“Bisa kita bertemu?”
Sebuah chat dari Mustafidz masuk. Aku mendengus malas. Ini pesannya yang kedua puluh yang aku langsung hapus tanpa membalasnya. Perkataan Widya benar. Malam itu acara makannya berantakan. Aku sama sekali tak nafsu makan, bahkan tak bicara sampai kedua orang tua Mustafidz undur diri. Tak hanya itu, aku juga menolak untuk diantar pulang.
“Lebih baik jenengan langsung pulang dengan mereka, Gus. Ndak baik udara malem buat orang tua jenengan,” ujarku lemas. Aku mendekati ibu Mustafidz lalu mengecup punggung tangannya. Dan segera sebelum Mustafidz berkata, aku menghadang taksi dan masuk begitu saja.
Aku tidak tahu apa yang terjadi setelah itu. Tapi dengan jelas ujung mataku melihat raut kecewa yang amat kentara di wajah Mustafidz. Wajah itu, wajah yang selalu penuh akan sinar ketentraman, kini redup.
Aku mengirim pesan ke Vika untuk segera bertemu di kafe Widya. Aku pun turut mengirim pesan ke Widya agar bersedia menerimaku sebagai tamunya. Aku sebenarnya malu mengakuinya nanti, tapi daripada menjadi gila di rumah, lebih baik aku curhat kepada kedua temanku itu.
Meski aku sekantor dengan Vika tak mungkin aku menceritakannya di sana. Satu akan banyak kuping dan mata yang mencuri informasi. Dua aku tidak mau ada drama di kantor. Kalau aku jadi penontonnya sih tak masalah, tapi jangan sampai aku yang malah menjadi lakonnya. Terlebih Vika sedang ada keperluan di luar kantor sehingga kubikelnya kosong.
Jam sudah menujukan pukul empat sore. Segera kumatikan komputer dan menata semua barang-barang. Aku masuk lift dan turun ke lobi.
“Hachim,” sebuah suara bersin mengagetkanku. Orang itu pun segera mengucap hamdalah. Hening sejenak. Tiada yang hendak menjawab doa bersin itu.
“Yar hamukallah …,” sahutku. Biar pun aku memang tidak hafal satu juz Al-Qur’an pun, aku tak akan melupakan ajaran guru ngajiku waktu kecil.
“Yah dikumullohu wayash liku balakum,” jawabnya.
Aku menengok ke arah suara. Seorang pria tinggi dan tegap melambai ke arahku. Bukannya aku membalas lambaiannya, aku malah buru-buru menunduk. Eh bentar kok aku kayak dejavu, ya? Atau mungkin? Tapi sangat jarang orang yang menjawab doa bersin itu kembali.
Beberapa orang keluar. Tampaknya ada yang masih memiliki kerjaan sehingga tak langsung pulang. Dan karena aku bekerja di lantai dua belas, maka perjalanan lift ini sungguh tak asyik jika tidak ditemani musik. Sialnya aku tak membawa headset.
Beberapa orang keluar lagi. Tinggallah kami berdua. Dua individu yang tak kenal plus tidak pernah saling melihat kecuali tebakanku benar kalau pria ini adalah pria yang sama dengan di masjid dahulu.
“Boleh kenalan?” tanyanya lirih. Kendati demikian, ia tak mengulurkan tangan.
Aku menoleh. “Balqis,” ujarku seraya menangkupkan tangan.
“Saya Cakra,” sambungnya tepat saat pintu lift di lantai yang kutuju terbuka.
“Duluan, ya, Mas. Sampai jumpa.” Aku tak ingin berlama-lama dengan orang asing terutama saat hatiku tengah tidak baik-baik saja.
Aku pun segera menghadang taksi dan masuk begitu taksi berhenti. Namun tak kusangka ada seorang laki-laki yang masuk sesaat setelah aku duduk rapi di taksi.
“Antarkan kami ke Kota Tua, Pak!”
Aku seketika membelalak. Mustafidz kini duduk tepat di sebelahku. Napasnya memburu.
