Pyuh ... Hari Sabtu yang indah datang juga. Kerjaan sudah aku bereskan kemarin Jum’at, kartu sudah aku ganti dengan kartu khusus di rumah. Sengaja biar si bos tidak bisa menghubungi dan mengirim kerjaan baru. Tapi biasanya sih tidak. Hanya untuk jaga-jaga saja. Paling males kalau weekend gini harus mengerjakan pekerjaan kantor. Jika demikian, kemana hari-hari normalku pergi. Bisa-bisa aku tua terlebih dahulu sebelum bisa menikah dan menikmati masa muda.
“Masak apa ya buat buka nanti?”
Aku memandang langit-langit rumah sembari melamun. Hari ini aku sengaja pulang. Tidak betah rasanya lama-lama di kota yang berisik dan terus-menerus mengejar waktu. Terlebih ajakan Mustafidz tentang taaruf kemarin.
Bukannya aku tidak mau diajak taarufan, apalagi sama orang sholeh macam dia. Hanya saja kemarin aku gugup. Tiba-tiba saja dia muncul di hadapanku terus bilang seperti itu lagi. Di hadapan Vika pula. Aku yakin besok akan jadi trending topik pembicaraan gosip kantor selama satu dekade penuh.
Tapi kurasa itu cuma bualan saja. Dia setelah bilang mau taarufan, pergi begitu saja dan katanya akan menemuiku di rumah. Aku dalam hati hanya membatin, “Halah paling cuma omdo alias omong doang.”. Lagipula dia pergi sebelum mengetahui alamat rumahku.
Bunyi bel pintu, tiba-tiba berbunyi. Aku pun bangun dari posisi rebahanku di depan televisi. Siang-siang menjelang sore seperti ini, siapa pula yang datang bertamu.
Dengan sedikit rasa malas, aku pun berdiri lalu membuka pintu.
“Wa’alaikumus …,” salamku terpotong ketika melihat siapa yang datang.
“Salam.” Dia melanjutkan jawaban salamku tadi.
“Ka … kamu?” Aku melotot, tak menyangka kalau hal ini benar-benar terjadi. Dia berdiri gagah di depan pintu. Kepalanya masih menunduk. Kentara sekali kalau dia tengah menjaga pandangan. Kami belum halal, tentu saja dia mengerti. Menatap wajahku masih belum berpahala baginya.
“Orang tuamu ada?” tanyanya dengan nada halus.
“Eh … uhm … ada,” jawabku kikuk. Ini baru pertama kali aku melihat seorang laki-laki yang mampir mempertanyakan kehadiran orang tua bukan kepergian mereka.
Eh bentar-bentar. Dari mana dia tahu rumahku di sini? Mau tanya, tapi kayaknya tidak sopan deh. Masa tamu diberondong pertanyaan seperti itu. Nanti saja, lah.
“Silakan masuk. Biar aku panggilkan bapak sama ibu.” Aku menyingkir dari pintu. Baru ketika dia masuk, aku persilakan dia duduk. Aku pun pergi ke belakang untuk memanggil orang tuaku.
“Siapa, Qis?” tanya ibu tiba-tiba. Dia keluar dari ruang tengah, tempat biasa kami berkumpul.
“Anu … ehm …,” gumamku. Sumpah aku bingung mau jawab apa. “Mending Ibu temui saja, deh.”
“Bukan teman kamu?”
Aku hanya mengangkat bahu. Bagaimana jadi teman, kenal dekat aja belum. Ibu berlalu memanggil bapak yang tengah di kebun belakang rumahnya. Maklum, namanya juga sudah pensiun, beliau lebih sibuk mengurusi kebun belakang yang ajaibnya bisa memenuhi semua kebutuhan dapur ibu.
Dua gelas kopi dan dua gelas teh selesai aku buat. Aku pun menghidangkannya bersama beberapa piring camilan.
“Silakan!” kataku sebelum ikut duduk.
Sontak saja semua orang di ruang tamu pun memandangku. Tatapan mereka melotot. Bahkan bapak yang biasanya paling kalem, kini terperangah.
“Balqis, kan masih puasa!” bisik Ibu.
