APAKAH AKU SIAP?

1989 Kata
Aku tak tahu mengapa, tapi hari ini akhirnya kami menemukan tempat yang sesuai dengan buget kantor dan pas juga dengan keinginan Mustafidz. Beruntung kan aku? Sudah tidak perlu lagi bertemu mantan. Tadinya aku sempat gemas saat Mustafidz menyangkal semua informasi dari owner restoran. “Toiletnya luas, Pak?” tanya Mustafidz. Aku melirik sinis. Bahkan serasa gemas ingin mencekiknya. Tadi kan sudah dijelaskan kalau toiletnya ada sepuluh. Beda gender lagi. Jadi total dua puluh toilet. Apa itu kurang banyak Gus Mustafidz? Sayangnya kata-kataku itu hanya terhenti dalam hati. Tidak mungkin banget kalau aku nyangkal perkataan si gus satu ini di depan pak sopir dan Tika. Bisa-bisa mereka ember ke si bos. Urat di dahi si owner terlihat. Sepertinya kesabarannya mulai menipis bagai tisu. “Luas, Gus. Dijamin tidak akan mengantre. Kalau mengantre pun, pelanggan bisa mampir ke masjid di sebelah.” Makan tuh, Gus! Nggak terima banget perasaan kita mendapatkan restoran yang cocok hanya dalam dua hari. Mau lama-lama bermesraan denganku atau gimana? raungku dalam hati. “Kalau mukena ada berapa?” tanya Mustafidz lagi. Aku tercengang. Ini orang mau makan di sini nanti atau mau jadi pengkritik restoran sih? Kenapa pula tanyanya sampai ke mukena segala. Tidak sekalian tanya soal sarung, kopiah, sajadah. “Kalau sarung, kopiah, sajadah, ada?” Aku pun melotot ke arahnya. Emosiku mulai tidak kekontrol. Ini orang kok ada-ada aja, sih. Sebelum keadaan bertambah buruk, aku harus menghentikkan tindakannya. Ya masa seorang gus mau dinilai buruk oleh masyarakat? Yang benar saja! “Pak, sepertinya pelayan Bapak, sedang menunggu di sana!” aku menunjuk seorang pelayan yang sedari berdiri hendak mendekat dengan ragu-ragu. Owner restoran pun menengok. Dia mohon diri. Aku pun segera mengisyaratkan agar Tika pergi bersama pak sopir. Kemana gitu. Pokoknya aku ingin berduaan dengan Mustafidz. Berduaan untuk memarahinya tentu saja, bukan untuk bermesraan dengannya. Mustafidz itu juga manusia yang pasti bisa berbuat salah. Tika untungnya segera menangkap maksud kepalaku yang berulang kali menengok ke kiri. Dia segera mengajak si sopir untuk mencari makanan, mumpung sepertinya pembicaraanku dengan Mustafidz akan lama. Lagipula waktu sudah sore. Pasti banyak penjual takjil yang tersebar di sepanjang jalan. “Sebenarnya apa maumu, sih, Mas?” aku sudah kehilangan kesabaran. Aku pikir beberapa hari yang lalu, Mustafidz sudah bisa melupakanku. Kupikir dia sudah move on dan menerima takdirnya untuk menikah dengan wanita lain. “Aku hanya memastikan kalau tidak akan ada karyawan perusahaanmu yang bolos sholat hanya dikarenakan musala atau apa pun itu kurang,” jawab Mustafidz dingin. “Apa hanya itu?” tanyaku singkat. Pandanganku menusuk. Aku sama sekali tak gentar dalam menatap Mustafidz kini. Aku kecewa padanya. Tapi lebih kecewa lagi pada diriku yang membuatnya bisa seperti ini. Mustafidz diam. Dia sepertinya menyadari kesalahannya. "Kamu tidak bisa terus seperti, Mas. Kamu harus menerima takdirmu," kataku walau agak pahit. Mustafidz mengembuskan napas. Secara bersamaan, kudengar juga dia mendesahkan lafadz istighfar. Mustafidz bukan tipe orang yang akan terus-menerus mengakui dirinya benar. Dia adalah tipe yang akan sadar setelah dirinya melangkah sedikit jauh. Tapi kali ini mungkin dirinya