“Ke Kota Tua, Neng?” tanya sopir memastikan.
Aku mengangguk lemah. Tak ada daya untuk menolak.
Mustafidz pun ikut diam. Dia kini menatapku. Dapat k****a dari raut wajahnya, dia memiliki banyak pertanyaan. Kendati demikian, ia justru diam, sedang aku lurus menatap jalanan.
Jalanan kota terasa lambat. Gawaiku berdering dan tak kujawab. Pasti kedua temanku itu sudah sampai. Hanya saja aku malah terjebak dengan orang yang justru hendak aku keluh kesahkan kepada mereka.
Lagi-lagi senja menerobos masuk menembus jendela. Ingatanku berputar tentang pertemuan pertama kami dahulu. Wajahnya yang cerah, tersiram sinar senja yang amat memukau. Sayangnya kini aku ragu untuk menatapnya. Dari orang tuanya saja, aku pun tahu kalau pernyataan Widya itu tak asal ceplos. Kenapa sih kenyataan selalu saja pahit.
Dengan sedikit drama kemacetan serta ugal-ugalannya taksi, kami pun sampai di Kota Tua. Untung saja tadi taksinya sedikit kalem, kalau tidak bisa saja aku bertubrukan dengan Mustafidz.
Aku keluar dahulu tanpa memedulikan Mustafidz ikut atau tidak. Malah sebenarnya aku berharap kalau dia pergi saja.
“Balqis! Aduh kenapa kamu meninggalkan aku, sih.”
“Gus … kita ….”
“Aku nggak bawa uang cash Balqis.”
Aku melotot. Aku yang tadinya hendak menangis pun kini melongo. Aku kira dia hendak membicarakan hubungan kita, tapi ternyata.
“Maaf banget ya. Uangmu mana?”
Aku merogoh tas, mengambil dompet dan lalu memberi uang lima puluh ribuan kepada supir taksi. Setelah menerima kembalian, aku kembali berjalan. Perasaan malu, sedih, dan kesal berpadu menjadi satu. Kenapa pula disaat seperti ini dia malah memintaku untuk membayar taksi.
“Qis! Balqis!” teriak Mustafidz sembari berlari mengejarku.
“Apa? Mau beli jajan juga? Ini uangnya!” jawabku sembari memberikan uang kembalian dari taksi tadi.
“Nggak, bukan itu. Ikut aku, yuk!” ajaknya dengan menunjuk ke depan menggunakan dagunya.
“Ha?”
Tanpa persetujuanku, Mustafidz sudah berlari-lari kecil menuju sebuah tempat. Fix, dia memang unik. Dia yang kini hanya mengenakan celana panjang, berkaus pendek dan tidak berpeci, seenaknya saja memutuskan. Tapi sialnya aku juga tak bisa memaksa tubuhku untuk tidak mengikutinya.
Dia berhenti. Tepat di sebelah pagar sungai. Aku dapat menebak, andai Jembatan Kota Intan itu dibuka, pasti dia akan berhenti di sana. Semilir angin mengantarkan parfum Mustafidz ke hidungku kembali. Melihatnya memakai pakain kasual seperti ini membuat diriku merinding. Dia terlihat jauh lebih sedikit memukau daripada saat berpakaian muslim. Namun jujur aku lebih suka saat dia memakai sarung ala-ala santri.
Dia menghela napas. Mentari sudah ditelan gedung pencakar langit. Hawa dingin mulai merayap. Angin pun kian kencang. Mereka memainkan ujung jilbabku.
“Maafkan orang tuaku, ya, Qis!”
Akhirnya dia memulai percakapan yang sudah aku duga ini.
“Mereka nggak salah, kok. Memang pada dasarnya saja kita nggak sekufu. Kita nggak sebanding, Mas.”
Iya, Mas, bukan Gus. Panggilan yang ia minta kala kami keluar dari rumah nenek. Dia tak ingin mendapat gelar kehormatan apa pun ketika sedang berbicara denganku. Dan menurutnya panggilan mas lebih enak didengar. Dia bilang kalau panggilan itu terdengar seperti panggilan sayang. Awalnya mulutku sedikit tremor kala mengucapkannya, geli gitu. Tapi lama-lama malah jadi kebiasaan.
“Mereka mengajukan pertanyaan yang ….”
“Nggak.” Aku langsung menepis anggapan Mustafidz. “Sangat wajar orang tua memastikan kualitas orang yang akan mendampingi anaknya.”
“Tapi, Qis ….”
Diam. Mustafidz seperti bingung hendak berkata apa. Aku pun membuang muka. Mataku mulai terasa panas.
“Kamu nggak nyerah dengan hubungan kita, kan?”
Aku menarik napas. Kupandang langit. Awan mendung yang sedari tadi siang hanya terlihat di kaki langit, kini mulai menyebar ke seluruh bagian cakrawala.
“Jujur aku bingung. Orang tuamu tidak salah, tapi apakah kamu tak menyadari kalau mereka tak merestui hubungan kita?"
Mustafidz menghela napas. Dari gestur tubuhnya, aku mengetahui kalau jawaban itu pasti iya. Apakah mungkin mereka berdebat di jalan?
“Jadi kamu tidak mencintaiku?”
“Aku cinta, Mas. Aku ingin kita menikah, tapi ….”
“Sudah cukup. Itu alasan yang ingin kudengar. Aku ingin kita berjuang lagi, Qis. Aku ingin menunjukan kalau bukan hanya standar santri yang bisa mendampingiku kelak.”
Aku menatapnya. Wajahnya kini berseri kembali. Garis senyum yang selalu kurindukan itu akhirnya tampil kembali. Hatiku berdesir menatapnya.
“Yuk, makan! Kali ini aku yang traktir, tapi kita ke atm dulu,” ajaknya kembali.
Kali ini aku mengikutinya tanpa beban. Bibirku sedikit tersenyum. Senang rasanya ada orang seserius ini dalam hidupku. Vika saja yang deket sama Mas Habib belum kunjung nikah.
Aku menantinya yang tengah menarik uang di atm. Punggungnya yang kekar terlihat dari luar jendela. Kembali kualihkan pandangan ke langit yang telah sempurna hitam. Tirai malam sudah menyelimuti langit. Bintang tidak ada satu pun yang kelihatan. Wajar saja. Polusi kota ini sudah cukup untuk menghilangkan mereka, bahkan sangat bisa untuk menuakan kita sebelum waktunya. Namun apa pun itu aku akan selalu senang karena ada laki-laki seperti Mustafidz yang akan menjagaku selalu.
“Mau makan apa?” tanyanya setelah selesai menarik beberapa lembar uang.
“Itu uang bukan dari hasil ngutang, kan?” Ya siapa tahu dia selfie dengan KTP-nya lalu dapat transferan uang.
“Tentu bukan lah. Aku berjanji kepada diriku sendiri tak akan membiarkan uang hutang masuk ke perut orang yang aku cintai.”
Aku terkesima. Statmentnya sudah cukup untuk memberitahuku kalau dia tidak punya hutang.
“Mau makan yang hangat-hangat aja. Soto betawi yuk!”
Dia mengangguk.
Kami berjalan kembali. Sengaja aku memilih makanan yang jauh tempatnya agar bisa berduaan bersamanya. Sejak deklarasinya tentang taaruf itu, kami tak pernah sekali pun jalan berduaan seperti ini. Dia memilih untuk langsung bertemu di tempat tertentu. Dia tak menjemputku pun aku tak perlu repot-repot menunggunya. Dia selalu saja tepat waktu, namun dia tak pernah terlihat terburu-buru. Kentara sekali kalau dia itu meluangkan waktu agar kita dapat saling mengenal, bukan sekadar mengisi waktu luangnya. Bahkan gawainya pun ia singkirkan. Pikirannya, tatapannya, dan segala perhatiannya ditunjukan kepadaku. Sudah seperti itu, bagaimana aku tidak jatuh cinta kepadanya? Tidak mungkin. Apalagi aku memang sangat suka mendengarkan dakwahnya yang selalu membuat hati tentram.
“Mas, kalau boleh tahu, kenapa jenengan milih aku? Kenapa ndak anak-anak kiai yang sebanding dengan jenengan. Aku ini bodoh, lho,” tanyaku sembari menunduk.
Mustafidz menghentikan langkahnya. “Kehidupan itu ibarat menjelajahi lautan. Kadang ketemu ombak, kadang ketemu ikan hiu, dan kadang juga ketemu pemandangan indah. Tapi yang tidak pernah berubah dari menjelajah adalah pelabuhan itu sendiri. Dan hanya kepadamu aku ingin berlabuh.”
“Hmm … hmm … so sweet sih. Tapi Mas Mustafidz yang terhormat yang kabur dari singgasananya demi menemui hamba sahaya ini, gombalan itu tidak menjawab pertanyaanku.”
Mustafidz tertawa kecil, “Emang susah ya membuat baper wanita karir.”
“Nggak juga. Kamu berdiri di sampingku pun sudah membuatku baper. Lagian seperti yang sudah kita bicarakan, kan, aku mau meninggalkan karirku ini setelah kita punya anak. Memang susah dan pastinya sedih. Tapi aku setuju denganmu kalau Al-Fatihah harus kita yang megajarkan pertama kali kepada anak, agar pahalanya selalu mengalir ke kita. Al-Fatihah adalah satu-satunya yang selalu diulang-ulang sepanjang hidup.”
Mustafidz kini menatapku lekat-lekat. Begitu aku menyadari matanya sedikit berair, ia mengalihkan muka dan menyeka matanya.
“Kayaknya hatimu terlalu halus sampai gampang banget terharu deh, Mas.”
Mustafidz kali ini tertawa. Ia menghirup napas cepat dari hidungnya. Tangannya pun masih saja mengusap matanya.
“Aku … aduh … aku ….” Ia masih tak bisa mengontrol nada suaranya. Mustafidz menatap langit dan kembali menghirup napas dalam-dalam. “Aku mencintaimu, Balqis. Kita satu pemikiran dan kita juga berjalan di jalan yang sama. Aku ingin menggapai ridho-Nya dengan menikah bareng kamu.”
Kali ini aku yang terharu. Aku mengamini ucapan Mustafidz dengan segenap hati.
“Perlu tisu?” aku mengambil sapu tangan dan menyodorkannya ke Mustafidz.
“Kalau kamu saja yang menyeka air mataku gimana? Lalu kamu hapus kesedihannya dengan kecupan di dahi.”
“Eits, nunggu halal dulu!”
Kami pun tertawa.
Dan itu adalah tawa terakhir kami sebelum bencana besar terjadi kembali. Bencana yang membuatku benar-benar yakin untuk meninggalkan Mustafidz bersama orang tua dan pesantren yang kelak dia pimpin.
***
Aku mengusap air mata yang menetes. Kami baru masuk mall. Mungkin dengan berbelanja, bisa menghilangkan memori masa lalu yang memuakkan itu. Ingat! Aku dan Mustafidz hanya masa lalu. Tidak lebih dan tidak kurang.
“Mba Balqis, ya?” tanya seorang anak kecil.
Aku sedikit membungkuk, “Iya,” jawabku halus.
“Ini ada titipan,” katanya seraya menyerahkan sebuah buku yang amat tipis tapi lebar.
Aku pun menerimanya. Ketika aku buka, kulihat fotoku yang telah diedit dan difilter ke umur enam puluhan.
“Apaan itu, Qis?” Tika tiba-tiba mendekat. Ketika dia melihat fotoku itu, dia pun tertawa terpingkal-pingkal. “Kamu udah mirip banget sama nenekku, Qis? Boleh nggak aku panggil nenek?” Tika masih saja tertawa.
Kurang ajar sekali orang yang ngirim ini? Siapa yang berani-beraninya mengedit fotoku seperti ini!