Spontan wajahku pun memerah. Tanganku bergetar. Bodoh banget sih, ya ampun. Mau ditaruh di mana wajahku.
Dengan wajah yang menunduk, aku pun segera menyingkirkan semua minuman dan camilan yang ada. Aduh, gara-gara pesona wajah si gus, aku jadi lupa kalau sekarang bulan Ramadhan.
“Tak apa, nanti saya minum kalau sudah buka,” ujar Mustafidz menenangkan. Tapi aku sudah terlanjur kehilangan muka.
Aku lama di dapur. Malu banget untuk muncul kembali. Sumpah seumur-umur aku bersikap bodoh ya baru kali ini. Dulu dari SD sampai kuliah, aku bisa juara kelas. Giliran di depan Mustafidz kok IQ-ku tiba-tiba jongkok.
“Balqis?” seru Ibu.
Aku mendadak tuli. Berulang kali aku menutup wajah. Aduh aku benar-benar tidak punya muka lagi buat ketemu sama Mustafidz. Apa yang harus aku lakukan?
“Balqis?” Ibu mendekat. Dia memegang pundakku. “Tamunya malah ditinggal ke dapur lama. Mau ngapain, sih? Mau buka puasa?”
Aku menggeleng. Ini ibu kok tidak peka sih. “Malu, Bu!” bisikku.
Ibu memegang tanganku. “Lebih malu lagi kalau kamu meninggalkan tamumu begitu saja. Udah ayo!” Ibu pun menggeretku.
Aku melawan. Bagaimana aku nanti bersikap di depan dia? Mau jadi manekin yang kaku saja gitu? Namun ketika aku sudah keluar dari dapur dan kakiku menginjakkan langkah lagi di ruang tamu, aku pun diam lalu duduk.
“Jadi niat kedatangan saya ke sini, karena saya menyukai putri Bapak.”
Aku yang sedari tadi mukanya sudah merah, dan jantung jedag-jedug tak keruan, seketika meledak. Bukan hanya aku saja. Ibu dan bapak pun kaget. Mata mereka seakan-akan mau melompat dari sangkarnya. Mereka seperti melihat keajaiban dunia ke delapan. Ada seorang laki-laki dengan gentlenya datang melamar. Sendirian pula. Sebuah fenomena yang bahkan sangat langka di desaku.
Hening. Aku pun berusaha untuk bisa bernapas seperti biasa kembali. Siapa pula yang tidak kaget mendengar keterusterangan orang seperti itu. Walau jujur aku juga sedikit respect dengannya, tapi ya tidak gini juga.
Bapak sama ibu saling tatap, bingung untuk menanggapi. Bagaimana tidak, dia hanya menyatakan sebuah pernyataan bukan ajakan. Kalau dia mengajak nikah, pasti pertanyaan itu hanya akan dilontarkan kembali padaku.
Bapak menatapku, mencari jawaban dari kedua bola mataku. Aku hanya bisa menggeleng. Tak mungkin aku bilang tidak suka di hadapan banyak orang. Aku tidak mau mencoreng harga diri manusia satu ini. Ingat? Dia seorang gus sekaligus dai yang disegani banyak orang. Dan aku yakin bapak sama ibu juga mengenalnya.
“Maaf, Gus. Bukannya saya lancang. Tapi maksud Gus itu apa, ya?” tanya Bapak sopan setelah mencerna apa maksud gelenganku tadi.
“Saya hanya ingin bertaaruf dengan putri Bapak. Dengan mengetahui ini, saya harap Bapak bisa mengawasi kami sehingga saya bisa dengan lebih bijak mengontrol tindakan saya,” jawabnya kalem.
Pikiranku pun langsung traveling ke hal yang tidak-tidak. Apa maksudnya dengan mengontrol tindakan? Apakah dia akan macam-macam? Tapi dia gus loh.
“Saya ingin mengenal Balqis lebih dalam dan juga keluarganya, begitu pun sebaliknya, jika Balqis ingin, dia bisa berkenalan lebih jauh dengan saya dan keluarga saya. Jika sama-sama cocok, insya Allah saya mau menikah dengannya.”