terlalu emosi. "Aku pulang dulu. Ada hal yang harus … aku urus." Mustafidz tadi berdeham sebelum menuntaskan kalimatnya. Dia pun bangkit dan meninggalkanku begitu saja. Mataku mengikuti setiap langkah patahnya. Dia masih menunduk. Sepertinya dia masih menekuri kesalahannya di mana. Begitu dia bertemu dengan owner restoran tadi, dia menyalami dan bahkan mencium tangannya. Mustafidz meminta maaf. Aku pun mengembuskan napas. Lagi-lagi aku terkesan dengan tindak tunduknya. Meski kadang dia bersikap kekanak-kanakan di depanku, tapi sikap aslinya sangat terpuji. Tak lama, sebuah mobil datang menjemput Mustafidz. Orang yang pernah dan masih kucintai itu masuk. Sebelumnya dia menatapku lalu mengangguk, memberikan salam. Aku pun mengangguk balik. Rupanya benar dugaanku. Dia tidak dapat menerima kalau kebersamaan kami dalam mencari tempat berbuka, selesai sampai di sini. Selang beberapa saat, owner restoran pun datang. Aku segera menandatangani kontrak persetujuan untuk buka bersama kantor dan memberikan uang muka sesuai persetujuan. Setelah semua beres, barulah Tika dan pak supir kembali. "Loh Gus Mustafidz mana?" tanya pak supir. "Sudah duluan. Dan kita juga sudah dapat kontrak serta tempat yang akan ditempati," kataku bersemangat sembari mengangkat kontrak. "Yey!" sorak Tika kegirangan. Ia terlihat seperti orang yang baru saja memenangkan sebuah undian. "Dan sekarang masih jam empat lebih seperempat. Lebih dari cukup buat jalan-jalan dulu." Aku tersenyum. Tika langsung lirik-lirik ke pak supir. Dia pun merajuk, meminta untuk diantarkan ke mall. Pak supir setuju-setuju saja. Katanya dia juga mau membelikan istrinya sebuah hadiah. Sepanjang perjalanan, aku memikirkan Mustafidz. Dia kini pasti tersiksa karena hati dan logikanya tak selaras. Dia seperti ingin memaksakan kehendaknya agar paling tidak bisa berlama-lama mencari tempat buka puasa sebagai media pendekatan dengan diriku. Tapi di samping sisi, dia terlihat kaget sendiri dengan sikap yang ditunjukkannya tadi. Ya Allah tolong bukakan pintu hatinya agar dapat menerima tunangannya itu. Aamiin …. doaku dalam hati. Andai dulu aku terlahirkan sekufu dengannya. Andai dia bukan gus. Andai kami sama-sama orang biasa yang jatuh cinta, pasti …. Astaghfirullah …. Haram hukumnya bagi seorang muslim untuk berandai-andai. Itu sama saja tidak menerima takdir Allah. Yang pasti aku bersyukur dengan keadaanku sekarang. Aku tidak boleh menyesali takdir yang sudah terjadi di antara kami karena itu pilihanku, termasuk pilihan saat aku mengiyakan ajakan Mustafidz untuk bertaaruf. *** Beberapa bulan lalu, setelah Mustafidz datang ke rumahku. Aku dan Mustafidz saling mengirim CV. Dari sana aku dapat melihat jenjang pendidikannya yang sangat mengagumkan. Dia tak hanya mengambil pendidikan formal tapi informal pun ia jalani. Dari tahun-tahunnya, aku dapat menebak tiada jenjang yang ia lewatkan tanpa mondok, kecuali saat dia menjalani sekolah dasar. “Owh imut banget!” ujarku saat melihat album foto masa kecil Mustafidz. Kini aku paham, ia setampan sekarang karena waktu kecilnya juga sangat menggemaskan. Satu yang tidak berubah yakni hidungnya. Bagian tubuh itu tetap mancung bahkan mempertegas bagaimana Allah menyempurnakan wajahnya. Aku tak tahu bagaimana ekspresinya ketika melihat CV serta foto-foto yang kukirimkan. Tapi yang pasti hatiku hangat kala