“Vik, sumpah gue nggak tahan?” semburku ketika siang hari di jam istirahat.
Kami, para b***k korporat biasanya beristirahat dengan makan di foodcourt. Tapi berhubung ini adalah bulan puasa, jadilah kami hanya berdiam diri di kubikel masing-masing. Kubikel rumah asli dalam kehidupan para karyawan, sedang rumah yang besar itu hanya rumah singgahan. Tahu kenapa? Karena kebanyakan waktu kami dihabiskan di sini.
“Kalau nggak kuat, ya makan aja!” jawab Vika enteng. Dia tengah menyandarkan kepalanya ke kursi. Tampaknya dia teramat lelah walau baru kerja setengah hari.
“Sesat lo,” timpalku.
Vika hanya mengangkat bahunya. Tampaknya dia tidak peduli. Aku pun melemparkan pandangan sinis kepadanya. Sudah lah, kalau dia tidak mau mendengarkan ya sudah. Lagipula nanti sore aku juga harus pergi bersama Tika. Tika tadi sudah menemukan tempat restoran yang sesuai dengan kriteria keinginan Mustafidz dan kantor. Semoga saja kali ini selesai misi pencarian kami. Aku benar-benar tak tahan berlama-lama dengan Mustafidz.
Vika menarik napas lalu mengembuskannya. Dia terlihat tampak sedikit gelisah.
“Lo nggak papa, kan?” tanyaku.
Vika pun memiringkan kepalanya. “Gue lagi berantem sama Mas Habib,” cetusnya singkat.
Aku memutar bola mata, “Giliran berantem aja lo nggak panggil Habibi,” kataku sarkas. Masih jengkel rasanya dia memanggil tunangannya itu dengan Habibi yang artinya kekasihku.
Vika lagi-lagi menghela napasnya. Dia kembali menatap plafon kantor. Kukira setelah tunangan, tidak akan ada masalah yang terjadi di antara mereka berdua. Tapi ternyata, sepertinya lebih ribet.
“Emang lo berantem kenapa?” tanyaku.
“Dia minta tanggal pernikahan kita dimundurin.”
“What? Kok bisa?”
“Dahlah. Lagian juga nggak bakal selesai kalau gue bilang ke lo. Ini masalah kami, jadi ya udahlah. Tapi makasih lho udah mau dengerin walau gue ogah cerita.” Vika tertawa nyaring. Dan aku pun menatapnya dengan sinis. Buang-buang waktu dan energi banget. Sekali ada bahan obrolan malah dikacangin seperti ini.
“Btw gimana perkembangan lo sama Sagara?” Demi mengangkat moodku, Vika pun akhirnya memancingku kembali. Menyebalkan.
“Tadi aja nggak mau dengerin,” balasku sinis.
“Gue denger-denger lo ditinggal sama Mustafidz di jalan,” celetuk Vika.
Aku pun seketika terperangah. Parah. Ternyata Tika ember banget, ya.
“Asal lo tahu aja kalau kemarin Mustafidz ketemu sama Sagara.”
“Hah? Terus mereka gimana sama lo?” tanya Vika.
“Mereka sindir-sindiran tahu.”
Vika menyedekapkan tangannya. “Gue heran lho. Emang kamu sama Mustafidz sudah sejauh apa, sih? Kok Mustafidz ngebet banget sama lo. Si bos juga kayaknya bantuin doi buat balikan sama lo.
Aku pun menarik napas. “Emang gue belum cerita?” tanyaku.
“Seingat gue, lo itu diajak apa gitu sama Mustafidz. Terus daripada gue ganggu kalian, gue cabut, lah. Terus karena dulu kebetulan Mas Habib juga baperin gue, gue lupa deh sama lo.” Vika tertawa.
“Lo itu kalau udah sama dia aja, dunia serasa milik berdua, ya. Hanya kalian yang manusia, yang lain cuma makhluk halus yang tak perlu dihiraukan.”
Vika tertawa. “Ya nggak gitu juga kali.”
Aku membenarkan posisi duduk. Aku pun bersiap untuk menceritakan masa lalu dengan Mustafidz. Mungkin sedikit berat, tapi sepertinya tak apa-apa. Lagipula jam istirahat juga masih lama.
***
Bulan puasa tahun lalu. Ketika aku masih di pondok menjadi santri puasanan.
Selepas pertemuan pengajian fiqih, aku semakin memperhatikan Mas Mustafidz. Dia memang lebih bisa mengendalikan pandangan. Saat tatapan kami lagi-lagi bertemu, dia langsung menunduk, kembali menekuri kitab. Meski agak lucu, setiap kali dia kembali membaca, kepalanya pasti mengangguk-angguk, mencari sampai mana dia baca. Dan ciri khasnya pasti akan bilang,
“Eee, sampai mana? Oh iya. Bersuci bisa saja menggunakan batu atau sesuatu yang keras dan suci.”
Ketika ekspresi bodohnya itu terlihat aku tersenyum. Dia akan menggaruk-garuk kepala sampai pecinya miring. Sangat jarang melihat seseorang yang begitu salah tingkah. Tapi yang namanya juga orang berilmu pastinya dia bisa menutupi kekurangannya dalam sekejap.
Dia masih saja bisa menjelaskan materi meski matanya masih sering mencuri pandang. Saat pandangan kami bertemu kembali, aku memberanikan diri untuk tidak menunduk. Biar saja sekalian dia malu. Tapi bukannya raut bodoh itu yang kudapat, aku malah melihat sebuah senyuman. Secarik senyum tipis yang begitu indah.
Namun tragedi yang terjadi bukanlah karena lirikan-lirikan itu. Aku mengira kalau kisah saling curi pandang itu akan berakhir tatkala aku meninggalkan pesantren usai satu minggu menjalani puasa di sana, dan ternyata aku salah.