Kikuk. Sumpah kikuk banget. Ini baru pertama kalinya orang tuaku kedatangan tamu laki-laki dan baru pertama kalinya mereka menemukan spesies langka macam satu ini. Dia begitu terang-terangan berbicara. Aku yakin sih kalau bukan kedudukannya dan strata sosial yang dimilikinya, dia pasti sudah ditendang keluar oleh bapak karena bicaranya yang begitu blak-blakkan.
“Alhamdulillah. Nanti kami jawab, Gus. Nanti jenengan buka di sini, kan? Balqis nanti yang masak.” Ibu berusaha mencairkan suasana. Namun kata-kata yang dikeluarkannya malah membuatku melotot. Aku pun menyenggolnya, berisyarat agar ibu tak mengulanginya.
“Bibit unggul, Qis. Pamali kalau ditolak,” bisiknya dengan wajah berseri-seri.
Mas Mustafidz tersenyum lalu mengangguk. “Insya Allah. Saya memang meluangkan waktu untuk ke sini.”
“Jadi pada dasarnya saya hanya perlu mengawasi kalian berdua?” tanya Bapak.
Mustafidz mengangguk, “Inggih, Pak. Karena haram hukumnya kami berduaan apalagi dalam ruangan dan tempat sepi.”
“Baiklah kalau begitu ….”
Belum sempat bapak meneruskan kalimatnya, ibu buru-buru memotong. “Bapak sama Ibu mengawasi di dalam saja, ya! Bapak kan ada perlu sebentar, iya, kan?”
“Perlu?” Bapak mengerutkan dahi.
Ibu pun langsung melotot. Bibirnya bergumam sementara bapak hanya mengangguk-angguk. Setelah bisik-bisik rahasia itu, ibu menggaet tangan Bapak dan beralih ke belakang.
“Tapi Bapak kan belum …,” tolaknya.
“Silakan Gus. Kalau mau jalan-jalan bareng Balqis juga boleh.” Ibu tersenyum aneh. Ia pun kian kuat menarik tangan Bapak.
“Maaf nggih, Gus.”
“Balqis, ajak Gus Mustafidz jalan-jalan, gih! Kunjungi rumah nenek bareng. Katanya kamu mau ke sana sore ini. Kuenya keburu dingin nanti!” pesan ibu sebelum dirinya dan Bapak sempurna hilang dari balik tembok.
“Ibu!” geramku. Aku benar-benar tak habis pikir dengannya. Biasanya beliau selalu protes kalau aku dekat dengan laki-laki. Tapi kok ini beda?
Selepas ibu dan Bapak pergi – yang bahkan bisikan mereka masih terdengar jelas – aku hanya bisa menunduk. Tanganku mengenggenggam rok. Aku benar-benar tak bisa berkata-kata. Mulutku itu loh, serasa mau mengucapkan hal yang salah terus. Takut. Apalagi pertemuan kami dimulai dari jatuhnya aku di tangga plus tadi menawari dia minum padahal lagi puasa. Dengan mengingatnya saja wajahku sudah merah, apalagi dia terang-terangan menyatakan suka padaku, di depan orang tuaku lagi. Sumpah aku tak bisa membayangkan bagaimana bentuk wajahku saat ini.
“Mau jalan sekarang atau nanti?” ajaknya yang otomatis langsung aku jawab sekarang. Mungkin suasana di luar bisa memadamkan suasana canggung ini.
Aku pun buru-buru mengemas kue di belakang. Sempat kulihat ibu mengacungkan jempol yang langsung kubalas dengan raut merengut. Bisa-bisanya ibu seperti anak kecil yang diiming-imingi hadiah. Ini anaknya loh yang jadi barang taruhan.
Begitu keluar, aku langsung bisa mencium aroma parfum Mustafidz yang sungguh menenangkan. Angin begitu lihai meniupkannya ke hidungku. k*****t memang. Jadi tambah jedag-jedug kan jantung ini. Mentari juga. Kenapa ikut-ikutan menampakkan sinar senjanya yang indah, wajah Mas Mustafidz yang ganteng itu kan jadi makin subhanalloh. Sorot matanya itu loh tambah bikin adem.