melihat keseriusannya dalam hubungan ini. Benar. Memang kami baru dekat sebentar, hanya saja aku yakin kalau dia calon suami yang tepat. Maka, aku juga serius dalam menjalani prosesi ta’aruf ini. Ta’aruf bukan sekadar berkenalan, melainkan berkenalan untuk tujuan pernikahan. “Seriusan kamu mau nikah sama Mas Mustafidz?” cecar Widya kala mendengar rumor yang entah bagaimana bisa sampai di telinganya. Dia datang malam ini tanpa undangan dan tanpa suruhan. Bahkan kafenya ia tinggal begitu saja demi mendatangiku malam ini. Awalnya dia telepon lalu setelah aku iyakan, dia menutupnya begitu saja dan tiba di sini. Aneh. Bahkan Vika pun tak tahu atau mungkin tak peduli dengan kabar ini. “Ya serius. Akhirnya doa-doaku selama ini akan terwujud. Aku akan mempunyai suami yang bisa membimbingku ke surga,” ujarku semangat. Aku masih bingung hendak memakai baju apa. Ini baru pertama kalinya aku diajak makan bersama dengan keluarganya. Makannya sih di restoran, katanya kalau di rumah dia banyak orang yang bertamu nantinya. Takutnya makan jadi tidak enak karena berulang kali terjeda. Aku sih tidak terlalu paham, tapi aku iyakan saja. Lagian aku tinggal datang dan selesai. “Serius?” Widya masih mengejarku dengan pertanyaannya. “Serius, Widya. Lagian kamu kenapa, sih? Apa tampangku kelihatan meragukan? Atau jangan-jangan make upku salah, ya? Terlalu menor? Terlalu norak?” “Tidak, Qis! Kamu cantik, kok.” “Lalu?” “Mungkin ini bukan saat yang tepat untuk mengatakannya. Tapi aku pernah dengan dengan Mustafidz dan aku memilih mundur.” “Ha?” “Aku sadar kalau aku beda, Qis. Mereka beda dari kita. Mereka menjaga benar anaknya menikah dengan siapa.” Widya memulai ceritanya. “Bukannya setiap orang tua pasti berbuat seperti itu, ya?” tanggapku enteng. Entah mengapa aku mulai sangsi dengan Widya. Apa mungkin Widya bertujuan untuk memisahkanku dengan Mustafidz? “Mereka itu seperti kerajaan yang bergerak di bidang agama.” “Alaaah Pangeran William aja nikah sama Kate Middleton yang notabene rakyat biasa. Masa keluarga ulama nggak bisa begitu. Ini bukan politik, loh, Wid, ini agama. Islam tidak pernah mengajarkan kasta.” “Bukan itu maksudku. Mereka pasti menerima dengan lapang d**a anaknya menikah dengan siapa. Pertanyaanku, kamu siap nggak nikah dengan dia?” Aku sempat berpikir sejenak untuk menjawab pertanyaan Widya itu. Namun selang beberapa saat aku pun menjawab dengan kepercayaan diri yang tinggi, “Siap kok siap. Mas Mustafidz saja siap, masa aku nggak. Udah ah aku mau berangkat.” Aku pun mengibaskan tangan ke Widya sesaat sebelum aku masuk ke mobil Mustafidz yang sudah ada di depan rumah. Orang tuaku dengan bangga mengantarkan sampai ke mobil. Senyum mereka merekah sempurna. Mereka bangga dan senang aku mendapatkan cinta seorang gus. Bahkan sering kali aku dengar kalau ibu dan bapak sering mengabarkan pada tamunya jika aku sebentar lagi menikah dengan Mustafidz. Aku tentu saja mengamininya. Ketika di mobil, jantungku mulai berdegup tak keruan. Entah mengapa perkataan Widya tadi malah menghantuiku sekarang. “Kamu tidak apa-apa di belakang sendirian?” Mustafidz menengok ke belakang. Ia menebarkan senyum manisnya. Aku mengangguk samar. Pikiranku masih terganggu dengan pernyataan Widya tadi. Apakah benar apa yang diucapkannya tentang hidup bersama Mustafidz sampai-sampai dia memendam perasaan itu