***
“Gimana cutinya, bestie?” tanya Vika sembari menggeser kursi rodanya mendekati kubikelku.
“Tobat gue. Nggak lagi-lagi deh puasanan di pondok. Jadwalnya padet banget. Mana makanannya ya ampun, dikit, berebut pula. Tapi jujur nikmat sih. Lain kali kalau gue ke sana, gue bakalan bawa abon buat persediaan kalau sahur nggak enak.”
“Pantes lo kurusan. Gue kira diet.”
“Tubuh gue kan anti gemuk, nggak kayak loe yang makan dikit tapi langsung bulet pipinya.”
“Eh bodyshaming. Tapi nggak papa. Biar kata muka gue kaya bola pimpong, ayang Habibi masih sayang. Daripada lo masih aja miara jomblo, miara itu cowo, lumayan bisa ditariki duit. Lah jomblo, bisa buat apa?”
“Bisa buat happy-happy tanpa mikirin mau pake baju apa nanti. Lagian kalian bukannya nikah malah sibuk pacaran mulu. Setan datang baru tahu rasa, lo!”
“Lah setannya kan lo. Lo kan selalu nemeni kami jalan bareng.”
Aku menatap sinis ke Vika. Sedang dia malah semakin tertawa. Aku pun membiarkannya sembari meneruskan pekerjaan. Sebentar lagi jam pulang kantor. Apesnya pekerjaanku masih banyak.
“Eh daripada lo gangguin gue, mending bantuin gue, gih. Ini kerjaan kok dikerjain bukannya cepet selesai, malah tambah banyak, sih!”
Pekerjaanku cukup sederhana, yakni menjawab pertanyaan dengan media dan mengisi kolom kepuasan. Jika hanya sepuluh lembar saja, aku yakin sekarang aku sudah tersenyum manis dan bersiap pulang. Sialnya laporan yang kukerjakan berpuluh-puluh halamannya.
Vika menyipit. Ia melihat ke layar komputerku. “Aelah! Lebay lo. Itu tinggal dikit kali.”
Aku mendengus. Percuma saja berharap ke temen masalah kerjaan. Mereka pasti ogah membantu walau itu cuma sekadar memberi satu titik di kalimat terakhir.
“Udah ayo cepat selasain. Gue males pulang sendirian,” sergah Vika.
“Sory ya, gue nggak menerima perintah selain dari Tuhan dan bos. Lagian biasanya lo dijemput. Kemana tuh pangeran yang lo bangga-banggai itu?” tampikku.
“Dia juga punya kehidupan kali.”
“Oh jadi kalau sama lo, dia nggak punya kehidupan? It’s mean lo itu kematian bagi dia?” nyinyirku lagi.
“Ya nggak gitu konsepnya!”
Untungnya pekerjaanku tinggal paste-paste saja. Respon sudah tamplate, aku tinggal meneruskannya saja. Jadi meskipun si k*****t Vika terus-terusan ngoceh, aku tidak akan kehilangan banyak konsentrasi. Aku tidak bisa membayangkan jika pekerjaanku designer sementara bangku sebelah adalah Vika. Aku pasti akan mati kena damprat dari bos karena tidak pernah bisa memenuhi deathline dari klien.
Vika beralih memandangi gawainya. Ia terlihat mengetik sesuatu di sana, sementara aku kembali fokus mengerjakan pekerjaan kantor. Selang beberapa menit, tepat ketika Vika mematikan gawainya, aku selesai dan telah mengirimkan filenya ke bos.
“Yuk!” ajakku.
Aku pun buru-buru merapikan tas, mematikan komputer dan berdiri.
“Tungguin atuh!”
Aku tak memedulikannya. “Yang tadi buru-buru, eh malah sekarang minta ditungguin!” protesku sambil tetap berjalan mendekati lift.
Lift terbuka tepat saat Vika datang. Kami pun masuk lalu memencet lantai lobi.
“Jadi mau makan apa hari ini?” tanya Vika.
“Aku sih mau apa aja. Nggak masak soalnya di kos. Yang penting pulangnya harus mampir ke nasi padang buat bungkus lauk untuk sahur nanti.”
Aku asyik berbincang dengan Vika. Kami membuka beberapa restoran yang sedang ngehits di sosial media. Saking asyiknya sampai aku tidak memerhatikan sekeliling. Sampai-sampai ada seseorang yang memanggilku.
“Ya?” sahutku sembari menengok ke belakang.
Jantungku seketika berdenyut kencang. Otakku menyuruh mata agar cepat memejam. Sayangnya aku cukup sadar kalau pemandangan ini tak mungkin aku lewatkan. Sesosok pria tampan nan gagah berdiri dengan sinar senja sempurna menyepuh wajahnya.
“Boleh … ehm … kita jalan bersama?”
Deg. Aku tak bisa berkata. Bahkan sekadar untuk menundukan wajah pun tak bisa. Pria itu. Pria yang selalu kukagumi dakwahnya. Yang selalu kurindukan suaranya. Dan yang selalu kupandangi video pengajiannya, namun tak pernah berani kudekati dia, kini mendekat.
Berbeda dengan beberapa hari lalu di pondok, dia tak menurunkan tatapannya. Kini dia dengan berani melantangkan pandangan tajamnya ke mataku, seakan-akan tak mau melepaskannya walau hanya sedetik. Langkahnya kian mendekat. Bahkan perlahan dapat kurasakan embusan napasnya yang begitu menghangatkan.
Kini wajah kami hanya berjarak sekian kepal. Dia begitu tegar tak gentar sedikit pun.
“Aku ingin kita taaruf,” katanya penuh dengan wibawa.
Aku pun meleleh seketika dan Vika di sampingku membelalak sambil melongo.