“Kalau boleh tahu …,” kalimatku terpotong ketika wajah teduh Mustafidz menengok ke arahku.
“Hmm ….”
Aku menunduk. Mendengar hmm-nya saja sudah membuat bulu kudukku merinding, apalagi mendengar ijab kobul darinya, kuat tidak ya?
“Kalau boleh tahu kenapa Mas eh Gus Mustafidz menyukai diriku?”
Langkahnya terhenti. Ia mendongkkan pandangan ke jingganya langit sore. “Tidak ada.”
“Ha?”
“Ya tidak ada alasannya. Seperti langit yang mencintai bumi. Dia selalu menurunkan hujan atas izin Allah agar bumi senantiasa hidup, seperti itulah aku mencintaimu. Dan aku harap Allah juga mengizinkan kita bersatu.”
Hmm … so sweeet banget! Aku menjerit sekeras mungkin dalam hati. Sumpah aku merasakan sekujur tubuhku merinding, seakan-akan mengiyakan doa Mustafidz tadi. Eh, bentar.
“Tapi kan kata jenengan kita mau ta’aruf. Jenengan belum tahu saya seperti apa, kan?”
“Allah selalu mengatur jalannya takdir. Bahkan daun pun tak jatuh jika tak diizinkannya. Pertemuan kita selama ini di pengajian pasti ada maknanya, Qis. Dan aku harap itu pertanda kalau kita itu jodoh. Kamu ingat? Kamu tidak memberiku alamat, tapi Allah menunjukan jalan-Nya lewat bosmu.”
Aduh. Aduh. Aduh. Aku tak menyangka kalau seorang gus pintar menggombal seperti ini. Kalau dia tidak segera berhenti sekarang, aku takut aku kian melayang dan tak bisa menapak tanah kembali. Gombalannya itu loh setingkat akhirat. Sudah pakai doa-doa segala. Namun atas seribu gombalan yang sudah aku dengar dengan pasti aku menjawab,
“Sudah berapa gadis yang Gus gombalin seperti ini?” nyengirku.
Dia tersenyum.
Tuh kan!
“Tidak ada yang mau aku gombalin selain dua wanita.”
Aku memasang telinga, bersiap mendengar siapa kedua wanita yang beruntung itu.
“Ibuku,” dia berbalik dan memandangku, “dan calon istriku.”
Aku bersusah payah menahan bibirku untuk tidak tersenyum. Sialnya wajahku malah tampak berantakan.
“Ok wait-wait. Waiting a second! Kata jenengan kita mau ta’aruf. Jadi jaga gombalan itu sebelum kita sama-sama mengiyakan hubungan ini sampai ke pelaminan ya!”
“Jadi kamu mencintaiku?”
Astaghfirulloh! Pertanyaan macam apa itu?
Wajahku yang sudah merah seperti tomat pasti kini kian merah. Aku pun menutupnya dengan kedua tangan lalu berlari-lari kecil meninggalkan dia. Enak saja. Mana ada gadis yang bisa langsung mengiyakan pertanyaan macam itu. Laki-laki saja susah.
***
“So sweet banget!” tanggap Vika setelah mendengar proses perkenalanku dulu dengan Mustafidz.
“Se so sweet apa pun itu, sekarang kan sudah jadi mantan,” tanggapku datar.
“Kenapa sih kalian putus? Padahal lo tuh pinter, Qis. Lulusan luar pula. Cocok lah lo sama dia. Mustafidz tahu seluk-beluk agama, kamu hapal sama seluk-beluk ilmu dunia.”
“Masa lalu, Vik. Masa lalu,” semburku sebelum Vika mengoceh terlalu dalam.
“Cerita deh kenapa lo bisa putus sama dia?”
Aku menarik napas. Namun belum juga aku berkata, gawai Vika berbunyi. Telepon dari tunangannya Mas Habib. Dia pun mengangkatnya dan meninggalkanku begitu saja. Yap tidak apa-apa. Lagipula aku juga tak mau mengenang masa lalu pahit bersama Mustafidz. Masa lalu yang membuatku memutuskan untuk mengakhiri hubungan kami.