hingga sekarang? Dia berkata kedekatannya dengan lelaki yang akan menjadi calon suamiku ini hanya sekadar teman. Tidak lebih dari itu karena Widya selalu menjaga jarak dengan Mustafidz. “Sebentar lagi kita sampai,” sambung Mustafidz yang lagi-lagi aku jawab dengan sekadar anggukan. “Qis …,” panggilnya lembut. Ternyata ia masih saja menoleh ke arahku. Aku mengangkat kepala, menatap ke dalam matanya yang tulus. Dia masih tersenyum. Bibirnya yang tipis merekah begitu indah. “Orang tuaku nggak gigit, kok. Jadi tenang saja, ya! Baca basmallah dan istighfar, kita di jalan menuju kebenaran. Jangan biarkan setan menyubit imanmu, biar aku saja yang menyubit pipimu kelak.” Aku tak bisa menggambarkan bagaimana raut wajahku saat ini. Namun sangat jelas dapat kurasakan hati ini sangat hangat. Pipiku memerah karena pompaan jantung yang kencang. Aku sama sekali tak dapat mengalihkan mata dari wajahnya yang terkena pantulan sinar lampu kendaraan. Matanya berbinar, hitam dan indah. Cahaya yang temaram benar-benar memperlihatkan putih wajahnya yang bening. Bismillah … Ya Allah tolong jodohkan dia denganku! Aamiin. Kami pun sampai. Tempat makan yang dipilih untuk pertemuan keluarga Mustafidz itu tempat makan pada umumnya. Menyerupai kafe malah. Kafe ini pun menawarkan nuansa sembilan puluhan. Dengan bohlam lampu merah, piring besi bermotif bunga, cangkir besi berlorek putih hijau, serta delman yang ditaruh di tengah-tengah ruangan. Kami pun menghampiri sepasang laki-laki dan perempuan paruh baya yang duduk di sebelah tembok. Demi mengentalkan nuansa sembilan puluhan yang ada, tembok itu pun bukan tembok batu bata melainkan tembok dari anyaman bambu. Aku menyalami ibunya Mustafidz. Beliau memakai baju kebaya muslim dengan kerudung panjang senada. Tampak beliau juga tak mengenakan rok melainkan sarung. Sedangkan sang ayah tak jauh berbeda. Dengan baju koko sederhana, berpeci, dan bersarung, beliau menangkupkan kedua tangannya untuk menyalamiku. “Silakan duduk, Ndu!” sambut bu nyai ramah. “Perkenalkan saya Balqis, Om, Tante,” salamku sembari menganggukkan kepala. Di luar dugaan, ekspresi kedua orang tua Mustafidz tidak seperti yang aku bayangkan. Ekspresi mereka datar tanpa senyum. Oh mungkin aku saja yang kurang bisa melihat senyum mereka yang unik. Anaknya saja unik. “Hmm … pernah mondok di mana, Nak Balqis?” tanya si ibu. “Ha?” “Oh Balqis belum pernah mondok, Mi. Tapi dia lulusan luar negeri, loh,” sambung Mustafidz tiba-tiba. Aku menelan ludah. Dapat kurasakan ada sesuatu yang tidak beres. Kenapa juga Mas Mustafidz langsung menjawab pertanyaan yang dilontarkan kepadaku. “Kalau boleh tahu, Nak Balqis sudah hafal berapa juz?” kali ini ayah Mustafidz yang bertanya. Dia memang tetap duduk di bangkunya, tapi entah mengapa pertanyaannya itu begitu mengintimidasi. “Tentu saja ….” Lagi-lagi Mustafidz hendak menjawab pertanyaan yang dilontarkan kepadaku. “Fidz, kamu tahu hukumnya menyela ucapan orang. Abah bertanya kepada Balqis bukan kepadamu.” Kafe yang ramai terasa senyap seketika. Meskipun ruangan ini terbuka, entah mengapa aku merasa gerah. Aku tahu kalau berhadapan dengan calon mertua tidak mudah, tapi aku tak menyangka kalau sehoror ini. Aku mulai ragu dengan amin yang sering aku lantunakan ketika orang tuaku mendoakanku dengan Mustafidz.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN