah persiapan untuk pulang. Karena jadwal soreku yang biasanya mencari tempat buka dengan Mas Mustafidz sudah selesai, aku kini bebas.
Aku melihat gawai lagi. Dia tidak mengabari aku apa pun. Sesak juga ya ditinggal sepi seperti ini. Lebih baik aku hapus saja pesannya daripada terus-terusan kutatap namanya ketika aku membuka WA dan terus-terusan melihat namanya.
Ketika selesai menghapus pesan Mustafidz, aku melihat nama Sagara di atasnya. Benar juga. Aku harus ke sana sekarang. Aku pun menekan lokasi yang dia share semalam. Dengan aku ke sana, aku bisa sekalian mengajak Sagara untuk mengirim beberapa anak panti. Tapi kira-kira kenapa-kenapa tidak ya? Kalau Sagara ketemu lagi sama Mas Mustafidz kayaknya ribut lagi deh. Ah tidak apa-apa lah, lumayan buat tontonan nanti.
Setelah drama mencari ojek online, akhirnya aku pun sampai. Perlu perjuangan yang cukup menguras kesabaran karena macetnya naudzubillah. Bayangkan aku baru sampai di panti menjelang waktu isya. Nasib untung ada bu panti yang cekatan dan langsung meminjamiku mukena. Jadi aku tidak ketinggalan sholat.
Sagara menyambutku dengan senyumannya tatkala aku melipat mukena dan berjalan keluar.
"Yuk makan!" ajaknya.
"Lah kamu belum makan?" tanyaku.
Dia tersenyum sembari menggeleng. "Belum. Kamu tahu sendiri kalau aku …."
"Selalu buka setelah sholat magrib dulu," sambungku.
Dia pun menarik ujung bibirnya, membentuk sebuah lekukan senyum yang begitu indah. Aku pun segera menundukkan pandangan. Senyumnya itu dipadu dengan sorot mata birunya, aduh imut banget. Ingin nyubit pipinya tapi belum halal.
Astaghfirullah …. Balqis!
Aku pun segera mengusir pikiran yang tidak-tidak dari otakku.
Aku mendongakkan kepala. Namun Sagara masih saja memasang ekspresi yang sama. Aduh kalau begini terus, ingin rasanya aku menipuk wajahnya agar tak memasang pose imut seperti itu.
Untung saja sebelum aku melakukan tindakan bodoh itu, sebuah suara anak kecil adzan menghentikkan pose imut Sagara. Dia pun menengok ke sumber suara lalu kembali menoleh ke arahku.
“Eh, kamu makan dulu ndak papa. Aku harus persiapan buat mengimami traweh mereka,” ujar Sagara.
Aku menggeleng. “Tadi pas mendengar adzan maghrib di jalan, aku sudah berbuka dengan roti. Biar aku temani kamu makan nanti,” balasku.
Sagara lagi-lagi tersenyum. Kali ini mulutnya sedikit terbuka, menunjukan gigi-gigi rapinya yang indah. Dia mengangguk lalu mengucapkan terima kasih. Dan entah kenapa ketika kata itu menyentuh gendang telingaku, tubuhku terasa bergetar. Belum pernah sebelumnya ada orang yang berterima kasih seindah ini.
Aku pun menata mukena kembali. Ingin kukembalikan ke ibu panti tapi dia justru memaksaku untuk memakainya saja. Ibu panti sedang halangan. Jadi aku pun menurut dan bersiap menunggu sholat isya sekaligus traweh dimulai. Tapi ya namanya anak-anak, mereka berebut wudu bahkan juga saling dorong. Ada juga yang malah perang sarung.
Melihat Sagara di tengah-tengah mereka, membuat aku sedikit tertawa. Lihat saja dia. Ketika dia hendak memisahkan anak yang sedang perang sarung itu, salah satu sarung yang telah diikat dan dikepalkan itu justru mengenai kepalanya. Merasa bersalah, anak-anak itu segera meminta maaf dan membantu Sagara yang jatuh. Jarang sekali melihat seorang pemuda yang bisa begitu dekat dengan anak-anak.
“Nak Balqis, calon istrinya Sagara, ya?” celetuk ibu panti yang ikut duduk di sampingku. Meski dia tidak sholat, tetap saja ibu panti kebagian mengawasi para anak-anak bandel yang nanti bisa bermain ketika sholat.
Aku tertawa kecil. “Bukan, Bu. Kami hanya teman. Lagian pemuda setampan itu, masa belum punya pacar. Kami saja baru kenalan sekitar seminggu yang lalu.”
“Tapi seumur-umur, Ibu belum pernah lihat Sagara berduaan dengan wanita. Lebih-lebih mengajak dia ke sini.”
Aku hendak bertanya lebih lanjut. Namun suara iqamah menahanku. Ibu panti juga buru-buru pergi, mengecek kamar mandi. Katanya takut kalau ada anak yang bersembunyi di sana. Alhasil aku harus bertanya-tanya. Asem banget kan, kalau begini sholatku bisa tak khusyuk.
Masa sih Sagara belum pernah berduaan dengan wanita sekali pun. Lalu kata Manda beberapa waktu lalu kalau Sagara sudah dijodohkan bagaimana? Masa iya sih dia lari dari perjodohan dan calonnya tidak peduli. Aduh giliran mau pergi dari Mustafidz saja, malah ketemu sama pemuda yang banyak misterinya.